SEKOLAH DI KOTA MATI

SEKOLAH DI KOTA MATI
SEKOLAH DI KOTA MATI 18


__ADS_3

Keesokan harinya pada akhir pekan, Rin pergi liburan ke Shibuya sendirian. Saat dia berjalan menuju ke stasiun kereta, dia melawati tempat ketika Zeniko di segel oleh Nakamura. Rin menatap ke arah segel tersebut dengan pandangan terkejut. Ia merasa khawatir dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Sekarang ia mulai khawatir jika Zeniko telah terbebas dari segel, maka bahaya yang lebih besar dari sebelum bisa saja terjadi.


Tanpa pikir panjang, Rin segera mengambil langkah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia menuju ke arah area di mana Zeniko tersegel dan memperhatikan dengan seksama. Rin melihat beberapa jejak dan tanda-tanda kehadiran makhluk supranatural. Ia merasa semakin khawatir dan terus berusaha untuk mencari tahu lebih banyak tentang apa yang terjadi.


Rin kemudian menghubungi Ayahnya, Nakamura, dan memberitahu apa yang ia temukan. Nakamura memberitahu Rin untuk tetap berada di tempat yang aman dan menunggu kedatangan Ayahnya. Tak lama kemudian, Nakamura dan Rina datang ke tempat tersebut dan mulai menyelidiki lebih lanjut. Setelah menyelidiki dengan seksama, Nakamura menemukan tanda-tanda yang cukup kuat bahwa ada makhluk supranatural yang telah melarikan diri setelah berhasil melepaskan Zeniko dari segelnya. Nakamura merasa khawatir dan memutuskan untuk memburu makhluk tersebut dan menempatkannya kembali dalam segel.


"Rin, pergilah. Ini tugas Ayah sebagai detektif jadi Ayah akan mengurus masalah ini" kata Nakamura dengan bijak kepada anaknya


"Tapi, aku juga ingin membantu" Rin, sedikit kecewa dengan permintaan Ayahnya


"Kau sudah banyak membantu Ayah Rin. Lagi pula Ayah tidak sendirian kok. Jangan khawatir, Ayah bersama team dari devisi keamanan masyarakat yang akan datang sebentar lagi" jelas Nakamura


"Baiklah kalau begitu Ayah, Rin akan pergi" Rin menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Ayahnya seorang diri. Terus melangkah menyusuri jalan menuju ke stasiun Shibuya, akan tetapi dia merasa kesal karena mood untuk bersenang-senang menikmati waktu liburnya hilang setelah mengetahui bahwa yokai lain membebaskan Zeniko dari segel Ayahnya.


"Rin,"


Rin melihat ke sekelilingnya untuk melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Tetapi ternyata tidak ada siapapun di sekitarnya. Dalam hatinya Rin berkata bahwa yang baru saja memanggilnya ada kemungkinan dia adalah yokai.


"Rin aku di sini"


Pandangan Rin tertuju kepada atap rumah orang lain, dan dia mendapati Atama yang berdiri disana melihat ke arahnya. Yokai sejenis tengu itu turun di hadapannya dan memegang tangannya dengan halus lalu berkata "Aku sudah menangkap Zeniko yang kabur bersama temannya tadi"


Rin, terlihat tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Amata. Kemudian Rin melepaskan tangannya Amata dengan berkata "Lalu apa yang kau lakukan padanya?"


"Aku langsung membunuhnya dalam satu kali serangan" jawab Amata santai


"Kalian itu sama, aku tidak menyangka kau tega melakukannya" Rin masih tidak percaya setiap perkataan yang keluar dari mulut Amata karena sampai saat ini Rin masih menganggap bahwa Amata adalah makhluk asing yang bisa saja berhianat.


"Aku tidak ada bedanya dengan Aika, Inaba, dan Keyaru" ucap Amata


Rin, tercengang setelah mendengarnya. Rin mulai berpikir, jika dia tidak ada bedanya dengan ke tiga orang yang di sebutkan maka itu artinya Amata ada di pihaknya.


"Rin, apa kau baik-baik saja?" tanya Amata


"Ah iya, ada yang ingin aku tanyakan padamu" Rin terus melangkahkan kakinya menuju ke stasiun


"Apa itu?" Amata


"Bagaimana kamu bisa mengenal Ayahku?" tanya Rin


Amata terdiam di tempatnya "Eh? Jadi Rin mulai tertarik untuk mengenal diriku lebih dekat ya?"


