Sekadar Pelindung

Sekadar Pelindung
Bab 9. Nasi Menjadi Bubur


__ADS_3

"Silvi, bangun! Udah siang, nih."


Ayu masih saja mengetuk pintu sang anak. Sudah lebih hampir lima menit wanita itu berdiri di sana, tetapi penghuni kamar itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.


"Ais, anak ini. Apa nggak mau bantuin aku masak?"


Dia menoleh pintu kamar yang berada di sebelahnya, masih tertutup rapat juga. "Angga juga masih tidur?" Ayu menggaruk kepala yang tidak gatal seraya berjalan menuju dapur.


Di dalam kamar, Silvi sedang duduk di sisi ranjang. Dia tidak menjawab panggilan ibunya karena sedang berusaha menggerakkan badan perlahan. Seluruh tubuh serasa habis dipukuli, sakit menusuk tulang.


"Aduh! Padahal semalam nggak secapek ini." Silvi menggoyangkan kepala ke kiri-kanan, lalu meregangkan badan.


Angga memang terlalu bersemangat dalam aksinya. Dia tak henti-henti menghujam tanpa ampun. Walau hanya sekali permainan saja, tetapi memakan durasi hampir satu jam.


Susap payah Silvi berjalan keluar kamar. Langkahnya sedikit terseok karena daerah inti masih terasa membengkak.


"Silvi, kamu kenapa?" tanya Ayu. Pergerakan aneh sang anak membuatnya penasaran.


"Eh, nggak apa-apa, Bu." Silvi tersenyum, tetapi terasa otot yang menarik bibir berkali-kali berkedut.


Ayu terus memperhatikan Silvi hingga masuk ke dalam kamar mandi. Dahinya mengernyit karena merasa ada yang aneh dengan anak tersebut. Namun, dia segera menyingkirkan perasaan itu, lalu melanjutkan kegiatan memasak.


Badan Silvi sudah lebih segar setelah mandi. Rasa kaku di bawah sana juga sudah berkurang. Kini dia berjalan normal kembali walaupun masih terasa sedikit mengganjal.


"Angga belum bangun juga?" Ayu menatap Silvi.


"Biarin aja dulu, Bu. Mungkin dia kelelahan." Silvi menaruh secentong nasi ke piring Budi.


Celetukan wanita itu berhasil membuat dua orang paruh baya mengernyit. Dari mana Silvi tahu kalau Angga kelelahan? Lagi pula, apa yang menyebabkan pria itu kelelahan? Padahal, mereka tahu kemarin pemuda tersebut tidak melakukan apa-apa.


Dua pasang mata hanya saling pandang tanpa sepengetahuan Silvi. Mereka saling bertanya maksud dari ucapan sang anak. Gerakan menaikkan bahu oleh Ayu mengakhiri aksi keduanya.


"Ayo, Pak, Bu, makan!"

__ADS_1


Silvi makan begitu lahap. Dia merasa sangat lapar pagi itu. Aktivitas semalam memang mengeluarkan banyak tenaga. Tidak tanggung-tanggung, kali ini wanita itu menambahkan nasi lagi ke dalam piringnya.


Kedua orang tuanya merasa heran dengan tingkah Silvi. Tidak biasanya sang anak seperti itu, makan hingga tambah dua kali. Akan tetapi, mereka hanya menyaksikan saja tanpa berkomentar, tak ingin mempermalukan anaknya.


***


Padi kuning keemasan mulai merunduk, menunjukkan seberapa berisinya mereka. Ada beberapa helaian batang yang tak mampu menopang sehingga patah. Itulah tandanya panen sudah datang.


Di sisi sawah, Silvi sudah bersiap untuk memanen padi dengan sabit kecil di tangan. Sementara itu, Ayu dan Budi masih bersiap di rumah. Mereka sudah berani meninggalkan Angga karena pria itu sudah mampu melakukan aktivitas sendiri.


Silvi menatap hamparan luas di depan mata. Senyumnya berkembang melihat kesuksesan bertani kali ini. Dia mulai melangkah masuk ke dalam lumpur. Namun, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang. Wanita itu segera menoleh ke belakang.


"Anam?" tanya Silvi. Suaranya begitu lirih.


Silvi menundukkan kepala, perasaan sesak seketika menyerang dada. Dia tak mampu menatap wajah pria di depannya. Ada suatu perasaan yang membingungkan muncul di hati wanita itu, penyesalan dan kekecewaan.


"Silvi, kenapa kamu mau nikah sama dia? Apa kamu suka sama dia?" tanya Anam. Dia sungguh terlihat serius dengan pertanyaannya.


