Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 15


__ADS_3

Nana menoleh kearah Faris. Sebelum menyetir mobil, Faris menyempatkan untuk memakai kacamata dulu. Melihat kacamata Faris itu mengingatkannya dengan sosok Jun saat semobil dengannya dulu.


Faris merasa senang sekali bisa mengantar Nana pergi. Meskipun harus ke rumah sakit untuk periksa kandungan Nana. sejak Nana bilang kalau dirinya tidak mau membahas masalahnya, Faris tidak pernah lagi ikut campur atau berusaha untuk mencari tahu masalah yang tengah dihadapi Nana. Baginya sekarang sudah cukup, bisa dekat lagi dengan Nana.


"Arin."


"Hmmm."Nana menoleh kearah Faris tapi tatapan Faris masih kedepan.


"Maaf kalau boleh tahu, selama aku ke rumahmu, laki-laki itu tidak pernah terlihat lagi. Apa dia telah meninggalkanmu dan kamu berbohong kalau dia sedang bekerja? tanya Faris sedikit takut kalau Nana tersinggung.


"Aku tahu kalau sejak kemarin kamu penasaran sama itu."Nana mengalihkan pandanganya ke depan.


"Kamu kan udah tahu aku. kita sudah sahabatan dan saling terbuka sejak SMP. Dan aku tidak pernah membocorkannya." Faris mengurangi laju mobilnya agar lebih santai ngobrolnya.


Faris adalah teman laki-laki satu-satunya yang selalu diajak cerita bareng ketika masih duduk di bangku SMP. Semua masalah yang pernah dihadapinya dulu pasti selalu diceritakan ke Faris. Begitupula sebaliknya ketika Faris ada masalah pasti selalu terbuka dengan Nana. Mereka berdua saling memberikan solusi atas permasalahan mereka masing-masing. Selain itu mereka juga ada satu teman lagi yang bernama Fina. Tapi sekarang Fina sudah hilang kabar.


"Ya aku tahu kalau kamu bisa menjaga rahasia. Tapi aku nggak mau melibatkan kamu ke dalam masalahku. Nanti kamu bisa…."Nana tiba-tiba terdiam dan tidak melanjutkan bicaranya.


"Bisa apa…berurusan dengan laki-laki itu maksudmu?'tanya Faris sudah menduga kalau yang dimaksud Nana adalah itu. Nana mengangguk.


Nana sudah paham dengan watak Jun. Dia akan melakukan segala cara untuk menutupi rahasianya. Dia takut kalau Jun melakukan sesuatu yang membahayakan Faris setelah tahu mengenai permasalahannya.


Tiba-tiba Faris menghentikan laju mobilnya dan memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan.

__ADS_1


"Kamu nggak usah khawatir. Aku nggak tega lihat kamu berjuang sendirian kayak begini. Kita sudah sahabtan sejak SMP, mana mungkin aku membiarkanmu menghadapi masalah sendirian kayak begini."Nana menghadap Nana yang masih diam saja sambil menatap kedepan.


"Gimana ya Ris. Aku bingung harus memulai dari mana."Nana menoleh kearah Faris. Mereka berdua saling adu tatap dengan jarak lumayan dekat.


Antara bingung dan takut mulai menjalari diri Nana. Bingung apakah dia harus bercerita ke Faris atau tidak. Secara ketika SMP dulu dia sangat terbuka dengan Faris. Jadi kalau sekarang dia tertutup, takutnya Faris beranggapan yang tidak-tidak padanya.


Disisi lain dirinya juga takut kalau Faris nanti terlibat dalam masalahnya yang bisa saja berurusan dengan Jun.


"Laki-laki itu namanya Jun, Ris."Nana memberanikan untuk bercerita dengan mengenalkan siapa identitas laki-laki itu.


"Jadi namanya Jun."Nana mengangguk. Faris baru tahu.


"Dia sudah janji kalau dia akan bertanggung jawab. Tapi sekarang tiba-tiba dia menghilang begitu saja. Dan aku juga nggak tahu dia dimana sekarang."Nana ingin menangis. Sayangnya matanya sudah kehabisan air mata karena dari kemarin dia telah kebanyakan menangis.


