SEKOLAH DI KOTA MATI

SEKOLAH DI KOTA MATI
SEKOLAH DI KOTA MATI 25


__ADS_3

Sepulang sekolah Rin, Keyaru, dan Aika pergi ke markas YHA. Ketika mereka tiba di markas organisasi YHA, tempat mereka disambut oleh keluarga tengu mereka. Mereka adalah sekumpulan individu dengan kepribadian yang beragam, tetapi tetap menyatu sebagai satu keluarga yang kuat. Sagara, tengu yang paling berpengalaman dan bijaksana, melangkah maju untuk menyambut mereka dengan senyum hangat. "Selamat pulang, Rin, Keyaru, dan Aika. Bagaimana pertempuran kalian melawan Kuragori?"


"Kami berhasil mengalahkannya, Sagara-san. Kuragori tidak akan lagi mengancam sekolah dan teman-teman kami." ucap Rin


Karin, tengu yang kecil dan penuh energi, melompat dengan gembira di sekitar Rin, Keyaru, dan Aika. "Hei, Rin! Hei, Keyaru! Hei, Aika! Aku merindukan kalian! Ceritakan semuanya tentang pertempuran itu!"


Yuto, tengu muda yang suka merayu gadis, tidak bisa menahan diri untuk tidak melontarkan komentarnya. "Wah, Rin, walaupun sudah bertarung dengan susah payah dan berkeringat kau tetap saja cantik setelah bertarung! Mungkin aku bisa membantumu mengobati luka-lukamu."


"Dokter, di sekolah sudah mengobatinya tadi" kata Rin dengan ramah


Yua, saudara kembar Yuto, berdiri di sampingnya Yuto dengan keheningan yang khas. Dia tampak tenang dan pendiam, tetapi mendukung sepenuhnya kakaknya. Izumi, tengu yang rajin dan suka membaca, menghampiri Aika dengan buku di tangannya. "Aika, aku punya beberapa buku yang mungkin menarik bagimu. Aku yakin kamu akan menemukan pengetahuan yang berharga di dalamnya."


Aizawa, tengu dengan hobi memasak, menghadirkan hidangan lezat untuk menyambut kepulangan mereka. "Selamat datang kembali, teman-teman. Aku telah menyiapkan makanan kesukaan kalian. Silakan nikmati!"


"Terimakasih banyak Aizawa - san, kami sudah makan di kantin tadi" kata Keyaru


"Memangnya kenapa kalau makan lagi" Aizawa


Misa, tengu yang lebih kaku dalam sikapnya, mengangguk dengan serius. "Kalian telah melalui pertempuran yang berat. Aku senang kalian aman dan kembali dengan selamat."


Reiki, tengu yang penuh kejahilan, tersenyum dengan mata berbinar-binar. "Hei, Rin! Keyaru! Aika! Apakah kalian membawa pulang sesuatu yang menarik dari pertempuran? Ceritakan padaku! Aku penasaran!"


Taki, tengu yang gemar mempelajari obat-obatan, menghampiri mereka dengan tas berisi ramuan dan obat-obatan yang siap digunakan. "Jika kalian memerlukan perawatan tambahan atau ramuan penyembuh, beri tahu aku. Aku siap membantu."


Yukino, tengu yang suka bertarung dengan yokai lain, mengangkat tinjunya dengan penuh semangat. "Hei, kalian! Aku yakin kalian bertarung dengan gagah berani! Jangan ragu untuk meminta bantuanku jika ada pertempuran lagi ya"


Akhirnya mereka semua pun makan siang bersama. Sambil menikmati makanan yang disediakan oleh Aizawa, kelompok tengu itu duduk bersama dan saling bertukar candaan. Karin, yang terkenal karena keceriaannya, melirik Reiki yang duduk di sebelahnya. "Reiki, apakah kamu pernah berpikir untuk mengganti warna rambutmu dengan hijau neon? Aku yakin itu akan membuatmu terlihat lebih jahil!"kata Karin

