Sekadar Pelindung

Sekadar Pelindung
Bab 8. Dua Insan Bersatu


__ADS_3

Lampu temaram membuat suasana damai di malam hari. Suara jangkrik bersahutan adalah lagu penenang jiwa. Tidak ada lagi obat penawar kegundahan kecuali alam. Mereka senantiasa menghibur siapa saja yang membutuhkannya.


Silvi duduk di ruang tamu, menikmati segala karunia Tuhan. Secangkir teh sebagai teman di malam yang dingin. Gelapnya halaman yang luas membuat pikiran lepas.


"Kamu belum tidur?"


Silvi mengedipkan mata dengan cepat, mengalihkan pandangan pada sosok pria yang bertanya. Matanya mengikuti Angga yang sedang mendorong roda kursi agar maju, lalu berhenti tepat di depan pintu.


Angga menatap lepas ke langit yang cerah. Dia melihat bintang betebaran di sana dan berharap menemukan sebuah jawaban. Sudah satu minggu lebih setelah keluar dari rumah sakit, dirinya belum juga mengingat sedikit pun tentang masa lalu.


"Belum." Silvi berjalan menuju belakang kursi roda Angga.


"Bapak sama ibumu?"


"Kayaknya udah pada tidur."


Silvi menatap punggung lebar Angga. Entah mendapat keberanian dari mana sehingga dia mampu meletakkan jari-jarinya di sana. Lama-kelamaan satu telapak tangan penuh berhasil menyentuh daging keras yang tertutup kaos.


Tentu saja reaksi pertama yang diberikan Angga adalah sedikit menjingkat. Untuk pertama kali Silvi memberinya sentuhan seperti itu. Dia melirik tangan yang kini sudah berada di bahunya. Pergerakan tangan yang perlahan membuat tubuh pria itu bergetar. Dia segera mengalihkan semua dan fokus kembali pada ingatannya.


"Kamu, kenapa belum tidur juga?"


"Aku nggak mau tidur cepat, nanti bisa mimpi buruk lagi," jawab Angga. Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangan.


Silvi mengangguk, paham. Dia duduk di kursi yang berlawanan arah dengan posisi Angga. Kini gadis itu dapat menatap wajah pria di depannnya dengan jelas, sungguh nyaris sempurna. Tubuh kekar dengan lengan berotot tercetak jelas di balik kaos yang sedikit ketat. Rambut mulai tumbuh di sekitar janggut dan di atas bibir. Siapa saja pasti akan tergoda karena hal itu.


Deheman membuat Silvi mengerjap. Ternyata pria yang sedari tadi dia perhatikan telah menatapnya. Tidak tahu sejak kapan Angga memergoki dirinya. Rasa malu yang teramat dia rasakan, seperti ingin masuk ke dalam cangkang kura-kura.

__ADS_1


Bodohnya aku, batin Silvi. Dia merutuki perbuatannya tadi.


Angga kembali menatap ke langit luas. Sementara itu, Silvi masih mencoba untuk menenangkan diri dari rasa malu. Keheningan terjadi saat itu, tenggelam dalam pemikiran masing-masing.


"Kamu tahu nggak, ada pulau cantik di balik bukit?"


Silvi mencoba membuka bahan pembicaraan. Dia mengesampingkan rasa malu yang baru saja hinggap. Tidak tahu kenapa, kini dirinya merasa tidak nyaman berada dalam keheningan saat bersama Angga.


Bersama dalam beberapa waktu membuat dirinya nyaman ketika bercakap dengan pria tersebut. Kini Silvi sedikit memahami pria di depannya. Ternyata Angga tidak semengerikan waktu itu. Memang kesalahan dia karena membuat candaan di waktu yang tidak tepat.


Angga menggeleng pelan. Matanya bergerak ke samping, milirik gadis di sebelahnya. Dia ingin mendengarkan cerita tentang pulau itu.


"Di sana ada rumah yang kelihatan sejuk. Pemandangannya juga cantik."


Silvi menjelaskan semua yang diketahunya lewat layar kaca maupun percakapan dengan beberapa orang. Sebuah pulau dengan satu buah landasan helikopter dan dermaga, tempat orang yang berduit menghabiskan kekayaan. Malam di sana akan begitu meriah dengan lampu warna-warni di seluruh pulau. Sangat cocok untuk sepasang kekasih yang sedang memadu cinta.


