SEKOLAH DI KOTA MATI

SEKOLAH DI KOTA MATI
SEKOLAH DI KOTA MATI 21


__ADS_3

Saat ini Hiroshi duduk di ruang kerjanya, mengambil ponselnya dan menekan nomor telepon Nakamura. Setelah beberapa nada, telepon terangkat. "Halo, Nakamura-san," sapa Hiroshi dengan suara yang tenang.


"Hiroshi-san, ada kabar apa?" tanya Nakamura dengan suara terdengar sedikit cemas.


"Inugami tidak bisa membantu kita kali ini. Mereka dikepung oleh yokai di Hokkaido dan organisasi mereka terlibat dalam konflik yang memanas dengan Erika Furahashi yang di duga sebagai yokai yang terikat kontrak dengan Dr.Kaito," kata Hiroshi dengan nada yang sedikit putus asa.


"Oh tidak, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Nakamura dengan sedikit panik.


"Hanya ada satu pilihan. Kita harus mencoba menangani masalah ini sendiri," jawab Hiroshi dengan suara yang tenang namun tegas. "Aku punya sedikit saran, mungkin kamu bisa memeriksa dengan lebih teliti daerah-daerah yang mungkin menjadi sasaran serangan yokai. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari orang-orang yang dapat dipercaya, dan beri tahu aku jika ada perkembangan apapun," jawab Hiroshi dengan suara yang penuh otoritas.


"Terimakasih banyak Hiroshi - san, kami dari YHA merasa terbantu dengan saran anda. Kami akan berjuang sebisa kami dan berusaha untuk melakukan yang terbaik. Sekali lagi terima kasih atas informasinya, Hiroshi-san," kata Nakamura dengan suara yang sedikit mereda.


"Iya sama-sama Nakamura - san" kata Hiroshi


"Baiklah, aku akan segera memberitahu teman-teman yang lain untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Apakah ada yang bisa aku lakukan untuk membantu?" tanya Nakamura.


"Aku berterima kasih atas tawaranmu, tetapi aku pikir aku dapat menangani masalah ini sendiri. Namun, jika ada sesuatu yang kamu pikir bisa membantu, tolong beritahu kami segera," jawab Hiroshi dengan ramah.


"Maksudku, apakah kamu memerlukan bantuan dari organisasi YHA?" tanya Nakamura lagi.


"Terima kasih, tetapi tidak perlu. Aku menghargai tawaranmu, aku tetap akan mengatasi masalah ini sendiri," jawab Hiroshi dengan tegas.


Nakamura mengerti bahwa Hiroshi ingin menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri. Meskipun Nakamura merasa sedikit kecewa karena dia tidak bisa membantu, dia menghormati keputusan Hiroshi. "Baiklah, jika Hiroshi - san butuh bantuan apa pun, jangan ragu untuk menghubungi YHA. Aku akan selalu siap membantu," kata Nakamura dengan tulus.


"Terima kasih, Nakamura - san. Aku akan menghubungi kakian jika ada sesuatu yang aku butuhkan," jawab Hiroshi dengan sopan.


Setelah berbicara dengan Nakamura, Hiroshi merasa sedikit lega. Dia tahu bahwa masalah ini akan menjadi sulit, tetapi dia juga yakin bahwa dia dan anggota keluarga Inugami dapat menangani masalah ini dengan baik. Setelah menyelesaikan panggilan, Hiroshi berjalan menuju ruang keluarga dan duduk di samping Keyaru. Keyaru melihat ayahnya dengan tatapan penasaran.


"Apa yang terjadi, Ayah?" tanya Keyaru.


Hiroshi menjelaskan situasi yang sedang terjadi di Hokkaido. Dia memberitahu Keyaru bahwa organisasi Inugami sedang sibuk menangani serangan terus menerus dari para yokai.


"Aku harap mereka bisa mengatasi masalah ini dengan baik," kata Keyaru dengan nada prihatin.


"Aku juga berharap demikian. Namun, aku percaya pada kemampuan mereka untuk menyelesaikan masalah ini," ujar Hiroshi sambil meletakkan tangannya di bahu Keyaru.


"Mari kita berdoa untuk keamanan mereka," tambah Hiroshi.


Keyaru mengangguk setuju dan keduanya pun berdoa bersama-sama untuk keamanan Inugami dan orang-orang yang terlibat dalam konflik. Mereka berdua berharap bahwa situasi ini akan cepat berlalu dan kedamaian akan kembali ke Hokkaido.


"Ano... " Aika datang ke ruangan itu, Hiroshi dam Keyaru melihat kedatangan Aika yang berada di ambang pintu ruangan tersebut. "Tadi aku melihat Akuryo (roh jahat) yang melintas di atas. Aku tadi berusaha untuk menangkapnya tapi dia sangat cepat dan tidak terkejar" kata Aika


"Kita harus segera bertindak" ucap Rin yang datang tiba-tiba, dia langsung mengambil tas dan pedangnya


"Keyaru, apa Amata sudah bicara padamu mengenai rasnya?" tanya Hiroshi kepada Keyaru

__ADS_1


Keyaru menjawab "Iya, dia memintaku untuk mengumpulkan semua keturunannya. Tapi aku menolak untuk membantunya, aku masih belum sepenuhnya percaya kepadanya. Aku khawatir dan curiga jika dia sampai memimpin keturunannya untuk mencelakai manusia"


"Begitu ya" Hiroshi mengambil buku dan pena yang ada di dekatnya lalu melihat kepada Aika "Aika - chan, apa kau bisa menceritakan Akuryo yang kamu lihat lebih rinci lagi?"


