
" Pulangnya jangan malem malem ya Lih "
Pesan dari Ibu Gemani ketika aku menjemput Galuh di rumahnya.
Galuh memakai baju turtle neck warna coklat dengan celana senada.
Galuh ga memakai banyak aksesoris, rambutnya hanya di ikat, menggunakan sepatu kets dan tas warna coklat.
Pertama kali jalan dengan Galuh sudah bisa ku simpulkan Galuh adalan penyuka warna Coklat. Galuh-pun sangat wangi.
Begitu tadi aku masuk kedalam rumah Bu Gemani, wangi parfum Galuh sudah dapat aku hirup.
" Iya Bu, sebelum maghrib pasti udah pulang. Pamit ya Bu "
Setelah berpamitan kami langsung menuju pantai sarangan yang tidak jauh dari rumah kami.
Sepanjang aku bonceng dengan motor, Galuh tidak berpegangan atau memeluk ku. Dia benar benar bisa menjaga diri sebagai perempuan.
Sampai di pantai kami langsung menuju tempat makan di pinggir pantai.
Sambil makan kami mulai mengobrol mengenal pribadi masing masing.
Galuh seumuran dengan Giandra. Galuh juga anak yang riang, tapi lembut dalam bertutur kata.
Pasa saat makan dia membersihkan sendok dan garpu-ku dengan tisu, supaya bersih katanya.
Baru kali ini ada seseorang yang melakukan hal itu kepadaku.
Menuangkan teh panas yang ada di teko, walaupun baru kenal tapi Galuh seperti menjamuku.
Sepertinya yang di katakan Ibu benar, selain baik, Galuh juga memiliki kesopanan di atas rata rata wanita kebanyakan.
Setelah matahari tidak terlalu terik, aku ajak Galuh untuk menelusuri pantai.
Kami tidak bergandengan tapi tetap seru bertukar cerita.
Kami menceritakan banyak hal, dari mulai hal remeh sampai hot issue hari ini.
Wawasannya-pun luas, ketika aku membahas apapun Galuh bisa mengimbang ceritaku.
Kami mengambil foto di pantai sarangan dan kemudian bersiap pulang karena hari semakin sore.
Selama sebulan aku berada di rumah, hampir setiap hari aku main ke rumah Galuh.
__ADS_1
Pagi aku membantu Bapak di sawah dan sorenya biasanya mampir sebentar ke rumah Galuh.
" Lalu gimana nak, kapan mau minta Galuh ke Ibu Gemani? "
Ibu membuka obrolan pada saat kami makan malam.
" Aku belum nyatakan perasaanku pada Galuh Bu, masa langsung minta ke orang tuanya " Ku potong ayam goreng dengan sendok dan ku masukan ke dalam mulut.
" Ya nyatakan saja kalo begitu, biar cepet gitu mumpung kamu masih di sini "
" Iya Lih, nanti tinggal kamu bawa isti kamu pindah ke rumah mu "
Untuk tabungan menikah memang aku sudah ada, untuk rumah pun jika membeli rumah yang tidak terlalu besar rasanya tabunganku masih cukup.
" Udah jangan di tunda tunda, kalo kamu sudah pas ya cepat di halalkan "
Setelah pembicaraan dengan Ibu dan Bapak semalam.
Hari ini aku bertekad untuk menyatakan perasaan aku kepada Galuh.
" Luh, mas mau ngomong "
" Ngomong apa mas? "
Aku tunggu beberapa lama belum ada jawaban dari Galuh. Aku sudah mulai takut, aku takut kalo selama ini aku yang kesukaan sendiri sedangkan Galuh hanya menganggap aku teman saja.
" Mas yakin sudah move on dari masa lalu mas? Aku ga mau kalo ini hanya perasaan sesaat mas, atau ternyata aku hanya pelarian mas "
Sebetulnya aku juga sempat berfikir seperti itu, tapi beberapa kali aku shalat istikharah semua petunjuk mengarah ke Galuh.
