
Kemeriahan sudah berjalan mengelilingi kampung. Banyak orang yang mengirinya, termasuk Budi dan Ayu. Sepasang suami istri itu tampak antusias.
"Pak, aku mau pulang dulu, ya? Capek," ucap Ayu. "Mumpung deket sama rumah."
Matahari hampir tepat berada pada puncak singgasana. Letih dan haus menyerang akibat terpapar terik. Ayu sudah tidak tahan lagi, ingin segera meluruskan kaki.
"Iya, Bu, sana pulang! Bapak mau ngikutin arak-arakan ini."
Mereka berdua langsung berpisah. Langkah Ayu sudah dipaksakan. Perjalanan sejauh satu kilo lebih membuatnya kelelahan. Fisik wanita itu memang tak sebagus wanita lainnya karena penyakit darah rendah.
Ayu bernapas lega, akhirnya sampai juga di halaman rumah. Dia segera masuk, lalu melewati lorong kamar. Wanita itu ingin pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
"Silvi!"
Silvi menjingkat setelah mendengar namanya dipanggil. Jantungnya terpacu, mata juga melotot. Ketika sedang berada dalam suasana hening, tiba-tiba ada yang memanggil, siapa yang tidak kaget?
"Ngapain kamu?"
"Ibu, bikin kaget aja." Silvi mengaduk teh di tangannya. "Aku bikin teh. Ibu mau?"
"Boleh. Kebetulan ibu lagi haus." Ayu duduk di kursi tempat makan. "Jangan panas-panas."
Silvi membuat satu teh lagi untuk sang ibu. Dia bernapas lega karena telah pergi dari kamar Angga. Jika masih terbuai dalam pelukan pria itu, Ayu pasti akan memergoki mereka. Sungguh firasatnya sangat tepat bahwa akan ada seseorang yang datang.
Teh sudah siap, Silvi memberikan kepada ibunya. Dia duduk di samping Ayu, lalu menyeruput miliknya. Begitu terasa menyegarkan, otot menjadi rileks, apalagi setelah ketegangaan beberapa saat yang lalu.
Obrolan antara ibu dan anak terjadi. Mereka menceritakan pengalaman masing-masing ketika berada di acara pesta rakyat. Tentu saja Silvi juga memberitahu keadaan Angga kepada sang ibu. Ayu bernapas lega ketika mendengar bahwa pria itu sudah tenang.
***
Sebuah mobil merah dengan dua garis putih sejajar ditengah memasuki pintu gerbang yang terbuka otomatis. Dua orang penjaga yang berdiri di belakangnya segera bersikap tegap. Mereka menyambut kedatangan sang tuan besar.
Mobil itu berlalu begitu saja, seperti tanpa peduli. Ia menuju halaman rumah dengan dua pilar besar yang menjulang hingga lantai dua, lalu berhenti tepat di depan pintu. Sang pengemudi segera keluar.
__ADS_1
Langkah tegap, sangat sesuai dengan kedudukannya. Sebagai pemilik perusahaan pembuatan baju ekspor, pria itu harus bersikap demikian. Kewibawaan merupakan hal yang paling utama.
"Pa, ayo, kita cari Angga!"
Baru saja beberapa langkah Reno menjejakkan kaki di dalam rumah, suara Emma sudah menyambutnya. Dia menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah sang istri.
"Setiap hari juga udah cari, Ma!"
Reno melangkah menghampiri sang istri. Dia menjatuhkan tubuhnya di sebelah Emma. Tangan meraih dasi, lalu melonggarkannya. Prai itu segera menyandarkan tubuh yang lelah ke belakang.
Reno tidak tahu kenapa sang istri kini bersemangat kembali. Bahkan, wajah Emma terlihat berseri, seakan telah menemukan sesuatu. Padahal, tadi pagi saja wanita itu masih terlihat murung
"Tapi, Pa. Mama tadi lihat Angga."
Seketika Reno menoleh ke arah Emma. Dahinya mengernyit, menunjukkan ketidakpercayaan. Dia mengutarakan kesanksiannya.
Emma segera menceritakan semua yang dilihat saat berada di desa itu. Kata demi kata keluar dengan lancar seperti menceritakan dongeng khayalan. Wajahnya juga terlihat serius.
