Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 1


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 5 pagi Nana terbangun dari tidurnya. Dia terkejut saat matanya tidak melihat Jun di sampingnya. Seingatnya kemarin malam Jun menemaninya. Tapi sekarang Jun sudah tidak ada. Kemungkinan Jun sudah pulang saat dia tertidur.


Entah kenapa, melihat Jun tidak disampingnya malah membuatnya gelisah. Dia tidak tahu kenapa. Sebelum-sebelumnya dia tidak pernah merasa seperti itu saat Jun tidak ada disampingnya.


"Dia pasti sudah pulang."Nana masih merasa gelisah dan mengkhawatirkan keadaan Jun.


Nana bangun dari kasur. Sekuat tenaga dia bangun dan langsung memakai pakaian yang telah disiapkan Jun semalam. Nana melihat dari pantulan kaca, bagian dada dan lehernya masih nampak jejak kepemilikan Jun yang berwarna merah disana.


Senyum manisnya mulai terlihat tapi juga ada rasa malu muncul dari dirinya saat melihat tubuhnya yang masih memerah itu. Melihatnya malah membuat Nana terbayang-bayang dengan kejadian tadi malam bersama Jun. Ingin rasanya dia marah tapi disisi lain dia juga merasa senang. Dia bingung dengan perasaannya sekarang.


"Ada apa ini."dada Nana mulai terasa sesak dan tambah gelisah. Dia sendiri tidak tahu kenapa dan apa yang sedang terjadi hingga membuatnya seperti itu.


Merasa dirinya mulai aneh. Dia hanya bisa berdoa dan merubah pikirannya menjadi positive thingking. Tapi semakin kesini malah membuat dirinya terus kepikiran dengan Jun.


Sebelum keluar dari kamar, Nana telah memakai sweater tebal yang lumayan panjang hingga menutupi lehernya. Tentu itu menguntungkannya karena bisa menutupi jejak kepemilikan Jun tadi malam yang masih tertinggal dilehernya.


"Sudah bangun mbak?"tanya Bi Sumi melihat Nana keluar dari kamar.


"Ya bi."jawab Nana dengan lesu.


"Mbak Nana kenapa?"Bi Sumi menghampiri Nana yang sedang berjalan kearahnya. Raut wajah Nana seperti kurang tidur dan lesu.


"Saya nggak papa kok bi."jawab Nana dengan tidak semangat dan berjalan menuju meja makan.


"Tapi wajah mbak terlihat pucat. Apa mbak Nana sakit?"tanya Bi Sumi mendekati Nana yang sudah duduk di kursi meja makan.


"Masak bi."ucap Nana sambil mengambil selembar roti dan memakannya.


"Iya mbak. Kayaknya ada yang sedang dipikirkan gitu?"Bi Sumi terlihat khawatir.


"Bibi sok tahu deh."jawab Nana sambil tertawa tapi tawa palsu karena harus berbohong.


"Aku tidak mungkin mengakui kalau aku sedari tadi memikirkan keadaan dia."batin Nana sambil memakan roti.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan mbak Nana tengah memikirkan mas Jun?"Bi Sumi langsung keceplosan.


"Kok bi Sumi tahu sih."batin Nana sambil menunduk.


"Apa sih bi."Nana memerah pipinya.


Saat Nana sedang sarapan, diam-diam Bi Sumi mengirimkan pesan kepada Jun. Dia ingin memberinya kabar kalau Nana tengah mencemaskannya. Itu terlihat dari merah pipi Nana saat dianggap memikirkan Jun.


"Kenapa sampai sekarang aku terus memikirkannya. Sebenarnya aku ingin tahu keadaannya tapi tanya ke siapa."Nana mengunyah sambil membatin. Mataya melirik kearah Bi Sumi berharap bisa tanya kepada Bi Sumi. Tapi kayaknya tidakk mungkin juga Bi Sumi tahu keadaan Jun.


Setelah sarapan, Nana duduk di ruang tengah. Seperti biasa dia harus duduk diam diri di rumah. Orang mana yang mau jadi posisinya sekarang. Harus dikurung di rumah terus tanpa boleh keluar. Kalau bukan karena Jun dia tidak akan mau tinggal terus di rumah besar tapi sepi itu. Dia hanya ingin mementingkan nasib anaknya yang masih dan sangat membutuhkan belaian kasih sayang dari ayahnya yaitu Jun. Dia rela melupakan perasaannya yang sudah hampir gila karena harus dikurung di rumah terus.


Tanpa Nana sadari ternyata tepat pukul 5, Jun mengalami kecelakaan saat hendak pulang ke rumah orangtuanya. Nana telah mendapatkan firasat saat kejadian nahas itu menimpa Jun. Tapi Nana tidak tahu. Mungkin anaknya yang masih di dalam kandungan itu mampu merasakan ikatan bati antara anak dan ayah.


