SEKOLAH DI KOTA MATI

SEKOLAH DI KOTA MATI
SEKOLAH DI KOTA MATI 22


__ADS_3

Dengan bergabungnya Hakata, seorang yokai dari ras akuryo dan kekuatannya, serta kerjasama antara yokai dan manusia mereka membentuk aliansi yang kuat untuk melawan Makai no Ishi-dan dan Yokai Council. Mereka berkomitmen untuk saling mendukung dan melindungi satu sama lain, serta melindungi kedamaian Tokyo. Meskipun tantangan yang dihadapi masih besar, mereka memiliki keyakinan bahwa dengan kekuatan yang digabungkan, mereka dapat mengatasi setiap rintangan dan menghadapi musuh-musuh mereka. Bersama-sama, mereka siap untuk melangkah maju dan menghadapi masa depan yang penuh dengan bahaya dan petualangan.


Hari ini di markas organisasi YHA tepatnya di sebuah ruangan khusus yang cukup luas, Hakata di temani oleh Amata berniat untuk melakukan ritual pemanggilan tengu namun masih terikat dan satu ras yang sama dengan Amata. Sementara itu di luar markas organisasi Rin, Keyaru, Hiroki, Naomi, dan Aika sedang berjaga-jaga untuk menghindari serangan kusus pasukan aliansi yokai dari organisasi Yokai Council dan Makai no Ishi-dan yang di khawatirkan bisa mengganggu proses pemanggilan yokai tengu keluarga Amata.


Di dalam ruangan tempat Hakata dan Amata berada, energi mulai berkumpul dan berputar di sekeliling Hakata dan Amata. Cahaya yang terang menerangi ruangan, menciptakan suasana magis. Mereka merasakan kehadiran spiritual yang semakin dekat. Sementara itu, di luar markas, Rin dan yang lainnya merasakan getaran aneh. Mereka tahu bahwa ritual pemanggilan sudah dimulai. Mereka memperkuat kewaspadaan mereka dan siap untuk bertindak jika ada serangan.


Saat energi mencapai puncaknya, Hakata dan Amata tiba-tiba merasakan kehadiran tengu yang lain di sekitar mereka. Dalam kilatan cahaya yang mempesona, satu per satu tengu mendarat di luar markas organisasi YHA. Mereka memiliki penampilan yang menakjubkan, dengan sayap-sayap yang kokoh, tubuh yang elegan, dan mata yang memancarkan kebijaksanaan kuno. Rin, Keyaru, Hiroki, Naomi, dan Aika melihat kedatangan para tengu dengan takjub. Mereka menyadari bahwa ritual pemanggilan yang dilakukan oleh Hakata berhasil membawa lebih dari satu tengu. Ini adalah kejutan yang menyenangkan dan membuktikan bahwa aliansi yokai dan manusia telah memperoleh dukungan yang sangat kuat.


Para tengu mengamati sekeliling dengan ekspresi serius. Mereka bisa merasakan kekuatan dan niat yang ada dalam aliansi ini. Setelah beberapa saat, salah satu tengu yang lebih tua dan bijaksana melangkah maju. Suaranya menggetarkan ruangan dengan kelembutan dan kekuatan yang sama.


"Kami datang sebagai wakil dari tengu, mahluk yang hidup di dunia spiritual. Kami telah mendengar permohonan kalian untuk bantuan, dan kami memutuskan untuk bergabung dengan aliansi antara yokai dan manusia" ucap tengu dengan suara yang menggetarkan kepada Amata dan Hakata


Tengu yang lain datang menghampiri tengu yang lebih tua dan bijaksana yang menemui Amata dan juga Hakata. Dia berkata kepada tengu yang lebih tua "Onii-chan, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Ini sungguh mengejutkan, tiba-tiba saja aku sudah berada di tempat seperti ini"


Lalu datang lagi dua tengu yang lainnya laki-laki dan perempuan.


"Karin - chan, apa yang kamu lakukan? Sagara Nii-san meminta kita semua menunggu di luar"


"Nii-san, aku akan membawanya keluar"


"Tidak mau! Aku mau tetap disini bersama Sagara Onii-chan" kata Karin, gadis tengu berusia 15 tahun yang memegang erat tangan kakaknya


"Eh tidak apa-apa Yuto, Yua biarkan saja dia disini" kata Sagara kepada anak-anak yang berniat menjemput Karin.


Lalu tengu yang lain pun menyusul ke ruangan itu untuk mengetahui apa yang baru saja terjadi. Hakata dan Amata mengucapkan terima kasih dengan penuh rasa hormat kepada para tengu yang telah datang. Mereka merasa terhormat dan bersyukur atas dukungan yang diberikan. Para tengu kemudian duduk bersama dalam rapat darurat. Mereka mulai membahas strategi dan taktik untuk menghadapi Makai no Ishi-dan dan Yokai Council. Setiap tengu memberikan kontribusi berdasarkan kebijaksanaan dan kekuatan mereka sendiri. Rin dan anggota YHA yang lain juga masuk ke ruangan untuk bergabung dengan rapat tersebut.


