Sekadar Pelindung

Sekadar Pelindung
Bab 3. Menikah


__ADS_3

Udara malam begitu sejuk, membuat orang meringkuk di balik selimut. Serangga malam juga tidak menampakkan eksistensi, begitu terhanyut dalam dingin. Akan tetapi, berbanding terbalik dengan Silvi yang tak dapat memejamkan mata.


Ucapan ayahnya sore tadi begitu menggema di telinga. Bagaimana tidak, Budi meminta mereka berdua untuk menikah siri pada esok hari. Dia tidak dapat menolak permintaan sang ayah. Lagi pula, kesepakan telah di ambil oleh kedua belah pihak.


Keduanya tidak boleh berada dalam satu kamar, apalagi berhubungan selayaknya suami-istri. Budi meminta mereka menikah siri hanya sebagai formalitas supaya Angga bisa tetap tinggal di sana hingga sembuh.


"Ayah, aku tau kamu pasti memikirkan masa depanku. Tapi, gima ...."


Suara benda terjatuh mengalihkan perhatian Silvi. Di keheningan malam seperti itu, bunyi sekecil apa pun akan terdengan jelas di telinga. Dia mencoba mengira-ngira sumber dari suara tersebut.


Di dalam kamar yang bersebelahan dengan Silvi, Angga tanpa sengaja telah menjatuhkan botol obat dari atas meja. Usahanya meraih gelas telah berhasil menyenggol benda di sampingnya itu. Dia menghela napas atas kecerobohonnya.


Kini Angga harus berusaha keras untuk mengambil kembali botol obat yang telah tergeletak di bawah meja. Dalam kegigihannya itu, tiba-tiba suara ketukan terdengar dari luar. Seketika dia menghentikan pergerakannya.


Apa itu tadi, batin Angga. Jantungnya kembali termpompa setelah sedikit mereda beberapa waktu. Pikirannya terbayang tentang hal yang tak kasat mata. Bukannya takut, tetapi saat ini dia belum siap untuk bertemu dengan makhluk beda alam itu.


Ya, sebelum ini memang Angga dalam keadaan tidak baik-baik saja. Mimpi buruk yang sama selalu terulang. Sebuah gambaran kejadian yang tidak jelas, tetapi suaranya begitu mengaung di telinga sehingga menimbulkan kepanikan yang nyata. Tidak tahu apa arti dari semua itu.


Hal itulah yang membuat Angga tidak dapat tertidur kembali. Tenggorakannya juga ikut mengering. Oleh karena itu, dia berusaha meraih gelas di meja.


"Apa kamu belum tidur?"


Suara lembut melegakan hati Angga. Dia hafal betul siapa pemiliknya. Senyum segera berkembang karena merasakan kekonyolan yang ada dalam pikirannya. Entah kenapa tadi dia dapat menyimpulkan seperti itu. Apa karena terlalu banyak menonton film horor? Apa memang dia penakut? Entahlah.


"Iya," jawab Angga singkat.


"Kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Silvi karena merasa khawatir. Dia teringat setiap malamnya ketika di rumah sakit. Angga akan terbangun pada tengah malam dengan wajah panik. Karena rasa cemas, tanpa pikir panjang Silvi kembali bertanya, "Apa aku boleh masuk?"


Keheningan kembali terjadi, tidak ada sahutan dari dalam. Silvi akhirnya merasa bahwa Angga telah tidur kembali. Namun, ketika hendak membalikkan badan, terdengar suara batuk yang seperti dibuat-buat.

__ADS_1


"Boleh," ucap Angga pada akhirnya. Sesungguhnya dia merasa canggung untuk membiarkan seorang gadis masuk ke dalam kamar pada malam hari. Namun, mau bagaimana lagi, dirinya membutuhkan teman untuk saat ini.


Silvi perlahan membuka pintu kamar. Matanya mengintip dari celah yang telah dibuat. Di dalam terlihat Angga tengah duduk bersandarkan dinding. Ya, begitulah dengan wajah yang sedikit pucat. Wanita itu segera berjalan ke arah Angga setelah pintu terbuka sempurna.


"Kenapa kamu belum tidur juga?" tanya Angga ketika Silvi telah duduk di ujung ranjang.


"Nggak tahu. Hati dan pikiran masih melayang mungkin," jawab Silvi sekenanya. "Kamu mimpi buruk lagi, ya?


