
"Ya bi makasih."Nana membalikkan badan dan bangkit dari kasur empuk.
"Ini mbak."Bi Sumi mengambil lagi segelas susu yang baru diletakkanya tadi dan diberikan kepada Nana. Nana menerimanya dengan mata sembab.
"Makasih bi."Nana tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Bi Sumi baru kemudian meminumnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi mbak? Kalau boleh tahu, siapa laki-laki tadi?"tanya Bi Sumi sambil duduk dikasur Nana.
"Faris sudah cerita ya bi?"setelah meminumnya hingga habis, Nana meletakkan gelasnya di atas meja lagi.
"Ya mbak. Saya sama mas Faris penasaran siapa laki-laki tadi. Sepertinya itu laki-laki yang sama ketika kita ketemu di café dulu."tanya Bi sumi dengan ragu. Sebenarnya dia tidak mau ikut campur dengan masalah Nana. Tapi melihat Nana seperti itu membuatnya tidak tega kalau tidak membantunya.
Nana seketika diam saja dan menatap Bi Sumi dengan tatapan sendu. Ingin rasanya dia mulai terbuka dengan Bi Sumi mengenai masalah keluarganya yang sejak kecil yang berantakan itu. Tapi dia juga ada rasa malu bila menceritakannya.
Tidak seharusnya masalah keluarganya diumbar-umbar ke orang lain. Karena itu juga tidak baik. Biargimanapun itu masalah orangtuanya dan sudah menjadi bagian dari hidupnya.
"Mbak Nana tenang saja. Bibi nggak akan cerita sama siapa-siapa. Bibi hanya ingin tahu saja. Apa benar kalau bapak-bapak kemarin yang telah membuat Mbak Nana sedih itu adalah ayahnya mbak Nana?"tanya Bi Sumi sambil menggenggam tangan Nana untuk memberinya keyakinan bahwa Bi Sumi hanya ingin tahu saja dan tidak akan membocorkan ke siapa-siapa.
"Ya bi itu adalah ayahku. Hiks…hiks…"Nana langsung mengakuinya. Tangisannya lagi-lagi harus tumpah karena teringat dengan pernyataan ayahnya kemarin yang malah tidak mengakuinya sebagai anak.
Bi Sumi langsung membelalakkan matanya dan menutup mulutnya karena kaget sekali. Awalnya dia kira Nana salah orang. Secara laki-laki parubaya kemarin tidak terlalu mirip dengan Nana dan menolak mentah-mentah Nana
__ADS_1
Tapi melihat Nana seperti itu, Bi Sumi tidak yakin kalau Nana berbohong ataupun salah orang. Meskipun baru mengenal Nana tapi Bi Sumi telah menilai Nana adalah anak jujur dan baik. Jadi tidak mungkin kalau dia berusaha mengaku-ngaku sebagai anak orang kaya. Secara kalau dilihat kemarin, bapak yang dianggap Nana sebagai ayahnya itu terlihat seprti orang kaya.
"Beneran itu ayah mbak Nana?"tanya Bi Sumi sekali lagi. Nana langsung mengangguk sambil menangis.
Bi Sumi kemudian memeluk Nana dengan erat. Yang bisa dilakukan Bi Sumi sekarang adalah memberi kekuatan kepada Nana untuk bisa tegar dalam menghadapi semua ini.
Ketika dipeluk Bi Sumi, Nana seperti mendapatkan ketenangan dari seorang ibu. Meskipun Bi Sumi bukan ibu kandungnya. Nana menumpahkan semua perasaan sedihnya lewat menangis dipelukan Bi Sumi.
"Sejak kecil, saya tidak tahu gimana wajah ayah dan ibu saya bi. Saya hanya tahu lewat selembar foto yang disimpan bibi saya di kampung dulu. Tapi sayangnya foto itu tertinggal di rumah lama ku."Nana mulai sedikit tenang dan bisa bercerita kepada Bi Sumi.
"Memang sejak kecil mbak Nana nggak dirawat sama orangtuanya?"
