
Begitu aku membuka mata, istriku sudah tidak ada di kamar.
Tadi malam aku tidur di kamar pengantin tepatnya di kamar istriku Galuh.
Kamar ini sudah di dekorasi agar tampak indah. Mungkin harapan semua orang di malam pertama dapat memadu kasih. Tapi tidak dengan kami.
Berdiri menjamu tamu hampir dua belas membuat kami tepar.
Setelah acara kami mengobrol bersama keluarga besar kami.
Dan sekarang aku bangun tidur istriku sudah keluar kamar.
Setelah itu aku membantu istriku untuk mencopot baju dan riasannya dan setelah mandi kami berdua tidak punya energi dan langsung tidur.
Aku mendengar sayup sayup keluarga besar istriku sedang mengobrol di ruang tamu.
Begitu aku keluar habis di goda goda oleh mereka.
" Gimana semalem berhasil belah duren ga lih? " Pakde Dharsono mulai menggodaku.
Mendengar kata kata Pak Dharsono semua orang yang ada di ruangan tertawa.
Aku hanya tersenyum malu malu bingung harus menjawab apa.
Seharian ini kami mengobrol dengan keluarga besar kami karena sore ini akan langsung pulang ke kediamannya masing masing.
" Kalian nginep satu hari lagi saja di sini " Ujar Ibu mertuaku.
Besok aku san istriku akan pindah ke rumah baru kami.
Sebenarnya aku ingin lebih lama untuk tinggal disini, tapi istri teknisiku yang bekerja di counter melahirkan, sehingga ia meminta cuti beberapa hari.
" Nanti kami sering sering main ya Bu, karena Mas Galih ada kerjaan mendadak Bu "
Walau dengan berat hati Ibu dan Bapak mertuaku akhirnya mengikhlaskan kami untuk pulang ke Jogja.
Karena malam ini adalah malam terakhir kami di gunung kidul, istriku menghabiskan malam dengan mengobrol dengan Ibu dan Bapak mertuaku.
Aku berpamitan terlebih dahulu untuk masuk kedalam kamar karena sudah lumayan mengantuk. Dan benar saja tidak lama kemudian aku sudah tertidur. Dan hari kedua pun kami gagal berhubungan.
Pagi harinya Bapak dan Ibu sudah berada di rumah istriku dengan membawa mobil untuk mengantarkan kami ke kediaman baru kami.
Perjalanan dari gunung kidul sekitar empat puluh lima menit untuk sampai ke rumah kami.
Sepanjang perjalanan kedua orang tua kami seru mengobrol sedangkan aku sibuk menyetir.
Senang sekali melihat kedua keluarga hangat seperti ini, seperti tidak ada batas.
Dan mobil pun masuk kedalam komplek perumahan cluster.
Rumah kami tidak jauh dari gerbang masuk komplek.
Rumah mungil tipe 45 bercat krem dengan pagar kayu menjadi kediaman kami mulai hari ini.
__ADS_1
Keluarga kami pun menyukai rumah baru kami walaupun tidak sebesar rumah Ibu dan Bapak di gunung kidul.
Tidak lama mengantar kami, kedua orang kami pulang kembali ke gunung kidul.
Dan tinggalah kami berdua. Awal awal terasa canggung karena ini pertama kalinya kami hanya berdua di satu ruangan.
Karena bingung harus melakukan apa, akhirnya kami berdua memutuskan untuk membersihkan rumah.
Istriku menyapu dan aku mengepel. Istriku memasukan makanan yang di bekali oleh orang tua kami ke dalam kulkas, dan aku me lap meja dan pajangan yang mulai berdebu.
Setelah selesai merapihkan rumah kami memutuskan untuk makan di luar.
Kami pilih untuk makan angkringan di malioboro.
Selama kami makan kami banyak mengobrol hingga tidak terasa hari sudah larut. Sebelum pulang kami bergandengan tangan menyusuri jalan malioboro yang terasa lebih indah hari ini.
Hari ini sudah tidak selelah kemarin. Mungkin kami bisa program pembuatan anak malam ini pikirku.
Karena sebelum menikah, kami sepakat untuk tidak menunda momongan. Aku dan istriku sangat suka dengan anak kecil.
Dan amat penasaran seperti apa anak kami kelak.
Setelah menyusuri jalan malioboro kamipun langsung pulang ke rumah.
