
Silvi mengerutkan kening ketika melihat seorang wanita memeluk Angga. Helaan napas berat terdengar dari arahnya. Memang, dia sangat merasa sesak di dada ketika melihat adegan itu. Ingin rasanya menarik rambut wanita tersebut, lalu mendorongnya sejauh mungkin. Namun, apalah daya, dirinya tidak ingin membuat masalah di depan ke dua orang tua sang suami.
Wanita itu, Alia memejamkan mata, mencium aroma pria yang diyakini adalah Angga. Dia paham betul bentuk punggung kekasihnya walaupun dibalut oleh kaos yang sedikit usang. Maka dari itu, dirinya tanpa ragu memeluk pria tersebut. Namun, ketika melirik ke kiri, dilihatnya kruk yang menyangga si pria. Pelukan seketika mengendur karena keraguan menghampiri.
Angga menarik tangan kanan Alia, wanita yang memeluknya. Dia berhasil melepaskan hanya dengan satu kali sentakan. Tubuh wanita itu terbawa hingga ke sisi kanannya.
"Angga, apa yang kamu lakuin?" Emma berjalan cepat menuju Alia, lalu memeluk wanita tersebut.
Mendengar nama Angga disebut, Alia tercengang. Ternyata pria itu benar-benar kekasihnya yang gagah dulu dan kini menggunakan kruk. Wajahnya berubah masam, begitu merasa kecewa. Dari unggahan foto di sosial media tidak tampak kalau pria tersebut lumpuh.
Angga tidak segera menjawab pertanyaan sang ibu. Fokusnya teralih pada kaki kiri yang mulai gemetar, rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuh. Akan tetapi, dia masih berusaha bertahan dalam posisinya. Pria itu tidak ingin terlihat lemah walau bagaimanapun keadaannya.
"Dia tiba-tiba ... uh!" Angga meringis kesakitan. Ternyata, dia tidak mampu menahan lagi. Tubuhnya sudah terasa lemas.
Silvi dengan sigap menangkap tubuh Angga. Memang sejak tadi dia memperhatikan pria tersebut. Wanita itu tahu bahwa Angga sudah sangat kelelahan. Jadi, dirinya sudah berjaga-jaga menghadapi kondisi apa saja.
Reno juga segera berlari, lalu meraih tangan kanan Angga. Dia merasa sedih dan bersalah setelah melihat kondisi sang anak yang begitu memprihatinkan.
"Ayo, kita masuk!" Reno memapah tubuh sang anak.
Silvi melepaskan pegangannya, lalu mengikuti kedua pria yang lebih dulu masuk rumah. Tentu saja perasaan kagum segera hinggap. Tatanan perabot di dalam rumah itu sangat rapi dan begitu terlihat mewah. Semua tampak mengkilap tanpa sedikit saja debu yang menempel.
"Siapa wanita kampung itu, Tante?" Alia menunjuk ke arah Silvi. Bibirnya terangkat sebelah ketika melihat orang yang disebutnya wanita kampung tengah memperhatikan seluruh bagian rumah itu.
"Entah." Emma mengangkat ke dua bahunya. "Dia ke sini bareng Angga."
__ADS_1
Emma merangkul lengan Alia, lalu menariknya untuk masuk ke dalam rumah. Dia masih ingin bertanya dan bercerita banyak dengan sang anak. Sudah dua minggu lebih dirinya menahan rindu yang mendalam, kini tidak ingin melewatkan waktu sedikit saja.
Alia tersenyum miring ketika melihat Silvi duduk di samping sang kekasih. Dia merasa tidak rela membiarkan wanita kampung tersebut di sana. Dirinya berjalan cepat, lalu begitu saja duduk di antara mereka berdua.
Silvi hanya melirik wanita itu. Dia merasa kesal, tetapi tidak mampu melakukan apa pun. Dirinya tidak ingin mencari masalah karena belum mengenal siapa Alia dan apa hubungannya dangan Angga. Salah langkah di tempat baru hanya akan mempersulitnya.
"Kamu nggak apa-apa, 'kan, Sayang?" Alia memegang lengan Angga. Dia terlihat cemas. Namun, pria itu menyingkirkan tangannya.