"Iya. Akuryo memiliki tubuh besar dan hitam pekat, seperti bayangan yang hidup," kata Aika serius.


Keyaru dan Rin melihat apa yang di lakukan oleh Hiroshi dari bukunya "Hmm, bagaimana dengan matanya?" tanya Hiroshi terus menggambar makhluk yang Aika ceritakan.


"Matanya merah menyala seperti bara api. Dan setiap kali dia bernapas, api keluar dari mulut dan hidungnya," jawab Aika dengan detail.


"Menarik," kata Hiroshi sambil fokus menggambar.


"Lalu, ada lagi ciri-ciri khusus yang kamu perhatikan?"


"Akuryo memiliki kuku yang panjang dan tajam seperti pisau. Dan suaranya juga sangat menggelegar, membuat tanah bergetar setiap kali dia bergerak," jelas Aika.


Setelah itu Hiroshi berhenti sejenak dan melihat gambarnya yang sudah jadi. Aika yang penasaran dengan hasilnya juga ikut melihatnya.


Setelah melihat hasilnya Hiroshi sangat shock dia melihat ke arah Keyaru lalu berkata "Akuryo, ini pernah di ceritakan oleh Ibumu kepadaku sebelumnya. Akuryo ini memiliki sihir pemanggil. Dia bisa memanggil atau mendatangkan semua jenis yokai dari berbagai dimensi yang berbeda. Dia hampir sama dengan Amata, dan tidak bergabung dengan kelompok atau organisasi manapun"


"Ini gawat, kita harus segera menemukannya lebih dulu sebelum Amata" kata Keyaru


"Sebenarnya, aku tadi juga melihat Amata - sama mengejarnya" kata Aika


Keyaru, dan Aika melihat kepada Rin. Mereka masih belum mengerti mengapa Rin berkata seperti itu.


"Rin, kau mempercayai Amata?" tanya Keyaru yang masih tidak menyangka


"Iya. Jika dia benar-benar menghianati kita maka aku sendirilah yang akan membunuhnya" kata Rin lebih tegas


"Baiklah" ucap Keyaru


**************


Dari sisi yang lain Amata terlihat terbang untuk mengejar Akuryo.


"Jangan mengira bahwa kau lebih cepat dariku Akuryo" Amata menaikan kecepatan terbangnya untuk mengejar Akuryo. Akhirnya dia berhasil mengimbangi kecepatannya dan saat ini Amata terbang di sampingnya.


Akuryo merasa jengkel saat Amata terus memaksa untuk mendapatkan informasi yang ia punya. Bagi Akuryo, kebebasan merupakan hal yang sangat penting, dan ia tidak ingin bergabung dengan kekuatan siapa pun, apalagi membantu musuh yang dianggapnya sebagai penghianat. Namun, di saat itu, Amata tidak akan mundur begitu saja. Ia telah berkomitmen untuk melindungi , bahkan jika itu berarti harus memaksa seseorang untuk bergabung dengan mereka.


"Dengarkan, Akuryo. Kami membutuhkanmu untuk membantu kami menghadapi ancaman besar dari Makai no Ishi-dan dan Yokai Council yang mengancam keberadaan manusia. Kamu punya kemampuan yang luar biasa dan itu bisa sangat berguna bagi kami. Jangan sia-siakan kemampuanmu ini untuk sesuatu yang jahat. Kami bisa memberikanmu apa pun yang kamu inginkan jika kamu bersedia membantu kami."


Akuryo tidak terkesan dengan tawaran Amata, ia terus berdiri di tempatnya dengan tatapan dingin yang memandang Amata yang masih terbang di sampingnya. Ia menggelengkan kepala, "Aku tidak bisa membantumu. Aku menolak untuk bergabung denganmu."


Amata tidak bisa menahan kekesalan dan ketidakpuasannya. Ia merasa kesal karena Akuryo terus menolak. Namun, ia tidak bisa membiarkan ancaman terus berlanjut, dan ia harus melakukan segala cara yang bisa dilakukan untuk menepati janjinya yaitu membantu Nakamura dan mematahkan kutukannya. "Aku tidak punya pilihan selain memaksamu dengan kekerasan jika itu yang dibutuhkan. Aku tidak bisa mengambil risiko jika ancaman ini sangat besar dan berbahaya."

__ADS_1


Mendengar kata-kata Amata, Akuryo menjadi terusik. Ia menatap Amata tajam, "Jangan anggap remeh kekuatanku. Jika kau menantangku, maka kau akan merasakan kekuatanku yang luar biasa."