Akan tetapi saat itu Rin tidak bisa fokus dan merasa gelisah karena terus memikirkan keberadaan Ayahnya, Detektif Nakamura, dalam rapat tersebut. Dia bertanya-tanya apakah Ayahnya memiliki urusan atau tugas penting yang menghalangi kehadirannya di markas organisasi YHA. Setelah mendengarkan diskusi yang sedang berlangsung, Rin memutuskan untuk mengutarakan kekhawatirannya kepada Amata, yang juga berada di rapat tersebut. Dia mendekati Amata dengan bergeser dari tempat duduknya dengan hati-hati.


"Amata-san, maaf mengganggu. Aku memiliki kekhawatiran tentang Ayahku, Detektif Nakamura. Aku bertanya-tanya di mana dia berada saat ini. Apakah mungkin dia sedang menghadapi urusan atau tugas penting lain yang mencegahnya hadir di sini?" tanya Rin dengan cemas.

__ADS_1


Amata, yang juga merasakan kegelisahan Rin, memahami perasaannya. Dia mengangguk dengan simpati sebelum memberikan jawaban. "Rin, aku bisa memahami kekhawatiranmu. Detektif Nakamura adalah seorang yang bertanggung jawab dan berdedikasi. Mungkin dia sedang dihadapkan pada tugas penting atau urusan yang tidak bisa ditunda. Tetapi jangan khawatir, Aku yakin Ayahmu akan baik-baik saja dan Ayahmu selalu memberikan dukungannya sejauh yang dia bisa," ujar Amata dengan lembut.


Rin menghela nafas lega mendengar kata-kata Amata. Meskipun masih ada kekhawatiran, dia merasa sedikit tenang dengan pemahaman dan dukungan yang diberikan Amata.


"Iya terimakasih, Amata-san. Aku berharap begitu. Ayah selalu berusaha yang terbaik untuk melindungi dan memerangi kejahatan. Aku hanya berharap dia aman dan selalu baik-baik saja," ucap Rin dengan penuh harap.


Amata tersenyum lembut dan memberikan dukungan kepada Rin. Mereka berdua kembali ke rapat, bergabung dengan anggota aliansi lainnya yang tengah mempersiapkan strategi mereka. Rapat berlanjut dengan serius dan penuh semangat. Setiap anggota aliansi memberikan kontribusi dan membagikan pengetahuan mereka. Mereka membahas rencana pertempuran yang akan datang, menganalisis kelemahan musuh, dan mencari cara untuk memanfaatkannya.


Rin tetap fokus dan berusaha memberikan kontribusinya meskipun kekhawatiran tentang Ayahnya masih ada di benaknya. Dia bertekad untuk melindungi Tokyo dan membantu aliansi dalam melawan kejahatan, seperti yang telah dilakukan Ayahnya selama ini. Tiba-tiba, Aika yang juga berada di dalam ruangan mulai merasakan energi yang tidak menyenangkan dari Keyaru setelah melihat kedekatan antara Rin dan Amata. Meskipun Aika menyukai Keyaru, dia merasa cemburu dan tidak senang melihat Rin dan Amata bersama-sama. Keyaru mungkin menunjukkan tanda-tanda ketertarikan pada Rin, dan hal itu membuat Aika merasa tidak nyaman.


Dalam hati, Aika mencoba mengendalikan perasaannya dan mengingatkan dirinya sendiri bahwa saat ini yang terpenting adalah persatuan aliansi dan melawan kejahatan bersama-sama. Namun, perasaan cemburu dan ketidaknyamanan tetap ada di dalam dirinya, dan dia harus mencari cara untuk mengatasi dan mengelolanya agar tidak mempengaruhi kerja tim dan tujuan mereka yang lebih besar.


Setelah rapat selesai, anggota aliansi yokai dan manusia bersantai sejenak di ruangan. Mereka saling bercanda dan berbagi cerita lucu untuk menghilangkan ketegangan. Rin duduk di sebelah Amata, masih merasa cemas tentang Ayahnya, tetapi dia berusaha untuk tetap ceria.


"Ayolah, Rin, jangan terlalu khawatir tentang Ayahmu," goda Keyaru dengan senyum nakal. "Mungkin dia hanya sedang bermain kucing-kucingan dengan makhluk supernatural lainnya. Siapa tahu, dia bisa saja bertemu dengan vampir yang galak atau bertarung melawan werewolf yang tangguh!"


Semua orang tertawa mendengar lelucon Keyaru. Rin melemparkan pandangan tajam padanya, tapi dia tidak bisa menahan tawanya.


