Selingkuhan ku adalah cinta pertama ku

Selingkuhan ku adalah cinta pertama ku
Galuh


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit, orang tuaku meminta untuk aku beristirahat di kampungku, gunung kidul.


Karena aku masih merasakan efek samping seperti mual dan pusing sehingga keluargaku cemas akan keadaanku.


Aku menuruti keinginan Ibu untuk beristirahat dulu di rumah.


Selama aku di rumah sakit, keluargaku tidak pernah menanyakan mengapa aku melakukan hal bodoh itu.


Mereka hanya menemani aku setiap hari, membantu aku makan dan membantu aktivitas aku sehari hari. Bahkan sudah seminggu di rumah Ibu masih tidak menanyakan hal itu kepadaku.


Tapi aku merasa punya kewajiban menceritakan dan merasa bertanggung jawab dengan semua kekacauan ini.


Pada siang hari ketika aku dan Bapak sedang menggarap sawah.


Ibu datang membawakan makanan untuk makan siang.


Kami makan di saung tengah sawah. Ibu membuka rantang yang di bawanya.


Ibu memasak makanan kesukaanku. Ada garang asem, ikan asin, peyek kacang dan sambel.


Aku makan dengan lahap, karena masalah kemarin berat badanku turun drastis.


Bahkan mukaku sampai cekung, kasihan sekali.


" Enak nak? " Tanya Ibu yang terlihat takjub melihat aku yang lahap menyantap makanan yang Ibu bawa.


" Enak banget Bu, kesukaan aku semua " Aku mengambil peyek kacang dari dalam plastik.


Mungkin dalam beberapa tahun terakhir, ini adalah makanan terenak yang aku makan.


Selain moment langka bisa makan bersama kedua orang tuaku di saung tengah sawah, aku juga merasa bersyukur masih di berikan kesempatan untuk hidup.


Siang itu aku bercerita kepada kedua orang tuaku kenapa aku sampai bunuh diri.


Sebelumnya aku sudah pernah memperkenalkan Giandra pada Ibu dan Bapak.


Waktu itu aku mengajak Giandra langsung ke gunung kidul untuk bertemu kedua orangtuaku.


Sambutan Ibu dan Bapak kala itu cukup hangat.


Giandra begitu di sambut di keluarga kami, bahkan tidak henti hentinya Ibu memuji kecantikan Giandra.


Kami menghabiskan hari di kampungku, aku mengajak Giandra keliling sawah tempat Bapak bekerja, Giandra membantu Ibu masak dan adik adikku seperti berlomba mengobrol dengan Giandra.


" Aku putus dengan Giandra Bu "

__ADS_1


Ibu dan Bapak masih menatapku seolah menunggu kelanjutan kalimatku.


" Dia nikah sama orang lain di jakarta, aku baru tau dari temannya. Aku sangat hancur saat itu Bu " Kembali aku menangis mengingat moment itu.


Ibu memelukku untuk memberikan aku kekuatan.


" Yang sabar ya nak, jodoh memang rahasia Allah. Walaupun sudah lama berpacaran belum tentu berjodoh. Tapi ini pasti yang terbaik untuk hidupmu "


Aku masih menangis di pelukan Ibu. Ibu menepuk nepuk punggungku san rasanya begitu tenang.


Seolah rasa sakit yang aku rasakan kemarin berkurang karena pelukan Ibu.


" Sedih sewajarnya nak, setelah itu harus bisa melanjutkan hidup. Ga jodoh itu hal biasa, nanti kamu pasti akan mendapatkan jodohmu yang terbaik dari Allah "


Nasihat nasihat hari itu yang diberikan Allah Ibu dan Bapak memberikan aku kekuatan untuk terus melanjutkan hidup.


Sepertinya aku sudah cukup terpuruk dengan penghianatan Giandra dan sudah siap untuk melanjutkan hidup.


Aku menghapus semua kenanganku bersama Giandra. Semua foto yang kami ambil berdua, semua chat dan pesan pesan darinya, nomor telponnya dan semua sosial media aku hapus.


" Oh iya nak, Anaknya Bu Gemani juga sudsh lulus kuliah tahun ini. Mau Ibu kenali mumpung kamu masih disini "


Aku masih diam dan belum menjawab pertanyaan Ibu.