Wanita itu tercengang dengan perlakuan Angga. Bahkan, pria itu tidak peduli terhadapnya sejak tadi. Padahal, dulu dirinya akan selalu dipeluk ketika bertemu.
"Dia amnesia, Al," ucap Emma. Dia mengetahui wajah kebingungan Alia.
Alia bergeming, menatap Angga dengan ketidakpercayaan.Terlihat juga raut kekecewaan di wajahnya. Namun, dalam hati gadis tersebut merasa kesal.
"Apa kamu juga nggak ingat aku, pacarmu?" tanya Alia.
Alia segera berdiri, wajahnya sudah ditekuk ke bawah. Dia sangat kesal karena Angga benar-benar tidak ingat tentangnya. Kaki menghentak lantai sekali sebelum dirinya berjalan menuju sofa kosong di seberang meja.
Kini Emma yang menggantikan posisi Alia. Sang ibu juga tidak ingin Angga duduk bersebelahan dengan wanita kampung itu.
Silvi terpaksa berpindah tempat karena terlalu sesak duduk satu sofa berempat. Matanya terlihat sendu ketika menatap Angga yang hanya diam saja. Sedih, tentu saja. Dia merasa posisinya telah terganti dan tersingkirkan dari sisi pria tersebut.
"Kita belum tahu tahu latar belakang Angga dan ayah nggak mau ngorbanin kamu. Jadi, kamu cuma nikah pura-pura."
Nasehat sang ayah tiba-tiba menggema di telinya Silvi. Semua itu terbukti saat ini, keluarga Angga tidak menyambutnya sama sekali. Bahkan, dirinya seperti tidak dianggap. Mereka hanya bercakap antara empat orang saja, tanpanya.
__ADS_1
Slivi tertunduk lesu, ingin rasanya cepat pergi dari situasi seperti itu. Sesak sungguh terasa di dalam hati hingga sebuah kalimat dari Angga mampu membuat wanita itu mengangkat kepala.
"Dia adalah istriku."
Mulut Silvi terbuka sedikit karena tidak percaya dengan pendengarannya. Dia tidak tahu percakapan apa yang sebelumnya terjadi sehingga Angga mengucapkan kata-kata itu. Dirinya sudah tenggelam dalam lamunan dan angan.
Kini semua mata tertuju pada Silvi. Tiga pasang mata seperti sedang mengintimidasinya, kecuali Angga. Entah, tatapan mata apa yang tengah ditunjukkan, tetapi dirinya merasa tenang dan lebih senang ketika melihatnya.
"Apa maksudmu, Sayang?" Alia menatap Angga dengan mata melebar. Terlihat sekali dadanya kembang-kempis.
Kedua pasang mata di samping Angga juga tidak mau kalah. Mereka menatap penuh tanya dan menanti jawaban apa yang akan diberikan oleh sang anak.
"Maksud? Aku nggak punya maksud apa-apa. Dia memang istriku," kata Angga.
"Gimana kamu bisa nikah sama dia? Kamu nikah nggak ada kami, hah!" Reno sedikit membuka mata lebar.
Kini Angga mulai menceritakan apa yang terjadi selama ini dan kenapa dirinya bisa menikah dengan Silvi. Tidak ada yang disembunyikan walau hanya sedikit. Namun, wajahnya begitu santai ketika mengucapkan kata demi kata, seperti tidak ada beban.
"Biar begitu, dia tetap istriku sah menurut agama," ucap Angga.
Senyum bahagia terlihat di wajah manis Silvi. Untuk pertama kali dirinya mendengar kata itu dari mulut Angga, sebuah pengakuan yang tidak terduga. Kini dia meyakini bahwa pria tersebut berada di pihaknya dan pasti akan mempertahankan status mereka.
"Tapi, kayak yang kamu bilang tadi, kalian nikah, 'kan, cuma buat status aja biar kamu bisa tinggal di sana? Kenapa sekarang malah kamu anggap serius?" tanya Reno.
"Sebuah janji suci di hadapan Tuhan nggak ada yang main-main, Pa. Semuanya serius," jawab Angga. Wajahnya terlihat tidak main-main dengan ucapannya.
__ADS_1
"Terus, gimana denganku? Kita udah tunangan dan dua bulan lagi nikah, Angga."
Bersambung.