
Seminggu ini aku tidak berkunjung ke rumah Giandra.
Jangan tanya reaksi Giandra seperti apa, dia membordir ku dengan puluhan pesan dan miss call.
Aku tetap teguh pada pendirianku untuk tidak bertemu dengannya.
Karena aku pasti imanku goyang kembali. Minggu selanjutnya mulai tidak ada pesan ataupun telpon dari Giandra.
Ku habiskan waktu bersama istri dan kedua putriku.
Kami jalan jalan ke mall, aku jadi sering mengajak keluargaku untuk makan di luar rumah.
Aku mulai beraktifitas seperti biasa dan pulang lebih cepat.
Istriku sampai heran karena sikapku berubah menjadi sangat manis " Kamu ga lagi minta anak ke tiga kan? " Candanya di suatu malam ketika aku memijit badanya.
" Engga sayang, aku cuma lagi merasa beruntung mempunyai istri seperti kamu dan anak anak yang sehat dan luar biasa seperti Gantari dan Ghina "
" Masya Allah suami aku sweet banget. Oiya mas kerjaan sama Koh Ahong udah selesai? "
Mendengar nama Koh Ahong mengingatkan aku dengan Giandra.
Karena Koh Ahong selalu aku jadikan alasan ketika aku sedang bermain gila dengan Giandra.
" Iya sudah selesai "
" Alhamdulillah kalo gitu, kamu jadi ga nginep nginep lagi. Aku kasihan kamu jadi kurang istirahat "
Bahkan pada saat selingkuh istriku menghawatirkan kesehatanku.
Tapi semua masa tenang itu hilang saar adikku mengirimkan foto aku sedang tanpa busana di kamar Giandra sedang tertidur.
Ya tanpa busana!
" Apa jadinya kalo wanita ini ngirim foto seperti ini ke Mba Galuh Mas? Aku sudah memperingatkan mu dia bukan wanita baik baik "
Bagai petir disiang bolong. Itu jelas fotoku walaupun aku tidak tau kapan Giandra mengambil foto itu.
Mengapa Ia melakukan hal itu, untuk apa mengirimkan foto telanjang ku kepada adikku.
Sekeras apapun aku berfikir tetap aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.
Istriku seperti tau kalo aku sedang ada pikiran, dia sempat bertanya beberapa kali aku kenapa.
Aku hanya menjawab tidak apa apa, dan aku tau istriku bisa merasakan jika aku berbohong.
Karena aku tidak bisa berkata yang sejujurnya dengan istriku.
Otakku seperti mau pecah, pada akhirnya aku menemui Giandra di rumahnya.
__ADS_1
Ada Gaffi juga di sana dan belum tidur sehingga aku tidak mungkin marah marah di depan Gaffi.
Giandra seperti tau apa yang mau aku bicarakan.
Terlihat jelas di wajahnya dia merasa menang akan kehadiranku.
Setelah Gaffi tidur, aku menanyakan mengapa dia melakukan hal itu.
Dia bilang karena aku tidak bisa di hubungi dan seperti lepas tanggung jawab.
Aku sudah jelaskan kepadanya jika aku tidak mau lagi berhubungan dengannya karena aku sadar yang kami lakukan selama ini adalah sebuah kesalahan.
Tapi aku tetap akan bertanggung jawab akan Gaffi karena dia adalah anakku.
Tapi Giandra merasa aku mempermainkannya.
Dia merasa aku hanya memanfaatkannya. Aku sudah meminta maaf pada Giandra dan memintanya untuk berhenti meneror aku dan adikku.
" Enak sekali hidup Mas, kemarin Mas anggap aku apa saat berhubungan denganku? Aku bukan wanita malam yang seenaknya Mas gunakan ketika Mas butuhkan "
Giandra mulai meninggikan intonasi suaranya, aku panik karena takut Gaffi terbangun.
Aku tidak mau Gaffi mengetahui apa yang sedang terjadi.
" Kecilkan suara kamu Gi "
Aku tau ini terasa tidak adil untuk Giandra. Aku memang brengsek karena berselingkuh dari istriku.