Di tempat yang berbeda Jun yang masih terbaring di kamar rawat sedang diperiksa dokter lagi. Dokter Boy yang memeriksanya. Keluarga Jun dan Alena menunggu di luar. Alena masih setia dan sabar menunggunya.


"Gimana dok?"Nyonya Diana dan Alena dengan cepat langsung beranjak dari kursi dan menghampiri dokter Boy.


"Keadaan pasien di dalam semakin membaik. Ini akan menjadi pertanda baik buat kesehatan pasien."ucap dokter Boy dengan ekspresi ikut senang.


"Boleh. Tapi jangan terlalu ramai di dalam."Dokter Boy mempersilahkan semua keluarga Jun masuk menjenguk keadaan Jun.


Akhirnya semua orang termasuk Alena masuk ke dalam kamar Jun. Doktere Boy ikut menemani mereka.


"Sayang."Nyonya Diana langsung memeluk Jun yang masih terbaring diatas kasur. Betapa khawatirnya dia terhadap kondisi Jun saat itu. Melihat Jun yang sudah sadarkan diri membuat Nyonya Diana dan Pak Slaim tersenyum lega. Meskipun ada beberapa luka menghiasi wajah tampan anak mereka.


"Maaf ibu siapa?"Jun menjauhkan tubuh Nyonya Diana yang tengah memeluknya karena khawatir sekali. Nyonya Diana langsung membelalakkan matanya.


Semua orang langsung kaget melihatnya. Begitupula dengan Alena juga nampak bingung kenapa Jun seperti itu.


"Maaf bapak ibu. Pasien sekarang tengah mengalami amnesia jadi lupa dengan memori dalam hidupnya."Dokter Boy menjelaskan kepada semua orang yang ada di dalam dengan pelan-pelan agar paham.


Akibat dari kecelakaan semalam membuat Jun harus kehilangan memori-memori yang pernah dia lewati dulu. Bahkan dia juga lupa nama-nama orang terdekatnya.

__ADS_1


"Kamu nggak tahu siapa mamahmu ini?"tanya Nyonya Diana sambil menunjuk dirinya sendiri. Orang yang telah melahirkannya dulu. Jun langsung menggeleng.


"Astaga papah."Nyonya Diana sangat sedih sekali dengan keadaan Jun sekarang. Kini Pak Salim hanya bisa menguatkan istrinya.


Jun terlihat bingung sekali saat melihat beberapa orang yang tidak dikenalnya terlihat mengelilinginya. Dia tidak mengenali semua.


"Sayang apa kamu ingat aku?"Alena mendekat kearah Jun.


"Kamu siapa? Sayang?"Jun dengan muka datar dan asing.


"Aku Alena. Tunangan kamu."Alena hampir meneteskan air mata saat tahu Jun juga tidak mengenalinya.


"Kamu juga tidak ingat sama papah nak?"Pak Salim menunjuk dirinya dan matanya melotot kearah Jun.


"Aduh sakit kepalaku."Jun berusaha mengingat dan mengenali orang-orang yang ada disekitarnya tapi malah membuat kepalanya sakit. Kedua tangannya memegang kepalanya yang sedang diperban.


Melihat pasiennya mulai kesakitan saat berusaha mengingat keluarganya, membuat Dokter Boy kasihan dan tidak tega membiarkannya.


Alena dibiarkan sendirian mendampingi Jun di dalam. Sedangkan orangtua Jun dan Lina keluar untuk membicarakan hal penting.


Alena dibiarkan sendirian mendampingi Jun di dalam. Sedangkan orangtua Jun dan Lina keluar untuk membicarakan hal penting.


"Sayang kamu memang sedang amnesia sekarang. Apakah kamu tidak mengenaliku juga?"Alena duduk di kursi dekat kasur Jun.


"Aku tidak kenal kamu. Kamu siapa?"Jun menggeleng dan giliran berbalik nanya.


Jujur hati Alena terasa sakit sekali melihat orang yang sangat dicintainya itu malah tidak mengenalinya. Hatinya seakan-akan hancur berkeping-keping. Buliran air mata mulai menggenangi mata beningnya.


"Aku Alena. Tunanganmu."Alena menggenggam tangan Jun.


"Maaf aku tidak kenal kamu."Jun menarik tangannya. Karena merasa tidak kenal jadi Jun tidak mau sembarang disentuh orang lain.


"Ok mungkin sekarang kamu tidak mengenaliku. Tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan mengenaliku karena aku adalah wanita yang akan menjadi pendamping hidupmu nanti. Lihatlah.

__ADS_1


"Alena menunjukkan sebuah cincin melingkar di jari manisnya. Jun masih tidak ingat dan apa pedulinya dengan cincin itu. Lagian dia tidak merasa cincin itu pemberiannya.


__ADS_2