Sekadar Pelindung

Sekadar Pelindung
Bab 10. Sedikit Ingatan


__ADS_3

Langkah terasa berat, tak ada energi yang tersisa dari sarapan tadi pagi, Silvi menyeret kaki menuju rumah. Kenapa ketika sebuah janji suci telah mengikat dalam pernikahan, di saat itu kebenaran terungkap? Gundah di dalam hati membuat pikiran buntu, tak tahu harus bagaimana lagi.


Silvi menjatuhkan tubuhnya pada kursi di ruang tamu, menyandarkan pikiran yang lelah oleh kekacauan. Sungguh, kini berat terasa menjalani hidup tanpa harus menyalahkan keadaan. Ingin rasanya dia lari ke tempat yang sunyi, tanpa suara, bahkan desiran angin.


"Kenapa kamu nggak bangunin aku tadi pagi?" Angga mendorong roda kursinya ke samping Silvi.


Wanita tersebut tidak menyadari kehadiran Angga dari arah belakang, bahkan pertanyaan itu juga tidak didengar. Pikirannya masih terbang bersama kepedihan yang mendalam, sesak munusuk hati.


"Silvi." Angga menyentuh pergelangan tangan wanita itu.


Sentuhan itu mengembalikan kesadaran Silvi, lalu segera menoleh ke sisi tangan yang disentuh. Seulas senyum dia coba tampilkan walau sedikit berat, tetapi harus tetap dilakukan. Sungguh terlihat sekali kalau tampilan wajahnya sedang dipaksakan.


"Kamu nyesel?" Angga mengerutkan kening.


Dia tahu bahwa kejadian semalam tidak seharusnya terjadi. Memang sesungguhnya perjanjian hanya untuk dilanggar. Dorongan hawa naf5u membutakan akal sehat, penyesalan tiada guna pada akhirnya.


Sebuah ucapan maaf hanya akan menjadi angin lalu. Sesuatu yang sudah sobek tidak mungkin dapat kembali utuh. Angga menatap Silvi lekat, menanti jawaban yang belum tentu diharapkan.


Silvi menggelengkan kepala. "Kamu suamiku, jadi buat apa aku nyesel. Itu 'kan kewajibanku."


Jawaban Silvi membuat Angga terpaku. Tidak disangka bahwa wanita di sampingnya akan berkata demikian. Padahal, perjanjian yang dibuat sudah sangat jelas. Apa wanita itu tidak takut dengan identitas sang suami yang sebenarnya?


"Tapi, gimana kalau aku ...."


"Ssstt, aku percaya kamu!"


Angga tidak mengerti dengan pemikiran Silvi. Sesungguhnya, sangat berat memikul kepercayaan, rentan akan penghianatan, sebuah tanggung jawab yang tak diharapkan.

__ADS_1


Dalam kesadaran, Angga tidak menginginkan apa yang diucapkan Silvi. Namun, kekecewaan pasti akan menghancurkan segalanya. Dia mencoba memutar otak, mencari jalan terbaik supaya tidak ada yang tersakiti.


"Baiklah." Angga menganggukkan kepala.


Senyuman terpancar di wajah manis Silvi. Ya, kini dia harus berpikir jernih. Dengan status sebagai seorang istri, dirinya harus fokus hanya pada satu orang, yaitu suami. Segala sesuatu harus diterimanya dengan ikhlas, tanpa penyesalan karena itulah jalan terbaik yang sudah ditentukan. Kini kenangan masa lalu harus disingkirkan, berganti dengan masa depan yang digariskan takdir.


"Hm, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Angga. Dia mencoba menghilangkan rasa tidak nyaman di dalam hati.


"Ngomong apa?"


"Semalam bayangan dalam mimpi yang nggak jelas, akhirnya terlihat nyata. Semua adegan aku ingat dengan jelas."


"Benaran?" Kedua ujung bibir Silvi terangkat. Raut wajah senang dia tampilkan. Sementara itu, hati berkata lain.


Ada perasaan tidak rela yang hinggap di dalam hati. Takut, gelisah, semua bercampur menjadi satu. Namun, dia berharap itu hanya dugaan yang tak bertuan. Silvi harus tetap membantu Angga untuk mendapatkan ingatan kembali.


Angga menceritakan kejadian malam itu, masa-masa berada dalam kepanikan bersama dua penumpang lainnya. Pria tersebut menggambarkan kecelakaan itu dengan detail, tanpa terlewatkan hingga berakhir di tanah. Namun, ada sesuatu yang masih dia disimpan, belum mampu mengatakan.


