Sekadar Pelindung

Sekadar Pelindung
Bab 14. Emma dan Unggahan Foto Angga


__ADS_3

Suara ketukan sepatu hak tinggi menggema ke seluruh ruangan. Hentakannya menandakan bahwa orang itu sedang dalam keadaan yang terburu-buru. Dengan ponsel di tangan, Alia menoleh ke sana-kemari, mencari keberadaan Emma.


"Hai!"


Alia mengalihkan pandangan ke arah datangnya suara. Dia paham betul siapa pemilik suara tersebut. Arah langkah kaki berbelok menuju orang yang menyapanya.


"Kayaknya buru-buru, nih? Ada apa?" Arlo menuruni tangga, lalu mendekati Alia.


Senyum tipis tercetak di bibir. Matanya ke depan, menatap Alia dengan dagu miring. Kepala sedikit menoleh ke satu sisi. Arlo menggoda wanita cantik di depannya.


"Tante di mana?" Alia mengakat sesaat dagunya.


Mata wanita itu masih tetap mencari keberadaan Emma. Dia tidak mempedulikan pria yang telah menggodanya. Ada satu hal penting yang ingin dibicarakan dengan ibu Angga.


"Kirain cari aku." Wajah Arlo seketika berubah, senyum pudar, seakan sedang merajuk.


"Hust!" Alia mengibaskan tangan. "Ngapain cari kamu?" Dia melirik ke arah Arlo dengan sebelah bibir terangkat.


"Beneran nggak cariin aku?" Arlo mencolek dagu Alia. Matanya berkedip beberapa kali, menggoda. Tidak lupa juga tampak senyum seringai di bibirnya.


Alia kesal dengan godaan Arlo. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk hal tersebut. Dia melangkah pergi meninggalkan pria itu menuju halaman belakang, berharap dapat bertemu Emma di sana. Sebelumnya, wanita tersebut menghentakkan kaki kanan di depan adik sepupu Angga.


Benar juga, Alia melihat Emma sedang membelai daun tanaman hias kesayangan. Dengan langkah lebar, dia segera menghampiri sang tante. Dirinya sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar yang didapat.


"Tante!"


Emma menghentikan kegiatannya. Daun bercorak putih hijau segera ditinggalkan. Dia menoleh ke arah Alia. Dahinya mengernyit ketika menemukan pacar sang anak yang terlihat buru-buru.

__ADS_1


"Ada apa, Alia? Kamu semangat banget." Emma melepas sarung tangan, lalu meletakkannya ke atas pot tanaman yang baru saja dibelai. Kakinya melangkah menghampiri Alia.


"Tante, lihat ini!" Alia membuka ponsel di tanganya. Kini sebuah gambar pria setengah badan terlihat di sana.


Emma membuka mata lebar. Kedua tangannya refleks menutupi mulut yang terbuka. Dia tidak menyangka dengan apa yang ditemukan Alia. Sungguh sama persis dengan pria yang dilihatnya ketika berada di pesta rakyat dua hari yang lalu.


"Dia Angga, Tante!"


Emma menganggukkan kepala. Nama yang tertera dalam unggahan itu semakin mayakinkan. Mulut sudah tidak mampu berucap, seperti kaku karena terlalu kaget. Dia sungguh sangat senang saat ini.


"A-apa kamu sudah hubungi dia?" Akhirnya sebuah pertanyaan mampu lolos dari mulut Emma.


Kini harapan seakan tampak di depan mata. Rasa haru sudah berkumpul di dalam hati, padahal hanya melihat foto di dalam ponsel. Tanpa terasa air menggenang di pelupuk mata, bersiap untuk jatuh membasahi pipi.


Alia menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri. Dia belum mengghubungi pengunggah foto tersebut. Sesungguhnya, dirinya merasa kurang yakin dengan apa yang dilihat. Angga terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Untuk itu, hanya Emmalah yang mampu memastikan.


Dua belas digit nomor telah disebutkan oleh Alia. Kini Emma segera memencet simbol gagang telepon berwarna hijau. Nada tunggu terdengar, dengan cemas dia menanti penggilan diangkat.


Sudah beberapa kali Emma mencoba menghubungi nomor tersebut, tetapi tidak diangkat juga. Tubuhnya terasa lesu, harapan seakan luntur. Dia duduk di kursi putih yang melingkari meja.


"Kita pergi ke sana aja!" usul Emma tiba-tiba. Wanita itu menatap lekat Alia.


"Ke sana?" Alia mengernyitkan dahi, tidak tahu tempat mana yang dimaksud Emma.


"Iya, tempat kemarin yang kita kunjungi."


Emma segera menceritakan apa yang dilihatnya saat itu. Dia sungguh yakin jika orang yang dicari adalah orang sama pada gambar. Jadi, dirinya tidak ingin membuang-buang waktu, lebih cepat akan lebih baik.

__ADS_1


"Tapi, desa itu luas, Tante. Di mana kita mau cari dia? Ketuk rumah satu-satu?" Alia duduk di sebelah Emma. Harapan bertemu sang kekasih pupus kembali.


Dalam keheningan mereka, tiba-tiba ponsel Emma berdering. Emma mengangkat ponsel itu dengan rasa malas. Dia melihat nomor pemanggil tidak ada nama. Kerutan tercipta di keningnya.


"Hallo. Siapa ini?" tanya Emma ketika panggilan terhubung.


Dahi wanita itu mengerut setelah beberapa saat mendengarkan suara dari seberang telepon. Kata orang itu, dirinyalah yang pertama menghubungai. Dia berpikir sejenak apa maksud ucapan tersebut. Senyum tampak di bibir ketika ingatan melintas di pikirannya.


"Oh, iya. Ini yang upload foto Angga, 'kan? Di mana dia sekarang? Bisa kita ketemu?"


Emma memberondong orang itu dengan beberapa pertanyaan. Dadanya berbunga-bunga, tidak sabar untuk bertemu Angga. Bayangan sang anak sudah di depan mata.


Pemuda yang mengunggah foto segera menjelaskan keadaan dan posisi Angga. Emma semakin yakin ketika orang itu mengatan hal sama persis dengan apa yang dilihatnya. Namun, raut wajahnya tiba-tiba layu, semangat memudar kembali. Orang yang mengunggah foto tersebut sedang berada di luar kota sehingga tidak bisa membagikan lokasi di mana sang anak berada.


Alia heran dengan perubahan ekspresi wanita di depannya. Dia semakin tidak sabar untuk menunggu kabar Angga. Jadi, dirinya terus saja memperhatikan ketika Emma berbicara di telepon, berharap dapat mengerti percakapan mereka.


"Apa kamu bisa kasih alamatnya aja? Biar nanti aku yang cari."


Persetujuan didapat, sang pemuda akan mengirim alamat lengkap di mana Angga berada. Mereka segera mengakhiri panggilan.


"Gimana, Tante?" tanya Alia. Dia begitu penasaran dengan hasil dari pembicaraan mereka.


Sebelum Emma menjelaskan apa yang terjadi, sebuah pesan telah masuk ke dalam ponsel. Dengan wajah cerah dia segera membukanya.


"Dia udah kasih alamatnya!" pekik Emma. Kedua ujung bibir tertarik sehingga membentuk senyum.


Emma mencoba mencari alamat tersebut melalui layanan pemetaan di sebuah aplikasi. Akan tetapi, alamat tersebut tidak dapat ditemukan walau beberapa kali mencoba.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2