Sekadar Pelindung

Sekadar Pelindung
Bab 6. Kedatangan Anam


__ADS_3

Seminggu berlalu, tetapi mereka masih saja belum menemukan titik terang. Kedua orang itu tidak tahu harus ke mana lagi mencari informasi. Bertanya kepada polisi tentang orang yang mencari anggota keluarga juga tidak ada. Kini hanya keajaibanlah yang ditunggu agar Angga segera mengingat segalanya.


Deritan suara dipan terdengar ketika tubuh Angga bergerak. Perlahan-lahan pria itu menggeser kaki. Walaupun wajahnya tampak menahan rasa sakit, tetapi mampu dikalahkan oleh tekat. Dia tidak ingin bergantung kepada keluarga kecil itu. Ya, meski dia tidak dapat membantu bekerja, tetapi sekurang-kurangnya tidak merepotkan.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Angga menghentikan pergerakannya, lalu menatap ke depan. Terlihat tatapan cemas di wajah manis wanita yang kini berjalan ke arahnya.


"Kenapa nggak panggil aku?" tanya Silvi.


"Jangan bantu aku! Biar aku coba pindah sendiri."


Rasa sakit pada kaki Angga sudah mulai berkurang. Dia ingin berusaha pindah ke kursi roda sendiri. Kini pria itu mulai menggerakkan kakinya lagi.


Silvi seketika berhenti dan berdiri tidak jauh dari sisi Angga. Dia membiarkan pria itu melakukan apa yang diinginkan. Walaupun demikian, masih terlihat sekali kecemasan di wajahnya. Tangan yang menggantung di samping badan, beberapa kali menunjukkan reflek ingin membantu ketika pria itu terlihat kesulitan.


"Hati-hati!"


Angga masih berusaha berdiri dengan kaki kanan, sementara yang kiri sedikit menggantung. Badan diputar perlahan sehingga kini membelakangi kursi roda. Kedua tangan mulai bertumpu pada besi kursi agar tubuh dapat dengan perlahan duduk.


Senyum terlihat mengembang di wajah Silvi. Dia merasa senang karena kini Angga mengalami peningkatan. Seminggu, entah waktu yang lama atau sebentar untuk sebuah kemajuan itu.


Silvi segera membantu Angga menuju kamar mandi. Lantai yang tidak rata membuat pria itu kesulitan berpindah dari ruangan satu ke ruangan lainnya. Budi bergantian masuk setelah anaknya keluar.


Ya, selama ini pria paruh baya itu yang membantu Angga melepas maupun memakai pakaian. Dia cukup mengetuk pintu jika sudah selesai mandi.


"Nggak usah, Pak. Biar aku lepas baju sendiri aja."


Ucapan Angga sedikit mengaggetkan Budi. Dahinya terlihat mengernyit karena tidak paham dengan perkataan pemuda itu. Namun, penjelasan Silvi membuatnya mengerti, lalu keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Angga mampu menyelesaikan mandinya dalam beberapa menit. Pria itu merasa senang karena kini tidak harus bergantung kepada keluarga Bapak Budi. Dia hanya meminta bantuan kembali ketika keluar dari kamar mandi.


"Pak, ibu nanti mau ke hutan, cari kayu bakar," ucap Ayu. Kini mereka telah berkumpul di meja makan.


"Ibu jangan cari kayu! Biar aku aja yang cari," usul Silvi. Dia tidak mau jika sang ibu kelelahan.


"Tapi ...."


Belum selesai Ayu berbicara, Silvi sudah menyela. Bukannya ingin bersikap tidak sopan, tetapi dia sudah tahu apa yang ada dipikiran ibunya. Jadi, sang ibu tidak usah lelah-lelah menjelaskan lagi.


"Aku akan cari sekitar sini aja, Bu. Aku tahu memang nggak banyak, tapi pasti lumayan bisa buat masak besok. Jadi, aku juga bisa sambil jaga." Silvi tersenyum supaya sang ibu tenang.


"Aku nggak apa-apa. Kamu bisa tinggalin aku." Angga mencoba meyakinkan bahwa keadaannya baik-baik saja.


