SEKOLAH DI KOTA MATI

SEKOLAH DI KOTA MATI
SEKOLAH DI KOTA MATI 26


__ADS_3

Rin berbaring di kamarnya, memikirkan segala penjelasan tentang cinta yang telah dia dengar hari itu. Dia merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Segala hal yang dia alami bersama Amata, dan Keyaru, membuatnya merasa kacau dalam hal cinta. Dia merenung sejenak, berusaha memahami apa yang ada di dalam hatinya. Dia merasa nyaman dengan kehadiran Amata, senang bisa bersama dengannya, tetapi dia tidak yakin apakah perasaan itu bisa dikategorikan sebagai cinta. Dia juga merasa hubungannya dengan Keyaru berbeda, tetapi dia tidak tahu apakah itu hanya perasaan persahabatan atau lebih dari itu.


Rin menatap langit-langit kamarnya, berusaha mencari jawaban di dalam hatinya. Dia menyadari bahwa cinta adalah sesuatu yang kompleks dan sulit dipahami. Dia tahu bahwa perasaannya perlu waktu untuk berkembang dan tumbuh, dan dia tidak boleh terburu-buru dalam membuat keputusan. Rin memutuskan untuk memberikan waktu pada dirinya sendiri, untuk menjelajahi perasaannya dengan jujur dan hati-hati. Dia tahu bahwa dengan bersikap terbuka dan jujur terhadap dirinya sendiri, dia akan menemukan kejelasan mengenai perasaannya.


Dalam kegelapan kamar yang tenang, Rin menghembuskan nafas panjang. Dia memutuskan untuk menikmati setiap momen bersama teman-temannya dan memberi dirinya kesempatan untuk belajar tentang cinta dan mengerti perasaannya sendiri. Dia tahu bahwa dengan begitu, dia akan menemukan kebahagiaan sejati dan menjaga persahabatan mereka yang berharga. Dengan pikiran yang tenang, Rin merasa sedikit lega. Dia merasa yakin bahwa dengan waktu, segala sesuatu akan menjadi lebih jelas baginya. Dan untuk saat ini, dia akan menikmati setiap petualangan dan tawa bersama teman-temannya dengan penuh kebahagiaan dan ketenangan di dalam hatinya.


Di sisi lain, Aika, salah satu teman mereka yang diam-diam menyimpan perasaan terhadap Keyaru, merasakan kekecewaan di dalam hatinya. Dia menyaksikan Rin, Amata, dan Keyaru mengalami berbagai petualangan dan mengikat persahabatan yang semakin erat. Meskipun dia senang melihat mereka bahagia, hatinya merasa terluka karena perasaannya yang tak terbalas. Aika mencoba menyembunyikan perasaannya dan tetap bersikap baik terhadap mereka. Dia tidak ingin merusak persahabatan yang telah mereka bangun. Namun, di dalam hatinya, rasa cemburu dan kesedihan terus menghantuinya.


Dalam diam, Aika berjuang dengan perasaannya sendiri. Dia bertanya-tanya apakah ada kesempatan bagi perasaannya terwujud, atau apakah dia harus membiarkan perasaan itu pergi dan fokus pada persahabatan mereka. Dia tidak ingin menyakiti siapa pun, termasuk Rin yang dia anggap sebagai teman dekatnya. Dalam kegelapan kamarnya, Aika merenungkan perasaannya yang rumit. Dia berharap untuk menemukan kekuatan dan keberanian untuk menghadapi perasaannya dan berkomunikasi dengan teman-temannya setiap harinya. Hingga saat itu tiba, Aika akan terus menjadi pendukung setia mereka dan mencoba menemukan kebahagiaan di dalam persahabatan mereka.


Keesokan harinya saat Rin mau berangkat sekolah dia melihat siaran berita terkini di televisi bahwa beberapa hari ini di Tokyo banyak sekali orang yang di temukan meninggal secara misterius. Dan tadi malam jumlah warga meninggal sebanyak 130 orang. Total warga yang meninggal di minggu itu sebanyak 360. Di Hokkaido ternyata juga mengalami hal yang sama bahkan jumlah kematiannya lebih tinggi dari pada di Tokyo. "Ini pasti ulah yokai" ucap Rin yang masih menatap siaran berita di TV.


"Ini tidak ada akhirnya" ucap Ibunya Rina yang tengah sibuk menyiapkan bekal makanan untuk Rin


"Apa Ayah masih belum pulang" tanya Rin kepada Ibunya


"Belum, dia tidak akan pulang sebelum situasinya membaik. Dia memiliki tanggung jawab yang besar" Ibunya Rin memasukan bekal makanannya ke dalam tasnya Rin

__ADS_1


"Baiklah, Ibu kalau begitu aku berangkat" Rin


"Hati-hati Rin" Rina


Rin, mengambil tas dan katana miliknya lalu berlari ke luar rumahnya dan menuju ke sekolahnya, sepanjang dia berlari dia melihat bahwa suasana kota Tokyo begitu sepi tidak seperti biasanya. Dia melihat beberapa orang yang berjalan dengan wajah pucat dan tampak ketakutan. Rin semakin yakin bahwa yokai-lah yang harus bertanggung jawab atas kematian misterius ini. Langkah kakinya Rin terhenti di kediaman rumah Ryo, salah satu teman dekatnya. Rin, melihat bahwa di rumah Ryo ada beberapa polisi bersama team dari devisi keamanan bidang supranatural.


