
Air mengalir mengikuti lekuk tubuh Silvi, membasahi semua kain yang menutupinya. Suara gemercik menyamarkan isakan. Dia menutup mata, mencoba menenangkan gejolak dan sesak yang kian menjerat di hati.
Sudah hampir 30 menit wanita itu duduk di atas lantai dingin kamar mandi dengan perasaan hancur. Harapan telah hilang, hanya ada pisau yang menancap tepat di hati, meninggalkan luka menganga di sana.
"Aku udah salah ngartiin sikapmu kepadaku selama ini. Kalau nggak cinta, kenapa kamu tega lakuin semua itu, Mas Angga?"
Silvi berteriak sekuat tenaga, melepaskan semua kekecewaan di dalam hati, daripada hanya menangis. Ya, kini dia merasa sedikit lega. Dadanya naik-turun seiring emosi yang menggebu.
Silvi mulai berdiri dengan kaki lemas. Dia sudah merasa lelah terus menangis di sana. Kini matanya terbuka, terlihat nyalang, bibir mulai terangkat. Dirinya merasa seakan mendapatkan sebuah kekuatan.
"Kamu jangan terlalu lemah, Silvi! Kamu harus tetap berjuang." Wanita itu mengepalkan tangan di depan dada. Dia sudah lelah diremehkan oleh orang-orang. Kini waktunya Silvi bangkit.
"Semua belum berakhir. Aku harus mendapatkan hatinya sebelum dia benar-benar ingat. Jangan jadi Silvi yang penakut lagi!"
Silvi begitu tampak bersemangat. Namun, seketika matanya membuka lebar, sadar akan sesuatu. Dia menatap ke bawah, menemukan bahwa bajunya telah basah semua.
"Gimana, nih? Aku emang bodoh," umpatnya.
Silvi melipat tangan di atas dada. Kepalanya sedikit miring ke kanan. Dia mencoba memikirkan sebuah solusi.
Akhirnya, wanita itu melepas seluruh pakaian yang melekat. Dia mencuci semuanya dengan sabun mandi yang berada di sana. Entah, berapa banyak sabun yang dituangkan untuk membuat busa pada bajunya.
Silvi memeras pakaian itu sekuat tenaga, mencoba mengeluarkan air yang masih tersisa. Besi goden penyekat menjadi tempat menjemur baginya. Dia tidak tahu harus meletakkan di mana lagi.
Wanita itu bergegas menyelesaikan mandinya karena sudah merasa kedinginan. Kepalanya melongok dari pintu kamar mandi, mencoba melihat keadaan kamar. Sebelunya, dia tidak memperhatikan kondisi sekitar karena terlalu fokus dengan rasa sakit di hati.
"Kamar segede ini kosong, cuma ada kasur dan meja kecil aja? Orang kaya nggak nyediain lemari buat tamu, ya? Parah!"
Ruangan begitu terlihat rapi. Ranjang tepat di tengah dengan nakas di kanan-kirinya. Dinding putih polos, hanya satu bagian tepat di sebelah kamar mandi yang memiliki garis lurus ke bawah.
Silvi tidak mau sakit akibat kedinginan di sana. Dia segera berlari menuju ranjang, lalu duduk tepat di tengah. Dirinya menutupi seluruh tubuh dengan selimut putih yang tebal. Wanita itu akan menunggu di sana hingga bajunya kering.
Suara nyaring terdengar dari perutnya, cacing di dalam sana mulai protes. Sejak berangkat ke rumah itu memang Silvi belum memasukkan makanan sama sekali. Kini tubuhnya benar-benar mengigil karena rasa lapar dan dingin yang menerpa.
__ADS_1
Ketukan pintu terdengar, diikuti suara seorang pria. "Silvi, kamu udah mandi?"
Sebelum wanita tersebut menjawab, pintu kamar telah terbuka meperlihatkan Angga tengah duduk di kursi roda. Silvi segera merapatkan selimut ke tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, takut jika ada bagian tubuh yang terlihat.
Angga mengernyitkan dahi melihat tingkah aneh Silvi. "Ngapain kamu? Bukannya mandi."
Pria itu mulai memutar roda kursi untuk masuk ke dalam kamar. Dia berhenti tepat beberapa langkah dari ranjang di mana Silvi berada.
"Aku udah mandi, kok."
"Kamu bisa nyalain kran ...."
Ucapan Angga terhenti ketika menoleh ke arah kamar mandi. Pintu yang terbuka memperlihatkan pemandangan di dalamnya. Mata pria itu membulat.