Sementara itu, Hiroki, yang duduk di sebelah Aika, mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dari perasaan cemburu Aika terhadap Rin dan Amata. "Aika-chan, ada apa? Kamu terlihat agak tegang tadi," ujar Hiroki dengan senyum lebar.


Aika menyadari bahwa perasaannya terlihat jelas oleh Hiroki dan saat ini dia mencoba tersenyum. "Ah, tidak apa-apa, Hiroki-san. Aku baik-baik saja kok. Aku hanya perlu sedikit waktu untuk mengatasi hal ini, ya masalahku sendiri."


Hiroki mengangguk dengan penuh pengertian. "Kamu tahu, Aika-chan, cemburu itu wajar. Tapi ingatlah, kita semua ada di sini untuk melindungi satu sama lain. Fokus pada tujuan kita bersama dan berusaha untuk tidak terpengaruh oleh perasaan negatif. Jika kamu butuh seseorang untuk diajak berbicara, Aku selalu siap mendengarkan."


Aika tersenyum tulus kepada Hiroki. "Terima kasih, Hiroki-san. Aku sangat menghargainya. Kamu benar, kita harus fokus pada tujuan kita dan tidak membiarkan hal-hal kecil mengganggu kerja tim kita."


Sementara itu, Naomi, yang duduk di sebelah Keyaru, tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut berinteraksi dengan kelucuan di sekitarnya.


"Kalian semua terlalu serius! Mari kita bermain sedikit," ujar Naomi dengan riang. "Bagaimana kalau kita main permainan tebak-tebakan? Siapa yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar, dia akan mendapatkan pujian dari semua orang!"

__ADS_1


Semua langsung setuju, dan permainan tebak-tebakan pun dimulai. Pertanyaan-pertanyaan lucu dan cerdas dilemparkan satu per satu, dan suasana ruangan dipenuhi dengan canda dan tawa. Tebakan-tebakan terus berlanjut, menghadirkan tawa dan keceriaan di ruangan. Naomi menjadi pengemudi permainan, memimpin dengan antusiasme.


"Baik, pertanyaan berikutnya! Apa yang bisa kamu pegang, tetapi tidak bisa kamu sentuh?" kata Naomi


Rin langsung mengangkat tangan dengan semangat. "Aku tahu! Udara! Kita bisa merasakannya, tapi tidak bisa memegangnya!"


Amata tersenyum melihat semangat Rin. "Benar sekali, Rin! Pintar sekali!"


Tawa riang menggema di ruangan, semua orang menyambut kecerdasan Rin.


"Sekarang giliranmu, Rin-san! Kamu bisa bertanya pertanyaan berikutnya." kata Hiroki


Rin berpikir sejenak sebelum bertanya. "Baiklah, pertanyaan saya adalah: Apa yang selalu datang tetapi tidak pernah tiba?"


Keyaru berpikir sejenak, lalu dengan percaya diri menjawab. "Hm, mungkin jawabannya adalah waktu? Waktu terus berlalu tanpa henti, tetapi tidak pernah tiba."


Rin mengangguk dan tersenyum. "Benar sekali, Keyaru! Kau hebat!"


Mereka semua melanjutkan permainan tebak-tebakan dengan semangat yang tinggi. Percakapan ringan dan tawa terus mengalir, membantu mereka melupakan sejenak beban dan ketegangan yang ada. Namun, saat permainan memasuki putaran terakhir, Aika merasa canggung dan ragu-ragu untuk ikut berpartisipasi. Dia tahu bahwa dirinya masih terpengaruh oleh perasaan cemburu, dan tidak ingin mengganggu keceriaan yang sedang tercipta.


Rin memperhatikan ekspresi Aika dan dengan lembut menyentuh lengannya. "Aika-chan, ayo ikut bermain. Ini hanya permainan, mari kita bersenang-senang bersama."


Aika tersenyum pada Rin dan mengangguk. "Baiklah, aku akan mencoba." ucapnya Aika


Naomi, yang melihat situasi itu, dengan cepat menyusun pertanyaan untuk Aika. "Baik, Aika-chan, ini pertanyaan khusus untukmu! Siapa yang lebih baik, vampir atau serigala?"


Aika sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi dia tersenyum dan menjawab dengan penuh keceriaan. "Tentu saja, keduanya memiliki keunikan dan kekuatan mereka sendiri. Tidak ada yang lebih baik, karena kedua makhluk tersebut adalah bagian penting dari dunia supernatural!"


Semua orang memberikan tepuk tangan dan sorakan kepada Aika. Mereka senang melihat Aika ikut bermain dan bersenang-senang.

__ADS_1


"Hebat, Aika-chan! Jawabanmu sangat bijaksana dan diplomatis!" kata Naomi


-------- BERSAMBUNG ----------


__ADS_2