SEKOLAH DI KOTA MATI

SEKOLAH DI KOTA MATI
SEKOLAH DI KOTA MATI 10


__ADS_3

Di sisi yang berbeda sore itu yokai Zeniko berjalan menuju kediaman yokai Inaba (Ayah angkat Aika) yang terletak di tengah hutan yang sunyi dan tak bisa di lihat oleh mata manusia biasa. Zeniko berniat untuk membujuk Inaba untuk bergabung dengannya dan anak buah dari yokai Akira, untuk menyerang kota Tokyo. Tiba di depan pintu rumah Inaba, Zeniko mengetuk pintu dan menunggu. Setelah beberapa saat, pintu terbuka dan Inaba muncul di depannya.


"Inaba, aku butuh bantuanmu," kata Zeniko sambil menatap tajam ke arah Inaba.


"Zen, aku sudah berhenti melakukan hal-hal semacam itu," jawab Inaba dengan tegas.


"Tapi kali ini berbeda, kita bisa mendapatkan banyak kekuatan dan makanan jika menyerang kota Tokyo," ujar Zeniko.


"Tidak, aku sudah bilang tidak!" tegas Inaba.


Mendengar jawaban itu, Zeniko mulai merasa tidak sabar. Dia memperlihatkan wajah marahnya dan mengancam Inaba, "Kamu tidak akan bisa lepas dari ini, Inaba. Kamu akan menyesal jika menolak tawaranku."


Namun, Inaba tidak terpengaruh dengan ancaman Zeniko. Dia kembali menegaskan, "Aku tidak akan bergabung denganmu dan melakukan kejahatan. Sekarang pergilah dari sini!"


Zeniko yang merasa tidak bisa memaksa Inaba, akhirnya pergi dengan perasaan tidak puas. Inaba merasa lega karena dia bisa menolak ajakan kejahatan yang ditawarkan oleh Zeniko dan anak buahnya. Dia kemudian kembali ke rumahnya dan kembali ke rutinitasnya sebagai yokai yang menjaga hutan dan tidak mencampuri urusan manusia.


Akan tetapi pada malam itu, setelah Inaba kembali ke rumahnya, tiba-tiba pintu rumah Inaba terbuka dan Zeniko muncul di hadapannya. Inaba merasa was-was dan bertanya, "Ada apa lagi, Zeniko?"


Dengan tangan kanannya, Zeniko memperlihatkan gambar sosok seorang anak perempuan dengan sihirnya. Anak itu adalah Aiko, anak angkat Inaba yang masih muda dan sangat dicintainya.


"Inaba, gadis ini anak angkatmu kan?" tanya Zeniko dengan nada serius.


"Ini apa yang kamu lakukan, Zeniko?" tanya Inaba dengan suara gemetar.

__ADS_1


"Mengejutkan sekali, aku baru tahu kamu mempunyai anak angkat" ucap Zeniko "Ini adalah cara untuk membuatmu bergabung denganku. Jika kamu tidak bergabung denganku, aku akan menyakiti dia," ujar Zeniko dengan tegas.


Inaba merasa sangat kesal dan marah. Dia merasa Zeniko sudah melampaui batas dengan mengancam orang yang paling dia sayangi. "Kamu tidak bisa melakukan itu, Zeniko! Aku tidak akan pernah bergabung denganmu dan melakukan kejahatan. Jangan ganggu Aika, jangan libatkan dia dalam urusan ini!" bentak Inaba.


Namun, Zeniko tidak tergoyahkan dan tetap mengancam Inaba. "Kamu harus berpikir dua kali, Inaba. Aku akan menyakiti Aika jika kamu tidak mau bergabung denganku."


Inaba merasa dilematis. Dia merasa tidak tega jika harus meninggalkan Aika dalam bahaya, namun pada saat yang sama dia juga tidak ingin melakukan kejahatan. Setelah berpikir sejenak, Inaba akhirnya mengambil keputusan. "Baiklah. Aku akan bergabung denganmu," kata Inaba dengan suara rendah.


Mendengar keputusan Inaba, Zeniko langsung menghilangkan sihirnya yang menunjukan gambar Aika dan mulai melupakan Aika. Namun, Inaba tahu dia harus membayar harga atas keputusannya tersebut. Dia harus melakukan kejahatan bersama dengan Zeniko sebagai anak buah yokai yang bernama Akira. Inaba hanya bisa berharap bahwa dia akan menemukan cara untuk membebaskan dirinya dari jeratan Zeniko dan kembali ke kehidupannya yang damai di hutan.


Di kamar pribadinya saat ini Inaba merasa terjebak dalam situasi yang sulit. Dia tahu bahwa bekerja sama dengan Zeniko akan berarti melawan manusia yang selama ini hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk supernatural seperti dirinya. Namun, jika dia menolak, Aika akan menjadi korban.


