
Teror dari Giandra tidak berhenti. Sekarang dia menghubungi aku menggunakan nomor berbeda beda.
Jika aku sudah block nomornya, dia akan mengganti nomornya dan menghubungi aku.
Awalnya aku masih santai saja menanggapi teror darinya sampai akhirnya ia meneror tidak mengenal waktu.
Bahkan pernah pada tengah malam atau menuju pagi ia menghubungi, sampai beberapa kali istriku bertanya siapa yang menghubungi aku larut malam begitu.
Sampai saat ini aku belum bercerita kepada istriku, karena saat ini istriku mengalami baby blues.
Ia menjadi lebih sensitif mudah menangis dan marah.
Bahkan di dua minggu pertama tidak mau menggendong putri kedua kami.
Aku konsultasi ke dokter dan dikatakan jika istriku sedang mengalami baby blues.
Sebagai suami aku di minta untuk lebih memperhatikan istriku, membantu pekerjaan rumah tangga, lebih sering berbicara hati ke hati dan membelikan makanan atau apapun yang sedang ia berikan.
Karena kondisi itu aku belum berbicara mengenai Giandra dengan istriku.
Sampai di suatu siang dikala aku habis menemani Gantari tidur siang, Giandra memberitahukan bahwa ia sedang di jogja.
Jika aku tidak mau bertemu dengannya dia akan nekat datang ke counterku.
Dimana semua karyawanku mengenal siapa Giandra dan dipastikan akan geran dengan kehadirannya.
Untuk menghindari konflik akhirnya aku bersedia menemuinya di malioboro malam ini.
Aku izin kepada istriku bahwa aku mau menemu Koh Aliong karena ada masalah dalam service handphone.
Istriku mengizinkanku untuk pergi, walaupun di dalam hati aku merasa bersalah harus membohongi istriku.
Aku menunggu di warung angkringan tempat langganan kami dulu semasa pacaran.
Setelah menunggu lima belas menit Giandra datang dengan sweater pink dan celana jeans.
Dia masih cantik seperti dulu tapi hal itu sudah tidak penting sekarang.
" Mau apa ketemu? " Tanyaku to the point.
" Aku boleh ya mesen makan dulu, laper banget mas " Giandra langsung beranjak pergi mengambil nasi dan lauk di angkringan.
Seperti biasa belum aku jawab ia sudah melakukannya. Tidak berubah masih egois seperti dulu, rutuk ku dalam hati.
__ADS_1
Sabar aku menunggunya makan walaupun sebenarnya gelisah, aku takut ada yang melihat kami berdua.
Setelah makan aku bertanya kembali " Udah selesai kan makannya, sekarang mau apa ketemu? Sampai harus neror aku begitu "
" Aku sudah cerai dengan suamiku Mas "
" Apa urusannya denganku? " Aku mengerutkan dahi mendengar perkataanya.
" Aku cerai dengan suamiku karena ia tau bahwa anak kami bukan anak kandungnya "
" Terus? " Masih belum terjawab pertanyaanku.
" Karena anak adalah anakmu mas "
Aku tertawa mendengar ucapan Giandra. Kebohongan apalagi yang sedang ia bicarakan.
" Aku udah ga kaya dulu Gi, cowok bego yang gampang di bohongin " Ku tatap Giandra dengan sinis.
" Aku tau respon kamu akan seperti itu. Karena kamu ga tau kenapa aku dulu menikah degan orang lain "
" Aku ga peduli dengan alasanmu, toh aku sudah bahagia sekarang dengan anak dan istriku yang sangat aku sayangi "
Giandra mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia menunjukan foto anak lagi laki berusia kurang lebih enam tahun.
Aku hanya melirik sekilas, ada sedikit kegoyahan di dalam hatiku apakah benar anak laki laki itu adalah anakku.
" Aku tau kalo Gaffi adalah anak kamu karena aku hanya melakukan itu dengan kamu dan terakhir waktu aku tugas ke jogja "
Aku memilih untuk diam dan mendengarkan ucapan Giandra.