" Aku yakin Luh, aku sudah shalat Istikharah dan semua petunjuk mengarah ke kamu " Dengan penuh keyakinan aku menatap Galuh.
" Aku juga suka sama Mas Galih " Jawab Galuh malu malu.
Setelah dari rumah Galuh aku langsung mengabarkan berita ini ke keluargaku.
Ibu dan Bapak luar biasa senang dan Ibu bersemangat sekali untuk langsung menentukan tanggal dengan Ibu Gemani.
Malam itu juga Ibu pergi ke rumah Ibu Gemani. Aku san Galuh ikut saja apa kata orang tua kami.
Keesokan harinya aku mengajak Galuh ke Kota Jogja. Kami mengunjungi beberapa perumahan yang dekat dengan tempat kerjaku.
Dari 4 lokasi yang kami kunjungi, Galuh tertarik dengan 1 rumah dengan 2 kamar bernuansa minimalis tapi memiliki pekarangan yang cukup luas.
__ADS_1
Aku langsung menjadwalkan akad pembelian rumah, agar bisa langsung kami isi.
Prosesnya sekita 7 hari, setelah kunci sudah kami terima, kami langsung membeli perabot rumah tangga.
Kami membeli kasur, sofa, kulkas, lemari, kompor, alat makan dan printilan lainnya.
Galuh cukup pintar dalam menawar dan memilih barang barang yang lebih murah dengan kualitas yang bagus.
Galuh meminta rumah dengan nuansa krem coklat dan aku turuti permintaanya, karena toh nanti Galuh yang akan lebih banyak di rumah.
Oh iya, Galuh adalah seorang penulis novel daring jadi pekerjaannya bisa Galuh lalukan dari rumah.
Bulan ini kami sibuk mempersiapkan pernikahan kami, semula aku mau pernikahan di selenggarakan di gedung saja karena lebih simple, tapi Galuh dan Ibu mau acara di langsungkan di rumah Galuh.
Semua pemilihan vendor aku serahkan sepenuhnya dengan Galuh.
Aku hanya menemaninya pada saat fitting baju pengantin, testing food, dan pada saat pembayaran.
Jika orang bilang pada saat merencanakan pernikahan biasanya akan ada cobaan kecil tapi hal itu tidak terjadi pada kami.
Semua berjalan mulus dan tidak ada hambatan sama sekali.
Entahlah apa mungkin karena aku menikahi tetanggaku sendiri jadi semua keluarga pun tidak ada yang keberatan akan apapun pilihan kami.
Hari pernikahan kami berlangsung hari ini. Tenda sudah di pasang dari semalam. Semua panitia dari subuh sudah berkumpul di rumahku.
Subuh sudah datang makeup artis untuk aku dan keluarga besarku.
Akad akan di langsungkan jam 8 pagi ini. Diantar oleh iring iringan keluarga besarku, aku menuju rumah Galuh yang sudah sangat indah dengan dekorasi cantik penuh bunga.
Setelah di terima oleh keluarga Galuh, aku langsung duduk di meja untuk ijab kabul.
Tidak lama Galuh datang dengan kebaya warna putih, dengan senyum manis di bibirnya dan diapit dengan kedua sahabatnya menghampiri aku yang sudah menunggu.
Galuh sangat cantik hari ini, dan kebaya yang Ia pakai menyempurnakan kecantikan Galuh.
Ku jabat tangan Bapaknya Galuh untuk memulai ijab kabul dan Alhamdulillah kami semua lancar dan aku sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Setelah ijab kabul selesai aku langsung memegang tangan Galuh yang ternyata dingin.
Prosesi selanjutnya seperti prosesi adat jawa pada umumnya.
Semua proses kami jalankan dengan banyak senyum dan tawa. Di tambah lagi ibu ibu yang hadir kebanyakan adalah tetangga kami jadi menambah keseruan acara pernikahan kami.
__ADS_1
Setelah prosesi selesai kami menerima tamu dengan bersalaman dsn berfoto dengan tamu tamu undangan sampai malam, dan itu sangat melelahkan.