Sekadar Pelindung

Sekadar Pelindung
Bab 4. Kecemasan Seorang Ibu


__ADS_3

Kemacetan selalu tampak di kota besar ketika jam sibuk, kebisingan mengaum sepanjang jalan. Klakson sahut-menyahut bergantian, seperti yang terjadi di sebuah rumah dengan pagar setinggi dua meter.


Pilar tinggi menjulang dan tembok yang didominasi kaca menjadi selalu diam tak bergeming, seakan menggambarkan suasana rumah itu. Hanya terdengar suara dentingan halus akibat tumbukan sendok dan piring, tak ada yang membuka mulut untuk sekadar mencaitkan suasana.


"Sudah seminggu lebih nggak ketemu juga. Apa dia masih hidup?" tanya Emma pada akhirnya.


"Anak kita pasti masih hidup." Reno kembali memasukkan sesondok nasi ke dalam mulutnya.


"Apa Papa yakin?" Emma menghentikan aktivitas sarapan. "Papa tahu dari mana?" Dia menatap sang suami begitu tajam.


Reno mengangguk, tetapi masih lanjut menghaluskan makanan di dalam mulut. Dia terlihat begitu santai, seperti tidak memikirkan situasi sedikit pun. Namun, sesungguhnya pria itu memang tidak pernah menampakkan rasa khawatir, walaupun di dalam hati sangat tidak laruan.


"Percaya aja sama papa, Ma," ucap Reno setelah menelan habis makanan di dalam mulut.


"Kita umumin saja, Pa!" Kerutan tampak di sekitar alis Emma.


"Kamu sudah g1la! Kalau kita umumin hilangnya Angga, bagaimana nasib perusahaan kita, Ma!" Reno membalas tatapan Emma lebih tajam, melebihi silet.


Persaingan bisnis sangat kejam, mereka akan menerkam ketika musuh lemah. Tidak pandang bulu dan akibat yang ditimbulkan setelahnya. Semua demi kejayaan perusahaan masing-masing.


Emma menurunkan pandangan, merasa kalah. Perasaan sebagai seorang ibu sungguh sangat melelahkan, kekhawatiran akan selalu menyelubungi. Pikirannya sangat kalut, segala kemungkinan buruk melintas di sana.


"Gimana dengan desa sekitar? Papa udah cari ke sana?" Suara Emma sudah tidak setinggi tadi.

__ADS_1


Reno menggelengkan kepala, hembusan napas keputusasaan terdengar. Tim pencari yang dia kerahkan sudah memyusuri setiap desa di sekitar jatuhnya helikopter. Namun, tak ada satu warga pun yang mengetahui tentang keberadaan Angga.


Helikopter meledak di balik bukit, sangat jauh dari tempat terjatuhnya Angga. Jadi, pencarian tidak mencapai desa di mana pria itu berada sekarang. Apalagi semua itu dilakukan diam-diam.


Reno menjatuhkan punggung ke sandaran sofa. Tangan kanannya memijat kening yang sudah terasa sangat berat. Kondisi perusahaan yang tidak seimbang akibat hilangnya Angga dan pencarian yang belum menemukan titik temu, berkumpul menjadi satu. Jika bisa, dia akan meletakkan kepala sejenak dan mulupakan sesaat semua itu.


"Maafin aku, Pa. Aku cuma khawatir sama Angga," ucap Emma lirih.


Reno tidak menanggapi ucapan Emma. Namun, sebenarnya dia juga cemas dengan keadaan Angga. Putra kandung satu-satunya penerus keluarga, siapa yang tidak cemas. Masa depan perusahaan ada di tangan pemuda itu.


Kini suasana sudah hening, tak ada lagi yang bersuara. Reno masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dengan mata terpejam, pria itu mencoba mencari solusi atas semua yang terjadi.


***


Emma duduk termangu sendiri di ruang keluarga. Dia hanya mampu berharap yang terbaik untuk sang anak. Dirinya juga percaya dengan apa yang dikatakan Reno bahwa Angga pasti selamat. Dilihat dari kecerdasan anak itu, segala masalah pasti akan teratasi.


Saat ini, bukan itu yang menjadi pikiran Emma. Jika memang Angga selamat, kenapa hingga sekarang belum juga memberi kabar? Apakah sang anak sedang mengalami kesulitan di sana?


"Angga," ucap Emma lirih.


Sebuah bingkai gambar Angga berada erat dalam pelukan sang ibu. Tanpa terasa air terjun bebas dari kelopak mata yang tidak tahan lagi membendungnya. Bukti subuah cinta seorang ibu kepada sang buah hati.


"Mama, kenapa belum tidur?"

__ADS_1


Suara maskulin membuyarkan tangisan Emma. Dengan cepat wanita itu mengusap sisa aliran air mata di pipi. Dia menoleh ke sumber suara sembari tersenyum manis.


"Belum, Ar. Kalian dari mana?" tanya Emma kepada Arlo.


"Aku ajak jalan-jalan Alia biar nggak sedih mikirin Angga terus, Ma." Arlo menunjuk wanita di sebelah kanananya menggunakan dagu.


Emma tersenyum senang dengan apa yang dilakukan Arlo. Dalam situasi seperti ini, pria itu masih memikirkan perasaan orang lain. Tidak salah dia mendidiknya dari kecil hingga dewasa. Sang anak memiliki rasa kepedulian yang tinggi.


"Kamu harus segera antar Alia pulang. Udah larut, tuh." Emma menunjuk pada jam kayu jati yang berdiri kokoh di dekat tangga. Jarum jam sudah menunjuk ke angka sebelas.


"Sebentar lagi, Tante. Aku juga mau tau gimana kabar tante." Alia duduk di sebelah Emma. Sementara itu, Arlo masih saja berdiri di samping sang ibu.


Obrolan basa-basi terjadi di antara mereka. Terlihat dari pembicaraan mereka bahwa Emma sangat sedih. Alia menyadari hal tersebut, lalu segera merengkuh pundak wqnita paruh baya itu.


"Gimana kalau akhir bulan ini kita pergi ke desa di kaki bukit? Di sana mau ngadain pesta rakyat, pasti meriah," usul Alia. Dia mencoba menghibur Emma dengan mengajaknya jalan-jalan.


Wanita yang tidak muda lagi itu berpikir sejenak. Memang saat ini dia harus menyegarkan pikirannya, mencoba menenangkan diri dan berpikir positif tentang Angga. Jalan-jalan menjadi satu pilihan yang cocok baginya. Lagi pula, desa itu juga dekat dengan tempat pesawat jatuh. Dia berharap akan menemukan informasi di sana.


"Baiklah, aku setuju." Emma tersenyum. "Sekarang, aku mau istirahat dulu. Tante sudah lelah. Nanti jangan lupa minta sama Arlo buat anterin kamu."


Saat Emma berdiri, wajah Arlo berubah kecut. Pria itu merasa memang anak kandung selalu menjadi primadona. Hanya dengan melihat cara wanita itu sangat erat memeluk foto Angga, dia paham posisinya. Seketika dihentakkan tubuhnya ke atas sofa.


"Tenang, Ar." Tangan Alia mengusap lembut lengan Arlo. Dia menyadari apa yang dirasakan pria itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2