Tanpa ragu, Rin mendekati salah satu petugas polisi yang berjaga di luar rumah Ryo. "Permisi, apa yang sedang terjadi di sini? Apakah Ryo baik-baik saja?" tanya Rin dengan khawatir.


Petugas polisi itu menatap Rin dengan serius. "Maaf, kami tidak bisa memberikan informasi terlalu banyak. Tapi ada insiden serangan yokai di sekitar area ini, dan Ryo menjadi salah satu korban. Dia dalam kondisi yang serius dan sedang mendapat perawatan di rumah sakit. Mohon maaf, tetapi kami harus membatasi akses ke rumah ini untuk penyelidikan lebih lanjut." polisi tersebut mencoba menjauhkan Rin dari area rumah Ryo.


Rin terkejut mendengar kabar tersebut. Hati kecilnya bergetar, khawatir dengan keadaan Ryo. Dia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi temannya. Pikirannya langsung teringat pada kematian misterius yang terjadi di Tokyo, dan dia semakin yakin bahwa peristiwa ini memang benar ulah yokai. Rin kembali berlari menuju sekolah, kali ini dengan hati yang penuh tekad dan determinasi. Akan tetapi setibanya dia di sekolah, dia keheranan melihat suasana sekolahnya yang sangat sepi. "Sekolah di liburkan?" tanya Rin kepada dirinya sendiri.


Rin terkejut mendengar penjelasan Hiroki. Dia merasa semakin khawatir dengan situasi yang semakin buruk. Rin merenung sejenak, mencoba memikirkan rencana apa yang harus dilakukan. "Dalam kondisi seperti ini, apa yang harus kita lakukan?" tanya Rin kepada Hiroki dengan nada cemas.


Hiroki mengernyitkan keningnya, mencoba memikirkan solusi. "Kita harus berpikir dengan hati-hati. Menyerang secara frontal mungkin bukan pilihan terbaik. Kekuatan bawahan Saki memang luar biasa. Kita perlu mencari celah atau strategi yang tepat untuk menghadapinya."


Rin memandang sekitar sekolah yang sepi dan berpikir keras. "Mungkin kita bisa mencari informasi tentang kelemahan atau titik lemah dari bawahan Saki. Jika kita tahu kelemahan mereka, kita dapat merencanakan serangan yang lebih efektif."

__ADS_1


Keyaru mendatangi Rin dan Hiroki yang terus mengamati sekolah itu dari gerbangnya. Dengan suara pelan dia berkata pada Rin dan Hiroki "Kalian tenang saja, kita punya Hakata. Dia bilang dia akan mengirim mata-mata ke organisasi Yokai Council"


"Apa? Siapa yang akan menjadi mata-mata?" tanya Rin


"Reiki, katanya dia lah yang paling cocok untuk tugas ini" jawab Keyaru


"Aku tidak yakin ini semua akan berhasil, Yokai Council bukan organisasi yokai yang bodoh dan mudah di masuki oleh makhluk asing begitu saja. Dan penyamaran adalah trik paling mudah yang langsung bisa di bongkar oleh mereka" timpal Hiroki


Rin, Hiroki, dan Keyaru terus berdiskusi tentang rencana mereka. Meskipun mereka menyadari bahwa infiltrasi ke Yokai Council tidak akan mudah, mereka tetap berusaha mencari cara untuk melawan bawahan Saki dan mengungkap kelemahan mereka.


"Apa ada cara lain untuk mendapatkan informasi tentang Yokai Council? Kita membutuhkan lebih banyak data tentang musuh kita," ujar Rin dengan suara penuh tekad.


"Kenapa tidak tanya langsung kepada Nakamura - san? Selain seorang Pemimpin YHA, dia seorang detektif. Wawasannya mengenai dunia yokai sangat luas karena selalu menangani berbagai macam jenis kasus, melakukan penelitian maupun penyelidikan" sahut Naomi yang datang kepada Keyaru, Hiroki, dan Rin


"Iya, aku juga berpikir seperti itu" kata Hiroki


Mungkin itu ide yang baik," ujar Keyaru setuju. "Kita bisa mendiskusikan situasi ini dengan Nakamura-san dan meminta bantuannya. Dia mungkin memiliki informasi penting atau saran yang bisa membantu kita dalam menghadapi Yokai Council."

__ADS_1


----- BERSAMBUNG --------


__ADS_2