Selingkuhan ku adalah cinta pertama ku

Selingkuhan ku adalah cinta pertama ku
Masa lalu datang kembali


__ADS_3

Melihat istriku sudah bisa makan dengan lahap seolah tidak percaya jika seminggu yang lalu ia masih berbaring lemah di rumah sakit.


" Rasanya laper banget mas " Ujar istriku ketika aku menatapnya makan dengan takjub.


Perlahan kondisi kesehatan istriku semakin membaik.


Ia sudah bisa aktivitas seperti biasa dan sudah kembali ceria.


Di bulan kehamilan selanjutnya tidak ada masalah semuanya berjalan lancar.


Kemarin kami habis USG dan buah hati kami perempuan lagi.


Walaupun di lubuk hatiku, aku berharap kali ini akan mendapatkan anak laki laki tapi tidak apa yang penting bayiku sehat.


Kami mulai menyiapkan barang barang apa saja yang akan di bawa ke rumah sakit pada masa kehamilan.


Istriku yang memilih dan aku yang memasukan ke dalam tas, sedang kan Gantari sibuk membantu memilihkan baju adiknya.


Tidak seperti awal kehamilan dimana Gantari menjadi anak yang super manja, sekarang ia seperti sudah mengerti bahwa akan mempunyai adik.


Ketika sedang menyusun barang barang kedalam koper masuk pesan di layar ponselku.


Dari nomor yang belum aku simpan di phone book tapi aku seperti familiar dengan nomornya.


Isi pesannya hanya " Mas Galih "


Aku hanya membalas ya dengan tanda tanya, karena aku pikir karyawan counter menggunakan nomor baru jadi belum aku simpan nomornya.


Setelah itu aku melanjutkan menyusun kembali baju.


Aku dalam perjalan menuju rumah sakit bersama istri dan anakku.


Tadi setelah shalat subuh istriku sudah mulai kontraksi.


Di dalam mobil ia sudah meringis karena kontraksi.


" Mas cepet mas " setelah istriku mengucapkan itu, aku lihat ada air di sela kaki istriku, sepertinya ketuban istriku sudah pecah.


Setibanya di rumah sakit istriku langsung dibantu oleh perawat untuk dilakukan tindakan.


Persalinan kali ini aku tidak menemani istriku, karena aku harus menemani Gantari.


Saat aku sedang cemas menunggu kelahiran putriku, masuk pesan baru di ponselku.


" Ini aku Mas, aku bisa hubungi mas? "


Saat itu aku tidak membalas pesannya karena masih tegang dan cemas selama masa persalinan istriku.


Tidak lama kemudian terdengar suara tangis bayi yang aku yakini adalah tangisan anak perempuanku.


Dan benar saja ternyata benar anakku telah lahir dengan selamat, sehat dan lengkap.


Walaupun tadi sempat ada pecah ketuban tapi Alhamdulillah tidak ada masalah dalam persalinannya.

__ADS_1


Tidak lama istriku di pindahkan ke ruangan perawatan. Aku mengantar Gantari dulu untuk ketemu Mamanya setelah itu aku menuju ruang bayi untuk mengadzani putriku.


Putri kedua kami namakan Ghina Putri Permadi yang artinya perempuan kaya Putri dari Permadi.


Setelah mengadzani anakku, aku menuju ke ruang rawat. Sebelumnya aku mampir ke kantin rumah sakit untuk membeli makan dan snack untuk anakku.


Di kantin nomor itu mengirimkan pesan kembali " Mas tolong balas pesanku penting "


Karena ada kata kata penting dan aku takut ada masalah di usahaku, akhirnya aku menelepon nomor tersebut.


Tiga kali nada dering dan telpon pun diangkat " Hallo Mas "


Aku hapal sekali dengan suara perempuan diujung sana.


Perempuan yang pernah menghancurkan hidupku berkeping keping.


Perempuan yang tega berkhianat dan menikah dengan orang lain.


Perempuan yang hampir membuat nyawaku melayang karena percobaan bunuh diri.


Mendengar suaranya membuat semua masa lalu pahit yang sudah aku kubur bertahun tahun terbuka kembali.


Aku tidak tau harus merespon apa " Hallo Mas Galih " Ia memanggilku lagi karena tidak ada respon dariku.


