
Keesokan harinya di sekolah, Rin benar-benar merasa sangat lelah karena efek kurang istirahat dan bertarung bersama yokai. Saat pelajaran dimulai, dia berusaha keras untuk tetap fokus, tetapi setelah beberapa menit dia merasa mata dan kepala mulai berat. Keyaru merasa bahwa Rin terlihat sangat imut dan lucu saat sedang tidur. Lalu, ketika guru memanggil Rin untuk menjawab pertanyaannya, Rin terbangun dari tidurnya dengan kaget dan sedikit malu. Wajahnya memerah saat dia menyadari bahwa dia tertidur selama pelajaran.
"Maaf, sensei," ujarnya dengan suara yang sedikit tergagap-gagap.
Guru hanya mengangguk dan melanjutkan pelajaran tanpa mengomentari kejadian itu. Keyaru tersenyum pada Rin dan memberinya sedikit sentuhan di bahunya untuk menenangkan dirinya.
Setelah pelajaran selesai, Keyaru dan Rin pergi ke kantin bersama Aika. Mereka makan siang seperti biasanya sambil mengobrol mambahas pertarungan sengit tadi malam.
"Rin, mulai saat ini aku dan Inaba Ayahku sudah menjadi bagian dari YHA. Aku tidak menyangka bahwa Ayahmu, Nakamura - san yang keren itu menerima kami" kata Aika dengan banga
"Iya Tn. Nakamura memang baik" sahut Keyaru
"Oh iya apa kau tahu tadi malam kami juga bertemu dengan yokai keren yang bernama Amata" ucap Aika
Rin, yang saat itu sedang makan langsung keselek mendengar nama Amata. "Uhuk-uhuk-uhuk" Rin meneguk air minumnya "A-Amata?!" tanya Rin, dia merasa penasaran mengapa yokai itu datang lagi. Dia berpikir bahwa Amata datang dengan maksud tertentu.
"Iya, aku pikir dia akan melakukan sesuatu yang buruk kepada kami tapi ternyata dia tidak melakukan apa pun. Amata dan Ayahmu kelihatanya juga sangat akrab" Aika menyantap makan siangnya
Setelah mendengar ucapan Aika, Rin merasa penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang Amata. Kemudian Keyaru bertanya pada Rin dengan wajah penasaran, "Bagaimana Ayahmu bisa akrab dengan Amata? Apa mereka berteman sejak dulu?"
Rin tersenyum dan menjawab, "Tidak, aku tidak tahu soal itu Keyaru. Aku tidak tahu lebih banyak mengenai siapa Amata sebenarnya, yang aku ketahui dia hanyalah yokai yang kuat. Mungkin dia mendekati Ayahku karena terpesona dengan kekuatan yang dimilikinya."
Aika menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak, tidak. Aku yakin ada alasan lain. Mungkin Amata menyukai Ayahmu karena kegantengan dan pesonanya yang tak tertahankan."
Keyaru dan Rin tertawa mendengar ucapan Aika. "Itu tidak mungkin. Mereka berdua itu sama-sama laki-laki, atau jangan-jangan kamu juga suka pada kegantengan Ayahku, Aika?" tanya Rin sambil tertawa.
Aika tersenyum malu dan menjawab, "Tentu saja. Siapa yang tidak suka dengan pria tampan seperti Ayahmu?"
Keyaru dan Rin tertawa semakin kencang, merasa lucu dengan pernyataan Aika. Mereka merasa senang bisa mengobrol dengan santai dan lucu setelah terlibat dalam pertarungan sengit dengan yokai. Setelah makan siang selesai, mereka berpisah dan pergi ke kelas masing-masing dengan senyum di wajah mereka.
__ADS_1
Setelah pelajaran selesai, Keyaru menemui Rin yang saat itu mampir ke perpustakaan. Dia melihat Rin sedang membaca buku dengan wajah yang serius dan fokus. Keyaru merasa hatinya berdebar-debar saat melihat Rin dengan tatapan penuh cinta.
"Rin, aku punya sesuatu untukmu," ujarnya sambil memberikan sebuah bunga yang dipegangnya.
Rin terkejut dan tersenyum lebar. "Bunga ini sangat indah Keyaru"
Keyaru mengambil tangan Rin dan berkata dengan lembut, "Aku sering merawat tanaman di taman sekolah. Dan ini bunga yang aku petik dari sana barusan. Naoki dan Ryo bilang kau suka bunga, mereka bilang beberapa hari yang lalu kau berniat untuk memetiknya tapi tidak jadi karena takut di marahi. Dan sekarang aku memetiknya untukmu, aku harap kau akan senang menerimanya."
Rin terkesima dengan ucapan Keyaru. Dia merasa senang dan tersipu malu saat Keyaru memperhatikannya dengan tatapan lembut. Namun, Rin masih belum menyadari perasaan Keyaru terhadapnya.
"Ah iya ku sangat senang dengan bunga ini, Keyaru. Terima kasih banyak!" ujarnya sambil tersenyum.
Keyaru tersenyum dan merangkul Rin erat-erat. Dia berharap Rin bisa merasakan betapa besar perasaannya terhadapnya. Namun, Rin masih tidak menyadari maksud dari rangkulan Keyaru. Setelah itu mereka berdua pulang bersama.
Dan pada malam itu, Rin terus memikirkan tentang Keyaru dan bunga yang diberikannya. Dia merasa ada yang berbeda dengan Keyaru hari ini, tapi dia tidak tahu persis apa itu. Rin merasa bingung dan tidak bisa memahami perasaannya sendiri.