Sekarang, pria itu merasa mampu melakukan apa saja. Mungkin kebutuhannya saat ini hanya makan dan minum saja, dan semua itu sudah tersaji di atas meja makan. Jadi, apa susahnya mengambil sendiri.


Setelah selesai makan, Budi dan Ayu segera pergi ke sawah untuk memeriksa tanaman pada yang mulai menguning. Sementara itu, Silvi sudah bersiap mencari kayu. Beberapa meter tali dan parang sudah berada di tangan. Namun, sebelumnya dia telah menyediakan segala kebutuhan Angga, seperti gelas dan piring kosong di atas meja.


"Kalau kamu butuh apa-apa, teriak aja."


Angga mengernyitkan dahi, tak mengerti dengan ucapan Silvi. Untuk apa dia teriak kalau yang dipanggil berada di hutan. Suaranya juga tidak mungkin akan sampai di tempat gadis itu.


"Aku cari kayu bakar di sekitar rumah aja. Aku masih belum yakin buat ninggalin kamu," jelas Silvi. Dia tahu bahwa Angga bingung. "Sudah, aku berangkat dulu."


Tanpa menunggu tanggapan pria itu, Silvi bergegas keluar rumah lewat pintu belakang. Dia berjalan beberapa meter menuju kebun yang tidak jauh dari sana. Setiap beberapa langkah, wanita itu menoleh ke belakang, kecemasan selalu melingkupi.


"Silvi, kenapa kamu kayak gini terus sih? Udah, biarin aja. Lagian dia juga bukan siapa-siapa. Cuma status doang sebagai suami sampai dia ingat lagi."

__ADS_1


Silvi mencoba menenangkan diri. Dia tak ingin perasaannya berubah, tetap satu yang ditunggu. Namun, entah kenapa semakin hari, semakin sulit baginya. Kadang gadis itu juga berpikir bahwa dirinya adalah istri sah Angga menurut agama. Jadi, ada rasa yang kadang muncul tiba-tiba ketika dekat dengan pria itu.


Pohon mangga berukuran besar menjadi tempat Silvi menghentikan langkah. Dia menaruh tali di atas akar yang mencuat keluar dari tanah. Namun, tiba-tiba terdengar suara langkah yang mendekat. Gadis itu segera membalikkan badan untuk melihat siapa yang datang.


"Mas Anam! Ka-mu udah pulang?" tanya Silvi.


Wanita itu terkejut atas kedatangan Anam. Pemuda yang selama ini dinanti telah datang di hadapannya. Dia merasa senang, tetapi juga heran. Kali ini wajah pria itu tak seceria biasanya.


"Iya, aku udah pulang seminggu yang lalu."


Silvi tercengang dengan apa yang diucapkan Adam. Bibirnya seketika kelu, pikiran tiba-tiba kosong. Kini, kilas balik kejadian seminggu yang lalu melintas di pikirannya.


Silvi menundukkan kepala, merasa sedikit canggung. Perasaan gelisah juga tiba-tiba muncul. Ya, sebuah fakta yang ingin dia sembunyikan ternyata sudah diketahui Anam. Kini wanita tersebut mencoba merangkai kata untuk menjelaskan hal yang sesungguhnya. Dirinya ingin pemuda yang berdiri beberapa meter di hadapannya mengerti.


"Ngapain kamu nunduk? Kamu nggak suka aku datang?" tanya Anam. "Maaf."


"Nggak gitu. Aku cuma ...."


Sebelum Silvi menyelesaikan ucapannya, suara benda jatuh terdengar dari arah rumah. Dia diam seketika.Terlihat sekali wajahnya berubah panik.


"Maaf, aku pamit pulang dulu." Silvi menganggukan kepala sebagai permintaan maaf.


Gadis itu segera membalikkan badan, lalu berlari meninggalkan sang pemuda. Kini yang ada di dalam pikiran hanyalah Angga. Dia merasa sangat khawatir jika sesuatu hal buruk menimpa pria itu.


Anam masih berdiam diri dengan tangan mengepal. Sesak di dalam dada terasa menghimpit. Namun, dia tidak mampu melakukan apa pun, hanya menatap Silvi yang semakin menjauh.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2