
Pagi menyapa bumi di mana beton tumbuh tinggi mencakar langit. Namun, nuansa hening menyelimuti, menahan semua orang di alam mimpi. Nyanyian burung tidak terdengar, apalagi ayam jago yang senantiasa membangunkan tidur pada setiap fajar.
Angga merasa heran karena Silvi belum meperlihatkan pergerakan. Tidak seperti biasanya yang setiap pagi buta wanita itu sudah sibuk bersama ibunya.
"Apa dia keenakan? Jadi, dia nggak mau bangun."
Angga memutar roda kursi. "Ah, aku lihat aja langsung."
Angga mendekati pintu kamar Silvi, lalu mengetuknya. Tanpa menunggu jawaban, dia memutar hendel untuk membuka pintu.
"Nggak dikunci." Angga membuka lebar pintu kamar Silvi.
Pria itu tak mampu mengedipkan mata melihat Silvi tengah berbalut handuk. Ya, walaupun sebelumnya dia pernah melihat wanita itu tanpa busana, tetapi kali ini berbeda. Kulit yang masih terlihat basah karena mandi membuat perasaannya menjadi segar.
"Kalau mau buka pintu, tunggu orang yang di dalam suruh, dong." Silvi mendekap dada, berharap Angga berhenti menatapnya.
Bastian muda sama sekali tidak mendengarkan perkataan Silvi. Dia masih saja menikmati pemandangan indah di depannya. Rasa hati ingin sekali memangsa daging segar yang menggairahkan itu.
"Malah bengong. Aku belum ganti baju. Tutup pintunya!" Silvi sedikit meninggikan volume suara agar pria itu sadar.
Ucapan Silvi mampu menyadarkan Angga. Dia segera mengalihkan pandangan untuk menetralkan perasaan.
"Cepat ganti baju! Kita sarapan."
Angga segera memundurkan kursi roda, lalu meninggalkan Silvi. Dia tidak mau berlama-lama di sana karena merasa diri sangat bodoh. Sekilas tampak senyum miring di bibirnya sesaat setelah meninggalkan tempat itu.
Pria itu tidak memedulikan ibunya yang telah lebih dahulu datang di tempat makan. Kulit mulus dengan beberapa buliran air di permuakaan terus saja mengusik pikirannya. Akhirnya, suara dehaman mampu membuyarkan gambaran Silvi.
"Pagi-pagi udah ngalamun. Nanti kesambet, loh!" Emma duduk di kursi seberang meja, berhadapan dengan Angga. Sementara itu, seorang pria yang baru saja datang duduk begitu saja di sampingnya tanpa memperhatikan kondisi sekitar.
Arlo fokus pada benda pipih di gengaman tangannya. Kedua ibu jari menari indah di atas permukaan layar ponsel. Kadang senyum tipis tampak di bibirnya.
__ADS_1
Angga segera tersadar dari buaian bayang Silvi. Wajah yang tadinya terdapat setitik kebahagiaan, kini lenyap seketika. Pria itu menggelengkan kepala sebagai tanda bahwa dirinya tidak ingin menanggapi ucapan sang ibu.
Entah mengapa sejak mengetahui kabar pernikahannya dengan Alia, perasaan pria itu berubah. Ada kekecewaan direlung hati, padahal dia belum mengingat seutuhnya tentang sang kekasih.
Fokus Angga teralihkan pada wanita yang baru saja keluar dari kamar. Dia tertegun, bukan kagum, tetapi ada perasaan tidak percaya. Namun, ujung matanya menangkap ekspresi Arlo yang ternyata juga sedang menatap Silvi. Dadanya sudah naik turun ketika pria di seberang meja mengikuti setiap langkah wanita itu. Dehaman yang dia keluarkan, akhirnya mampu membuat pria tersebut melepaskan pandangan.
"Dasar wanita kampung! Tiap hari pakainya daster." Emma menarik tipis sebelah ujung bibirnya.
Ya, kini Silvi memakai piyama yang mampu menarik perhatian orang lain karena memiliki belahan leher rendah. Panjangnya juga di atas lutut. Namun, yang lebih membuat mata orang-orang tertuju pada wanita itu adalah tipisnya bahan satin sutra. Jika berdiri di bawah cahaya, pasti akan tampak siluet tubuh dari dalam baju tersebut.
"Ma, jangan lagi-lagi ngatain Silvi kayak gitu!" Angga menatap ibunya.
