Selingkuhan ku adalah cinta pertama ku

Selingkuhan ku adalah cinta pertama ku
Kehilangan akal sehat


__ADS_3

Tanpa aku sadari sedari tadi ponselku berdering.


Aku sibuk bermain dokter dokteran dengan giandra.


Permainan siang itu begitu membara, kami melakukannya beronde ronde.


Mencoba beberapa gaya baru sehingga aku cukup sibuk dan tidak menyadari ponselku berdering.


Bahkan aku tidak menyadari jika ini sudah sore.


Setelah berhubungan beberapa kali, membuat kami lemas dan aku tertidur.


Aku bangun jam empat sore, Giandra sudah tidak ada di sebelahku mungkin sudah kembali lagi ke kantornya.


Aku ambil ponselku dan ada empat puluh dua misscall dari istriku.


Ada beberapa pesan juga yang Istriku kirim. Pertama memberitahukan Gantari semakin panas, pesan selanjutnya memberitahukan jika Gantari sempat kejang, pesan selanjutnya menanyakan aku dimana, dan pesan terakhir memberitahukan bahwa Gantari sudah di rumah sakit diantar oleh adikku.


Membaca semua pesan dari Istriku membuat pikiranku kacau.


Sepanjang perjalanan aku memikirkan kondisi putriku Gantari.


Aku takut terjadi sesuatu dengannya. Aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak menemaninya.


Membodoh bodohi diriku sendiri karena lebih memilih untuk bertemu Gantari daripada bersama dengan anakku.


Sesampainya di kamar rawat Gantari, sudah ada istriku dan adikku dengan wajah marahnya.


Aku langsung memeluk anakku yang sedang tertidur.


" Apa kata dokter sayang? "


" Tadi panasnya sampai empat puluh Mas, sama dokter sudah di berikan obat penurun panas lewat ***** dan dipasang infus. Sementara panasnya sudah turun tapi tetap harus di rawat karena panasnya masih naik turun "


Aku menciumi putriku, sambil menahan tangis dan menahan air mataku karena menyalahkan diriku sendiri.


" Mba Galuh mau makan apa? Biar aku ke kantin beli makanan "


" Ga usah dik biar Mba yang beli, kamu disini saja sama Mas mu. Aku beli makan dulu ya Mas "


Dan Galuhpun keluar dari kamar perawatan Gantari menuju kantin.


" Gimana kabar Koh Ahong, makin seksi ya Mas? " Adikku menyindir aku. Ia tau betul jika aku tidak bersama dengan Koh Ahong.


Aku tidak menjawab pertanyaannya.


" Sekarang bahkan kamu lebih memilih perempuan itu ketimbang anakmu sendiri "

__ADS_1


" Aku ga mau ngebahas itu. Bisa ga kamu bahas ini nanti! " Walaupun kata kata adikku benar tapi aku ga mau anak dan istriku mendengarnya.


" Kalo kamu ga berubah juga jangan salahin aku kalo aku akan bilang ke Ibu dan Bapak. Kalo kamu masih main gila juga aku akan bilang langsung ke Mba Galuh "


Aku langsung menatap mata adikku tajam. Punya hak apa dia melakukan itu padaku.


Anak kecil yang tidak tau apapun tentang pernikahan.


" Kenapa? Mas ga percaya aku bisa ngelakuin itu? Aku ga akan segan segan ngelakuin itu Mas. Aku udah ingetin Mas tapi Mas ga dengerin. Kalo terus begitu aku akan minta tolong sama Ibu dan Bapak yang sudah mengenal pernikahan "


Aku tidak bisa membalas semua kata kata yang keluar dari adikku.


Tidak lama kemudian Istriku datang membawa beberapa makanan.


" Di bawah cuma ada roti sama jajanan aja semuanya habis. Ga apa ya Dik? "


" Iya ga apa Mbak "


Istriku memberikan roti kepadaku dan adikku.


Setelah memakan roti adikku pergi meninggalkan kami, katanya sendang ada tugas.


Tinggallah kami bertiga di dalam kamar rawat yang berisi hanya satu orang.


Istriku tidak memarahi aku karena tidak bisa di hubungi. Ia bahkan tidak bertanya apapun kepadaku.


