
Sebuah pernikahan bukan untuk menyatukan dua hati. Semua terlihat sama saja, tidak ada yang berbeda. Pengantin baru tidur berteman dingin dalam bilik masing-masing. Begitulah mereka selama beberapa hari setelah ijab-qobul diikrarkan.
Angga merasa bersyukur atas keputusan yang diambil Budi. Hal itu tidak akan merugikan ke dua belah pihak. Kini, yang dibutuhkan hanyalah kerja keras dan kegigihan untuk mendapatkan ingatannya kembali. Semakin cepat dilakukan, maka dirinya juga segera dapat terlepas dari ikatan itu dan menjalani hidup sendiri.
"Ayo, kita sarapan!" Silvi berjalan mendekat ke arah Angga yang sedang duduk di sisi ranjang.
Sang gadis membantu pria itu untuk naik ke atas kursi roda. Aroma maskulin masuk ke dalam hidungnya, membuat jantung lebih cepat berdetak. Sebuah aroma pria yang pertama kali dia kenal selain ayahnya.
Aneh memang, selama ini Silvi tidak pernah merasakan hal seperti itu. Dia juga merasa bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Perasan bahagia dan malu bercampur menjadi satu, menjadikannya bunga-bunga yang bermekaran di dalam hati.
"Terima kasih," ucap Angga. Dia tersenyum ke arah Silvi.
Sebuah senyum yang biasa bagi Angga, tetapi mampu mendebarkan jantung Silvi. Sebuah cara yang tepat untuk membuat wanita salah tingkah hingga tak mampu membalas pandang. Kaki kecil segera membawa tubuh ke belakang sang pria, mencoba menyembunyikan rasa yang tak biasa.
Gesekan roda dengan lantai mengiringi langkah Silvi, membawa perasaan yang belum pernah ada. Bunga bermekaran di setiap jejak yang dia tinggalkan, menguapkan sebuah rasa manis yang melebur. Sebuah logika tak mampu mengartikan semua itu.
Kalau pernikahanku sama dia beneran, aku rela apa dan gimana kehidupan dia sebelumnya, batin Silvi. Entah apa yang membuat pikiran melawan kenyataan. Perasaan menghilangkan kewarasan.
Silvi segera menggelengkan kepala, menyadari bahwa yang berada dipikirannya itu salah. Dia tidak boleh terbuai, bahkan hanyut ke dalam imajinasinya sendiri.
"Nak Angga. Maaf kalau kamu selalu kasih kamu makanan kayak gini," ujar Budi.
Nasi dengan sayur daun singkong merupakan makanan sehari-hari keluarga itu. Tidak ada benda semewah nasi yang tersaji di atas meja ketika lapar mendera. Rasa syukur atas nikmat-Nya sebagai lauk terenak dalam hidup.
Sebelumnya, keluarga itu bisa makan lebih layak dari hanya sekadar sayur daun singkong. Namun, akibat biaya rumah sakit yang tidak sedikit, kini mereka harus berhemat. Silvi dan Budi berusaha untuk mengumpulkan uang kembali.
"Nggak apa-apa, Pak. Ini juga sudah enak." Angga memasukkan sesendok penuh nasi ke dalam mulut. Dia tidak memilah-milah makanan selama masih cocok di lidah.
__ADS_1
Kenikmatan tercipta ketika tidak mengeluh dengan apa yang ada. Angga begitu menjiwai setiap rasa yang masuk ke dalam mulut. Tidak ada hal yang lebih nikmat dibanding kesehatan. Mereka menyelesaikan sarapan tanpa satu makanan tersisa.
"Silvi, kamu di rumah aja, jaga Angga. Bapak mau ke ladang dulu sama Ibu." Budi berdiri seraya menatap wajah sang anak.
"Tapi, Pak. Rumputnya banyak, nanti Bapak sama Ibu capek cabutin rumput berdua," ucap Silvi. Dia memprotes karena merasa kasihan kepada ke dua orang tuanya.
"Sudahlah. Kalau kamu ikut, siapa yang jaga Angga." Ayu ikut berbicara.
Ke dua orang tua Silvi sudah mengambil keputusan dan tak terbantahkan lagi. Angga yang mengatakan supaya jangan cemas terhadapnya, juga tidak mampu menggoyahkan. Sebuah keterpaksaan atas sikap orang tua itu harus diambil oleh mereka.
