Sekadar Pelindung

Sekadar Pelindung
Bab 7. Perlakuan Angga


__ADS_3

Langkah terpacu, menerjang dedaunan kering di depan kaki. Rasa penasaran dengan apa yang telah terjadi sangat mengusik pikiran, mengalahkan segalanya. Silvi berlari sepenuh tenaga.


Napas terdengar begitu memburu ketika Silvi telah berhenti berlari. Dia berdiri di ambang pintu belakang. Matanya menatap pria yang tengah duduk di atas kursi roda. Dirinya bersyukur setelah menemukan Angga tidak terluka.


"Apa tadi yang jatuh?" Silvi berjalan menghampiri Angga.


"Berhenti!" Angga mengulurkan tangan, memberi tanda supaya Silvi tidak mendekat.


Kerutan seketika tampak di kening Silvi. Dia tidak tahu kenapa dilarang untuk mendekat hingga akhirnya pandangan mengikuti ke mana Angga melihat. Di bawah kaki pria itu terdapat pecahan gelas.


Beberapa menit yang lalu Angga berusaha mengambil gelas di rak piring. Karena tempat yang tinggi, dia tidak mampu meraihnya. Pria itu mencoba menghentak gelas tersebut, lalu bermaksud menangkapnya ketika jatuh, tetapi gagal.


"Kamu mau ambil gelas buat apa?" tanya Silvi.


Gadis itu heran dengan apa yang dilakukan Angga. Bukankah tadi dirinya sudah menyediakan gelas? Apa sudah digunakan? Namun, bukankah dia baru saja meninggalkan rumah?


Silvi berjalan ke belakang rumah, lalu kembali lagi dengan membawa pengki. Dia memundurkan sedikit kursi roda Angga supaya bisa membersihkan pecahan gelas di bawahnya.


"Buat minum. Gelas yang kamu siapin masih kotor." Angga menatap gelas yang berada di atas meja.


Silvi segera menatap gelas yang berada di atas meja. Dia sadar bahwa ada noda putih sedikit di bibir gelas, tetapi hanya diusap sedikit pasti akan hilang. Gadis itu menggelengkan kepala merasakan tingkah Angga. Namun, dia tak ingin bertanya lebih lanjut dan memilih jongkok untuk membereskan kekacauan tersebut.


"Aduh!" Silvi meringis seraya memegang tangan kanannya.


"Kenapa? Kena pecahan gelas?"


Silvi hanya mengangguk pelan seraya melihat ujung jari manisnya, terdapat pecahan kecil yang menancap di sana. Dia mencoba mengambil dengan tangan kiri, tetapi tidak kunjung terlepas. Kini perih semakin terasa akibat ulahnya tadi, darah juga sudah terlihat mengalir dari sana.

__ADS_1


Angga memperhatikan apa yang dilakukan gadis di hadapannya dari tadi. Dia merasa gemas karena Silvi tak kunjung mencabut pecahan itu. Tangannya segera terulur, maraih lengan gadis tersebut, lalu mencabut benda yang tertancap di jari manis. Dengan sekali mencoba, Angga berhasil mencabut. Darah segera mengalir keluar.


Silvi terkejut ketika Angga menarik tangannya. "Apa yang ...?"


Sebelum pertanyaan Silvi berakhir, jari manisnya berada tepat di depan mulut Angga. Melihat mulut yang terbuka, dia tahu apa yang akan pria itu lakukan. Dirinya mencoba menahan tangan agar tidak masuk ke dalam mulut tersebut.


"Jangan lakuin itu!" Silvi mengerutkan kening, seperti orang yang merasa jijik. Dia telah membayangkan bagaimana darah akan masuk ke dalam mulut Angga.


Tenaga wanita biasa tak mampu mengalahkan lelaki. Angga berhasil memasukkan jari manis Silvi ke dalam mulutnya. Perlahan-lahan dihisapnya luka itu. Ya, orang dulu mengatakan bahwa darah yang mengalir dari luka akan berhenti ketika dihisap. Itulah yang dia percayai.


Kenapa dia lakuin hal itu? Gelas ada nodanya dikit aja nggak mau dipakai, batin Silvi. Namun, dia membiarkan perlakuan Angga terhadapnya.


