Sekadar Pelindung

Sekadar Pelindung
Bab 17. Diabaikan


__ADS_3

Kini dua pasang mata tertuju pada Alia dengan pikiran kosong, tak dapat mencerna keadaan. Mereka masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan wanita itu. Akal menolak untuk menerima pernyataan tersebut.


"Iya, Angga. Mau nggak mau kamu tetap harus menikah dengan Alia!" Emma menatap tajam sang anak.


Kini Silvi mamandang Angga. Dia yakin bahwa Angga akan menolak pernikahan itu, bagaimanapun konsekuensinya. Seperti yang dikatakan pria itu bahwa dirinya adalah istri sah walau hanya menurut agama.


Angga diam membisu. Pikirannya penuh dengan kerumitan yang tidak dapat dicerna. Semua berputar tanpa bisa ditangkap hingga dirinya merasa semua itu menusuk pikiran. Dia memegang kepala dengan kedua tangannya. Keringat dingin sudah mengucur keluar.


"Kamu kenapa Angga?" Emma panik dengan memegang lengan sang anak.


"Kayaknya dia berpikir terlalu keras, Tante. Biarin dia istirahat dulu. Jangan membuatnya terlalu banyak berpikir!" ujar Silvi.


Emma melirik ke arah wanita kampung itu. Dia merasa tidak suka mendengar ceramah dari Silvi. Sebelah bibirnya juga terlihat naik, seolah tengah mencerca.


"Ayo, Ma, bawa Angga naik ke kamar!" Reno melingkarkan lengan kanan anaknya ke leher.


Emma menurti perintah sang suami tanpa membantah. Mereka menuntun sang anak menuju tangga untuk naik ke lantai dua.


Silvi bangkit dari duduknya. Dia berjalan mengikuti ke mana mereka pergi. Namun, lengan kirinnya tiba-tiba ditarik oleh Alia. Seketika itu pula langkahnya terhenti, lalu kepala menoleh ke belakang diikuti seluruh anggota tubuh.


"Mau ke mana kamu?" Alia menghentak lengan Silvi, lalu mengusap telapak tangan dengan tisu. Dia merasa kotor setelah menyentuh wanita kampung itu.


"Aku mau lihat mas Angga. Dia harus minum obat ini," Silvi menunjukkan sebuah kantong obat kepada Alia, "untuk ngurangi sakit kepalanya." Kedua bola mata hanya berani memandang tubuh bagian bawah wanita di hadapannya.


Memang benar Silvi adalah wanita kampung yang lemah. Dia saja tidak berani menatap langsung mata Alia. Lalu, bagaimana wanita itu akan mempertahankan statusnya di kemudian hari? Entah, semua hal tersebut belum masuk ke dalam pikirannya. Dia hanya percaya pada keyakinan bahwa Angga akan tetap memilihnya.


"Biar aku aja yang kasih! Aku juga bisa. Lagian, dia juga nggak butuh kamu lagi!" Alia merebut obat di tangan Silvi. Dia menghentakkan kaki kanan sekali, lalu pergi begitu saja meninggalkan wanita kampung itu.

__ADS_1


Silvi membiarkan Alia tanpa ingin berdebat. Dia membalikkan badan, matanya mengikuti ke mana wanita tersebut pergi. Helaan napas panjang terdengar ketika wanita yang diperhatikannya sejak tadi telah hilang dari pandangan.


Masalah bukan untuk dihadapi dengan kasar, tetapi disikapi dengan sabar. Dia yakin buah dari kesabaran akan terasa nikmat. Tuhan telah menjanjikan pahala, maka dirinya tidak ingin menyia-nyiakan.


Silvi hanya duduk menunggu tanpa bisa melakukan apa pun. Tanpa terasa detik telah berganti menit, menit pun berganti jam. Dia hanya berdiam diri dan mengamati keadaan sekitar seperti orang linglung.


***


Mata perlahan terbuka, mencoba menyesuaikan dengan sinar terang di sekitar. Entah berapa lama Angga tertidur, tetapi sepertinya kini matahari telah berada di puncak tertinggi. Semua itu dapat terlihat dari bayangan benda yang berada di balkon.


"Kamu udah sadar, Sayang?"


Suara seorang wanita mengalihkan perhatian pria tersebut. Angga menoleh ke samping kanan, terdapat Alia yang duduk di sisi ranjang. Namun, mulutnya masih tertutup, tak ingin mengeluarkan walau hanya satu kata.


