
Seminggu berlalu, Angga benar-benar tidak mengingat apa pun. Bahkan, dia tidak tahu kejadian apa yang dialami hingga mengakibatkan dirinya sampai di sana.
Silvi merasa kecewa dengan keadaan Angga. Biaya rumah sakit yang direncanakan akan di timpakan seluruhnya kepada pria itu, kini merekalah yang menanggung.
"Kita siap-siap buat pulang," ucap Silvi seraya memasukkan pakaian dengan warna sedikit pudar ke dalam tas.
Itulah yang dikenakan Angga selama ini. Karena tidak punya pakaian sama sekali, Budi memberikan beberapa yang bajunya. Untung saja semuanya muat di tubuh pria itu walau sedikit ketat.
"Pulang ke rumahmu?" tanya Angga.
"Mau ke mana lagi?"
Percakapan singkat sudah menjadi kebiasaan mereka. Sifat pendiam Silvi dan Angga yang tidak mampu mencairkan suasanalah penyebab dari semua itu. Padahal, dokter meminta untuk memperbanyak interaksi supaya pria itu cepat mendapatkan ingatannya kembali. Namun, mau bagaimana lagi, begitulah sifat mereka dan tidak dapat diubah.
Hari ini Angga keluar rumah sakit atas permintaan Budi. Dokter menyetujuinya setelah melihat perkembangan pria itu yang begitu baik. Akan tetapi, dia mengingatkan kepada keduanya agar rutin membawa pemuda tersebut untuk terapi berjalan karena kaki yang masih perlu banyak perhatian. Begitu pula dengan penyakit amnesianya.
"Silvi, ayo kita pulang," ucap Budi. Dia tiba-tiba di belakang Silvi tanpa disadari.
Wajah Budi terlihat sangat lega. Uang yang mereka berdua kumpulkan, cukup untuk membayar biaya rumah sakit. Keduanya ikhlas melakukan ini semua karena berprinsip bahwa Tuhanlah yang akan menggantikan.
Budi membantu Angga untuk berpindah ke kursi roda. Ketiganya berpamitan kepada pasien dan keluarga yang masih di sana. Dengan menggunakan taksi, mereka menuju rumah Budi.
***
Hamparan sawah hijau membentang sedang menari-nari, seolah menyambut kedatangan Angga. Mata tak dapat melepaskan pemandangan yang menyejukkan. Semua beban pikiran terbang, terbawa embusan angin sore itu.
"Ayo, kita turun!" Silvi mengulurkan tangan ke arah Angga.
__ADS_1
Dengan bantuan gadis itu, Angga segera keluar dari mobil. Dia duduk di kursi roda yang telah disediakan sebelumnya. Kaki kiri yang patah membuat dirinya tak berdaya.
Beberapa warga mengintip dari rumah masing-masing ketika mereka datang. Ada juga yang terang-terangan memperhatikan. Sementara itu, tetangga terdekat antusias, menyapa dan menanyakan kabar.
Silvi dengan ramah menanggapi sapaan itu seraya mendorong kursi roda masuk ke dalam rumah. Keramah tamahan sungguh sangat terlihat di antara tetangga itu. Sebuah pemandangan khas yang terlihat di pedesaan.
"Udah sampai?" tanya Ayu. Dia datang dari arah belakang rumah.
Ruangan sempit di hadapan mata Angga, dengan dua buah kursi kayu panjang yang menghimpit meja. Sebuah vas dengan bunga berwarna merah menghias di atasnya. Sinar matahari menyusup melalui celah dinding kayu merupakan pencahayaan pada kala hari terang. Dia memindai setiap sudut ruangan itu.
"Ini rumah kami, kecil, tapi nyaman. Buat sementara, kamu tinggal di sini sampai ingat semua," kata Budi. Dia berharap Angga tidak mempermasalahkan kondisi rumahnya.
"Makasih, Pak." Angga menganggukan kepala.
"Silvi, antar dia ke kamar biar bisa istirahat!" perintah Budi.
Perlahan Silvi mendorong kursi roda Angga untuk memasuki kamar yang berukuran tiga kali tiga meter. Dipan kayu dengan kasur kapuk terlihat di sudut ruangan. Seprai putih tampak menyelimuti di atasnya dengan rapi.
