
Walaupun hanya 2 hari Giandra di Jogja tapi aku cukup senang kami dapat menghabiskan waktu bersama seperti dulu.
" Aku pulang ya mas, Flight aku 30 menit lagi. Doakan selamat sampai tujuan ya mas "
Ingin sekali aku mengantar Giandra ke Airport Adi Sujipto, tapi tidak memungkinkan karena Giandra pulang bersama atasanya.
3 bulan hubungan kami semuanya masih baik baik saja, sampai masuk bulan ke 4 Giandra mulai membalas lama pesanku.
Awalnya aku berfikir mungkin karena Giandra sibuk, tapi semakin lama semua hal yang biasa kami lakukan tidak pernah dilakukan lagi.
Biasanya pagi hari dia menyapaku dengan pesan manisnya, tapi sekarang hal itu sudah tidak lagi dia lakukan.
Biasanya ia selalu bercerita tentang kesehariannya, tapi sekarang sudah tidak.
Dan tiap malam kami selalu pillow talk, tapi sekarang hal itu sudah tidak pernah kami lakukan. Setiap aku menelepon tidak pernah Giandra angkat dan selalu memberikan alasan yang tidak jelas.
Kami pun jadi sering bertengkar karena hal hal kecil, bahkan ketika aku mau main ke jakarta dia melarangku dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya.
Kami sudah jarang bertelepon, bahkan saat ada kesempatan bertelepon pun Giandra seperti malas malasan.
Aku sudah pernah bertanya apakah dia sedang ada masalah atau apakah aku ada salah tapi dia bilang tidak ada.
Berbulan bulan hal itu berlangsung, sampai pada suatu hari di waktu jogja di guyur hujan deras, masuk pesan baru dari Giandra.
Di dalam pesannya dia meminta maaf karena tidak bisa untuk melanjutkan hubungan kami. Bagi Giandra hubungan LDR ini sangat menyiksanya.
Dan Giandra mau kami putus. Tentu saja aku tidak mau putus dengannya, beberapa bulan lagi seharusnya aku satang untuk meminangnya.
Bahkan Giandra lupa dengan semua janjinya untuk bertahan dengan baik di jakarta dan sabar menungguku sampai aku melamarnya.
Aku membalas pesannya tapi ternyata nomorku sudah di block, aku telpon ke handphone tidak bisa bahkan aku telpon ke rumah pun dia tidak ingin bicara denganku.
Hanya dalam 8 bulan kami LDR, apa yang kami bangun bertahun tahun hancur begitu saja.
Tidak ada cara untuk menghubunginya, sepertinya Giandra hanya ingin aku menerima keputusannya tanpa ada perlawanan.
Hampir 5 tahun aku mencoba menjadi laki laki yang pantas untuknya, bahkan kekhilafan yang ia perbuat di masa lalu aku maafkan.
Sekarang aku tidak membuat kesalahan apapun tapi dia meninggalkan aku tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
Jika masalahnya hanya karena hubungan kami yang LDR sepertinya bisa di cari jalan tengahnya.
Aku hanya minta waktu 1 tahun dan sekarang hanya sisa beberapa bulan lagi sampai tabunganku cukup.
Sudah 1 bulan berlalu semenjak aku putus dengan Giandra dan kehidupanku makin hancur.
Aku tidak pernah lagi bekerja, semua usaha aku titipan kepada karyawanku.
Selain membeli makan aku hampir tidak pernah keluar.
Kamarku sangat berantakan, aku jarang mandi, jadi aktif merokok dan seumur hidup aku tidak pernah minum minuman keras, sekarang aku minum minuman keras setiap hari.
Tidak akan berhenti minum jika masih sadar. Aku sadar betul sekarang aku sedang menghancurkan hidupku sendiri.
Aku sudah tidak peduli akan apapun san siapapun.
Pada saat hidupku hancur, aku melihat story whatsapp dari teman Giandra. Waktu jalan jalan ke magelang aku sempat menyimpan nomornya.
Dalam story whatsapp itu, ia mengucapkan selamat menikah untuk seorang wanita yang tidak lain adalah Giandra.