Sebuah percakapan tentang pulau itu menggema di telinga. Dari yang hanya samar-samar, kini semakin jelas. Angga yakin salah satu suara itu adalah miliknya dan yang lain adalah vocal seorang wanita. Namun, dia tidak tahu milik siapa itu.


"Kamu nggak apa-apa?" Silvi menggenggam jemari Angga, merasa khawatir. Karena tidak mendapat jawaban, dia berdiri untuk menutup pintu sebelum membawa pria itu masuk ke dalam kamar.


Silvi membantu Angga berbaring ke atas ranjang. Susah payah gadis itu menopang tubuh pria yang sedang sempoyongan. Karena sudah tidak kuat menahan, dia akhirnya terjatuh di atas dada pria itu.


Gadis itu panik, lalu segera menapakkan tangan ke atas ranjang. Namun, usahanya mengangkat tubuh gagal karena terhalang tangan Angga. Matanya membulat, tak percaya dengan apa yang terjadi. Dia sadar, lalu berusaha untuk melepaskan tangan pria itu.


"Apa—"


"Diam! Sakit kepalaku sudah agak hilang." Angga mempererat pelukannya. Dia memejamkan mata, mencoba melepaskan lelah dalam pikiran.

__ADS_1


Kini Silvi tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tangannya melemah, hilanglah jarak di antara mereka. Irama detak jantung terdengar jelas di telinga, membuat dirinya terhanyut dalam alunan.


Tangan Silvi perlahan meraih pundak Angga dari belakang, semakin mendekapkan tubuhnya. Kehangatan membuat dirinya semakin terlena. Sebuah perasaan nyaman yang pertama kali dia rasakan, tak rela untuk melepaskan.


"Silvi." Angga meraih dagu gadis tersebut, lalu mengarahkannya ke atas agar bisa menatap wajah manis itu.


Perlahan Angga merubah posisi, menghimpit tubuh Silvi di bawahnya. Dia mampu melakukan hal tersebut karena hanya tulang kering yang patah. Jadi, pria itu dapat menggunakan lutut sebagai tumpuan.


Embusan napas terdengar begitu berat. Hal itu terjadi bukan karena himpitan di antara mereka, tetapi sesuatu dari dalam tubuh yang telah naik. Sesuatu yang pertama kali Silvi rasakan.


Sejenak mereka beradu pandang. Dua pasang mata bertemu dalam diam, tetapi mampu mengatakan perasaan. Perlahan naluri mengantarkan keduanya pada malam yang indah. Dua insan bersatu dalam peluh menuju puncak kenikmatan.


"Maafin aku." Hanya itu yang mampu diucapkan Angga setelah semuanya terjadi. Dia menutupi tubuh polos mereka dengan selimut, lalu mendekap wanita yang sudah tidak gadis itu.


Silvi tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya mampu membenamkan wajah ke dalam pelukan Angga dan mengatur napas agar kembali normal. Ini akan menjadi pengalaman pertama yang tidak terlupakan baginya.


Beberapa menit berlalu, sudah tidak ada pergerakan dari Angga. Pelukannya juga sudah mulai terlepas. Silvi menatap wajah pria yang tengah tertidur itu, kini sudah terlihat lebih tenang.


"Eh!" Silvi tersadar. "Aku harus cepat pergi dari sini."


Silvi tak ingin terhanyut sehingga tertidur di sana. Dia takut apa yang mereka lakukan ketahuan oleh kedua orang tuanya. Rasa kecewa yang mendalam pasti akan dirasakan keduanya jika hal itu terjadi.


Perlahan wanita itu menyingkirkan tangan Angga dari atas tubuhnya, lalu berusaha duduk. "Aduh!" Silvi meringis, merasakan sedikit sakit dan kaku di sekitar paha.


Dia mengabaikan semuanya, lalu segera turun dari ranjang. Pemandangan luar biasa terlihat di lantai kamar. Beberapa potong pakaian berserakan di bawah sana. Seketika terlintas bayangan di mana pria itu melucuti setiap kain yang melekat di tubuhnya. Kedua ujung bibir berhasil terangkat.


Silvi memunguti satu per satu pakaian itu dengan tertatih. Dia mengenakan kembali pakaiannya yang sedikit kusut, lalu meletakkan pakaian Angga di gantungan dinding. Sebelum keluar dari kamar, sekali lagi dirinya menatap wajah pria tersebut untuk mengucapkan selamat malam.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2