Sepertinya tanpa kehadiran aku di sana, Gantari tetap akan di rawat dengan baik.


Melihat pemandangan itu membuatku sedih. Sejak kapan istri dan anakku sudah tidak membutuhkan kehadiran aku.


Dulu jika anak anak sakit selalu aku yang menjaganya. Aku tidak beranjak sedikitpun jika anakku sakit.


Karena jika anak dan istriku sakit aku sudah over thinking, aku takut mereka kenapa napa.


Tapi apa yang kulakukan hari ini, aku tega meninggalkan Gantari yang sedang sakit demi untuk bersenang senang.


Sepanjang aku menjaga Gantari aku mematikan ponselku dan fokus hanya kepada Gantari.


" Sayang kamu pulang saja biar Gantari aku yang jaga, kasihan juga takut Ghina mau susu " Ujarku kepada istriku yang sudah aku lihat kelelahan.


" Kamu tapi ga ada acara kemana mana kan mas? Kalo kamu bisa nunggu Gantari dua puluh empat jam bersamanya aku baru tenang untuk pulang kerumah "


" Aku janji akan menjaganya sayang, biar kau pesen taksi online ya biar kamu bisa pulang "


" Aku pesen sendiri aja mas, nanti sampai rumah aku siapin perlengkapan kamu selama disini dan dikirim dengan ojek ya mas "


Tidak lama kemudian, istriku pulang meninggalkan aku dengan anakku Gantari.

__ADS_1


Melihat wajah kecilnya yang lemas membuat hatiku sakit. Pikiranku sudah kemana mana, aku takut sesuatu terjadi padanya.


Malam hari dokter visit ke kamar Gantari, mengatakan kondisinya sudah mulai stabil.


Tapi aku tetao di minta untuk menjaganya dan bersamanya selalu.


Gantari masih belun nafsu makan. Aku suapi makanan rumah sakit tapi Ia tidak berselera.


Aku tanya mau makan apa tapi dia tidak menjawab.


Walaupun hanya makan beberapa suap saja setidaknya ada makanan yabg masuk.


Menjelang malam ketika Gantari sudah tidur, aku menyalakan ponselku.


Ada beberapa pesan masuk dari Istriku, adikku dan Giandra.


" Mas Gimana kondisi Gantari? Masih panas ga? Mau makan ga mas? " Pesan itu dari Istriku.


Aku balas jika Panasnya sudah turun tapi belum mau makan.


" Inget kata kata ku ya mas, itu bukan gertakan sambel tapi benar akan aku lakuin kalo Mas ga berubah " Pesan ini dari Adikku yang masih marah denganku yang dianggap tidak mementingkan keluargaku dan lebih memilih Giandra dan Gaffi.


Terakhir beberapa pesan dari Giandra. Pertama menanyakan bagaimana permainan kami tadi, apakah memuaskan untukku.


Pesan kedua bertanya aku dimana dan mengapa ga ada kabar.


Pesan pesan selanjutnya berisi hal yang sama, yang menanyakan aku dimana karena ga ada kabar.


Mumet sekaki kepalaku. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.


Aku sangat menyayangi keluargaku, aku tidak akan meninggalkan mereka apapun yang terjadi.


Tapi aku juga tidak bisa melepas Giandra dan Anakku Gaffi.


Dengan Giandra aku seperti kembali ke masa mudaku yang penuh dengan gelora.


Kembali ke masa nakal kami ketika dulu berpacaran.


Sensasi perselingkuhan yang tidak bisa aku rasakan kecuali dengan Giandra, hal hal itu seperti membuat aku ketagihan.


Seberat apapun aku untuk menjauh dari Giandra aku pasti kembali padanya.


Tapi aku juga tidak mau orang tuaku san istriku tau mengenai Giandra.


Akhirnya aku putuskan untuk mengirimkan pesan kepada Giandra.


Aku bilang anakku sedang sakit, adikmu sudah tau tentang hubungan kami dan aku bilang aku tidak bisa berhubungan lagi dengannya.

__ADS_1


Aku hanya akan menemuinya jika hanya menyangkut tentang Gaffi.


__ADS_2