Silvi memundurkan tubuh, merasa heran dengan pertanyaan Anam. Walaupun sesungguhnya, dia dapat menerka apa maksud dari pertanyaan tersebut. Akan tetapi, bukankah seharusnya pria itu sudah tahu alasan dia menikah dengan Angga?


"Kok, kamu tanya kayak gitu?"


Pertanyaan dijawab pertanyaan, hal tersebut membuat Anam menarik tipis kedua ujung bibir. Dia menundukkan kepala, merasa sangat bodoh dengan tingkahnya sendiri. Dalam benaknya membenarkan, atas dasar apa dia bertanya seperti itu kepada Silvi. Mereka bukan apa-apa, tidak memiliki suatu hubungan spesial sama sekali.


Perlahan Anam melepaskan genggaman tangan. Dia duduk di gundukan tanah yang digunakan sebagai jalan. Walaupun kotor, pria itu tidak peduli.


"Maaf," ucap Anam lirih. "Aku ... ah, semuanya bukan apa-apa. Lupakan aja!" Pria berbadan tegap itu berdiri. Dia mencoba tersenyum ke arah Silvi.


Terlihat sekali bahwa senyum Anam dipaksakan. Silvi semakin merasa tak enak hati. Namun, dia masih berpura-pura biasa saja.


"Apaan sih? Kamu aneh banget, Nam. Ngomong aja!"


Anam terpaku dengan senyum manis Silvi. Debaran di dalam dada semakin meningkat, tak kuasa lagi untuk menahannya. Dia mencoba mengumpulkan energi untuk mengeluarkan apa yang ada di hati. Tangannya meraih jemari kecil wanita itu.

__ADS_1


"Silvi," ucap Anam lirih. Matanya terlihat begitu tajam dan serius.


Silvi semakin tak kuasa untuk menatap Anam. Dia merasakan suasana semakin canggung. Ingin rasa dirinya lari dan segera pergi dari sana, tetapi kaki terasa tidak memiliki kemampuan. Suatu kebodohannya karena telah menantang pria itu.


Anam mendengus melihat sikap Silvi. "Katanya mau dengar aku ngomong? Kenapa kamu nggak mau lihat aku?"


Silvi masih tetap memalingkan wajah. Dia masih belum siap bertatap muka dengan pria di depannya.


"Lihat aku, Silvi!"


Suara sedikit meninggi menggetarkan hati. Walau tak ingin, tetapi kini dia harus memberanikan diri, menerima konsekuansi dari ucapannya.


Lengkungan di bibir Anam tercipta ketika Silvi menatapnya. Dia menarik napas sebelum mengeluarkan kata-kata yang sudah tersimpan di hati. Mungkin dengan ini pria itu akan merasa sedikit lega walaupun tahu kenyataannya.


"Sebenarnya aku suka sama kamu."


Suara Anam semakin lama melemah hingga hampir tak terdengar di ujung kalimat. Namun, Silvi tetap masih dapat menangkap apa yang dikatakan pria itu. Seseorang yang telah mencuri perhatian gadis tersebut, akhirnya mengungkapkan perasaan. Ingin senang, tetapi tak bisa.


Semilir angin membawa beban hati dan pikiran. Semua seperti terlepas, ringan tanpa ada yang tertahan. Sebuah harapan tak mungkin dinanti, hanya akan membawa luka hati. Anam tersenyum lepas, lega dengan keberaniannya.


Keheningan merupakan suatu jawaban tanpa harus keluar kata-kata. Memang sulit, tetapi begitulah takdir diri, tak bisa dipaksakan. Keihlasan yang mampu mengobati lara.


"Nggak apa-apa, Silvi. Aku nggak maksa kamu, kok." Anam melepaskan tangan gadis di hadapannya, lalu membalikkan badan. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Ah, leganya!"


Kaki berjalan penuh keyakinan, terus ke depan tanpa menoleh ke belakang. Desiran angin membawa tubuh semakin menjauh, meninggalkan jejak langkah. Silvi hanya mampu melihat Anam semakin mengecil dengan berbagai pemikiran di kepala.


Kaki Silvi terasa lemas, tak lagi mampu menopang berat tubuh. Dia terduduk di atas tanah berair, tak peduli lagi dengan lumpur yang akan mengotori pakaiannya.


"Kenapa Anam? Aku udah nungguin ini bertahun-tahun, kenapa baru sekarang? Semua sudah terlambat." Air mata berhasil lolos dari kelopak mata Silvi. Dia kecewa kepada Anam dan menyesal karena tidak berpikir matang.


Beras sudah menjadi bubur, begitulah pepatah yang pantas untuk Silvi. Penyesalan tiada guna dan tidak dapat mengembalikan apa pun. Praduga yang selama ini dia rasakan, akhirnya terbukti juga. Akan tetapi, kenapa harus setelah semuanya terjadi?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2