
Pesta rakyat merupakan acara meriah yang selalu diadakan setiap tahunnya. Banyak orang berkumpul, baik warga sekitar maupun pengunjug dari luar daerah. Begitu juga Angga dan Silvi yang telah bersiap untuk pergi ke sana. Dengan berjalan kaki, wanita itu mendorong kursi roda suaminya menuju lapangan desa, pusat acara dilaksanakan.
"Maaf, nggak pernah bawa kamu buat kontrol," ucap Silvi.
"Ngak apa-apa."
Selama ini memang Angga tidak pernah melakukan kontrol, hanya sekali ketika tiga hari keluar dari rumah sakit. Dia menyadari kondisi keuangan keluarga kecil itu, makan saja pas-pasan. Pria tersebut sangat bersyukur mereka bersedia menampung dan merawatnya.
"Kamu selama ini nggak pernah panggil namaku. Kenapa?" Angga menoleh ke belakang, menanti jawaban dari wanita yang mendorong kursi rodanya.
Angga baru sadar akan hal tersebut. Selama ini dia terlalu disibukkan dengan memikirkan cara untuk mendapat ingatannya kembali.
Silvi tersenyum seraya terus mendorong kursi roda Angga. Jantungnya berdegup kencang ketika memikirkan hal tersebut. Pria itu adalah orang kedua yang mampu meruntuhkan hatinya setelah anak pak RT.
"Kenapa diam aja?"
Angga kembali menatap ke depan setelah tidak kunjung mendapat jawaban, helaan napas panjang terdengar, mengurangi sedikit rasa kecewa. Perasaan bersalah hinggap dalam hati, mengenang kejadian saat itu. Mungkin Silvi masih tidak bisa terima dengan pernikahan mereka.
"Pasti kamu nggak mau panggil namaku gara-gara itu?" Angga terus saja mendesak wanita itu agar mengatakan alasannya.
"Bu-bukan begitu. Cuma ...." Silvi menundukkan kepala, tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Terlalu berat baginya untuk mengatakan sebuah kejujuran, mungkin juga suatu hal yang memalukan. Untuk saat ini dia akan menyimpannya untuk diri sendiri.
Sepanjang jalan sudah tampak ramai dengan penjual dadakan, baik penjual makanan maupun minuman. Silvi menoleh kanan-kiri, mencoba mencai sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan. Suasana seperti ini sungguh memojokkannya.
"Ada jagung bakar. Ka ... Ma-Mas mau?"
Silvi mencoba mengganti panggilan untuk Angga. Dia tidak mau sang suami terus saja memerkarakan masalah itu lagi. Setidaknya, panggilan tersebut tidak seberat menyebutkan nama.
__ADS_1
Kini Angga yang terpaku, tidak tahu kenapa suara Silvi berhasil mendesak jantung. Degupnya mampu menyesakkan dada sehingga udara kesulitan menerobos masuk ke paru-paru, meski dia tahu bahwa wanita itu sedang mencoba menghindari pertanyaannya. Kata yang baru ditangkap oleh telinga mengalihkan fokus karena untuk pertama kali dia mendengar orang memanggil dengan sebutan seperti itu. Terasa aneh memang, tetapi pria itu sangat suka. Seulas senyum berhasil lolos begitu saja.
"Ka ... Mas mau?" Silvi mengulangi pertanyaannya. Wanita itu juga masih merasa canggung dengan kata itu.
Angga menggelengkan kepala, memudarkan rasa di dalam dada. Penolakan dilakukan karena merasa bahwa itu bukan dirinya. Pria tersebut tak pernah merasakan hal semacam itu, baik sekarang maupun sebelum lupa ingatan. Dia sangat yakin.
"Mas nggak mau, ya?" Silvi mencoba tersenyum walau sedikit merasa tak enak. "Oke, kita cari yang lain aja."
"Tidak! Jangung bakar aja. Aku belum pernah coba, kayaknya enak."
Silvi segera menuju penjual jagung. Asap mengepul, memenuhi area sekitar. Wanita itu sedikit menghindar karena angin membawa benda putih menuju ke arahnya.
Melihat Silvi dikerumuni asap, spontan Angga menarik tubuh wanita itu. Perasaan melindungi seketika muncul, tak ingin melihat seseorang terluka. Entah, apakah itu perasaan normal bagi setiap orang atau bukan.
