Sekadar Pelindung

Sekadar Pelindung
Bab 15. Pertemuan Anak dan Orang Tua


__ADS_3

"Kami berangkat dulu, Pak, Bu." Silvi mencium punggung tangan Budi, lalu bergantian menuju Ayu.


Senyum cerah tampak di wajah kedua orang paruh baya itu. Mereka merasa lega karena sebentar lagi akan terlepas dari sebuah tanggung jawab. Bukan terbebani, tetapi setidaknya sang anak bisa bebas dari ikatan yang pura-pura dan bisa segera menikah sungguhan.


Angga juga berpamitan kepada mereka berdua. Dengan dituntun Silvi, dia berjalan pergi meninggalkan rumah Budi.


"Hati-hati!" Silvi mencengkeram erat lengan kanan Angga. Pria itu hampir saja terjatuh.


Angga membenahi tongkat yang menyangga tubuh sebelah kiri. Kini dia belajar berjalan untuk menuju sebuah alamat yang telah melintas dalam mimpi. Walaupun sakit seringkali hinggap di kakinya, tetapi semangat mengalahkan semua rasa itu.


Setelah perjalanan yang menyiksa selama lima belas menit, Angga dan Silvi berdiri di tepi jalan untuk menunggu mobil angkutan umum melintas. Tujuan mereka adalah terminal agar bisa naik bus menuju kota besar.


"Kamu nggak apa-apa, 'kan?" Silvi menatap Angga penuh iba. Terlihat sekali wajah pria di sampingnya begitu tersiksa, bahkan keringat tampak membasahi rambut yang menutupi kening.


"Nggak apa-apa. Sekarang udah bisa selonjor, jadi lebih enakan." Embusan napas keluar dari mulut Angga. Dia sungguh merasa lega.


Setelah tiga puluh menit tersiksa di dalam angkutan umum, akhirnya pria itu dapat meregangkan otot kaki. Tidak dapat dibayangkan bagaimana rasanya melipat kaki selama itu, apalagi sambil berdesak-desakan dengan orang banyak. Sungguh membuat kakinya seperti mati rasa.


Angga berada di dalam bus lebih lama, tetapi setidaknya kaki tidak terlipat. Jadi, dia tidak menderita seperti tadi. Dua jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di terminal kota. Dengan naik ojek, mereka mencari alamat tersebut.


"Benar ini alamatnya?" Silvi memandang gerbang besar di depan mata.


Wanita itu sedikit sanksi dengan pernyataan Angga. Rumah mewah yang hanya mampu dia lihat di dalam layar kaca, tetapi kini berada di depan mata. Silvi melirik ke arah pria di sampingnya seakan berkata, "Benaran ini rumahmu?" Namun, kalimat itu hanya disimpan di dalam hatinya saja.


"Iya!" Angga begitu yakin karena merasa tidak asing dengan suasana rumah itu.


***


"Pa, percayalah sama mama!" Emma mengejar Reno yang menuruni tangga.

__ADS_1


Sejak kemarin wanita tersebut sudah berusaha keras untuk meyakinkan sang suami. Namun, hingga hari ini dia tidak mampu membuat Reno percaya. Pria itu meragukan apa yang telah di temukan Emma.


Reno merasa hal tersebut sangat mustahil, apalagi dilihat dari lokasi desa sangat jauh dari tempat kejadian. Bagaimana Angga bisa sampai di tempat itu? Sungguh sangat mustahil.


Reno menghentikan langkahnya tepat di ujung tangga bagian bawah, lalu menatap sang istri. "Ma, pasti itu penipuan. Mereka memanfaatkan hilangnya Angga, Ma."


"Kenapa Papa bilang gitu? Lagian, orang mana yang tahu kalau Angga hilang."


Reno menghela napas panjang seraya menarik pandangan dari sang istri, lalu membuangnya ke arah lain. Memang sangat membingungkan ketika melihat kenyataan. Tak ada orang lain lagi yang tahu kabar tersebut kecuali keluarga mereka. Tidak mungkin juga dia mencurigai sang anak angkat dan kekasih Angga. Dirinya tahu ke dua orang tersebut sangat menyayangi pria itu.


Dalam langkah kebingungan, Reno berpikir. Semua kemungkinan yang bisa terjadi berputar di pikiran. Ya, tidak mungkin percaya begitu saja dengan berita yang tidak jelas asal-usulnya. Apalagi, menurut pria tersebut foto yang diunggah oleh seseorang itu tidak sama dengan ciri-ciri sang anak. Terdapat rambut-rambut di sekitar bibir yang Angga tidak suka. Mana mungkin orang tersebut bisa dikatakan anaknya.