Ku acak acak rambutku karena tidak mendapatkan jalan tengah dari masalah kami.
" Aku ga pernah menganggap kamu sampah Gi, kamu tau itu. Aku begitu menghargai kamu. Aku menuruti apa yang kamu minta apa yang kamu mau "
" Bukan cuma materi yang aku dan Gaffi butuhkan Mas " Ujar Giandra tidak kalah sengit.
" Terus kamu maunya gimana? Aku harus apa buat bikin kamu tenang dan ga mikir kaya gitu? " Tanyaku pasrah.
" Aku mau kamu nikahin aku, aku bersedia kok jadi istri kedua kamu "
Terkejut aku mendengar kalimat yang keluar dari bibir Giandra dengan penuh keyakinan.
" Gila, kamu kan tau aku sudah punya istri Gi, ga mungkin aku menikahi kamu "
" Kenapa ga mungkin? Lalu apa maksud kamu dengan meniduri ku selama ini? "
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan GIandra. Bahkan aku tidak tau apa yang sebenarnya aku rasakan pada Giandra.
Aku pastikan itu bukan cinta. Karena cintaku seutuhnya milik istriku.
Tapi dari awal rasa kasihan itu tumbuh sampai akhirnya aku ingin melindungi Giandra.
__ADS_1
Tapi bodohnya aku karena membawa hubungan ini terlalu jauh dan menjadi intim.
" Apa di matamu aku serendah itu? Aku mencintai kamu dengan segenap perasaanku. Bahkan pada saat kamu meminta berhubungan aku melayani mu. Lalu apa yang kamu lakukan sekarang? Mau pergi begitu saja seolah selesai dengan membuang aku "
Semua perkataan Giandra seolah menusuk hatiku, tidak ada yang salah dari perkataanya.
Memang aku yang memulai untuk berhubungan, dia hanya mengikuti apa mauku.
" Aku harus gimana Gi, kepala aku seperti mau pecah " Ku pukul pukul kepalaku karena terasa seperti mau pecah.
Mencoba bicara dengan Giandra pun ternyata tidak berhasil.
" Mas coba cerita dengan istri mas tentang kita "
" Dia pasti akan hancur " Aku sudah membayangkan betapa hancur dan kecewanya istriku jika ia tau aku berselingkuh dengan Giandra.
Di matanya aku masih seorang suami yang baik dan Bapak yang bertanggung jawab.
" Ya Mas tinggal pilih mau jalan kaya apa, yang pasti aku ga mau kamu ngebuang aku kaya gini "
Ku tatap mata Giandra yang penuh dengan kemarahan.
Semua pengandaian muncul di dalam benakku. Andai aku tidak kasihan padanya, andai aku tidak mengajaknya berhubungan, andai aku bisa menjaga diriku untuk tetap setia kepada istriku.
Tapi semua ini sudah terjadi, aku hanya bisa menjalankan dan bertanggung jawab dengan apa yang aku perbuat.
Aku pulang dengan lemas. Tidak ada hasrat untuk melakukan apapun.
Sebelum aku pergi, Giandra menekankan untuk aku jangan kabur dari tanggung jawab.
Istriku menghampiri aku " Udah makan mas? "
Aku sampai lupa bahwa aku belum makan " Belum sayang "
Ia mengambilkan aku piring, menuangkan nasi dan menghangatkan lauk dan menyajikan sepiring makanan beserta teh hangat untuk aku makan.
" Mas makan dulu, masalahnya di pikirin besok lagi ya "
Dia menemani aku makan dan memandangku penuh cinta.
Sekuat tenaga aku menahan untuk tidak menangis.
Aku menyesali apa yang aku lakukan kepada istriku.
Sesudah makan ia mencucikan piring dan menyuruhku untuk mandi.
Sampai di kamar ia sudah menyiapkan baju untuk aku pakai tidur.
Saat istriku sudah tidur aku menangis dalam diam, sambil memeluk istriku erat abis berbisik " Maafkan aku istriku "
__ADS_1