Silvi membawa Angga hanya duduk di depan rumah. Keheningan terjadi di antara mereka. Ke duanya menatap lurus ke depan, menikmati suasana pagi di pedesaan.
"Sekarang kamu bisa ceritain gimana kondisiku waktu itu," ucap Angga. Dia mencoba mencairkan suasana. Terasa tidak nyaman juga ketika dua orang duduk bersama tanpa adanya pembicaraan.
"Kamu udah siap?" tanya Silvi. Tampak kerutan di keningnya. Dia masih sanksi dengan keadaan kepala pria itu.
Kini kepala pria itu terasa sudah nyaman. Dia yakin bahwa dirinya sudah mampu untuk mendengarkan kabar kejutan. Mungkin, dengan begitu pula bayangan kehidupan sebelumnya akan melintas di pikiran.
Silvi menceritakan semua yang dilihat waktu itu. Semua detail tidak ada yang luput dari bibirnya. Dari pakaian hingga posisi di mana Angga berada.
"Apa nggak ada yang cariin aku saat nggak sadar?"
Angga berpikir, setidaknya jika ada orang hilang, pasti akan ada pula yang mencari. Apalagi setelah mendengar cerita Silvi yang menganggap bahwa dirinya bukan orang biasa. Jadi, tidak mungkin dia dibiarkan begitu saja.
Silvi menggelengkan kepala. Selama Angga di rumah sakit, tidak ada seorang pun yang mencari orang hilang di tempat pria itu ditemukan.
"Apa emang aku sengaja mau dibunuh?"
__ADS_1
Silvi menggeleng lagi. "Kayaknya kamu malaikat yang turun dari langit," ucapnya. Dia asal bicara karena tahu bahwa Angga jatuh dari ketinggian.
Angga mengerutkan kening atas candaan yang dilontarkan Silvi. Dia merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda. Lirikan tajam juga dihunuskan ke arah gadis itu seperti seorang mafia kejam.
Silvi seketika terbungkam. Dia menundukkan kepala. Untuk pertama kali dia meilhat Angga seperti itu, sungguh sangat mengerikan. Suasana berbalik sehingga membuatnya merasa tidak nyaman.
Apa mungkin aku jatuh dari pesawat? Orang mungkin membuangku dari pesawat, batin Angga. Namun, dia segera menolak pemikirannya itu.
"Kalau begitu, di mana bajuku sekarang?" tanya Angga. Dia kembali tenang, seperti tidak terjadi apa-apa. Fokusnya kali ini adalah mendapat ingatan kembali.
"Tunggu sebentar." Silvi berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Selain ingin segera mencarikan benda permintaan pria itu, dia juga ingin segera keluar dari suasana tak nyaman.
Gadis itu segera memilah-milah baju yang terlipat rapi di dalam lemari. Ketika menemukan kain warna hitam yang lembut, dia segera meloloskan dari tumpukan. Silvi segera membawanya ke depan.
Angga memperhatikan dengan seksama baju miliknya yang telah bersih, tak ada apa pun yang mampu membuatnya ingat. Dia mengacak-acak baju tersebut, mencoba mencari sesuatu yang mungkin tertinggal di dalam saku. Wajahnya terlihat sangat kecewa setelah semua kantong diperiksa.
"Nggak ada apa-apa di sana. Maaf, udah aku periksa."
Suasana semakin tidak nyaman, Silvi semakin dalam menenggelamkan kelalanya karena perasaan tak enak. Dia telah menggeledah semua saku baju Angga tanpa sepengetahuan pemiliknya. Jadi, gadis itu merasa dirinya tidak sopan.
Angga menghela napas panjang. Dia belum dapat menemukan satu pentunjuk saja. Usaha pertamanya sia-sia. Namun, pria itu tidak akan menyerah begitu saja. Kini dia harus berpikir kembali untuk mengingat tentang jati dirinya.
"Udah, jangan terlalu dipaksa. Aku yakin, kamu pasti akan cepat ingat lagi." Silvi mencoba tersenyum untuk menghilangkan rasa tak enak.
Dalam perbincangan yang mereka lakukan, seseorang telah memperhatikan sejak tadi. Senyum kekecewaan terlihat di bibirnya. Usaha yang dia lakukan selama ini terasa sia-sia. Namun, dia tetap ingin berbicara dengan Silvi suatu saat nanti.
Bersambung.
__ADS_1