
Karena Giandra seperti tidak mendengarku, aku langsung membalikan badanku.
" Bercandanya ga lucu Gi " Aku menahan wajahnya dengan tanganku.
Diluar dugaanku Giandra menangis. Aku langsung memeluknya dan menenangkannya.
" Apa aku ga menarik di matamu mas? " Ujar Giandra masih dalam tangisnya.
" Aku justru ngejaga kamu Gi, kalo ngikutin nafsu saja gampang, api artinya aku ga bisa ngejaga kamu kan. Aku mau bisa ngejaga kamu sampe nanti kita menikah Gi "
" Tapi aku takut mas " Giandra masih menangis.
" Takut apa? " Tanyaku heran.
" Ya takutnya mas ga beneran sayang sama aku jadi ga mau menyentuhku "
" Kamu kok lucu sih, di jagain tapi kok malah mau aku nakal "
" Ya habis teman ku saja sampai bilang, jangan jangan mas ga mau menyentuhku karena mas ga suka perempuan "
" Maksudnya?" Tanyaku heran.
" Ya ga suka perempuan tapi hmm suka laki laki " Jawab Giandra ragu.
" Astaghfirullah, kok bisa kamu mikir begitu, memang dengan apa yang aku lakuin selama ini kamu ga ngerasa aku sayang? "
Tidak habis pikir rasanya kok asa orang yang berpikiran seperti itu. *** before married kan hal yang orang dahulu lakuin bahkan sampai sekarang, bahkan di agama pun anjurannya seperti itu.
Kok bisa berpikir sesuatu yang salah menjadi benar san suatu yang benar menjadi salah. Dan dengan apa yang aku lakukan kepada Giandra selama ini, kenapa dia masih tidak percaya dengan perasaanku.
Giandra tidak membalas perkataanku dia memilih diam dan akhirnya tertidur dalam pelukanku.
Untungnya walaupun semalam kami berselisih paham, paginya Giandra sudah seperti sediakala.
Kami tidak membahas kejadian semalam sama sekali, seperti menjaga mood masing masing.
Tidak terasa sudah 3 tahun aku dan Giandra berpacaran. Selama itu hubungan kami berjalan lancar dan baik baik saja, hanya perbedaan pendapat kecil yang alhamdulillah bisa kami selesaikan.
__ADS_1
Tapi ternyata hubungan aku dan Giandra hanya terlihat baik baik saja di luar tapi tidak di dalam.
Sore hari aku mendapatkan pesan dari karyawan di counter cabang yang sedang libur, kalau ia melihat Giandra nonton di bioskop bersama laki laki lain.
Awalnya aku masih berpikir tidak mungkin itu Giandra, karena dia sudah aku antarkan tadi siang untuk pulang ke kostan nya dan hari ini dia tidak ada jadwal kuliah lagi.
" Aku yakin banget itu mba Giandra mas, tadinya aku mau menyapa karena aku pikir mba Giandra lagi sama Mas Galih, tapi ga kekejar karena aku bersama ibuku jadi ga bisa jalan cepat "
Giandra juga tidak memberitahu apakah ada jadwal belajar kelompok hari ini. Tapi karyawanku sangat yakin bahwa itu adalah Giandra.
Aku masih berpikir positif lagi, dengan berpikir mungkin itu teman kampusnya dan dia tidak pergi berdua.
Namun menurut karyawanku, sampe mereka masuk bioskop mereka hanya berdua dan tidak ada teman lainnya di tambah lagi Giandra menggandeng tangan laki laki itu sepanjang jalan.
Sayangnya karyawanku tidak berani memfoto sehingga ia tidak memiliki barang bukti.
Aku coba mengirimkan pesan pada Giandra tapi centang 1. Aku coba telpon tidak aktif.
Pemikiran positif itu akhirnya berganti dengan kecurigaan. Selama kami kenal, tidak pernah. 1 hari pun Giandra tidak bisa di hubungi.