"Jangan lihat ke sana!" Wajah Silvi seketika memerah karena Angga telah melihat pakaian dalamnya berjajar dalam kamar mandi.
Angga mengalihkan pandangan menuju Silvi. "Kamu jemur pakaianmu di sana?" Dia menunjuk ke arah kamar mandi.
"Kamu suruh aku mandi, tapi nggak sediain pakaian. Ya, terpaksa aku cuci baju buat dipakai lagi."
Angga menghela napas panjang. Dia memutar kembali roda pada kursinya, mendorong ke sisi kanan Silvi. Pria itu berhenti tepat di samping dinding yang memliki garis lurus ke bawah.
"Ini, 'kan, baju, Silvi? Aku udah minta asistenku buat beliin tadi."
"Oh, itu ternyata lemari," ucap Silvi menggumam. Wajahnya terlihat begitu polos.
"Jadi, sekarang kamu nggak pakai apa-apa?"
Angga menggelengkan kepala setelah melihat Silvi mengangguk. "Cepat pakai baju, terus keluar. Kita akan makan malam bareng."
Setelah Angga meninggalkan kamar, Silvi segera mengunci pintu kamar. Dia takut jika pria itu tiba-tiba kembali masuk ke dalam kamar.
Silvi berjalan menuju lemari. Matanya membulat ketika melihat pakaian yang begitu indah berjajar di sana.
__ADS_1
***
Angga dan kedua orang tuanya sudah duduk mengelilingi meja makan. Reno berada di samping kiri, sedangkan Emma di seberang meja, berhadapan dengannya. Mereka bersiap untuk makan malam. Namun, Silvi tak kunjung ke luar kamar. Entah, apa yang wanita itu lakukan.
"Kamu nggak makan?" tanya Emma.
"Silvi belum ke sini, Ma." Angga menatap pintu kamar di sebelah dapur.
"Ngapain tunggu dia. Nanti kalau lapar juga keluar makan sendiri." Emma memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut dengan sedikit kasar. Dia merasa kesal karena sang anak begitu memperhatikan wanita kampung itu.
Mata Angga membulat sempurna ketika seorang wanita keluar dari pintu yang sejak tadi ditatapnya. Silvi begitu anggun dengan daster polos berwarna biru telur asin dengan bentuk leher huruf V dan panjang setinggi lutut. Rambut digerai dan riasan tipis di wajah menambah pesonanya.
"Ngapain kamu pakai baju kayak gitu? Mau goda Angga?" Emma menatap Silvi penuh ancaman. "Nggak, kamu nggak akan bisa! Mulai malam ini kalian tidur terpisah sampai selamanya."
Silvi hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Emma. Namun, dalam hatinya sedikit senang. Apa yang dikatakan ibunya Angga menandakan bahwa pria itu tidak bercerita banyak tentang mereka.
Beda banget, kamu jauh lebih cantik, Silvi. Angga tidak bisa berhenti menatap Silvi yang kini sudah berada di kursi sebelah kananya. Dadanya terlihat kembang-kempis dengan degup jantung yang meninggi.
"Angga, udah! Ayo, cepat makan! Ngapain lihatin dia terus," ucap Reno tegas.
Angga tersadar, lalu mengalihkan pandangan pada nasi dalam piring di depannya. Kepalanya sedikit menggeleng, kedua ujung bibir tertarik ke atas. Dia merasa konyol karena sudah memandang Silvi seperti itu.
Keheningan terjadi hingga mereka selesai makan. Semua orang segera meninggalkan meja setelahnya. Kini tempat makan terlihat sepi dan gelap.
Waktu sudah menujukkan hampir tengah malam, Silvi masih belum dapat tertidur di tempat baru. Dia beranjak dari ranjang, lalu menuju pintu. Wanita itu ingin mengambil air minum di dapur.
"Siapa itu?"
Silvi terkejut ketika pintu kamar baru terbuka sedikit, bayangan hitam terlihat menuju tangga. Langkah sosok itu tampak terhuyung-huyung. Dia yakin bahwa itu adalah sosok dari dunia lain karena postur tubuh tidak seperti manusia, besar dan tinggi.
Wanita itu segera menutup pintu kembali. Dia naik ke atas ranjang, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Bulu-bulu halus di seluruh tubuh sudah berdiri sejajar, menunjukkan rasa takut yang teramat. Mata mencoba terpejam agar dapat melupakan peristiwa yang baru saja terjadi.
Bersambung.
__ADS_1