Semenjak menikah, istriku sudah memelukku ketika aku bonceng. Berbeda dengan saat kami berpacaran, istriku sama sekali tidak mau berpegangan denganku.
Sesampainya di rumah istriku mempersiapkan air panas untukku mandi.
Sebenarnya aku tidak biasa mandi dengan air hangat, biasanya semalam apapun aku mandi aku selalu menggunakan air biasa.
Aku baru mengetahui jika istriku lumayan lama juga mandinya. Sudah tiga puluh menit berlalu dan ia masih belum selesai sedangkan aku sudah mulai mengantuk.
Akhirnya istriku selesai mandi. Keluar dari kamar mandi, ia menggunakan baju lingerie tipis berwarna ungu.
Yang semula aku sudah mengantuk seketika langsung segar.
Dengan malu malu ia keluar dari kamar mandi. Menutupi bagian depan tubuhnya dengan handuk.
Aku tersenyum melihat pemandangan di depanku.
Dengan rasa canggung istriku mulai duduk di sebelahku.
" Mau kemana sayang? " Aku menggodanya yang sedang malu malu.
Galuh hendak berdiri untuk mengganti bajunya tapi aku tahan tangannya.
" Ga usah di ganti, aku suka kok " Dan Galuh kembali duduk.
" Masa suaminya dikasih punggung " Galuh membalikan badannya perlahan.
Dan nampak jelas lekuk badannya yang tidak menggunakan pakaian dalam.
Melihat pemandangan itu membuat aku tinggi dan hilang rasa kantukku. Aku mulai memeluk tubuh istriku, mencium pipinya dan ia hanya diam dan memejamkan mata.
__ADS_1
Melihat respon istriku, aku lanjut mencium bibirnya, di awal ia hanya diam saja dan lama lama baru mulai mengikuti apa yang aku lakukan.
Ku rebahkan badan nya di kasur, mulai kuangkat baju lingerie nya dan sekarang tidak ada satu helai benangpun di badan istriku.
Ia mencoba menutupi bagian dada dan bagian bawah tubuhnya, gemas sekali melihatnya.
Aku mulai menciumi semua badannya, memainkan dadanya dan meraba goanya yang ternyata sudah banjir.
Aku buka baju dan celanaku, istriku tampak malu melihatku yang sudah tidak berpakaian.
" Mau di matikan saja lampunya? " Tanyaku pada istriku.
" Iya mas "
Aku beranjak untuk mematikan lampu.
" Nyaman begini sayang? " Dan Galuh menjawab ia.
Aku melanjutkan aktivitasku yang sempat terhenti dan ketika pisang ambon mau memasuki goa tidak berhasil.
Aku sampai meraba takut takut salah lubang, tapi ternyata sudah benar.
Ku masukan sedikit sedikit " Sakit Mas "
Aku keluar kembali dari goa itu. Mungkin kurang pemanasan pikirku.
Aku pun melakukan pemanasan lagi, kali ini aku menggunakan lidah untuk pemanasan di goa.
Selama lidah aku bermain di goa, kaki Galuh menjempit kepalaku dan pinggulnya naik.
Setelah aku rasa goanya semakin banjir aku mencoba kembali untuk memasukan pisang ambon yang sudah berurat.
Beberapa saat aku hanya mengarahkan di luar goa atas dan bawah. Lama lama aku masukan sedikit demi sedikit dan Galuh bersuara seperti menahan sakit.
" Mau aku cabut lagi sayang? "
" Lanjut saja mas "
Aku lanjut memasukan lebih dalam dan sampai mentok. Tidak langsung aku gerakan aku diamkan dulu beberapa saat agar Galuh terbiasa.
Setelah beberapa lama aku baru mengerakan pelan pelan.
Selama pergerakan itu, tidak ada suara kesakitan dari Galuh lagi.
Karena ini pertama kalinya untuk Galuh, aku hanya menggunakan gaya misionaris.
Setelah beberapa saat aku bergerak, sepertinya Galuh sudah mulai terbiasa.
Aku mendengar mulai ada rintihan di bibirnya dan beberapa kali ia meremas tanganku.
Itu membuat aku lebih bersemangat dan merasa semakin tinggi.
Tidak beberapa lama Galuh seperti mengangkat pinggulnya dan iapun mencapai
__ADS_1
puncaknya.
Ketika Ia mencapai puncak aku merasakan pijaran di seluruh pisang ambon sehingga tidak beberapa lama aku pun mencapai puncak.