" Setelah itu aku sempat testpack dan hasilnya positif. Tapi orang tuaku tidak setuju dengan kamu mas dan aku di jodohkan dengan anak teman mamaku yaitu mantan suamiku "
" Saat itu aku tidak bisa untuk jujur dengan kehamilan aku ke kamu ataupun ke keluargaku. Aku ga punya pilihan selain mengikuti kehendak Mamaku "
Memang walaupun Giandra tidak pernah cerita bahwa orang tuanya tidak suka dengan ku.
Tapi dari beberapa kali pertemuan aku cukup merasakan beberapa gesture Mamanya Giandra yang tidak menyukai aku.
Dari mulai jika aku hendak salim ke tangan beliau, beliau selalu menarik tangannya sebelum kami bersentuhan.
Dan beliau juga tidak pernah melihat mataku. Memang Giandra datang dari keluarga yang lumayan berada.
Ibunya adalah seorang dokter spesialis dan ayahnya adalah sorang pengusaha tambang.
__ADS_1
Perpaduan yang jika orang hanya melihat pekerjaannya sudah tau bahwa mereka kaya raya.
Sedangkan aku saat itu hanya seorang laki laki kampung, dianggap pengangguran karena tidak kerja kantoran dan hanya berbisnis counter pulsa.
" Maka itu, saat aku memutuskan kamu aku ga bisa menceritakan semuanya. Aku bingung mas ga ada yang tau cerita ini "
" Sampai akhirnya enam bulan yang lalu Gaffi jatuh dari sepeda, posisinya pada saat turunan dia tidak sempat mengerem dan jatuh bebas "
" Ia lumayan kehilangan banyak darah sampai akhirnya dokter menyarankan kami orang tuanya untuk mendonorkan darahnya "
" Di sanalah ia tau kalo golongan darahnya berbeda dengan Gaffi, dan ia langsung tau bahwa Gaffi adalah bukan anaknya "
" Kami di usir dari rumah dan beberapa minggu kemudian dia menceraikan aku "
Mendengar semua yang di katakan oleh Giandra membuat hatiku campur aduk.
Aku belum siap dengan semua yang Giandra bicarakan.
Bagaimana aku harus menjelaskan ini semua kepada istriku yang sedang super sensitif karena baby bluesnya.
Dan apa yang harus aku lakukan sekarang dengan informasi baru ini.
" Aku sebenarnya ga mau mengganggu kehidupan kamu yang sudah bahagia dengan keluarga kecil kamu. Tapi anak kita Gaffi juga butuh kasih sayang bapaknya "
Mendengar nama anak laki laki yang asing di hidupku dan tiba tiba mengetahui dia adalah anakku sungguh situasi yang sangat membingungkan.
" Terus kamu maunya aku gimana? "
" Aku cuma mau kamu memberikan perhatian kamu ke Gaffi. Aku sudah minta mutasi ke jogja dari kantorku. Mulai bulan depan aku sudah bekerja di jogja "
" Aku ga bisa ngasih tau hal ini kepada istriku. Ini pasti berat untuknya "
" Aku ga minta istri kamu harus tau tentang Gaffi. Aku hanya ingin kamu memberikan perhatian yang sama seperti ke anak anak kamu yang lain. Aku ga nuntut lebih "
Pulang dari malioboro kepalaku sangat pusing. Aku sampai meminum obat sakit kepala.
Ketika sampai istriku sudah tertidur. Melihat istri dan anakku tidur membuat aku menangis.
Aku menangis karena mereka akan kena dampak dengan kehadiran Gaffi di hidupku. Buah dari kenakalanku di masa lalu.
Tapi jika aku tidak mengakui Gaffi sebagai anakku, hal itu tidak adil baginya karena dia hanya seorang anak yang tidak minta dilahirkan dan tidak punya dosa.
Mungkin jika masa baby blues istriku sudah selesai aku akan menceritakan semuanya pada istriku.
__ADS_1
Aku harapan dia sapat mengerti dan menerima kehadiran Gaffi.