Angga meringis ketika kaki kiri menapak lantai. Nyeri beserta sakit yang teramat seakan mematahkan kembali tulangnya. Sebagai pria tangguh, dia berusaha menahan semua rasa itu. Masa lalunya mungkin lebih perih dari pada apa yang dirasakan saat ini.
"Terima kasih."
Silvi terkejut mendengar ucapan Angga. Setelah beberapa hari bersama, untuk pertama kali kata itu terdengar. Bukan berpikir dirinya telah menolong pria tersebut dan wajib mendapatkan penghargaan walau hanya ucapan terima kasih, tetapi setidaknya dua kata itu dapat menghargai jerih payah yang dilakukan. Tentunya dia akan sangat senang mendengarnya.
Benar saja. Senyum terlukis di wajah manis Silvi. Hatinya merasa senang walau hanya mendapat ucapan terima kasih dari pria itu. Bunga seakan memenuhi relung hati, sungguh harum semerbak tercium hingga ke jiwa. Tak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Sama-sama." Silvi duduk di sebelah Angga.
__ADS_1
Entah kenapa saat ini pikirannya hanya dipenuhi oleh pemuda itu. Mungkin hanya perasaan kagum dengan paras tampan yang tak pernah ada di desa. Namun, bukan itu saja, dia sangat penasaran dengan latar belakang serta kehidupan terdahulu Angga. Jadi, jalan satu-satunya adalah membantu agar ingatan masa lalu cepat kembali.
Angga menatap setiap sudut kamar, atap sungguh terlihat pendek bagi pria dengan tinggi 181 senti. Dipan juga hanya selebar tubuh, tak bisa bergerak, pasti kepala dan kaki akan menyentuh ujung-ujungnya.
"Ehm!" Silvi mencoba mendapatkan perhatian Angga dan berhasil. "Apa rencanamu besok?"
Angga berpikir untuk menjawab pertanyaan Silvi. Sungguh sangat sulit sepertinya karena banyak hal yang tidak mendukung, terutama kaki. Dia tidak dapat pergi ke mana-mana jika masih duduk di kursi roda. Langkah pertama yang harus diambil adalah fokus pada penyembuhan kaki.
Ketika Angga mulai membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Silvi, terdengar suara kegaduhan dari arah depan. Entah keributan apa yang terjadi, tak terdengar jelas dari sana kerena terhalang satu kamar, walaupun dia sudah berusaha fokus.
"Tunggu sebentar! Biar aku lihat dulu." Silvi bangun dari duduknya, lalu melangkah menuju pintu kamar. Namun, tiba-tiba seseorang muncul dari arah sana.
"Kamu masih di sini, Silvi?" tanya Budi.
Gadis itu hanya menundukkan kepala, tidak berani menjawab. Ketakukan seketika menguasai pikiran. Dia tahu pasti sang ayah akan marah kerena dirinya berduaan dengan seorang pria, apalagi di dalam kamar. Namun, hal mengejutkan terjadi, Silvi justru ditarik untuk mendekat ke arah Angga.
"Pak RT datang ke sini karena nggak terima kalau kamu di sini, Nak Angga," ucap Budi setelah berhasil duduk.
Kedua pemuda itu mengerutkan kening, penasaran dengan alasan yang mendasarinya. Penjelasan Budi hanya singkat, norma dalam masyarakatlah acuan mereka. Ya, pemuda asing tidak boleh menginap di rumah warga memiliki yang gadis di rumah, ditakutkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Terus, gimana, Pak?" Silvi menatap sang ayah dengan mata sendu. Entah kenapa dia merasa sedih mendengar kabar tersebut.
"Kalau masih mau Angga di sini, mereka bilang, kalian harus menikah."
Silvi membuka mata lebar, tidak siap jika hal itu terjadi karena bukan Angga orang yang dipercayai akan datang. Sementara itu, sang pemuda menundukkan kepala. Dia merasa cobaan bertubu-tubi menimpanya.
Begitu sulit keputusan yang harus diambil Budi saat ini. Latar belakang Angga yang belum diketahui membuatnya bimbang, mungkin juga pemuda itu sudah berkeluarga. Jika dia menikahkan sang anak, lalu bagaimana nasib ke depannya? Namun, dibalik semua hal tersebut, rasa kemanusiaan selalu melingkupi hatinya.
__ADS_1
"Maaf, Silvi." Budi menatap sang anak, lalu beralih ke pria di sampingnya. "Nak Angga. Terserah kalian mau setuju apa nggak, tapi semua harus diputuskan."
Bersambung.