
Pertanyaan "Kapan nikah?" memang selalu menjadi momok tersendiri bagi para remaja yang menyandang status jomlo, seperti halnya Silvi Anastasya. Padahal, dia baru saja menginjak usia 21 tahun. Sedih memang, tetapi pertanyaan itu diabaikannya. Wanita itu hanya yakin dan setia menanti dalam diam seseorang yang dipercaya akan datang kepadanya.
Untuk menghibur diri, Silvi masuk hutan. Tujuan lainnya adalah mencari kayu bakar untuk menunjukkan bakti kepada orang tua. Dia melangkahkan kaki dengan lincah di atas jalan setapak penuh semak belukar di kanan dan kiri. Langkahnya terhenti tepat di bawah pohon besar dengan kayu berserakan di sekitarnya.
"Apa itu?" Silvi menyipitkan mata, memperhatikan sosok di antara semak belukar.
Mata Silvi seketika melebar, tubuh terasa bergetar saat melihatnya dengan jelas. Tanpa mengucapkan satu patah kata, dia segera berlari meninggalkan tempat itu.
Sosok pria berbalut jas hitam dan celana senada tercetak jelas dalam ingatan. Noda merah melumuri beberapa bagian tubuh. Hujan semalam menyamarkan corak itu, membawanya meresap ke tanah. Sungguh terlihat sangat tragis keadaan sosok tersebut.
Tak jauh dari sana, akhirnya Silvi melihat pria tua yang sedang mencari kayu. Dia segera menghampiri pria itu untuk mengabarkan temuannya.
"P-pak, tolong!" Suara Silvi bergetar, melukiskan perasaan takut.
"Kenapa, Silvi?" tanya pria itu. Dia mengernyitkan dahi karena melihat sikap aneh gadis di hadapannya.
Silvi tak kunjung menjawab pertanyaan pria itu. Pikiran menghalangi kata untuk keluar dari mulut. Beberapa kali bibir bergerak, tetapi tidak terdengar apa pun dengan jelas. Dia terus saja menunjuk ke arah hutan.
Silvi mencoba mengatur udara yang keluar-masuk melalui hidung, tetapi masih terlihat jelas ketakutan di wajahnya. Tubuh terus saja bergetar, tak dapat menyembunyikan perasaan. Pikiran tak dapat fokus, terbang bersama kengerian di mata.
"Pa-pak, ada mayat di hutan," jawab Silvi. Suaranya terbata, tertahan udara yang terkadang enggan masuk ke paru-paru.
Pengalaman pertama bagi Silvi melihat hal semacam itu. Wajar saja jika dirinya begitu ketakutan. Untung saja kesadarannya masih terjaga setelah menyaksikan kengerian itu.
"Coba katakan pelan-pelan dengan tenang." Pria itu semakin mengerutkan kening. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Silvi.
Silvi mengisi penuh kedua paru-parunya. Ketika sudah terasa sesak, dengan perlahan dia mulai mengosongkannya. Beberapa kali hal tersebut dilakukan wanita itu untuk mengatur napas saat menjelaskan.
Pria tua itu terdiam ketika Silvi menjelaskan kalimatnya tadi. Bukan tidak percaya, tetapi dia hanya bingung. Tak pernah ada cerita ditemukan mayat di kampung itu. Namun, hal tersebut sungguh terjadi kali ini.
__ADS_1
Keheningan sesaat membuat Silvi resah. Pria di hadapannya tak kunjung memberi tanggapan, kepercayaan seakan dipertaruhkan. Namun, dia harus tetap membuktikan kebenaran.
"Ayo, Pak, kita ke sana." Silvi meraih tangan pria itu.
"Tunggu! Kita ajak warga lain ke sana."
Bersama beberapa warga dan sang ayah, Silvi masuk hutan. Langkah lebar mereka menebas semak sepanjang perjalanan. Beberapa orang saling berbisik, meragukan cerita tersebut hingga akhirnya menemukan kebenaran itu sendiri. Seorang pemuda segera menghampiri pria yang terkapar di atas tanah.
"Kita bawa aja ke desa," saran seorang warga.
"Tunggu dulu! Kayaknya dia masih hidup." Pemuda itu mengamati pergerakan tipis di dada pria yang tengah terkapar.
Tidak semua orang paham tata cara penyelamatan. Kesalahan menggerakkan tubuh korban sedikit saja bisa berakibat fatal. Jika ada tulang yang patah, maka bisa saja menggores saraf di sebelahnya. Hal tersebut dapat menyebabkan pendarahan yang lebih serius.
