Selingkuhan ku adalah cinta pertama ku

Selingkuhan ku adalah cinta pertama ku
Cobaan pernikahan


__ADS_3

Melihat anakku yang lahir dengan sehat, selamat dan sempurna membuat aku dan istriku menangis haru.


Aku adzan di kuping putriku dengan penuh keharuan dan rasa syukur.


Bayiku langsung di bawa ke ruang bayi dan istriku di bawa ke ruang perawatan.


Aku membantunya untuk mengganti baju dan aku suapi setelahnya karena ia belum makan seharian ini.


Tidak lama suster membawa bayi kami untuk di susui.


Kami berdua sepakat menamai putri kecil kami Gantari Putri Permadi. Yang artinya Anak perempuan putri permadi yang bersinar.


Kelak kami berharap Gantari menjadi anak yang selalu bersinar dengan banyak kebaikan.


Aku menghubungi kedua orang tua kami mengabari bahwa istriku sudah melahirkan.


Kedua orang tua kami datang dua jam kemudian.


Mereka bergantian menggendong Gantari. Aku bersyukur sekali Gantari di kelilingi oleh orang orang yang sangat menyayanginya.


Menurut perawat jika sore ini setelah di observasi Gantari tidak ada masalah, maka sudah diperbolehkan untuk pulang.


Ibu dan Bapak mertuaku sementara akan menginap selama seminggu untuk membantu istriku mengurus Gantari.


Istriku terlihat sangat senang. Aku pikir moment melahirkan mengingatkan kita kepada ibu.


Kami jadi tau bagaimana perjuangan beliau melahirkan kami. Bahkan aku sampai meminta maaf kepada Ibu Bapak jika aku pernah menyusahkan beliau.


Bahkan saat saat suram kemarin dengan percobaan bunuh diri yang aku lakukan teringat kembali.


Aku sangat menyesali kebodohan yang aku lakukan dulu.


Selama Ibu mertuaku di rumah, setiap sore Ibu mengajak istriku keliling komplek.


Jika ada tetangga yang menanam tanaman untuk obat, Ibu memberitahukan nama dan khasiatnya.


Aku jadi tau ada daun namanya daun saga yang berfungsi untuk meredakan batuk.


Daun bunga talang untuk membersihkan mata, bawang merah jika anak demam dan rempah rempah lainnya.


Tapi tentu saja semua tanaman tradisional itu bisa di konsumsi jika anak kami berumur satu tahun.


Ada Ibu di rumah kami aku jadi lebih santai dan bisa makan enak setiap hari.


Kenapa ya masakan orang tua rasanya sangat enak. Makanan apapun terasa sangat nikmat.


Baru tiga hari Ibu di rumah aku sudah naik berat badan lima kilo.


Setelah seminggu di rumah kami, Ibu dan Bapak mertuaku berpamitan untuk pulang ke gunung kidul.

__ADS_1


Aku ingin mengantar beliau tapi di tolak katanya aku di suruh jaga anak dan istriku.


Setelah Ibu dan Bapak pulang aku belajar untuk menjaga anakku sepenuhnya.


Menggendongnya jika ia menangis, mengganti pampersnya, dan memberikan susu tengah malam agar istriku bisa beristirahat.


Anakku tumbuh menjadi anak yang pintar dsn sehat.


Setiap harinya ada saja hal baru yang ia tunjukan padaku.


Seperti saat ia sudah bisa tengkurap sendiri , aku langsung histeris melihatnya.


Padahal sudah hal wajar jika bayi usia empat bulan sudah bisa tengkurap. Tapi tetap saja itu hal yang menakjubkan buatku.


Istriku berencana untuk memberikan asi ekslusif selama dua tahun agar putri kami memiliki antibody yang cukup.


Mempunyai anak membuat aku selalu rindu jika sedang bekerja.


Aku jadi sering bolak balik pulang ke rumah atau video call dengan anakku. Istriku sampai tertawa melihat kelakuanku.


Aku tidak menyangka akan mencintai anakku sebegitu besarnya, seakan akan aku rela memberikan apa saja untuk anakku.


Dan semenjak punya anak aku makin cinta dengan istriku. Aku semakin merasa beruntung memiliki istri yang luar biasa dan bisa menjadi ibu yang luar biasa untuk anak kami.