"Dan sampai sebesar ini mereka nggak pulang untuk menemui mbak ?"Nana langsung menggelengkan kepalanya.
Mendengar cerita Nana itu membuat dada Bi Sumi terasa sesak. Dia juga ikut terbawa suasana sedih dengan apa yang dialami Nana. Betapa menyedihkan sekali kehidupan Nana ketika masih kecil. Sejak kecil harus hidup sendiri tanpa didampingi orangtua.
Nana sudah menutup luka lama yang sudah lama dia pendamnya sendirian. Ketika menceritakan masa lalunya yang harus hidup bersama bibinya saja tidak membuatnya merasa sedih lagi. Sekarang dia sudah tegar beda dengan dulu.
"Dan mbak Nana sudah tahu kalau ayah mbak sudah punya keluarga lagi?"tanya Bi Sumi.
Setelah kejadian tadi, telah menyadarkan Nana kalau ayahnya sekarang telah memiliki keluarga baru. Bahkan keluarga barunya itu dia sangat kenal. Dimana Alena ternyata anak ayahnya tapi dengan wanita selain mamahnya. Itu berarti Alena dan dirinya adalah saudara.
__ADS_1
Dia tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi ketika Alena tahu bahwa mereka berdua adalah saudara. Yang membuatnya kepikiran terus itu, Alena adalah kekasih dan wanita yang sangat dicinta Jun. Pasti Alena akan kecewa sekali bila tahu Jun akan menjadi ayah dari anak yang sedang dikandungnya itu.
"Tadi aku ingin bertanya sama dia, dimana Jun sekarang. Tapi aku takut. Nanti rahasia ini bisa terbongkar."batin Nana dalam hati sambil menngingat pertemuannya bersama keluarga ayahnya yang disana juga ada Alena.
"Dan bibi tahu ternyata aku kenal sekali sama anaknya ayah itu."Nana mulai terlihat murung.
"Kenal mbak? Memang siapa anaknya mbak?"Bi Sumi terkejut ketika tahu kalau Nana ternyata sudah mengenal anak dari ayahnya itu.
"Anaknya namanya Alena bi. Dan bibi tahu, Alena adalah wanita yang sekarang menjadi kekasih Jun. Mereka berdua saling mencintai."Nana mengangkat wajahnya dan melihat kearah Bi Sumi. Bi sumi langsung membelalakkan matanya.
"Apa mbak? Kekasih mas Jun?"Bi Sumi menggeleng-gelengkan kepalanya. Rasanya yang baru didengar Bi Sumi itu adalah mimpi.
"Berarti kalau begitu Mbak Nana sama mbak Alena suadaraan? Astaga. Dan Mas Jun telah…."Bi Sumi menatap langit-langit kamar Nana karena tidak menyangka dengan apa yang terjadi sekarang. Nana sama seperti Bi Sumi masih tidak menyangka kalau dia adalah saudara Alena.
"Oh ya bi. Tolong jangan cerita masalah Alena ke siapa-siapa ya. Cukup bibi sama saya aja yang tahu."pesan Nana kepada Bi Sumi. Bi Sumi langsung mengangguk.
Akhirnya Nana menceritakan semua masalah keluarganya beserta sosok Alena juga. Saetelah menceritakan semuanya, Nana merasa sedikit lega. Seperti ada sebagaian beban hidupnya telah pergi. Walau dia tahu itu hanya sementara saja. Tapi setidaknya dia merasa senang karena punya teman curhat seperti Bi Sumi.
"Papah ada hubungan apa sama dia?"tanya Alena dengan tatapan mulai panik.
Gimana Alena tidak panik. Ini sudah dua kalinya dia melihat Nana memanggil ayahnya dengan sebutan ayah. Pikirannya mulai berpikiran yang tidak-tidak mengenai ayahnya. Tidak mungkin kejadian kemarin harus terulang lagi kalau memang itu bukan kenyataan. Sempat dirinya dan ayahnya bertemu dengan Nana di pasar. Nana memanggil ayahnya dengan panggilan ayah juga.
__ADS_1