"Cepat telepon 112! Buat yang lain agak minggir, beri ruang biar orang ini bisa bernapas," ujar sang pemuda.
Setelah tiga puluh menit berlalu, beberapa orang berseragam jingga dengan sebuah tandu datang. Di antara mereka ada seorang dengan pakaian biru sedang menenteng kotak putih. Dia segera berlutut di sebelah korban untuk melakukan perawatan.
"Angkat dia hati-hati!" perintah sang perawat. Dia telah memastikan bahwa kini tubuh korban telah aman.
Setelah melalui medan yang begitu sulit, akhirnya mereka sampai di desa. Korban segera dinaikkan ke atas ambulans diikuti Silvi. Dia merasa bertanggung jawab karena telah menemukan pria itu. Sang ayah akhirnya ikut menemaninya.
Perjalanan menuju rumah sakit daerah tidak memerlukan waktu lama. Korban segera dibawa ke zona merah IGD. Sementara itu, Silvi melakukan registrasi.
"Aku nggak tahu namanya, Pak. Tulis aja Bambang," ucap Silvi. Hal tersebut membuat petugas registrasi menggelengkan kepala.
Identitas korban tidak diketahui, petugas akhirnya segera mengisi data sesuai SOP agar dapat melakukan penanganan selanjutnya. Tidak lupa pula dia menanyakan kondisi pasien ketika ditemukan agar tepat dalam mengambil tindakan. Setelah semuanya lengkap, sang petugas memberikan kertas untuk ditandatangani.
Tanpa ragu Silvi meraih kertas itu, lalu menorehkan tanda tangan di atasnya. Dia hanya ingin pria tersebut segera mendapat perawatan intensif.
__ADS_1
Korban dibawa ke ruang ICU untuk pemeriksaan selanjutnya. Hasil akhirnya didapat, dokter memberitahu bahwa pasien mengalami patah tulang kaki dan harus dioperasi.
"Bagaimana, Pak?" Silvi menatap sang ayah dengan mata ragu. Apakah mereka harus menandatangani yang artinya bertanggung jawab atas operasi tersebut.
Keduanya berdiskusi untuk mencari jalan terbaik. Demi rasa kemanusiaan, kesepakatan dicapai. Silvi menemui perawat untuk menyetujui tindakan selanjutnya. Dia akan berusaha dengan cara apa saja untuk mendapatkan biaya.
Operasi dilakukan setelah surat persetujuan ditandatangani. Setelah hampir sehari penuh, tindakan selesai dengan lancar. Pasien dibawa kembali ke ruang ICU untuk perawatan selanjutnya.
Silvi masih setia menunggu pasien di samping brankar, sedangkan sang ayah telah pulang ke rumah untuk mempersiapkan segalanya. Lagi pula, pria itu juga harus menemui sang istri dan bekerja.
"Kapan dia sadar?" Silvi menatap wajah polos yang tengah terpejam. "Udah hampir dua hari dari pertama aku nemuin dia, tapi belum bangun juga."
Silvi menopang dagu, melihat lebih detail wajah tampan di depannya. Sungguh lukisan sempurna yang pernah dia lihat dan mampu menenangkan hati hingga terlelap. Hal itu mungkin juga karena rasa lelah yang mendera.
Baru beberapa saat terlelap, Silvi dikagetkan dengan sesuatu yang merayap di tangannya. Dia membuka mata, malihat apa yang tengah menghinggapinya. Matanya terbuka lebar ketika melihat tangan pria yang tengah dia jaga menunjukkan pergerakan.
"Kamu udah sadar?"
Senyum bahagia terlihat mengembang di wajah kusut Silvi. Namun, beberapa saat kemudian dirinya menundukkan kepala. Dia mencoba menenangkan diri. Jika dibilang dia malu, wajar saja karena ada pria tampan yang ternyata sejak tadi menatapnya. Bagaimana wanita itu bisa bersikap normal?
"A-aku Silvi. Kamu siapa?" Wanita itu mencoba mencairkan suasana. Dia tidak mau berada dalam keadaan seperti itu terlalu lama.
Pria itu menggelengkan kepala, menjemput kesadarannya kembali. Dia merasa bingung kenapa berada di tempat tersebut dengan berbagai alat menempel pada tubuhnya.
"Aku ... Angga."
Silvi tersenyum senang karena pria tersebut sudah mampu menjawab pertanyaannya. Hal itu menandakan bahwa Angga sudah sadar betul.
"Kamu tinggal di mana?"
__ADS_1
Angga mengerutkan kening setelah mendengar pertanyaan Silvi. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Semua ingatan telah kosong, hanya ada warna abu.
Bersambung.