Akhirnya aku menjawab " Iya ada apa ya? "


" Ini aku Giandra Mas, Mas Galih sedang sibuk? " Tanpa ia memperkenalkan diri aku sudah mengenali suaranya.


" Aku mau ketemu bisa Mas? "


" Buat apa? " Tanyaku heran, hampir enam tahun kami tidak bertemu, tidak pernah berkabar dan tiba tiba ia datang lagi di hidupku.


" Ada yang mau aku bicarain mas "


" Ngomong aja sekarang kenapa harus ketemu?"


Tidak ada jawaban dari Giandra.


" Please sekali aja mas, ada yang mau aku omongin penting "


" Ga bisa aku lagi sibuk, istriku melahirkan hari ini. Kalo ga ada yang mau di omingin lagi aku tutup ya telponnya.


Dan aku pun menutup telpon dari Giandra tanpa menunggu jawabannya.


Jangankan bertemu, berbicara melalui telpon saja aku tidak senang.


Setelah menutup telpon darinya aku menuju kamar perawatan istriku.


Istriku dan Gantari sedang mengobrol ketika aku datang.


" Maaf ya Papa lama, Gantari belum makan kan? Ayo makan dulu. Papa beli roti sama susu stroberi nih "


Gantari kesenangan melihat makanan kesukaannya.

__ADS_1


Hidupku sudah sempurna sekarang, istriku sehat, anak anakku sehat, kedua orang tua kami di kampung sehat, usahaku berjalan lancar, semuanya sudah sempurna.


Aku tidak perlu kehadiran Giandra di hidupku. Walaupun aku sedikit penasaran dengan hal penting yang ia bicarakan, tapi aku tidak mau mendengar apapun lagi tentangnya


Tidak lama keluarga kami datang. Ibu dan Bapak sangat gembira dengan kelahiran putri kedua kami.


Ibu ku dan ibu mertua ku bergantian menggendong Ghina.


Jika dilihat wajah Gina sangat mirip dengan istriku, beda dengan Ghantari yang seperti duplikat aku.


Tadi pada saat kuadzani, wajahnya tersenyum manis sekali.


Walau katanya bayi baru lahir belum memiliki penglihatan yang jelas, tapi Ghina seperti memandangiku dan tersenyum ketika aku datang, lucu sekali.


Dan seperti pada saat kelahiran Gantari, Ibu mertuaku pun akan menginap di rumah kami selama seminggu.


Tadinya Bapak mertua juga ingin ikut menginap, akan tetapi tidak jadi karena di kampung sedang musim panen.


Sore ini istri dan anakku sudah diperbolehkan pulang.


Kami sekeluarga menuju rumahku. Bapak dan Ibuku akan menginap hari ini dan pulang besok.


Aku senang karena rumah kami hari ini ramai sekali.


Bahkan adikku yang berkuliah menyempatkan untuk datang melihat keponakannya.


Suasana rumahku tambah hangat dan ramai. Gantari juga seperti senang ada banyak keluarga di rumah.


Aku lupa belum menurunkan tas dari bagasi. Baru mau membuka pintu mobil, Giandra meneleponku lagi.


Aku sengaja tidak angkat dan hanya mengambil tasku dan masuk kembali ke dalam rumah.


Setelah itu aku mandi dan ketika keluar kamar, istriku menghampiri aku dan memberikan ponseku


" Dari tadi ponsel mas bunyi terus, tapi ga ada namanya jadi ga aku angkat "


Istriku dan aku sama sama menghargai privacy masing masing.


Aku tidak pernah memegang ponselnya begitupun dengan istriku.


Tapi kalaupun istriku mau melihat ponselku sebenarnya aku tidak masalah.


Beberapa kali aku sengaja meninggalkan ponselku tergeletak, tapi Ia sama sekali tidak menyentuhnya.


Begitu percayanya istriku padaku, dan karena itu aku pun jadi tidak pernah memegang ponsel istriku dan percaya kepadanya seratus persen.


" Coba telpon lagi saja mas, takutnya penting "


Begitu aku cek ternyata nomor Giandra. Marah sekali rasanya, buat apa dia meneror ku seperti ini.


Memang dari dulu ia selalu mendapatkan apa yang ia mau dariku, tapi sekarang prioritasku bukan dia lagi.


Aku langsung memblock nomornya dan aku hapus semua pesan dan panggilan masuk darinya.

__ADS_1


__ADS_2