"Kenapa Papa diam aja? Apa ini berarti Papa setuju buat cari alamat itu?" Emma mengikuti langkah Reno.


Pria itu masih saja diam. Sebuah sofa empuk menjadi tempatnya menjatuhkan tubuh. Dia menatap tajam ke depan, entah apa yang dilihat. Emma ikut duduk tepat di sebelahnya.


"Jangan buru-buru, Ma. Biar papa selidiki dulu," ucap Reno pada akhirnya. "Kirimkan alamat itu!"


"Aku akan kirim orang buat selidiki alamat ini. Kalau emang beneran, kita langsung meluncur ke sana."


"Terima kasih, Pa." Emma memeluk tubuh suaminya.


Tiba-tiba suara ketukan dari pintu luar terdengar. Emma melepaskan pelukannya, lalu menatap sang suami. "Siapa itu, Pa?"


Reno hanya mengangkat ke dua bahu. Dia juga tidak tahu siapa tamu yang datang. Pasalnya, dia tidak memiliki janji kepada siapa pun. Mana mungkin juga Alia atau Arlo. Mereka tidak perlu mengetuk pintu karena bisa masuk begitu saja.


Emma berdiri, lalu berjalan menuju pintu. Dia menarik hendel untuk membukanya. Pergerakannya terhenti ketika melihat orang yang telah berdiri di sana. Tanpa terasa pula mulut wanita itu terbuka. Perlahan kaki melangkah menuju sosok di depannya dengan tangan sudah bersiap menyentuh wajah orang itu.


"Angga," ucap Emma lirih. Kini tangannya berhasil mendarat di wajah pria itu.

__ADS_1


"Mama!" Angga memeluk wanita di depannya.


Tanpa terasa buliran air berhasil lolos dari pelupuk mata. Pria dengan postur gagah terlihat sedang terisak. Dia sangat bahagia akhirnya bertemu dan dapat memeluk sang ibu. Dirinya berharap, ini adalah awal mula dari sebuah keajaiban.


"Kamu benar Angga?" tanya Reno. Ternyata dia sudah berada di belakang Emma.


Angga segera melepas pelukan, lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi. Tatapannya kini tertuju pada pria itu. Tidak asing, tetapi dia masih belum mengingat jelas.


"Apa buktinya kalau kamu Angga?" Reno menatap pria itu dari ujung kaki hingga ke kepala. Dia curiga bahwa orang itu sedang menyamar sebagai anaknya.


Silvi segera membuka ikatan pada plastik hitam di tangannya. Sebuah jas hitam dan celana panjang dia keluarkan, berharap ke dua benda tersebut mampu membuktikan. Dia memberikannya kepada Reno.


Ya, Angga sudah menduga hal ini sebelumnya. Maka dari itu, dirinya meminta Silvi membawa benda-benda tersebut.


Reno menatap Angga tanpa berkedip. Dia tahu betul bahwa jas tersebut memanglah milik sang anak walau hanya dengan menyentuhnya saja. Kini matanya mulai berembun, merasakan kebahagiaan yang teramat.


"Maaf, Anda?" Angga menatap Reno penuh tanya. Tidak ada bayangan sedikit saja tentang pria itu.


Mata Reno dan Emma membulat bersama. Mereka tidak percaya jika Angga tidak tahu siapa ayahnya. Kedua orang tua itu akhirnya saling memandang.


Silvi mengetahui kebingungan mereka. Tanpa diminta, dia segera menjelaskan apa yang terjadi terhadap Angga.


Kini kedua orang tua itu memahami kondisi sang anak setelah mendengar penjelasan singkat darinya. Mereka juga mengerti kenapa Angga tidak kunjung pulang ke rumah. Pasti butuh perjuangan yang keras hanya untuk mengingat ibu dan alamat rumah.


"Aku papa kamu, Angga? Kamu nggak ingat papa?" tanya Reno.


Pria merasa sedih karena anak tersebut tidak tahu siapa dirinya. Memang semua itu merupakan akibat kesalahannya dahulu. Dia seperti tidak pernah memperhatikan Angga, hanya pekerjaan yang dipikirkan. Maka dari itu, sang anak tidak memiliki kenangan tentangnya.


Angga mencoba menggali kembali ingatannya. Bahkan, dia sampai memejamkan mata untuk mengingat. Di tengah usahanya, tiba-tiba seseorang memeluk dari belakang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2