Silvi mencoba mengingat sesuatu pada malam sebelum Angga ditemukan. Ya, pada malam itu dia mendengar letusan jauh di tengah hutan. Bisa diperkirakan bahwa suara itu terjadi di balik bukit.


"Kalau begitu kita cari informasi tentang helikopter jatuh di bukit sana." Angga begitu bersemangat.


Silvi menghela napas panjang karena tidak tahu harus mencari di mana. Selama ini juga tidak ada pemberitaan kejadian tersebut di televisi. Hal yang sangat disayangkan pada saat ini karena mereka tidak dapat mengakses internet. Tak banyak orang di sana bisa mempunyai ponsel pintar. Hanya mereka anak dari orang terpandang dan melanjutkan sekolah di luar daerah yang mampu memilikinya.


Dengan keinginan yang kuat, akhirnya Silvi bertekad menanyakan informasi tersebut kepada polisi. Tempat pengaduan pertama tentang segala insiden, di sanalah tempatnya. Banyak orang yang akan melaporkan peristiwa, kecelakaan, bahkan kriminal ke petugas keamanan.


"Nihil?" tanya Angga. Perangai Silvi yang tidak bersemangat membuat Angga menebak.

__ADS_1


Embusan napas panjang terdengar dari arah Silvi. Dia menggelengkan kepala perlahan, tak ada hasil dalam pencarian beberapa hari. Tak ada laporan apa pun tentang jatuhnya helikopter di kantor polisi daerah setempat. Bahkan, di desa seberang bukit juga tak mendengarnya.


Kini hanya ada satu harapan, Silvi memberanikan diri menemui tetangganya yang sedang santai di teras. Dia harus meminta bantuan pemuda itu untuk mencari informasi melalui internet, tetapi nihil juga. Mereka juga tidak menemukan berita apa pun di sana. Akhirnya, pemuda itu menyarankan supaya mengunggah foto tentang ditemukan seorang pria.


"Kenapa nggak dari kemarin?" tanya pemuda itu.


"Mas juga baru pulang, 'kan?"


Pemuda itu meringis. Memang, mereka yang melanjutkan atau lulus sekolah tinggi tinggal di luar kota. Sekolah dan pekerjaan yang mampu menjamin para anak keluarga terpandang berada di jantung ibu kota. Seperti halnya Anam, dia akan pulang ketika libur tiba.


Mereka ke rumah Silvi untuk mengambil foto Angga. Pria itu bersiap dengan posisi tegap, menunjukkan sikap kewibawaannya. Suatu hal yang biasa dia lakukan, sikap seorang CEO. Akan tetapi, wanita tersebut tidak mengetahui itu.


Silvi hanya berdiri di samping sang pemuda. Dia menatap Angga penuh kekaguman, terlihat sangat berkarisma dan mempesona.


"Udah selesai." Sebuah foto pria dengan pemandangan kebun di belakanngnya telah berhasil diunggah pemuda itu


Silvi mengucapkan terima kasih sebelum pemuda itu pulang. Akhirnya sebuah harapan terbit, dengan asa yang membara di dada. Keajaiban dunia maya sangat dinanti. Kepedulian antar sesama diuji.


"Sekarang kita tinggal tunggu kabar aja. Semoga secepatnya ada yang lihat."


Silvi mendorong kursi roda Angga ke teras rumah. Dia berhenti tepat ketika roda kecil bagian depan berada beberapa senti di depan kursi panjang. Dirinya berputar supaya pria itu dapat melihat ke halaman, memunggunginya yang duduk di belakang.


"Waktunya santai sebentar," ucap Silvi. "Lusa ada pesta rakyat. Kamu harus lihat."


Silvi menceritakan bagaimana kemeriahan pesta rakyat di desanya. Sebuah acara besar yang diadakan setahun sekali untuk menyambut panen raya. Akan ada beberapa gunungan hasil pertanian yang diarak keliling kampung, setelah itu diperebutkan oleh warga.


Kali ini Angga tidak mendengarkan sama sekali perkataan Silvi. Dia hanya menatap kosong ke depan dengan tajam. Bayang wanita sejak saat itu selalu muncul dalam pikiran, menggema dalam telinga. Pria itu tidak tahu siapa sebenarnya wanita itu, tetapi ada suatu perasaan yang mengatakan bahwa ada kedekatan di antara mereka.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2