"Ma, jangan mimpi di siang bolong." Angga kembali menyandarkan tubuhnya ke belakang. "Masak Angga pakai kursi roda. Lagian, dia juga nggak punya jenggot, Ma."
Reno menggelengkan kepala. Dia merasa kasihan terhadap sang istri. Rasa rindu yang mendalam memang membuat sesuatu itu tampak nyata. Mungkin, sekarang Emma sedang mengalaminya.
Reno bangun dari duduknya. Dia sudah lelah, tak ingin lagi mendengarkan khayalan sang istri. Pria itu melangkahkan kaki, pergi menuju tangga.
"Pa, percaya sama mama!" teriak Emma. Akan tetapi, sang suami terus saja melangkah. "Pa!"
***
Senja menjelang, langit menampakkan rona jingga. Beberapa orang dengan tubuh letih, berjalan menuju rumah masing-masing. Begitu juga dengan Budi, dengan beberapa sayuran hasil berebut gunungan di tangan, memasuki rumah. Dia melewati Angga begitu saja di ruang tamu.
Di tempat lain, Silvi melangkahkan kaki lebar. Dia ingin segera menemui pemuda samping rumahnya. Sudah dua hari sejak mengunggah foto Angga, wanita itu ingin tahu perkembangannya.
"Belum ada. Adanya cuma komen yang bilang orang itu ganteng."
__ADS_1
Silvi tersenyum setelah mendengar kata-kata pemuda itu. Dalam hati merasa senang, tentu saja ganteng, suami siapa dulu. Dia merasa bangga akan hal itu.
"Banyak juga yang mau jadi istrinya."
Senyum Silvi seketika pudar. Dia merasa cemburu dengan wanita yang berkata seperti itu. Walaupun sesungguhnya, dirinya tidak kenal dengan mereka.
"Baiklah kalau gitu. Nanti kalau ada sesuatu, kabari aku," ucap Silvi. "Aku pamit pulang dulu. Makasih."
Silvi menundukkan kepala sebagai rasa terima kasih kepada pemuda itu. Setelah mendapat balasan, dia membalikkan badan, lalu melangkah pergi. Tujuannya berada di depan mata, yaitu rumah.
"Kenapa dari tadi diam terus?" tanya Silvi setelah memasuki pintu rumah. Dia duduk di kursi sebah Angga.
Helaan napas berat terdengar, Silvi khawatir dengan Angga karena sejak bangun tidur siang tidak banyak mengeluarkan kata. Pria tersebut terus saja termenung. Silvi tidak bisa membantu joka begini terus-menerus.
Hembusan napas panjang keluar dari mulut Silvi. Dia sudah lelah membujuk Angga supaya mau berbicara. Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke belakang. Keinginan bertanya tentang gumaman ketika tidur siang diurungkan karena takut jika kondisi pria itu belum stabil.
"Kayaknya aku ingat sesuatu," ucap Angga. Matanya masih menatap kosong ke depan.
Silvi menegakkan kembali tubuhnya. Kepalanya melongok, menatap Angga penuh tanda tanya. Apakah kali ini berhubungan dengan kata tadi?
"Ingat apa?" Senyum terbaik Silvi tunjukkan. Namun, perasaan lain mulai menyerang hatinya.
Angga masih diam. Sesungguhnya, dia sedikit ragu untuk menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya. Ingatan samar belum mampu membawa ke dalam kebenaran sepenuhnya. Namun, dia yakin akan segera mendapatkan hal itu.
"Mungkin nanti aja aku ceritanya." Angga menundukkan kepala. Dia merasa belum tepat waktunya untuk meceritakan semua itu.
"Katakan aja. Mungkin bisa membantu."
Angga mengambil napas panjang. Mungkin benar apa yang dikatakan Silvi, dia harus mengatakan semuanya pada wanita itu. Ingatan sekecil apa pun bisa menjadi petunjuk.
"Mama. Aku ingat mama."
Angga begitu yakin dengan ucapannya. Setiap mengingat wajah itu, hatinya merasakan getaran aneh, manis, tetapi sangat menyesakkan. Wanita yang selalu tersenyum untuknya di kala apa pun.
__ADS_1
Benar dugaan Silvi, pria itu telah mendapatkan sedikit ingatannya lagi. Jika sepert ini, dia yakin bahwa Angga dapat kembali ke rumahnya. Tidak tahu, ingin senang atau sedih karena hal tersebut.
Bersambung.