
Sore hari ketika aku habis mengantarkan Giandra pualng ke kostan nya.
Sampai di counter aku baru menyadari jika charger handphone Giandra tertinggal di counter.
Aku berinisiatif untuk mengantarkan charger ke kostan Giandra tanpa menghubunginya terlebih dahulu.
Dari kejauhan aku melihat ada mobil putih berhenti di depan kontrakan Giandra, entah kenapa firasatku tidak enak.
Aku memilih untuk bersembunyi dan melihat dari jauh berharap bukan Giandra yang keluar dari kostan tapi orang lain.
Tapi harapan tinggal harapan karena yang keluar adalah Giandra dengan gaun putihnya.
Keluar seorang laki laki dengan rambut yang tertata rapih. Dia membuka kan pintu untuk Giandra dan Giandra tersenyum padanya.
Betapa hancur hatiku saat itu, tapi aku mencoba kuat dan bertekad untuk memergoki Giandra kali ini, agar dia tidak mengelak lagi.
Aku mengikuti mobil putih itu, tujuan mereka ke Obie Cafe di jalan pogung.
Giandra terlihat cantik dan ceria seperti biasanya. Dia menggandeng laki laki itu dari turun mobil sampai masuk ke dalam cafe.
Aku sengaja masuk kedalam cafe dan duduk di tempat yang agak jauh dari tempat mereka duduk tapi masih bisa melihat mereka.
Adegannya hanya seperti 2 orang yang sedang makan, tidak ada yang spesial kecuali cara Giandra melihat laki laki itu.
Rasa cemburu membakar hatiku kala itu, bahkan setelah minum segelas ice coffee latte tidak mampu membuat aku tenang.
Pemandangan yang selalu menghantuiku semenjak kejadian hari itu.
Selalu terbayang bayang jika aku sendiri yang akan melihat perselingkuhan itu langsung.
Setelah selesai dari Obbie mobil putih itupun melaju menuju ke Jl Pajajaran, tepatnya masuk ke Hotel Indoluxe.
Aku langsung memarkirkan motorku dan langsung duduk di lobby, karena aku tidak mau sampai ketinggalan jejak mereka.
Giandra dan laki laki itu masih memarkirkan mobil di basement dan tidak lama laki laki itu menuju resepsionis untuk check in dan langsung menuju lift.
Tidak lama terlihat Giandra masuk ke lobby dan langsung mengarak ke lift.
__ADS_1
Berbekal dari informasi yang aku dengar pada saat laki laki itu check in, aku mengetahui nomor kamar mereka di 502.
Tidak lama Giandra baik lift aku langsung menyusulnya, dan 10 menit kemudian aku mengetuk kamarnya.
Perlu tiga kali ketukan sampai akhirnya laki laki itu membuka pintu.
Aku tidak melewatkan kesempatan, ketika ia membuka pintu, aku langsung mendorong pintu tersebut.
Laki laki itu kaget dan marah kepadaku, aku tidak peduli dan langsung kearah tempat tidur. Di sana ada Giandra yang sudah dalam posisi tidur tapi masih mengenakan pakaian.
Betapa terkejutnya dia melihatku berada di hadapannya.
" Heh siapa lo ga sopan banget langsung nerobos ke kamar orang " Laki laki itu menghampiri aku dengan penuh kemarahan.
" Jawab pertanyaan dia Gi, aku siapa? " Dengan nada bergetar menahan marah aku menatap tajam Giandra yang hanya diam di sudut tempat tidur.
" Jawaaaabbbbb " Tidak bisa lagi aku menahan amarah yang sudah aku pendam dari beberapa jam yang lalu.
Perempuan yang aku jaga setengah mati, yang aku cukupi kebutuhannya, yang aku turuti semua kemauannya dan merupakan cinta pertamaku, sekarang ada di depanku bersiap untuk tidur bersama laki laki lain.
Melihat aku yang penuh amarah, laki laki itu sepertinya paham bahwa aku adalah pacar Giandra. Dia langsung menutup pintu kamar hotel.