"Emang kenapa? Dia memang wanita kampung dan nggak pantas jadi keluarga Bastian."
"Cukup, Ma!" Angga mempertajam tatapannya, suaranya juga sedikit meninggi.
Emma mendengkus kesal, bibir juga sudah maju ke depan. Dia tidak menyangka bahwa Angga akan begitu membela wanita kampung itu. Dirinya semakin ingin segera menyingkirkan Silvi dari kediaman Bastian.
Silvi mengernyitkan dahi, lalu menatap pakain yang melekat pada tubuhnya. Setelah beberapa saat berpikir, perasaannya senang.
"Mas mau ajak aku ke mana?" Senyum ceria tampak di wajah manis Silvi.
Angga menggeleng pelan atas pertanyaan Silvi. Memang sungguh wanita mungil polos yang menggemaskan. Gigi pria itu sudah bertautan, seakan-akan dia menggigit tangan mungil nan mulus di sisinya. Hanya tatapan tajam yang dia tunjukkan, berharap wanita itu mengerti.
***
Kesunyian melanda rumah megah setelah ditinggal sang tuan. Silvi duduk sendiri di ruang santai tanpa tahu apa yang akan dilakukan. Hanya televisi yang menjadi teman untuk saat ini. Semua asisten rumah tangga sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Suara sepatu yang beradu dengan lantai terdengar nyaring di telinga Silvi. Dia segera mengalihkan pandangan, menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang datang. Dahinya mengernyit ketika mendapati Alia melenggak-lenggok menuju tangga. Namun, tiba-tiba wanita itu berhenti setelah melihat dirinya.
"Ngapain lihat-lihat?"
__ADS_1
Silvi hanya menyeringai mendengar pertanyaan Alia. Dia tidak ingin berdebat dengan wanita itu. Menurutnya percuma, hanya akan menghabiskan tenaga saja.
"Udah berani lihatin aku kayak gitu. Eh, sekarang malah nggak jawab pertanyaanku!" Dada Alia tampak naik-turun, seirama dengan udara yang keluar-masuk paru-paru.
Alia sungguh kesal terhadap sikap Silvi. Akhirnya, dia segera mengabaikan wanita itu. Kakinya kembali melangkah, meniti tangga satu per satu.
"Angga nggak ada di rumah. Dia lagi periksa sama Tante. Apa kamu nggak tahu?"
Alia menghentikan langkahnya kembali setelah mendengar ucapan Silvi. Dia memutar badan, menatap ke arah wanita kampung yang memakai kaos biru itu.
"Oh, masak, sih?" Mata alia membulat, menunjukkan ekspresi terkejut yang seperti dibuat-buat.
"Masak kamu nggak ...."
Silvi menghentikan ucapannya karena Alia pergi begitu saja menuju lantai dua. Dia semakin heran dengan sikap wanita itu. Kenapa juga masih naik kalau sudah tahu yang dicari tidak ada? Namun, dirinya segera berpikir positif.
"Mungkin Angga suruh dia ambilin sesuatu di kamarnya kali."
Silvi kembali lagi menatap layar kotak di depannya. Dia tidak mau berpikir pusing tentang Alia. Akan tetapi, dirinya tiba-tiba sadar akan sesuatu.
"Eh, tapi, bukannya kamar Angga sekarang di bawah, di samping kamarku. Dia juga tahu itu."
Silvi tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Alia. Rasa penasaran menyelimuti benaknya. Dia ingin naik ke atas untuk mengetahui apa yang dilakukan tunangan Angga, tetapi hati kecilnya masih ragu. Akhirnya, dirinya berinisiatif untuk menunggu wanita itu turun.
Sudah satu jam lebih Silvi berdiam diri di sana, tetapi orang yang ditunggu belum muncul juga. Rasa lelah dan kantuk menghampirinya karena hampir semalaman terjaga. Ya, dia terus saja terbayang sosok yang menaiki tangga.
"Akhirnya turun juga."
Mata Silvi terbuka kembali. Dia hanya melirik ke arah tangga, penasaran dengan Alia. Namun, wanita itu turun dengan tangan kosong, tidak ada sesuatu yang dibawa.
Silvi heran dengan apa yang dilakukan wanita itu di atas. Ketika memikirkan hal tersebut, tiba-tiba terdengar langkah cepat menuruni tangga, tepat ketika Alia sudah keluar rumah. Kini Arlo turun dari lantai dua.
__ADS_1
Bersambung.