"Lupakan saja pertanyaanku!" ketus Rin yang mempercepat langkah kakinya untuk meninggalkan Amata akan tetapi Amata terus saja mengikuti dirinya "Jangan mengikutiku!" ucap Rin kepadanya yang semakin kesal

__ADS_1


Amata tidak merespon, dia terus mengikuti Rin sampai ke stasiun kereta. Karena saat itu Amata melakukan penyamaran sebagai manusia, dan dia tidak di serang oleh Team dari Devisi Keamanan bidang supranatural.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Rin kepada Amata dengan rasa penasaran


"Aku hanya ingin kamu menghabiskan waktu luangmu bersamaku. Hanya itu saja" jawab Amata


Rin menghela nafas panjang dan mencoba untuk sabar, dia masih bingung dan tidak bisa memahami pikiran serta perasaan yokai yang saat ini sedang bersamanya "Sejak awal aku ingin menghabiskan waktu luangku untuk menenangkan diri, jadi aku tidak mengajak siapa pun dan "


"Dan rencanamu gagal karena aku selalu mengikutimu. Iya kan?" Amata memotong ucapan Rin yang belum selesai "Jangan pedulikan keberadaanku, nikmati saja harimu seperti biasanya. Aku tidak akan mengganggumu Rin" lanjutnya


"Woah Rin?!"


Rin, melihat ke arah lain ternyata itu adalah Keyaru yang dari kejauhan berjalan menghampirinya. Keyaru terlihat tidak suka setelah melihat Amata berada di dekat Rin.


"Keyaru, kau mau kemana?" tanya Rin yang terlihat ingin tahu


Keyaru menjelaskan "Aku akan pergi ke Shibuya untuk mengunjungi Ayahku. Tadi malam kami sempat berbicara lewat panggilan telepon, Ayahku bilang dia sangat ingin bertemu denganku"


"Begitu ya, aku juga mau ke Shibuya untuk liburan" ucap Rin


Keyaru menganggukan kepalanya seperti sudah memahami sesuatu "Kencan ya?"


Rin melihat kepada Amata lalu melihat ke arah Keyaru lagi dan berkata kepadanya "Bukan, ini bukan kencan. Jangan salah paham Key, jangan pedulikan keberadaannya" Rin mencoba untuk meyakinkan Keyaru


"Keyaruuuuu!" Aika berlari dari kejauhan mengejar Keyaru bersama Rin dan Amata "Aku mau ikut!" kata Aika dengan tegas


"Bilang saja kau mau kabur dari tugas yang di berikan oleh Naomi padamu" kata Keyaru


"Iya, itu salah satu faktor mengapa aku ingin ikut denganmu" kata Aika, dia melihat kepada Rin dan Amata lalu berkata kepadanya "Rin, dan Amata - sama akan ikut juga kan?"


Rin terdiam sejenak memikirkan apa yang harus dia katakan kepada Aika.


"Ah, keretanya sudah datang! Ayo Keyaru, Rin, Amata - sama" Aika terlihat tidak sabar untuk menaiki kereta yang akan membawa mereka pergi ke Shibuya


Pada akhirnya rencana Rin untuk liburan sendiri gagal. Awalnya Rin sedikit kesal, namun secara perlahan Rin mulai bisa menerimanya. Tanpa sepengetahuan Rin, diam-diam Aika menyembunyikan sesuatu darinya. Sebelumnya Aika tidak sengaja mendengar percakapan Keyaru dan Amata tadi malam di kuil.


Tadi malam, Keyaru dan Amata berdiri di depan kuil yang sepi. Suasana terasa canggung di antara keduanya, hingga akhirnya Amata memulai percakapan.


"Keyaru - kun, lama tidak berjumpa" sapa Amata dengan ramah


Namun, Keyaru malah meluncurkan tendangannya ke arah Amata. Tapi sayangnya tendangan itu bisa di hindari oleh Amata dengan begitu mudah. Keyaru tidak berhenti sampai di situ saja, dia melanjutkan serangannya dengan pukulan hebatnya yang lagi-lagi gagal karea berhasil di tangkis oleh Amata dengan tangannya yang tidak kalah kuatnya dengan Keyaru.