"Hwa" Rin terkejut melihat Amata menerobos masuk ke dalam kamar Rin melalui jendelanya kamarnya yang lupa di tutup "Apa yang kau lakukan di kamarku?!" Rin semakin kesal melihat Amata yang lancang merebahkan dirinya di tempat tidur Rin dengan santai seolah-olah berada di kamarnya sendiri.
Dia terdiam sejenak, Rin keheranan karena merasa bahwa tatapan mata Amata sedikit aneh. Sepertinya dia tidak sadar bahwa Amata menatap Rin dengan tatapan penuh kerinduan setelah sekian lama mengamati kehidupan Rin. Tanpa ragu, Amata menghampiri Rin akan tetapi Rin berpikir bahwa Amata memiliki niat yang buruk sehingga dia langsung melangkah mundur lalu menarik pedangnya yang di arahkan kepada Amata.
"Kau kaku sekali ya" ucap Amata yang masih tersenyum kepadanya lalu menaiki jendelanya "Istirahatlah Rin, kau sudah bekerja keras kemarin" Amata langsung melompat ke luar, dia mengepakkan sayapnya dan terbang menjauh dari pandangan mata Rin.
Rin, masih tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. "Hari ini semua orang sangat aneh, Keyaru dan Amata membuatku bingung" Rin merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Malam itu Nakamura sendiri juga pulang dan langsung mandi, setelah itu dia kembali sibuk berurusan dengan dokumen hasil penyelidikannya. Di tengah-tengah kesibukannya Rina datang ke kamarnya untuk mengantarkan makan malamnya. Rina, meletakan makanannya di meja yang berbeda dari meja tempatnya bekerja.
Saat Rin hendak keluar dari kamarnya Nakamura menghentikannya. "Rina, tunggu"
Rina langsung menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah Nakamura "Iya?"
__ADS_1
"Come" Nakamura menatap Rina dengan maksud tertentu
Rina, berjalan mendekati suaminya dengan rasa penasaran "Apa ada yang bisa aku bantu?"
Nakamura meraih tangan Rina dan menariknya sedikit keras ke arahnya, tangan lainnya memegang pinggang Rina dengan lembut dan mendudukannya di pangkuannya. Kali ini posisi Nakamura dan Rina saling berhadapan, dan Nakamura menatap mata Rina dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku, Rina," ucap Nakamura dengan lirih. "Aku tahu aku selalu sibuk dengan pekerjaanku sebagai detektif supranatural dan jarang punya waktu untukmu. Tapi hari ini, aku ingin memberikanmu waktu yang spesial."
Rina terkejut dengan tindakan Nakamura, namun ia merasa terharu dengan perhatian suaminya. Ia merasakan getaran perasaan Nakamura melalui tatapan matanya yang penuh kasih sayang. "Nakamura-san..." kata Rina dengan lirih, sambil menatap wajah suaminya dengan penuh cinta.
Nakamura menyapukan jari-jarinya lembut di wajah Rina, merasakan kelembutan kulitnya dan senyum lembut di bibirnya. Ia mencium kening Rina dengan lembut dan berkata, "Aku mencintaimu, Rina. Mulai saat ini aku akan selalu berusaha untuk memberikanmu waktu dan perhatian yang kamu butuhkan."
Rina tersenyum dan mengalungkan tanganya di leher Nakamura, dia merasa terharu dan bahagia karena memiliki suami yang sangat mencintainya. Mereka saling memandang dengan tatapan penuh kasih sayang, menikmati momen romantis yang spesial bersama-sama.
Tiba-tiba Rin masuk ke ruangan Ayahnya tanpa permisi. Ia yang mengetahui bahwa Ayah dan Ibunya sedang bermesraan pun kembali menutup pintunya. Namun, setelah Rin menutup pintu, dia merasa terkejut dan merasa canggung karena tidak sengaja melihat orangtuanya bermesraan. Rin merasa tidak enak hati dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia berusaha untuk keluar dari kamar dengan secepat mungkin, tapi sayangnya, langkahnya terhenti oleh suara Nakamura yang memanggil namanya.
"Rin, masuklah," kata Nakamura dengan lembut.
Rin merasa gugup dan canggung saat ia masuk ke kamar Ayahnya. Dia merasa malu dan tidak tahu harus berbicara apa. Namun, Nakamura mengerti perasaan anaknya dan mencoba untuk mengurangi rasa canggungnya.
"Apa yang bisa Ayah bantu, Rin?" tanya Nakamura dengan senyuman.
"Maafkan aku, Ayah dan Ibu. Aku tidak bermaksud untuk mengganggu kalian. Aku hanya ingin meminta ijin untuk pergi ke liburan ke Shibuya besok" jawab Rin dengan suara lembut.
Nakamura dan Rina tersenyum dan merasa terharu dengan sikap putri mereka yang sopan dan perhatian. Mereka merangkul Rin dan mengatakan bahwa tidak apa-apa.
"Ayah dan Ibu hanya sedang bercanda saja. Tidak perlu merasa malu atau canggung. Kau boleh liburan ke Shibuya besok," ucap Rina dengan lembut.
Rin merasa lega dan merasa lebih tenang setelah mendengar kata-kata dari Ayah dan Ibu nya. Ia tersenyum dan kembali merasa bahagia karena keluarganya selalu mendukung dan mencintainya. "Terimakasih Ibu, Ayah"
__ADS_1
"Kemarilah Rin" kata Rina mengulurkan tangannya untuk mengajak Rin bergabung bersamanya. Kemudian Rin meraih tangan Ibunya dan duduk di antara Rina dan Nakamura, setelah itu mereka bertiga berpelukan.
-------------- BERSAMBUNG -----------------