Sekadar Pelindung

Sekadar Pelindung
Bab 12. Mama!


__ADS_3

"Kamu kenapa? Sebelum berangkat, padahal semangat banget."


Emma memperhatikan wajah Alia yang sudah di tekuk, tidak tahu alasannya apa. Tidak ada kejadian yang membuat mereka sebal juga sebelumnya. Dia heran dengan tingkah wanita kesayangannya satu ini.


Kini mereka sedang berada di acara pesta rakyat, tempat yang dijanjikan Alia dua minggu lalu. Tempat di mana mereka akan bersantai sejenak, menghibur pikiran yang tengah kacau, menaruh sejenak masalah hidup.


Semua terbukti, kini wajah Emma terlihat cerah dibanding hari-hari kemarin. Dia menikmati liburan kali ini. Bukan hanya menikmati suasana, tetapi dia juga mempunyai tujuan sendiri.


Emma tahu bahwa desa tersebut dekat dengan lokasi jatuh helikopter. Dia punya firasat bahwa anaknya masih hidup dan mencoba mencari di sana.


"Ternyata acaranya cuma kayak gini," ucap Alia mengeluh.


"Belum juga mulai, Al." Emma meletakkan ponsel di depan wajahnya untuk mengambil gambar kemeriahan di sana.


Ketika membidik ke salah satu sudut, dalam layar benda pipih itu menunjukkan gambar seseorang yang tidak asing. Dia segera menyingkirkan ponsel dari mata, lalu melihat langsung ke seberang lapangan di mana orang itu berada. Tidak begitu jelas, tetapi hati seorang ibu telah berbicara.


Emma menyibakkan kerumunan orang di sampingnya untuk membuat jalan. Wanita itu sedikit demi sedikit mulai bergerak, meninggalkan Alia sendiri di sana. Dia sudah tidak sabar untuk memastikannya.


"Tante mau ke mana?" tanya Alia. Dia sedikit berteriak agar Emma mendengarnya.


Di tengah keramaian saat ini suasana sangat riuh. Suara sahut-menyahut tiada henti dengan ciri khas nadanya masing-masing. Emma tidak mengghiraukan pertanyaan Alia. Dia terus saja menerobos rapatnya orang di sana. Wanita tersebut ingin melihat orang itu lebih dekat dan berharap bahwa firasatnya benar.


Setelah perjuangan keras, akhirnya dia sampai di tempat tujuan. Dia segera mencari sosok yang dilihat tadi, memilah orang-oorang, dan berharap dapat menemukannya. Namun, tidak ada di antara mereka yang sesuai dengan penglihatannya.


"Kenapa sih, Tante?" Alia menyentuh pundak Emma. Napasnya ngos-ngosan karena berlari mengejar ibunya Angga. Untung saja dia tidak kehilangan jejak.


"Apa itu cuma ilusi?" tanya Emma menggumam. Dia menurunkan pendangan, kecewa karena usahanya tidak berhasil. "Nggak mungkin, aku yakin tadi benar-benar Angga. Tapi, ...."

__ADS_1


Emma masih mengelak dengan kenyataan yang dilihatnya. Namun, setidaknya dia bersyukur karena sang anak selamat walau belum ada bukti nyata. Perasaannyalah yang mendukunv pernyataan iti seratus persen.


***


Kericuhan tidak lagi terdengar, suasana begitu sepi. Silvi mendorong kursi roda memasuki rumahnya. Dia berhenti tepat di ruang tamu, lalu segera berlari ke dapur, mengambilkan air putih supaya pria itu dapat meminum obay.


"Ini minum dulu." Silvi menyerahkan segelas air putih dan obat pereda sakit kepala kepada Angga.


Pria itu memasukkan obat ke dalam mulut, lalu meneguk habis air di dalam gelas. Tangannya menggenggam erat gelas yang telah kosong. Keringat dingin keluar dari pori-pori dan kepala terasa berputar-putar.


Angga menundukkan kepala dengan tangan kiri menyentuh kening. Pijatan kecil dia lakukan seraya menutup mata. Alis menyatu, menimbulkan kerutan di antara ke duanya. Sekuat tenaga pria itu menahan rasa sakit yang teramat.