"Begitukah caramu membalas sapaan dan menghormati orang yang lebih tua darimu Keyaru - kun?" tanya Amata yang masih bersikap baik walau sudah di perlakukan buruk oleh Keyaru

__ADS_1


"Katakan apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Keyaru


Amata menghela nafas panjang "Aku malas jika di suruh untuk menjelaskan"


"Kalau begitu kau cukup mengatakannya sekali saja" kata Keyaru sedikit lebih tegas


Keyaru menjawab "Keadilan"


"Keadilan? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Keyaru dia diam sejenak memahami apa maksud dari "keadilan" sebagai tujuan yokai Amata, akan tetapi semakin dia mencoba untuk memahami Keyaru semakin tidak paham "Apa tujuanmu hanya itu saja?" tanya Keyaru lagi yang mulai di penuhi rasa penasaran


"Tidak, tujuanku yang lain adalah untuk mematahkan kutukan yang ada pada diriku. Kutukan itu mempengaruhi semua keturunanku" kata Amata


"Apa?!" Keyaru semakin tidak mengerti dengan tujuan Amata.


Dulu Amata adalah seorang manusia, dia hidup di zaman Heian sekitar tahun 794. Amata memiliki orang tua yang masih lengkap yang sangat menyayanginya. Amata terkenal di kalangan gadis di desanya karena ketampanannya dan kemampuan bertarungnya yang hebat. Pada suatu hari Amata dan kedua orang tua melakukan perjalanan untuk mengunjungi Kakek dan Nenek Amata yang rumahnya berada di puncak Gunung Fuji.


Di Era Heian, masih jauh dari kata moderen jadi mereka pergi ke sana dengan menaiki kuda. Tapi tiba-tiba dalam perjalanan ke Puncak, di tengah hutan mereka melihat kuil misterius yang memiliki kekuatan magis.


"Aku baru tahu ada kuil sebesar itu di tengah hutan" kata Ayah Amata yang turun dari kudanya


Mereka terus memperhatikan kuil tersebut, dan mereka terkejut ketika tengu yang terbang ke arah mereka dan langsung menyerangnya. Amata sekeluarga yang mempunyai kemampuan berperang sangat baik pun tidak cuma diam saja, mereka terus melawan tengu tersebut. Akan tetapi mereka kalah melawan kekuatan supranatural yang di miliki oleh tengu itu.


Setelah kalah, tengu itu membawanya masuk ke dalam kuil. Di sana Amata dan keluarganya di adili oleh Biksu setengah yokai. Amata dan keluarganya di fitnah oleh tengu yang menyerang mereka sebelumnya. Tengu itu mengatakan bahwa Amata dan keluarganya sudah memasuki kuil tanpa ijin dan merusak artefak suci.


Amata dan keluarganya mencoba untuk meyakinkan Biksu tersebut tapi sayangnya sang Biksu tidak percaya pada mereka. Setelah itu Amata dan keluarganya di kutuk menjadi seorang yokai sebagai hukumannya. Setelah berubah menjadi yokai Ayah dan Ibu kehilangan kesadaran mereka dan menghilang entah kemana.


"Jadi jika kutukanmu hilang, maka aku akan menjadi manusia kan? Aku memiliki tanda yang sama seperti di lenganmu itu. Tidak salah lagi kalau Ibuku dan aku ini keturunan dari Ibu/Ayahmu" Keyaru tidak menyangka bahwa Amata memiliki masa lalu yang seperti itu.


"Begitulah. Mungkin sulit bagimu untuk memahaminya, Keyaru - kun. Tapi aku ingin mematahkan kutukan ini agar tidak ada lagi keturunan kami yang harus mengalaminya," lanjut Amata.


Keyaru terdiam sejenak. Dia tahu bahwa kutukan itu benar-benar mempengaruhi hidup Amata dan keturunannya. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dimengerti oleh Keyaru. "Tapi, bagaimana Rin masuk dalam konflik ini?" tanyanya.


"Rin... Kau sangat dekat dengannya" Amata sedikit cemburu mengatakannya "Aku.... Cemburu"


Keyaru pun menjawab "Aku memang dekat dengan Rin, tapi aku tidak bermaksud untuk membuatmu cemburu."


"Tapi aku sudah merasa cemburu, Keyaru. Aku juga sangat menyukai Rin." Amata menjadi sedikit kesal ketika harus membicarakan Rin dengan Keyaru


"Aku mengerti perasaanmu, Amata. Aku juga tidak suka melihatmu dekat dengan Rin" kata Keyaru yang ikut kesal setelah mengetahui bahwa dia memiliki saingan berat untuk menaklukau hatinya Rin. "Jadi, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus membiarkan perasaan kita sendiri-sendiri?"


"Tidak, aku pikir kita harus membicarakannya. Mungkin kita bisa mencari cara agar kita bisa saling mendukung dan menghargai perasaan satu sama lain. Kita harus saling menghargai perasaan kita dan tidak saling memaksakan diri pada Rin." jelas Amata


------ BERSAMBUNG -------

__ADS_1


__ADS_2