"Dia menghilang begitu saja tanpa memberimu kabar apalagi menanyakan kabar anaknya ini?"Faris menunjuk kearah perut Nana yang tidak lain adalah buah hati hasil perbuatan Jun dan Nana dulu.


"Tapi anehnya, kemarin Bi Sumi melihat Jun. Yang membuat aneh, Jun tidak mengenali Bi Sumi. Seperti tidak pernah kenal gitu."imbuh Nana menceritakan apa yang dilihat Bi Sumi kemarin kepada Faris.


"Bi Sumi yang sama kamu kemarin itu?"


"Ya. Bi Sumi itu sudah cukup lama bekerja dengannya. Masak bisa lupa begitu saja. Kayak ada sesuatu yang terjadi deh."Nana menggerak-gerakkan jari telunjuknya.


Faris kini malah ikut merasa penasaran. Seharusnya Jun bertanggung jawab untuk mendampingi Nana selama hamil ini malah menghilang dan tahu-tahu membuat berita yang menurutnya konyol untuk terjadi.

__ADS_1


"Aku ingin sekali mendampinginya di masa-masa sulitnya sekarang."Faris mengamati Nana yang sudah terlihat tegar tidak seperti kemarin.


Terlintas dipikiran Faris saat itu hendak bertanggung jawab pada Nana. Tapi jelas itu tidak mungkin. Diusianya sekarang yang masih muda dan belum memiliki apa-apa atau belum bekerja tentu itu tidak bisa membuatnya untuk bertanggung jawab pada Nana. Ditambah lagi restu orangtuanya. Pasti kedua orangtuanya tidak akan merestuinya secara Nana telah hamil dengan laki-laki lain.


"Maafin aku. Aku nggak bisa bantu apa-apa."Faris terlihat bersalah.


"Kenapa minta maaf? Harusnya aku yang minta maaf karena ceritaku ini pasti membuatmu terbebani."Nana paham dengan watak Faris. Setiap ada masalah Faris selalu mencari dan memberinya solusi.


Akhirnya Faris menancap gas mobilnya lagi menuju ke rumah sakit. Untuk sementara dia harus menghantarkan Nana check up dulu. Kalau bukan dirinya terus siapa lagi. Jun saja sampai sekarang belum pulang. Selama perjalanan Faris merasa kekecewaan yang begitu besar sekali. Sampai sekarang dia masih menaruh hati pada Nana. Tapi sekarang perasaannya harus remuk seketika setelah tahu wanita yang sedari dulu dicintainya telah hamil dengan laki-laki lain. Tapi itu semua bukan salah Nana melainkan Jun.


Tidak seperti biasanya, kali ini Faris mengajak Nana pergi jalan-jalan berdua. Beberapa hari terkahir Faris memang selalu main ke rumah untuk menemani dan menghibur Nana agar tidak sendirian.


Nana sudah menolaknya tapi Faris tetap memaksanya. Sejak SMP Faris itu kalau sudah punya keinginan pasti apapun dia akan lakukan. Jadi melihat Faris yang terus mengajaknya pergi jadi dengan terpaksa Nana menurutinya.


"Kita mau kemana sih Ris?"Nana sudah duduk manis di dalam mobil Faris.


Kebetulan hari ini Faris tidak ada kuliah jadi dia bebas mau melakukan apa. Faris ingin menghibur dirinya dengan jalan-jalan tapi sambil ditemani Nana.


"Kita akan jalan-jalan pastinya."ucap Faris sambil nyengir bahagia kearah Nana.


"Ya jalan-jalan kemana?"Nana menatap Faris dengan dahi mengkerut.


"Udah ikut aja. Aku jamin kamu pasti senang."jawab Faris mulai menyetir mobilnya.

__ADS_1


Nana hanya bisa nurut saja, entah dirinya hendak dibawa kemana. Mobil Faris mulai melaju menjauhi rumahnya. Mata Nana terhibur dengan situasi ramainya jalanan yang sudah sesak dengan beberapa kendaraan.


"Pokoknya hari ini kita lupakan masalah kita dan nikmati perjalanan ini. Termasuk kamu, semua masalahmu lupakan saja.


__ADS_2