Di story whatsapp itu, Giandra bersama suaminya memakai pakaian adat sunda berwarna putih. Giandra mengenakan kebaya putih lengkap dengan siger di atas kepalanya.
Ada beberapa foto yang teman Giandra bagikan di story-nya, bagaimana pernikahannya, suasananya, bagaimana kebahagiaan mereka hari itu.
Semakin aku melihat story itu semakin rasanya makin hancur.
Badanku seketika lemas, dingin dan lunglai. Belum ada 1 bulan dari kami putus tapi Giandra sudah menikah dengan orang lain.
Atau mungkin pada saat kami masih berpacaran pun Giandra sudah berhubungan dengan suaminya.
Karena tidak mungkin menyiapkan pernikahan hanya dalam waktu 1 bulan.
Dari karangan bunga yang ada di story, sepertinya suaminya ada seorang PNS di tempatnya bekerja.
Pantas saja sebelum hubungan kami berakhir Giandra sudah sulit di hubungi, semua ini menjawab semua pertanyaan aku kala itu.
Mungkin karena aku terlalu shock menerima kenyataan ini, atau mungkin juga karena pengaruh alkohol yang menemani aku 1 bulan ini.
Aku kehabisan akal dengan mencoba berfikir untuk mengakhiri hidupku.
__ADS_1
Dengan langkah goyah aku menuju kamae mandi, mengambil racun serang dan kembali ke kamar.
Ku tatap racun serangga yang ada di depanku, dengan tubuh yang lemas dan menggigil aku masih menimbang apakah aku harus mengakhiri hidupku dan mengakhiri rasa sakit ini.
Setelah beberapa saat berfikir, aku membuka tutup botol racun serangga itu.
Pertama aku merasakan mulut dan tenggorokanku panas dan lama lama seperti terbakar, perutku pun lama lama menjadi panas dan seperti terbakar.
Dalam kondisi itu aku berfikir bahkan untuk mengakhiri hidup pun aku harus merasakan rasa sakit yang teramat sakit.
Aku meringkuk memegangi tenggorokanku, menggelepar gelepar beberapa kali dan karna sakit yang luar biasa akhirnya aku tidak sadarkan diri.
Jika hari itu adik pertamaku tidak nekat mendatangi aku yang tidak bisa di hubungi, dan karena memang ia butuh untuk beli buku untuk tugas kuliahnya sehingga ia harus bertemu denganku.
Mungkin aku sudah lepas dari rasa sakit di dunia.
Tapi seperti kata pepatah, manusia hanya bisa berencana tapi Allah yang menentukan.
Adikku tiba tepat waktu dengan masuk kedalam kamarku yang memang aku tidak kunci.
Menemukan aku yang tergeletak di lantai dengan busa di mulut.
Pemandangan yang membuat aku minta maaf dengan adikku karena harus melihat kakaknya yang sangat lemah dan pengecut sehingga harus mengakhiri hidupnya.
Adikku langsung meminta bantuan, bersama tetangga kontrakan membawa aku ke rumah sakit terdekat.
Aku langsung masuk UGD untuk menerima pertolongan.
Aku pingsan semalaman. Begitu aku membuka mata ternyata aku masih hidup dan sudah ada di ruang perawatan.
Ada keluargaku di sana, Ibuku yang menangis sambil mengengam tanganku. Dan ayahku yang menenangkan ibuku, dan adik adikku yang menatapku.
Setelah aku sadar, aku merutuki diriku sendiri karena melakukan hal bodoh. Betapa bodohnya aku yang hanya memikirkan diriku sendiri dan tidak memikirkan keluargaku.
Padahal aku adalah tulang punggung dalam keluarga. Bagaimana jika aku tidak ada, adik adikku yang masih sekolah akan seperti apa.
Mengapa aku tidak bisa menhan semua rasa sakit karena penghianatan Giandra dan membiarkan waktu menyembuhkan lukaku.
Aku pun menangis sejadi jadinya dan meminta maaf kepada kedua orang tuaku.
__ADS_1
Hari itu aku menyadari, orang yang paling sayang, peduli dan tulus kepasa kita hanyalah keluarga.