Hanya anggukan yang diberikan Angga sebagai jawaban. Silvi menghela napas panjang. Dia tahu ketakutan apa yang dirasakan pria itu. Akan tetapi, dirinya juga tidak tahu kenapa itu terjadi.


"Gimana kalau kita jalan-jalan keluar rumah buat lihat bintang? Mungkin bisa nenagin pikiran kita," ucap Angga.


Pria itu tahu kalau keadaan mereka untuk saat ini hampir sama. Jadi, hal itulah yang terlintas di pikirannya. Dia bahkan sudah dapat membayangkan bagaimana langit malam ini. Akan merasa nyaman jika melihat bintang yang berkelipan menurutnya.


"Apa kamu yakin?" tanya Silvi dengan kerutan di dahinya.


"Emangnya kenapa?" tanya Angga penasaran.


Silvi menghela napas panjang sebelum menjelaskan maksud ucapannya tadi. "Ini tengah malam, loh."


"Terus?"


"Gelaplah."


Angga mendengus kesal, siapa yang tidak tahu kalau malam itu gelap. Anak kecil saja tahu, kenapa wanita itu mengatakan hal itu kepadanya?


Silvi akhirnya menjelaskan bahwa ketika malam hari di luar sangat gelap. Sekitar rumah terdapat kebun tanpa penerangan lampu, tidak seperti kota yang setiap sudut tempat pasti ada. Jadi, mungkin saja ada makhluk lain yang bersembunyi di sana.


Ketika mendengar penjelasan Silvi, bulu kuduk Angga meremang. Dia dapat membayangkan makhluk apa yang berada di kegelapan sana. Niat pun akhirnya diurungkan.

__ADS_1


***


Kesibukan sudah terlihat di rumah Budi pada dini hari. Asap mengebul dari tungku tanah liat. Aroma masakan mulai tercium hingga membuat air dalam mulut tak tahan ingin keluar.


Pagi ini Angga dan Silvi harus bersiap-siap. Walaupun hanya menikah siri, tetapi acara juga dilakukan seperti bagaimana pernikahan biasa. Semua dipersiapkan dengan sangat meriah.


"Kamu cantik banget, Silvi," ucap penata rias yang merombak wajah sang pengantin wanita.


Silvi tersipu malu, tak mampu mengucapkan sepatah kata. Wanita itu mentap wajahnya dari pantulan cermin. Sungguh tidak dapat disangka bahwa dirinya akan berubah sedemikian rupa hingga dia tak mampu mengenali diri sendiri.


"Sudah siap?" tanya Ayu. Dia berdiri di ambang pintu.


Silvi menarik napas panjang sebelum menganggukkan kepala. Dia berjalan keluar dengan perasaan gugup karena semua pasang mata tertuju padanya. Sungguh hari yang sangat mendebarkan sepanjang hidupnya walau dia tahu bahwa ini hanya sandiwara.


Angga sudah terlihat duduk di depan penghulu. Dengan gagah dan yakin dia mengucapkan ijab-qobul. Semua kata keluar dengan lancar dari mulutnya hingga terdengar suara sah dari warga yang hadir.


Doa dipanjatkan sang penghulu untuk kedua mempelai. Seperti yang diharapkan orang banyak agar pernikahan ini sakinah, mawaddah, dan warahmah. Mereka akan langgeng sampai maut memisahkan.


"Silahkan, Silvi, cium tangan suamimu," ucap sang penghulu.


Lagi-lagi Silvi menghirup napas panjang. Dadanya kini berdegup lebih kencang. Panas menjalar ke seluruh tubuh ketika tangannya menyentuh tangan Angga. Rasa apa yang membuat wanita tersebut hingga seperti ini? Sungguh dia tidak tahu karena belum pernah merasakan hal itu sebelumnya.


Angga tersenyum simpul memikirkan kejadian yang di luar pikiran. Entah, kesalahan apa yang dia buat sebelumnya sehingga harus menikah dengan cara seperti ini. Ingatan menghalangi dirinya untuk berpikir jauh ke belakang.


"Selamat, ya, Silvi."


Orang-orang bergantian memberikan selamat dan bersalaman dengan kedua mempelai. Mereka terlihat bahagia karena kelancaran acara tersebut. Namun, di sudut pekarangan rumah, seorang tampak lesu. Dia berjalan meninggalkan tempat itu tanpa suara.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2