Ya sudah seharusnya Giandra takut. Karena dengan situasi seperti ini, tidak mungkin lagi dia bisa mengelak seperti waktu itu. Situasi ini bahkan lebih dari sekedar bukti.
Laki laki itu hanya diam saja tanpa bicara apapun, hanya melihat kami bergantian.
" Dan dia siapa? Kenapa dia bisa berdua sama kamu di dalam kamar? " Aku sudah tidak bisa lagi menahan intonasi suaraku, jika kamar hotel ini tidak memiliki peredam suara, sudah do pastikan satu lorong ini dapat mendengar suaraku.
" Kamu ga usah bentak bentak begitu, aku bisa ngejelasin semuanya " Giandra tetap tidak mau kalah walau sudah di situasi seperti ini.
" Jelasin kalo begitu " Tantang ku dengan intonasi yang sudah menurun
" Aku kesini karena ada kerja kelompok, dia teman sekelas aku Mas "
Ingin tertawa rasanya mendengar penjelasan Giandra, seperti aku orang bodoh yang belum dewasa.
" Belajar kelompok? Di hotel? Kamu kalo mau bohong pinter sedikit "
__ADS_1
" Emang bener kok aku kerja kelompok, kenapa mas ga percaya? "
" Orang bodoh mana yang akan percaya Gi, gila ya kamu "
Giandra tidak membalas perkataanku.
" Aku kurang apa selama ini, semuanya sudah aku berikan kepadamu. Apa yang kamu minta pasti aku kasih. Semuanya untuk kamu. Tapi tetap saja kamu selingkuh seperti ini "
" Itu kan menurut mas. Memang mas mencukupi kebutuhan aku, terima kasih. Tapi dengan mas ga pernah mau menyentuhku, itu membuat aku ragu mas. Apa benar mas sayang sama aku? "
" Hal itu lagi yang kamu bicarakan, kan aku sudah memberikan alasanku "
" Ya karena hanya itu kekurangan mas. Aku selalu bertanya tanya dan berakhir dengan insecure. Gimana kalo aku sudah menghabiskan waktu bersama mas, ternyata mas tidak menyukai aku " Tangisan Giandra pun pecah.
Aku tidak mengerti mengapa berhubungan fisik selalu jadi alat ukur rasa cinta bagi seorang Giandra.
Karena aku tidak mau mengulang apa yang menjadi alasanku tidak menyentuhnya, aku memilih untuk pergi dari kamar itu.
Sebelum pergi aku hanya bilang pada Giandra bahwa hubungan kami sudah selesai.
Dan ketika menuju pintu aku melihat mata laki laki itu sebentar dan langsung membuka pintu.
Aku tidak marah dengan laki laki itu karena aku yakin ini semua adalah kehendak Giandra bukan kehendak laki laki itu.
Giandra tidak mengejarku yang berlalu pergi dari kamar itu. Aku tidak tau apakah mereka melanjutkan aktivitasnya kembali atau malah bertengkar.
Aku tidak peduli. Aku hanya ingin cepat sampai ke kontrakan ku dan menenangkan hatiku.
Berkali kali Giandra meneleponku tapi tidak aku angkat.
Giandra pun datang ke kontrakan, mengetuk pintu kamarku tapi tidak aku bukakan.
Aku mematikan lampu kamar dan handphoneku.
Dalam gelap hanya ada aku yang menangis lirih meratapi penghianatan Giandra.
Ketika kita sudah melakukan yang terbaik dalam sebuah hubungan, tapi ternyata tetap di perlakukan seperti ini. Sakit sekali rasanya, dadaku sampai berasa sesak.
__ADS_1
Mengapa cara aku yang mencoba menjaga perempuanku malah di jadikan kelemahan dan alasan untuk Giandra mengkhianati aku bahkan sampai mau berhubungan fisik dengan laki laki lain.
Aku hanya bersyukur hal ini terjadi disaat kami belum kejenjang yang lebih serius seperti pernikahan, jika kami sudah menikah dan Giandra selingkuh pasti aku akan gila.