Tanpa banyak basa-basi lagi, keduanya pun mendaratkan diri di tempat yang luas. Mereka berdua berdiri di tempat masing-masing dan bersiap untuk saling serang. Akuryo menggunakan sihirnya untuk memanggil pasukan yokai-nya, dan mereka mulai mengepung Amata dari segala arah. Namun, Amata tidak panik. Ia tahu persis bahwa dia adalah salah satu yokai terkuat, dan ia bisa menghadapi tantangan apa pun yang datang padanya.


Amata segera mengeluarkan pedang saktinya dan bersiap untuk menghadapi serangan Akuryo. Keduanya mulai bergerak dengan cepat, masing-masing mengeluarkan serangan yang hebat. Akuryo menggunakan sihirnya untuk memanggil pasukan yokai untuk menyerang Amata, sementara Amata menghindar dan menyerang dengan pedang saktinya.


Saling serang terus berlanjut, pasukan Akuryo terus menyerang dari segala arah, sementara Amata terus menghindar dan menyerang dengan kecepatan yang luar biasa. Mereka saling menghantam dan melepaskan serangan yang sangat kuat, menciptakan suara dentuman yang sangat dahsyat yang mengguncangkan udara. Akuryo mengeluarkan serangan-serangan api dan petir, sementara Amata mengganti senjatanya yang semula pedang menjadi busur dan panah dalam sekejap. Dia menyerang serangan Akuryo dengan panah es dan angin. Setiap serangan mereka mempunyai kekuatan yang luar biasa dan saling bertabrakan di udara. "Kenapa kau harus begitu keras kepala, Akuryo?" tanya Amata sambil menembakkan beberapa panah es ke arah Akuryo.


"Sudah kukatakan, aku tidak ingin terlibat dalam urusanmu, Amata!" balas Akuryo sambil mengeluarkan serangan petir ke arah Amata.


Amata menghindari serangan petir itu dengan melayang ke samping dan melepaskan beberapa panah es lagi. Serangan itu berhasil mengenai Akuryo, tapi ia masih tetap berdiri dengan kekuatan yang tersisa.


"Tidak usah bersikap seperti anak kecil, Akuryo. Kami memerlukan bantuanmu untuk menghentikan organisasi yang di buat Dr. Kaito dan Erika itu saja." ucap Amata seraya menggerakkan tangannya dan menciptakan badai besar dan pusaran angin yang mengarah ke arah Akuryo.


Akuryo berhasil menghindari badai besar dan angin ribut itu dengan melayang ke atas dan mengeluarkan serangan petir lagi ke arah Amata. Serangan itu berhasil mengenai Amata dan membuatnya jatuh beberapa meter ke bawah tapi Amata tidak merasakan sakit. Dia justru menunjukkan smirk khasnya karena tanpa Akuryo ketahui, Amata memiliki kemampuan untuk regenerasi dengan cepat.


"Kau tidak akan berhasil mengalahkanku, Amata!" ucap Akuryo sambil melepaskan serangan api dan petir ke arah Amata. Diam-diam Akuryo penasaran mengapa Amata sama sekali tidak terluka, padahal tadi dia sudah jelas-jelas melihat ada anak panah yang mengenainya.


Amata berusaha menghindari serangan itu dan menyerang balik dengan beberapa panah es yang terarah ke arah Akuryo. Serangan itu berhasil mengenai Akuryo, tapi ia masih tetap bertahan.


"Kau masih belum mengerti, Akuryo. Kekuatan kita hanya akan terbatas jika kita berjuang sendiri-sendiri," ucap Amata sambil mengeluarkan serangan angin yang mengarah ke arah Akuryo.


Akuryo berhasil menghindari serangan itu dan mengeluarkan serangan api dan petir lagi ke arah Amata. Serangan itu berhasil mengenai Amata dan membuatnya terlempar beberapa meter ke samping.


"Sudahlah, Akuryo. Kita bekerja sama saja untuk menghentikan Dr. Kaito dan Erika," ucap Amata sambil berdiri dan menatap Akuryo.


Akuryo terdiam sejenak, lalu akhirnya ia mengangguk. "Baiklah. Aku akan membantumu menghentikan Erika," ucapnya. Dia bangun dan menatap Amata dengan mengeluh "Kau selalu saja memaksa aku, Amata. Kapan kau akan belajar untuk tidak memaksa orang lain?"


"Sudahlah, Akuryo. Kita harus fokus pada tugas kita sekarang," kata Amata.


"Baiklah, tapi jangan berharap aku akan menjadi teman baikmu setelah ini," ujar Akuryo sambil mengacak rambutnya.


Amata tertawa. "Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan karaktermu yang pemarah."


"Maksudmu aku pemarah?" balas Akuryo sambil menaikkan alisnya.


"Tentu saja. Bukankah kau yang telah membantai seluruh kota Hokkaido beberapa hari lalu?" goda Amata.


"Hey itu bukan ulahku sialan!" Akuryo tidak terima


"Oh begitu ya" Amata


"Dan satu lagi, namaku Hakata. Jadi jangan panggil aku Akuryo." ucap Hakata


----- BERSAMBUNG -----

__ADS_1


__ADS_2