Perlakuan tak biasa dari lawan jenis pasti menimbulkan efek luar biasa. Setiap sesapan mampu membuat jatung berdegup tak beraturan. Silvi hanya mampu menundukkan kepala, menyembunyikan rona merah yang tercetak jelas di wajahnya.


"Darahnya udah berhenti mengalir," ucap Angga. Dia telah melepas jari manis Silvi dari dalam mulutnya.


"Kenapa dia?" Mata Angga terus mengikuti ke mana Silvi pergi. Dia merasa gadis itu sangat aneh karena pergi begitu saja.


Kamar merupakan tempat terbaik untuk menyembunyikana sesuatu. Apa saja dapat dilakukan di sana tanpa sepengetahuan orang lain. Silvi terus saja memandang jari manisnya. Masih terasa sesapan Angga di sana, berdenyut, seirama dengan detak jantungnya. Senyum mengembang kala dia mengingat kejadian tadi.


"Apa aku udah gila?" Silvi menepuk kedua pipinya bergantian.


Rasa sakit pada jari manis menghentikan aksi gadis itu. Cairan merah mulai merembas lagi dari luka yang tidak begitu dalam. Kesadaran akhirnya mulai menyapa pikiran kembali. "Kenapa aku begini?"


Silvi menggelengkan kepala untuk menghilangkan pemikiran yang tidak seharusnya, lalu segera menggeledah laci meja di samping dipan. Gadis itu mengambil plester untuk menutup luka di jari manis. Setelah selesai, dia keluar dari kamar.


"Kamu ngapain?" tanya Silvi. Dia terkejut ketika melihat tangan Angga sedang memegang pengki, sementara kaki kanan menyapu pecahan gelas di lantai.

__ADS_1


"Beresin kekacauan ini. Emangnya ngapain lagi? Senam?"


Silvi menghela napas panjang setelah mendengar kata-kata dengan nada datar Angga. Ingin sekali tangannya mencuil sedikit daging di lengan pria tampan itu. Namun, perasaan rikuh mengalahkan sehingga hal tersebut ditahannya. Dia hanya merebut pengki di tangan pria itu, lalu berjalan ke belakang rumah untuk mengambil sapu.


Silvi menyapu serpihan kecil yang tersisa, lalu membuangnya. Dia segera mengambil segelas air untuk Angga. Sebelumnya, gadis itu telah memeriksa kebersihan gelas tersebut.


"Maaf, aku udah buat kamu terluka," ucap Angga ketika melihat jari Silvi yang telah terbungkus plester.


"Nggak apa-apa, kok. Cuma luka kecil." Silvi menarik ke dua ujung bibirnya sehingga membentuk lengkungan ke atas.


Angga menganggukan kepala. Ya, dia juga menyadari bahwa memang benar ucapan Silvi, jadi tak perlu khawatir lagi. Dirinya meminum segelas air putih yang diberikan gadis itu hingga tandas.


Silvi memperhatikan gerakan leher Angga ketika menelan. Entah kenapa dia merasakan hal aneh seiring pergerakan naik-turun di sana. Akan tetapi, tiba-tiba dia mengingat sesuatu.


"Oh, ya. Aku ingatkan lagi, kalau butuh sesuatu tinggal panggil aku aja! Aku mau kebelakang lagi."


Angga hanya menganggukkan kepala ketika menanggapi kata-kata Silvi. Seperti itulah dia, tak banyak bicara, hanya akan mengeluarkan kata jika penting. Selama ini gadis itulah yang lebih banyak bicara.


Dengan langkah cepat, Silvi kembali ke kebun belakang rumah. Bukan sengaja melupakan pria yang telah menemuinya tadi, tetapi insiden yang baru saja terjadi memang telah menghilangkan akal sehat sebentar.


"Apa dia udang pulang? Kayaknya udah nggak ada di sana." Silvi mencoba mengintip dari jauh melalui celah dedaunan. Kepalanya digoyangkan ke kanan-kiri untuk menemukan orang yang dicari.


Embusan napas berat terdengar keluar dari hidung Silvi. Dia tidak lagi menemukan Anam di sana. Padahal, gadis tersebut merasa hanya sebentar saja meninggalkan pria itu. Perasaannya menjadi kalut, semua tidak sesuai yang direncanakan.


"Mas Anam, apa sebenarnya yang ada di pikiranmu? Entahlah, aku akan terima semua keputusanmu."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2