"Kamu nggak apa-apa, 'kan?"
Silvi hanya bisa mendengar pertanyaan itu tanpa mampu menjawab. Mulut terasa terkunci oleh jantung yang mendendang. Mungkin debaran itu mampu didengar oleh Angga karena kini telinga pria tersebut sejajar dengan dadanya.
"Cengeng!" Angga mengulurkan tangan untuk menghapus air mata Silvi.
Baru beberapa saat tangan Angga menyentuh pipi, Silvi segera menghindar, sadar bahwa kini sedang berada di keramaian. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian di mana lambe turah bersebaran. Tentunya berita hangat dengat cepat menyebar, lebih cepat dari sinyal 4G.
"Siapa yang cengeng?"
Silvi merajuk, bibir telah maju beberapa mili. Dia tidak terima dengan perkataan Angga. Meski demikian, hatinya sangat senang. Untuk pertama kali pria itu mengeluarkan kelakar setelah sekian lama dalam diam.
Bukannya menjawab pertanyaan Silvi, Angga justru mengulangi kata itu beberapa kali. Cubitan kecil akhirnya dia dapatkan di lengan kanan. Tak ada kemarahan walau sedikit atas perlakuan Silvi. Pria itu tertawa, tetapi ekspresinya masih datar untuk menjaga wibawa.
Angga menghentikan tawanya, seketika itu pula suasana di antara mereka hening. Masing-masing saling menatap, beberapa detik kemudian membuang muka. Tak pernah mereka melakukan adegan seperti itu.
__ADS_1
"Ini jagunggnya, nok."
Suara pedagang jagung bakar menyadarkan Silvi. "Oh, iya, Pak." Dia menerima sebungkus plastik, lalu membayarnya.
"Ayo, kita cari tempat buat makan ini," kata Silvi.
Wanita itu mendorong kursi roda Angga setelah mendapat anggukan. Mereka mencari tempat tepat di sisi lapangan di mana pesta rakyat berlangsung. Untuk saat ini memang belum di mulai karena kedua orang tersebut datang lebih awal untuk menghindari berdesakan saat menuju ke sana.
Pohon berbatang besar dengan dahan menjalar ke samping. Daun-daun mampu memayungi orang-orang yang berteduh di bawahnya. Silvi duduk di akar besar yang sedikit mencuat dan Angga berada di sampingnya.
"Lezat juga ternyata jagung bakar." Angga menggigit jagung di tangannya.
Silvi heran dengan pernyataan Angga, orang macam apa yang tidak pernah makan jagung bakar dalam hidupnya? Bukankah makanan itu selalu ada di mana-mana? Bahkan, hampir di setiap keramain.
"Sebenarnya kamu ini siapa sih?" Silvi menatap Angga dengan wajah bingung. Suaranya juga sedikit menggumam, ragu akan pertanyaannya sendiri.
Angga menghela napas. "Kalau aku ingat, mungkin aku udah nggak di sini," ucapnya sembari menoleh ke arah wanita itu.
"Benar." Silvi munundukkan kepala, perasaan sedih seketika menyelimuti kalbu. Angga sungguh tidak memikirkan kata-kata yang dikeluarkan sehingga begitu sakit menusuk hati.
"Kamu kenapa?" Angga mengernyit, heran dengan Silvi yang tiba-tiba sedih. Dia merasa tidak ada yang salah dengan perkataanya, semua memang akan begitu jika tidak amnesia.
Silvi menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepala. Dia mencoba tersenyum kepada Angga, menunjukkan bahwa dirinya tidak apa-apa. Pandangannya ke depan, menyaksikan orang-orang yang mulai sibuk di tengah lapangan.
"Acara udah mau mulai, tuh!"
Angga mengikuti arah pandang Silvi, menyaksikan beberapa orang masih sibuk dengan gunungan dan yang lain menata dandanan masing-masing. Selalu ada yang memeriahkan dengan memakai kostum beraneka macam, dari hantu hingga pahlawan super. Semua warga sangat antusias.
Pada saat itu pula, di seberang lapangan ada yang mencuri perhatian Angga. Dia memusatkan pandangan, mencoba mencari tahu. Pria itu akhirnya mendapat sebuah jawaban.
__ADS_1
"Ayo, kita pulang!"
Bersambung.