__ADS_1


Reiki membalas dengan senyuman jahil. "Oh, tentu saja, Karin. Tapi aku khawatir, jika rambutku menjadi hijau neon, maka kita akan memiliki warna rambut yang sama. Dan jika itu terjadi maka kita pasti akan di bilang kembar atau duo hijau neon. Aku tidak mau"


Mereka semua tertawa, sementara Taki, yang duduk di sebelah Yukino, memberikan saran dengan penuh keahlian. "Yukino, dari pada tawuran terus-menerus, bagaimana jika kamu mencoba meditasi? Aku yakin itu akan membantumu menemukan kedamaian dalam dirimu."


Yukino menggaruk kepalanya dengan bingung. "Meditasi? Tapi aku lebih suka tawuran dari pada duduk diam dan berpikir. Ya meditasi bisa di coba sih jika itu bisa membuatku lebih kuat!"


Izumi, yang tengah membaca buku baru, memberi komentar dengan antusiasme. "Aika, aku baru saja membaca tentang teknik khusus menggunakan rantai. Bagaimana jika kita mencoba menggabungkan seni tombakmu dengan kemampuanku menggunakan rantai? Kita bisa menjadi tim yang tak terkalahkan!"


Aika tersenyum dan mengangguk setuju. "Itu terdengar menarik, Izumi! Kita bisa menjadi duo yang serba bisa!"


Sagara, yang menjadi sosok bijak dalam kelompok, mengangkat gelasnya dalam toast. "Untuk persahabatan yang terus tumbuh dan kekuatan yang saling melengkapi. Kalian semua adalah keluarga bagi kami, tengu YHA!"


Semua tengu mengangkat gelas mereka dan bersorak riuh, merayakan persahabatan mereka yang kuat dan petualangan yang menanti di depan. Mereka tahu bahwa bersama, mereka dapat menghadapi segala tantangan dan menghadirkan banyak kegembiraan dalam hidup mereka. Kemudian Amata datang dan bergabung dengan mereka. Dia membahas sekolah para manusia yang akan di masukinya.


Rin memandang Amata dengan ekspresi tidak terima. "Amata, aku masih tidak bisa percaya bahwa kamu akan bersekolah bersama kami di sekolah manusia. Apa yang kamu pikirkan?!"


Taki dengan cerdas menyela, "Rin, jika kamu masih tidak terima, mungkin kamu harus memberi Amata tugas yang mustahil untuk diselesaikan. Jika dia berhasil, mungkin kamu akan melihatnya dengan cara yang berbeda."


Rin mengangguk setuju dengan ide Taki. "Baiklah, Amata. Jika kamu benar-benar serius, aku akan memberimu tugas yang mustahil untuk dibuktikan."


Amata mengangkat alisnya, menunjukkan rasa penasaran. "Tugas apa itu, Rin?"


Rin tersenyum dengan licik menatap Amata dengan tatapan penuh tantangan. "Baiklah, Amata. Tugas yang ku berikan padamu adalah... menjaga jarak dariku di sekolah. Tidak boleh ada satu pun interaksi di antara kita."


Amata terkejut mendengar tugas yang diberikan Rin. Dia tahu bahwa ini bukanlah tugas yang mudah, terutama karena perasaannya begitu kuat terhadap Rin. Namun, dia menerima tantangan itu dengan senyuman percaya diri. "Baiklah, Rin. Aku akan menerima tugas ini."


Keyaru, yang diam-diam mencintai Rin, melihat perdebatan itu dengan perasaan campur aduk di dalam hatinya. Dia tidak bisa menahan rasa cemburu yang tumbuh dalam dirinya. Dalam hati, dia berpikir, "Apa yang akan terjadi jika Rin benar-benar jatuh cinta pada Amata? Apa yang harus aku lakukan?"

__ADS_1


Amata, yang bergabung dengan mereka setelah membahas sekolah manusia yang akan dia masuki, tersenyum penuh semangat. "Kalian tahu, aku sangat bersemangat untuk bersekolah bersama Rin. Kami akan menjadi pasangan yang tak terkalahkan di sekolah!"


