Sekadar Pelindung

Sekadar Pelindung
Bab 18. Bukan Cinta


__ADS_3

"Aku percaya sama Mama." Angga menatap wajah seraya menggenggam tangan Emma.


Emma tersenyum, merasa bahagia. Akhirnya Angga mendengar perkataannya. Dia tidak perlu khawatir lagi dengan masa depan sang anak. Ya, dirinya tidak ingin jika punya menantu wanita kampung. Mau ditaruh di mana mukanya ketika teman arisan tahu. Semua orang pasti akan menguliti sampi tulang-tulangnya.


Tidak beda dengan Emma, Reno dan Alia juga sangat senang. Ternyata mereka tak perlu susah payah untuk membujuk Angga. Entah, mungkin karena amnesia yang dialami sehingga membuat pria itu berubah, tidak sekeras kepala dulu.


Angga menarik tangannya, lalu diletakkan di atas perut. "Tapi," ucap Angga, membuat semua orang mengerutkan kening, "aku mau ingatin buat kalian semuanya dulu."


Ketiga orang tersebut saling pandang. Mereka tidak tahu apa yang ingin Angga ucapkan. Kini semuanya menjadi gelisah.


"Aku nggak mau nikah sama dia kalau ingatanku belum kembali."


Semua pasang mata membulat. Ternyata perkiraan mereka salah. Angga masih sama seperti yang dulu, tidak mudah dipengaruhi.


"Sayang, kamu benar-benar nggak ingat aku. Padahal, kamu yang ajak nikah aku. Tapi, kenapa sekarang malah jadi begini?" Alia terduduk di tepi ranjang, tepat di sebelah kanan kaki Angga. Dia merasa sangat sedih karena sang kekasih seperti enggan menikah denganya.


Sekali lagi Angga menjelaskan ucapannya tadi. Dia juga menekankan bahwa telah mempunyai istri. Dengan begitu, dirinya berharap mereka berhenti untuk berencana menipunya.


"Baiklah akalu begitu. Aku akan bekerja keras agar kamu ingat semua," ucap Alia pada akhirnya.


Wanita itu yakin akan mudah membuat Angga mengingat semuanya. Rencana demi rencana sudah mengalir di benaknya. Alia akan melancarkannya satu per satu. Dia tidak ingin melepaskan Angga begitu saja.


Dengan semangat Alia, sebuah harapan muncul untuk kedua orang tua Angga. Mereka tidak perlu khawatir lagi tentang pernikahan itu. Semua pasti akan baik-baik saja dan tidak ada yang akan dipermalukan.


"Ada satu lagi," ucap Angga.


Emma tidak terima karena masih ada syarat lagi dari Angga. Yang pertama saja sudah memberatkan. Membuat seseorang ingat kembali masa lalunya pasti akan memakan waktu lama. Kini entah, ketentuan apa lagi yang akan diberikan pria itu.


"Apa kamu emang berencana buat batalin pernikahan kita? Kenapa kamu kasih syarat lagi?" Alia mencengkeram seprai. Dia merasa kecewa dengan keadaan Angga saat ini.


"Kalau emang dulu aku pacarmu, kalau ingat nanti aku pasti juga tahu itu. Jadi, buat apa kalian khawatir?"


Ucapan Angga memang benar adanya. Tidak perlu ada yang ditakutkan jika semua itu benar. Mereka akhirnya mau mendengarkan syarat yang diberikan pria itu.

__ADS_1


"Sampai saat aku ingat semua, biarin Silvi tinggal di sini. Kalian juga harus perlakukan dia dengan baik karena aku juga diperlakukan keluarganya dengan baik."


Kini ketiga pasang mata membulat sempurna. Ingin protes, tetapi mereka merasa sia-sia. Dengan berat hati, permintaan Angga akhirnya disetujui.


***


Langit mulai tampak indah dengan rona jingga. Burung bangau berjajar rapi terbang menuju sarang. Namun, ada sepasang mata yang tak dapat menikmatinya karena tengah terlelap.


"Silvi, bangun!"


Goyangan di tangan membuat wanita itu menggeliat. Silvi segera duduk ketika menyadari keadaan sekitar sudah terang oleh sinar lampu. Dia menundukkan kepala untuk menghidari cahaya yang menyilaukan mata.


Silvi tidak tahu berapa lama terlelap. Berdiam diri tanpa ada yang menemani membuat wanita itu lelah. Lapar juga mendera, cacing di dalam perut sudah tidak dapat diajak kompromi sehingga membuatnya tertidur untuk menahan semua itu.