"Udah lebih dari tiga jam kamu pingsan, Sayang. Aku selalu di sini nungguin kamu bangun."


Alia merasa kesal karena telah diabaiakan oleh Angga. Dia segera berjalan keluar kamar untuk mencari Emma. Dirinya ingin mengadukan sikap sang kekasih. Ketika telah menuruni tangga, matanya menangkap sosok wanita lusuh di ruang tamu.


"Kamu masih di situ? Kenapa nggak pulang aja? Tugasmu udah selesai buat jagain Angga!"


Suara Alia mengagetkan Silvi yang tengah terkantuk. Ya, nyamannya suasana rumah itu membuat mata semakin berat dibuka. Kalau tidak mendengar pertanyaan yang sedikit keras tadi, mungkin sebentar lagi dirinya berada di alam mimpi.


"Maaf, mas Angga belum menyuruhku pulang," ucap Silvi.


"Seharunya kamu sadar diri, dong. Dasar wanita kampung!"


Derap langkah terdengar dari atas. Emma keluar dari kamar setelah mendengar suara Alia yang seperti orang bertengkar. Dia ingin tahu keributan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Ngapain kamu urusi wanita kampung itu? Ngabisin tenaga aja." Emma melipat tangan di depan dada ketika sampai di samping Alia.


"Benar banget, Tante. Lebih baik kita lihat Angga. Dia udah bangun, Tante." Alia merangkul lengan Emma, lalu menarik pergi ke atas menuju kamar Angga.


Silvi tertunduk setelah kepergian mereka. Hatinya semakin tersakiti setelah mendengar ucapan Alia. Namun, keyakinan kuat masih melekat di dalam hati sehingga membuatnya masih bertahan walau diabaikan.


Sejak tadi Silvi hanya duduk di ruang tamu tanpa diperhatikan oleh tuan rumah. Bahkan, seteguk minuman tidak dia dapatkan. Dirinya sadar kenapa semua itu terjadi.


***


"Apa kamu udah agak baikan?" Emma mengusap lengan kekar milik Angga.


Kini semua sudah berkumpul di kamar Angga, kecuali Silvi. Mereka tidak rela jika wanita kampung itu yang akan menggantikan posisi Alia. Jadi, rencana ketiga orang tersebut adalah meyakinkan pria itu agar pernikahan tetap berlangsung.


Semua orang tahu bahwa anak tunggal keluarga Bastian sangat sulit dibujuk hatinya. Keputusan Angga merupakan hasil akhir yang tidak bisa diubah siapa saja, termasuk sang ayah. Namun, mereka akan tetap berusaha walau bagaimanapun caranya.


Angga hanya menganggukan kepala untuk menjawab pertanyaan sang ibu. Kini kepalanya sudah baik-baik saja setelah meminum obat. Dia sudah siap untuk menghadapi ketiga orang yang tengah menatapnya.


"Nggak usah basa-basi lagi. Kalian pasti mau ngomongin pernikahanku sama dia, 'kan?" Angga menunjuk ke arah Alia dengan dagunya, lalu diangguki mereka bertiga.


"Persipaan pernikahan udah terencana matang, Angga. Dua bulan juga bukan waktu yang lama. Jadi, mama mohon pikirkan wanita kampung itu." ucap Emma. Suaranya begitu lembut, seperti sutera.


Angga menarik satu ujung bibirnya. "Apa aku harus percaya? Kalian pasti mau memanfaatkan keadaanku yang nggak ingat apa-apa dan nyingkirin Silvi. Kalian jangan pernah mencoba menipuku, ya!" Angga menatap satu per satu wajah orang di kelilingnya.


"Buat apa aku manfaatin kamu, Angga. Aku mamamu, wanita yang melahirkan dan membesarkanmu. Mana mungkin aku melakukan itu," ucap Emma. Matanya sudah mulai berembun.


Angga terdiam, merenungi perkataan sang ibu. Memang benar, dia tidak perlu meragukan ucapan Emma. Ibu mana yang akan menjerumuskan anaknya ke dalam jurang. Kasih sayang yang ada dalam hati ibu pasti akan mencegah hal tersebut terjadi. Wanita kuat itu pasti akan selalu melindungi anaknya dalam situasi apa saja.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2