"Dalam situasi seperti ini, apa yang seharusnya aku lakukan?" pikir Inaba dalam hatinya. "Aku tidak bisa mengabaikan ancaman Zeniko, tapi aku juga tidak bisa mengkhianati manusia yang selama ini kami lindungi bersama-sama." Inaba tahu bahwa dia harus memilih antara dua pilihan yang sulit, dan dia memilih untuk bekerja sama dengan Zeniko. Namun, dia tidak mau memberitahu Aika tentang keputusannya. Dia takut bahwa Aika akan kecewa dan terluka jika mengetahui bahwa ayah angkatnya terlibat dalam tindakan kejahatan.


Inaba merasa sangat berat hati. Dia tahu bahwa keputusannya akan berdampak besar pada kehidupan manusia dan makhluk supernatural di desa mereka. Namun, dia juga tahu bahwa dia harus berjuang untuk melindungi Aika dan memastikan bahwa dia selamat dari ancaman Zeniko.


"Aku berharap suatu hari nanti, aku bisa menemukan cara untuk memperbaiki kesalahan ini," pikir Inaba. "Aku harus berjuang untuk melindungi Aika, tapi aku juga harus berjuang untuk membuat keputusan yang benar dan melindungi kehidupan yang damai untuk manusia yang tidak bersalah dan makhluk supernatural di desa kami."


Setelah itu Aika mendaratkan dirinya di rumahnya, Aika berteriak dan menangis meraung-raung "Huaaaaa... Haaa..... Haaa..... "


Inaba keluar dari kamarnya dan melihat apa yang terjadi dengan anaknya "Ada apa, Aika? Kenapa kamu menangis?" Inaba memeluk anak gadisnya dengan perasaan khawatir


"Ayah aku sudah mencoba semampuku untuk menaklukan hati Keyaru, tapi aku gagal. Dia tidak merespon perasaanku. Dia bilang dia menyukai orang lain, aku yakin sekali bahwa orang yang dia suka adalah Rin Rihito" jelas Aika dalam tangisnya

__ADS_1


"Aku tahu perasaanmu, Aika. Tapi kamu harus memahami, Keyaru memang yokai tapi setengah dari dirinya adalah manusia. Dia punya kebebasan untuk menyukai manusia atau yokai. Selain itu kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita, apalagi jika dia manusia."


Aika melepas pelukannya dan menghapus air matanya "Tapi aku mencintainya, Ayah. Aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini."


Inaba memegang pundak Aika dan mencoba menyenangkan Aika dengan mengatakan "Aku mengerti, Aika. Tapi kamu harus berusaha untuk menerima kenyataan ini. Mungkin suatu hari nanti, kamu akan bertemu dengan seseorang yang memahamimu dan menerima kamu apa adanya."


"Tapi bagaimana jika aku tidak bertemu dengan seseorang seperti itu, Ayah? Aku tidak ingin hidup sendirian" kata Aika dengan suaranya yang serak setelah menangis, dari matanya juga masih terlihat sendu dan penuh kesedihan.


"Kamu tidak akan pernah sendirian, Aika. Kamu selalu memiliki keluarga dan teman-teman yang peduli dan mencintaimu. Kamu juga selalu bisa mengandalkan aku sebagai Ayahmu ini" Inaba kembali memeluk Aika dengan penuh kasih sayang


"Terima kasih, Ayah. Aku merasa lebih baik setelah berbicara dengan Ayah." Aika mulai tenang


"Jangan menangis lagi, ya? Kamu harus kuat dan tetap tersenyum meskipun ada cobaan yang sulit di hadapanmu." ucap Inaba


"Iya, Ayah" Aika


Pada malam yang sama di kantor pribadinya, Nakamura duduk di meja kerjanya dan menatap berkas-berkas di depannya. Dia terlihat penuh perhatian dan serius. "Orang ini, dia pasti terlibat dalam banyak hal yang tidak wajar," pikir Nakamura dalam hatinya.


"Aku harus menemukan bukti yang cukup untuk menangkapnya dan membawanya ke pengadilan." Dia merasa bertanggung jawab untuk melindungi warga Tokyo dari makhluk-makhluk supernatural yang berbahaya.


Sebagai seorang detektif supranatural, Nakamura telah menghadapi banyak kasus yang melibatkan yokai dan makhluk-makhluk gaib lainnya. Namun, kasus ini berbeda. Ini berkaitan dengan pemimpin yokai yang memiliki pengaruh besar di kota Tokyo. Nakamura tahu bahwa jika dia tidak berhasil menangkapnya, maka akan terjadi bahaya yang lebih besar bagi warga kota.


"Ah aku harus segera melakukan sesuatu. Di samping itu aku masih butuh bukti dan saksi yang cukup untuk menangkapnya," Nakamura menatap layar komputernya dengan serius. Di depannya terdapat beberapa menatap layar komputernya dengan serius. Dia mengambil satu berkas dan mulai membacanya dengan teliti.

__ADS_1


----- BERSAMBUNG ---------


__ADS_2