"Ke mana semua orang? Kok, sepi sih."


"Mama sama papa di kamar. Kalau Alia udah pulang," jawab Angga. Dia duduk di sebelah wanita itu.


Silvi heran, cepat sekali Alia pulang. Bukankah ini pertama kali wanita itu bisa bertemu kembali dengan calon suaminya? Tidakkah ingin meluapkan rasa rindu selama ini. Namun, semua pertanyaan itu dia abaikan, bukan urusannya juga.


Angga menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Silvi. Wajahnya menatap lurus ke depan.


"Terus, gimana selanjutnya? Kita pulang atau gimana?"


"Ini rumahku. Mau pulang ke mana lagi aku?"


Silvi menundukkan kepala setelah mendengar pernyataan Angga. Dia merasa sangat bodoh karena telah mengajukan pertanyaan tersebut. Kini perasaan ragu menyelimuti hatinya.


"Aku ... juga di sini, 'kan?"


Semua keraguan Silvi beralasan. Dia tahu betul bahwa keluarga Angga tidak menyukainya. Jadi, mana mungkin mereka menerima kehadiran dirinya di rumah itu.


"Tentu saja." Angga menatap Silvi sesaat, kemudian memandang ke depan kembali.

__ADS_1


Ucapan Angga membuat Silvi tersenyum senang. Kepercayaannya terbukti. Dia semakin yakin bahwa pria itu memiliki rasa terhadapnya.


"Terima kasih, udah lakuin semua ini demi aku," ucap Silvi lirih. Dia tidak tahu dengan cara apa pria itu membujuk keluarganya. Pasti ada sebuah perdebatan sehingga keputusan itu diambil.


"Lakuin apa? Aku cuma lakuin apa yang aku inginkan. Nggak lebih."


"Kamu mau pertahanin aku daripada wanita itu, 'kan?"


Senyum Silvi mengembang. Dadanya berdegup sangat kencang ketika mengucapkan kalimat tersebut. Jika Angga lebih dekat dengannya, mungkin pria tersebut mampu mendengar debaran itu.


"Nggak gitu. Sebenatnya, dari pertama aku udah curiga sama wanita itu. Dia pasti punya rencana busuk. Nyatanya dia ngaku-ngaku tunanganku."


Silvi mengernyitkan dahi. Dia tidak paham dengan maksud Angga. Kenapa juga pria itu bisa berpikiran demikian?


"Mama dan papamu aja benerin omongan wanita itu."


"Entahlah. Aku tetap nggak boleh nerima dia begitu aja. Makanya, aku bilang sama mereka kalau kamu istriku agar mereka nggak macam-macam dulu."


Bibir Silvi seketika melengkung ke bawah. Ternyata bukan rasa cinta yang membuat Angga mengatakan hal tersebut dan menahan wanita itu agar tetap tinggal. Kini dirinya merasa hanyalah seonggok benda tak berarti.


Ingatan tentang kebersamaannya bersama Angga berputar di pikiran. Hal-hal yang menurutnya manis, apa tiada arti bagi pria tersebut. Bagaimana dengan saat mereka bersatu? Apakah dilupakan begitu saja?


Silvi menghela napas panjang. Dia mencoba menenangkan diri. Kini dirinya sadar memang sejak awal bukanlah siapa-siapa. Keegoisan sungguh yang mengubah segalanya.


"Sana kamu ke kamar! Mandi dulu. Aku udah siapain baju-baju buat kamu dilemari."


Angga bangun dari duduknya. Dia terlihat kesusahan, tetapi Silvi bergeming Dengan kepala menunduk. Setelah berusaha keras, akhirnya pria itu berhasil, lalu berjalan ke belakang. Dirinya memanggil pembantu untuk mengantarkan sang wanita ke kamar.


Silvi berjalan menuju kamar diantar oleh seorang pembantu. Tempat tidur wanita itu di dekat dapur, tempat di mana tamu biasa menginap.


Sebuah kamar berukuran lima kali lima meter di depan mata, lebih lebar dari miliknya. Namun, hal tersebut tidak semata-mata mampu menyenangkan hatinya. Dia menjatuhkan tubuh di atas lantai setelah menutup pintu. Kakinya sudah tidak dapat menopang lagi semua berat di badan. Air mata luruh membanjiri pipi mungil yang sempat memerah tadi.


"Inikah karma buatku, Tuhan."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2