Rin mengerutkan kening dengan nada yang sedikit mengeluh. "Aku harap aku bisa sekolahku dengan tenang"


Amata langsung mengepalkan tangannya dengan semangat. "Tenang saja, Rin! Aku akan menjaga jarak darimu dan menghormati keinginanmu. Tapi, aku tidak bisa menjanjikan bahwa beberapa gadis tidak akan jatuh hati padaku. Aku punya pesona yang sulit ditolak, tahu?"


Keyaru, yang merasa cemburu mendengar komentar Amata, berusaha menjaga ketenangan dirinya. Dia berkata dengan candaan, "Tentu saja, Amata. Tapi jangan berharap terlalu banyak. Pesonamu mungkin ampuh, tetapi jangan sampai terlena. Siapa tahu, mungkin ada beberapa gadis di sekolah manusia yang berhasil menahan pesonamu yang memabukkan!"


Semua orang tertawa mendengar komentar Keyaru. Tawa mereka mengisi ruangan, membawa keceriaan dalam perdebatan mereka yang lucu. Meskipun ada perasaan cemburu di antara mereka, mereka masih mampu menjaga atmosfer yang penuh humor dan persahabatan. Amata, sambil masih memegang kepala tinggi, berusaha meredakan kecemasan Keyaru. "Jangan khawatir, Keyaru. Pesonaku mungkin ampuh, tetapi hatiku sudah tertuju pada Rin"


Rin, yang masih polos dan tidak paham tentang cinta, melihat mereka dengan raut wajah bingung. "Eh, maaf ya, teman-teman. Aku masih belum paham tentang semua ini. Apa maksud kalian dengan pesona dan cinta?"


Semua orang tertawa melihat kebingungan Rin. Taki dengan senang hati menjelaskan, "Rin, pesona adalah daya tarik yang dimiliki seseorang yang membuat orang lain tertarik, merasa kagum atau jatuh hati. Cinta adalah perasaan yang tumbuh di dalam hati seseorang terhadap orang lain dengan cara istimewa."


Rin masih terlihat bingung, tapi dia mencoba memahami dengan serius. "Jadi, pesona itu seperti sihir yang membuat orang jatuh cinta? Dan cinta itu perasaan yang tumbuh begitu saja?"


Amata tersenyum, "Ya, Rin, kamu bisa mengatakan begitu. Pesona adalah seperti sihir yang membuat orang terpesona, dan cinta adalah perasaan yang tumbuh dengan sendirinya, tidak bisa dipaksakan."


Rin mengangguk pelan, mencoba memahami konsep tersebut. "Baiklah, aku mulai mengerti sedikit. Jadi, pesona itu bisa membuat orang jatuh cinta padamu, Amata?"


Amata terkekeh, "Iya, Rin. Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, hatiku sudah tertuju padamu. Jadi, pesonaku hanya berlaku bagi orang lain yang tidak memiliki hati yang sama sepertimu."


Rin mengangguk mengerti, tetapi masih terlihat sedikit polos. "Jadi, pesonamu tidak akan berlaku padaku?"


Amata tersenyum lembut dan mengelus kepala Rin dengan penuh kasih sayang. "Rin, kamu adalah teman terbaikku, dan pesonaku tidak berarti apa-apa jika tidak bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Kita akan terus menjaga persahabatan kita, tanpa harus khawatir tentang pesona atau cinta."


Semua orang melihat mereka dengan senyuman, merasakan kehangatan persahabatan yang kuat di antara mereka. Dalam keluarga tengu yang lucu dan penuh humor ini, mereka belajar tentang cinta, persahabatan, dan arti pentingnya menjaga hubungan yang baik. Bersama-sama, mereka siap menghadapi petualangan di sekolah manusia dengan tawa dan kebahagiaan sebagai teman sejati.

__ADS_1


------------ BERSAMBUNG --------------


__ADS_2