Sekarang usia Gantari sudah memasuki usia dua tahun delapan bulan.


Istriku lumayan kewalahan dalam membereskan rumah, karena Gantari mulai minta banyak mainan dan setiap mainan yang di pakai selalu berantakan.


Dan sudah tiga hari ini, istriku sakit. Awalnya kami pikir masuk angin.


Sudah saya kerok dan belikan tolak angin masih belum sembuh juga.


Ternyata ketika kami ke dokter istriku sedang hamil empat bulan.


Kami terkejut dan tidak menyangka akan kehamilan ini, karena istriku sudah pasang spiral sebagai alat KBnya.


Tapi walaupun begitu kami tetap senang dengan berita kehamilan istriku.


Gantari pun seperti tau akan memiliki adik karena menjadi lebih lengket dengan ibunya dan lebih rewel atau gampang nangis.


Aku yang bertugas untuk memberikan perhatian penuh kepada Gantari.


Karena seperti kehamilan istriku sebelumnya ia mengalami morning sick, dan yang ini sangat parah.


Aku sampai harus membawanya ke rumah sakit karena ia benar benar tidak masuk makanan atau minuman sedikitpun.


Ia harus di rawat di rumah sakit selama tiga hari untuk di bantu infus.


Istriku bukan tidak mencoba untuk makan, tapi baru makan satu suap dia sudah muntah.

__ADS_1


Badanya sampai sangat kurus, kesehariannya hanya duduk meringkuk di kasur.


Belum lagi Gantari yang mau terus bersama Ibunya, itu membuat istriku semakin tidak ada tenaga sehingga pingsan dan aku larikan ke rumah sakit.


Ibu mertuaku yang mendengar kabar itu memutuskan untuk menemani istriku sampai morning sicknya hilang.


Tiap pagi Ibu membuatkan kami sarapan tapi istriku masih belum bisa masuk makanan.


Dan seminggu setelah ia keluar dari rumah sakit ia harus di rawat kembali karena kondisinya semakin drop.


Aku takut sekali akan terjadi apa apa dengan istriku.


Aku berdoa setiap hari agar Allah memberikan ya kekuatan untuk bertahan di masa kehamilan ini.


Aku menemaninya di rumah sakit sedangkan Gantari bersama Ibu mertuaku di rumah.


Kondisi istriku masih lemah, suaranya hampir tidak terdengar.


Setiap ia tertidur aku selalu mengecek apakah ia masih bernafas, karena situasinya sangat memprihatinkan.


Sudah hari ketiga kondisinya semakin sama. Ia masih terlihat lemas dan belum bisa aku ajak ngobrol lama.


Aku memintanya untuk bertahan dan jangan menyerah dengan keadaan ini.


Untungnya kondisi bayi kami tidak ada masalah, walaupun Ibunya sangat menderita tidak bisa makan.


Seminggu di rumah sakit kondisinya sudsh membaik. Aku sudah bisa mengajaknya mengobrol, makanan dan minuman sedikit demi sedikit sudah bisa masuk kedalam tubuhnya.


Semoga kondisinya makin membaik dan sudah bisa masuk makanan lagi.


Malam hari, ketika aku sedang tidur istriku membangunkan aku.


Katanya ia tidak bisa tidur lagi dan ingin mengobrol saja.


Tapi yang membuat aku terkejut adalah pertanyaannya.


Istriku bertanya padaku, apakah dia akan baik baik saja? Aku menjawab tentu saja dia akan


baik baik saja.


Mungkin karena selama hamil kondisinya seperti ini terus ia menjadi over thinking.


Dia bahkan bicara " Mas jika nanti pada saat persalinan dokter bertanya mau menyelamatkan anak atau ibu, siapa yang akan mas pilih? "


Aku langsung marah mendengar ucapan istriku.


Sambil mengusap air matanya iya berkata " Kalo itu terjadi tolong pilih anak kita yang di selamatkan ya mas "


Aku terdiam dan mencoba untuk memahami perasaan istriku. Mungkin ini merupakan cobaan dalam pernikahanku dan kami harus lebih bersabar menghadapi cobaan ini.

__ADS_1


__ADS_2