" Anaknya baik banget, murah senyum sama orang tua nurut, sama orang tua disini suka nyapa " Ibu makin semangat mempromosikan kebaikan anak Ibu Gemani.


" Boleh Bu, rumahnya yang dimana ? Nanti aku coba silaturahmi "


Ibu luar biasa sumringah mendengar aku yang mau berkenalan dengan anak Ibu Gemani.


Setelah itu aku mengetahui bahwa namanya adalah Galuh.


Rumah kami hanya beda 5 rumah, walaupun masa kecilku di Gunung Kidul tapi sedari kecil aku sudah sibuk mencari tambahan uang jajan, jadi aku tidak sadar ada seorang gadis di kampungku bernama Galuh.


Pagi itu dengan membawa sepiring garang asem buatan Ibu, aku pergi ke rumah Ibu Gemani untuk berkenalan dengan Galuh.


Pekarangan rumah Ibu Gemani sangat rapih, tidak ada 1 daun pun di atas tanah.


Ku ketuk pintunya dan di bukakan oleh seorang perempuan berparas ayu, cukup tinggi, berambut panjang, bertubuh langsing dan kulitnya sawo matang.


Ia bertanya dengan bahasa jawa " Cari siapa mas? " Tanyanya sopan.


" Mau ngasih garang asem untuk Bulik Gemani, saya Galih anak Ibu Gintarsih yang tinggal di sana " Aku menunjuk ke arah rumahku.


" Oh iya terima kasih Mas Galih, tapi Ibu lagi pergi nanti Galuh sampaikan garang asemnya "

__ADS_1


Aku memberikan garang asem dan Galuh menerimanya.


Karena Ibu Gemani tidak ada di rumah, aku pulang kembali ke rumahku.


Sampai di rumah Ibu langsung menghampiriku.


" Gimana nak? Sudah ketemu Galuh? Gimana anaknya? Ayu kan? "


Belum sempat aku duduk, Ibu langsung menanyakan beberapa pertanyaan padaku.


" Iya Ayu Bu " Jawabku singkat


" Terus gimana, kok cepat sekali bertamunya? "


" Di rumahnya sedang tidak ada orang, jadi aku ga masuk kedalam langsung pulang Bu"


" Oh gitu ya sudah ga apa apa, nanti sore Ibu ke rumah Bu Gemani. Tapi kamu cocok kan sama Galuh? "


Aku sampai tersenyum mendengar pertanyaan Ibu, baru saja berkenalan tapi Ibu bertanya seakan akan aku akan menikah besok.


Tapi tetap aku jawab " Kayanya sopan anaknya Bu "


" Iya memang sopan, disini terkenal Galuh itu baik dan sopan. Yowis, tinggal Ibu yang pergi ke Bu Gemani "


Rasanya ini salah satu moment aku melihat Ibu sangat bersemangat akan sesuatu.


Malam harinya ketika aku sedang duduk di halaman belakang, Ibu menghampiri aku.


" Ibu cariin dari tadi ternyata disini "


Dalam hati aku berfikir pasti ibu ingin menyampaikan hasil dari pertemuan dengan Ibu Gemani sore tadi.


" Tadi Ibu ke rumahnya Bu Gemani, Ibu sampaikan kalo kamu tertarik sama Galuh "


Aku langsung melirik sebagai bentuk tidak setuju.


" Iya maksudnya kalian penjajakan dulu, besok coba kamu sama Galuh jalan jalan ya. Ibu sudah izin sama Bu Gemani. Dia juga seneng buanget kamu seneng sama anaknya "


Ibu memberikan aku sepucuk kertas bertuliskan nomor telpon.


" Itu nomor Galuh, kamu hubungin malam ini ya ajak jalan jalan besok "


Setelah mengatakan itu, Ibu langsung masuk kedalam rumah.


Ku tatap kertas bertuliskan nomor telpon itu. Aku masih berpikir mendekati wanita di saat aku baru bangkit dari rasa sakit ku apakah suatu jalan yang benar.

__ADS_1


Tapi pada akhirnya aku tetap mengirimkan pesan pada Galuh, memperkenalkan diriku dan mengajak ia jalan besok siang.


Galuh pun menjawab bisa untuk menemani aku jalan jalan besok siang.


__ADS_2