Kostan Giandra merupakan kostan khusus putri, jadi laki laki dilarang masuk. Dan aku tidak tau nomor telpon teman kost Giandra
Akhirnya aku kembali lagi ke counter. Memandangi layar handphone sampai jam 8 malam pesanku dari sore masih centang 1 dan Giandra masih tidak bisa di hubungi.
Dan sepanjang malam tidak ada satupun pesan dari Giandra, bahkan pesan yang ku kirim masih centang 1.
Malam hari ini pikiranku mencoba membuat beberapa kemungkinan. Kemungkinan jika memang Giandra mengaku bahwa itu adalah dirinya, lalu apa yang harus aku lakukan.
Apakah aku harus putus dengan Giandra? Atau aku harus memberikan kesempatan padanya.
Dan aku pun mulai mencari cari alasan kenapa Giandra sampai berselingkuh.
Apakah karena aku ada salah yang dia tidak ucapkan padaku? Atau laki laki itu lebih bisa memenuhi semua kebutuhan Giandra? Atau apakah laki laki itu lebih ganteng dari aku?
Semua kemungkinan itu berkecamuk di dalam kepalaku. Aku yang tidak pernah merokok, malam itu aku mencoba untuk merokok untuk penghilangkan penat di kepalaku.
Malam itu aku hanya merokok dan berharap Giandra membalas pesanku sampai akhirnya karena lelah aku ketiduran.
__ADS_1
Keesokan paginya ada pesan masuk dari Giandra yang bilang ia tertidur dari kemarin sore dan handphonenya mati.
Aku tidak langsung percaya pada Giandra begitu saja. Untuk anak sekarang yang sangat erat dengan penggunaan handphone, alasan yang Giandra sampaikan adalah tidak mungkin.
Pada saat bertemu aku langsung menanyakan kepadanya tentang karyawanku yang melihat dia dan laki laki lain di bioskop.
Dia terlihat kaget dan menatapku sesaat, namun dia mengelak dan tidak mau mengaku. Semakin aku mendesaknya Giandra semakin marah.
Kami bertengkar hebat saat itu, aku tetap dengan pendapatku dan Giandra tetap mengelak dan meminta bukti padaku.
Pertengkaran kami berhenti ketika aku sadar jika kami sama sama keras dengan pendapat masing masing tidak ada jalan keluar.
Akhirnya aku pergi meninggalkan Giandra yang masih terlihat kesal dan menuju counter.
Untuk mengalihkan pikiranku, aku langsung mengerjakan service handphone konsumen yang sudah masuk.
Kami tidak berkomunikasi beberapa hari, aku pun tidak melihat Giandra di area kampus ataupun di daerah kontrakan kami.
Berhari hari tidak ada kabar dari Giandra membuatku merasa kehilangan. Bagaimana tidak, setiap hari kami pasti ketemu.
Dari melek mata sampai mau tidur kami pasti saling mengirimkan pesan dan sesekali aku menelepon hanya untuk mendengar suaranya.
Apakah Giandra merasakan hal yang sama? Apakah Giandra juga merasa tersiksa dengan keadaan ini seperti yang aku rasakan? Apakah hubungan ini akan benar berakhir.
Berhari hari aku seperti orang yang tidak ada tujuan. Ini adalah patah hati pertamaku, dan rasanya sangat sakit hingga aku tidak bisa berpikir harus seperti apa.
Karena aku begitu tersiksa dengan keadaan ini, akhirnya aku memutuskan untuk mengalah dan menghubungi Giandra terlebih dahulu.
Aku menemuinya di kostan nya dan meminta maaf sudah mencurigainya dan tidak lupa membawakan makanan kesukaannya.
" Aku ga suka kamu curiga curiga gitu sama aku mas, masa sama pacar sendiri ga percaya "
Walaupun aku masih tidak percaya seratus persen dengan Giandra, tapi kali ini aku memilih mengalah karena aku begitu tersiksa dan akupun tidak memiliki bukti jika Giandra selingkuh
Hari selanjutnya berjalan seperti biasanya, Giandra sudah tidak pernah lagi tidak bisa di hubungi.
Dan berangsur aku sudah melupakan kejadian itu.
__ADS_1