Silvi duduk di kursi samping Angga. Dia memperhatikan dengan seksama pria di sisinya, terlihat sangat pucat dengan menahan sakit. Dirinya tidak tahu apa yang terjadi. Dia tidak mungkin bertanya dalam keadaan seperti ini, takut akan menambah rasa sakit itu.


"Aku bawa ke kamar, ya, biar kamu bisa istirahat." Silvi mengambil gelas dari tangan Angga, lalu diletakkan ke atas meja.


Silvi mendorong kursi roda Angga menyusuri lorong rumah. Dia berhenti sesaat untuk membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamar. Dengan sepenuh tenaga dirinya memapah tubuh pria itu agar bisa naik ke atas ranjang.


"Eh, aduh!"


Kejadian itu terulang kembali, Silvi kehilangan keseimbangan sehingga membuatnya jatuh menimpa tubuh Angga. Untuk kedua kali pula tangan kekar menahannya. Akan tetapi, bedanya kali ini lebih erat, seakan menumpahkan semua yang dirasakan.


Silvi meraik tangan Angga, mencoba melepaskan pelukan itu. Dia merasa gelisah jika hal itu terjadi lagi. Bukannya wanita itu tidak mau, tetapi pintu kamar masih terbuka. Bagaimana jika kedua orang tuanya pulang, lalu memergoki mereka?


"Mas, lepasin! Nanti bapak sama ibu lihat."


Bukannya melepaskan pelukan, kini Angga semakin erat memeluk Silvi. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk membebaskan wanita itu. Hanya hal tersebut yang dia mau saat ini.

__ADS_1


Silvi mulai mengurungkan usahanya, sadar telah melakukan perlawanan yang sia-sia. Dia tidak akan mampu melawan Angga karena kalah ukuran dan tenaga. Kini wanita itu hanya pasrah, menerima apa yang akan dilakukan Angga.


"Kalau kamu mau itu, ayo, buruan! Mumpung bapak sama ibu belum pulang," ucap Silvi.


Hanya hal itu yang ada di pikiran wanita tersebut, seperti dulu ketika Angga sakit kepala seperti saat ini. Jadi, sekarang juga pasti begitu, Silvi sangat yakin.


"Tapi, aku tutup pintu dulu."


Angga sama sekali tidak menghiraukan ucapan Silvi dan masih menutup mata. Kini dia justru menarik tubuh mungil itu supaya sama-sama tinggi dengan posisinya, lalu mensejajarkan badan sang istri. Kepalanya menyusup di ceruk leher wanita tersebut, mengembuskan udara hangat di sekitar telinga.


Silvi melenguh mendapatkan perlakuan demikian. Bulu-bulu halus di sekujur tubuh berdiri sejajar. Dia mencoba menjauhkan kepala dari Angga, menghindari ran9sangan yang membuat gelisah. Matanya terus saja menatap ke arah pintu, berharap tak ada yang muncul di sana.


"Bisa diam, nggak?" Angga menarik kepala Silvi, mencoba merapatkannya kembali.


Hembusan napas kembali menerpa permukaan kulit., membuat dada naik turun, seirama dengan degup yang tidak dapat dikendalikan. Dengan mata terpejam, kenikmatan desiran sungguh terasa menjalar melalui pembuluh darah. Silvi menghayati setiap detiknya.


Wanita tersebut menanti pergerakan Angga selanjutnya. Namun, detik-detik sudah berlalu beberapa menit, keadaan sekitar juga terasa sepi, tangan yang memeluk juga telah mulai merenggang. Dia menoleh ke arah pria di sampingnya.


Wanita itu menghela napas panjang. "Udah tidur ternyata."


Silvi masih saja memandang wajah tampan di depannya, mata terpejam penuh kedamaian. Dia bersyukur karena Angga dapat tidur dengan lelap. Seulas senyum tampak di wajahnya.


Ya, wajah tampan tersebut terus saja membuat Silvi tak karuan. Karena itu pula, kini dirinya sudah benar-benar melupakan Anam. Hari-hari bersama menumbuhkan rasa cinta di hatinya. Entah, Angga tahu akan perasaanya atau tidak, terpenting saat ini dia bahagia.


"Mama!"


"Mama?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2