
Awal amnesia, Jun melihat Alena memang dibuat terpesona dengan kecantikan paras wajah Alena. Hidung mancung dan matanya sedikit sipit menambah kekhasan wajah cantik Alena.
Air mata Alena jatuh tepat setelah tangan Jun tidak mau digenggamnya. Remuk sudah hatinya sekarang. Ini bagaikan mimpi buruk baginya. Baru saja kemarin dia mengecap moment romantis makan malam bersama dengan keluarga Jun. Tapi sekarang malah dia harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa Jun amnesia dan lupa dengan ingatannya.
"Saya mau membicarakan mengenai anak-anak kita."Pak Salim dan istrinya serta Lina berdiri di luar ruangan Jun.
Nyonya Diana dan Pak Salim sekarang sudah sedikit membaik, meskipun masih ada rasa sedih di hati mereka tapi setelah dijelaskan Dokter Boy tadi membuat mereka ikhlas dengan apa yang terjadi pada Jun. Yang terpenting sekarang Jun sudah siuman dari kecelakaan itu. Tidak bisa dibayangkan kalau Jun tidak selamat. Sekarang pihak kepolisian sedang menangani kasus kecelakaan yang melibatkan anaknya itu.
"Papah mau bahas apa?"Nyonya Diana melihat suaminya tengah memikirkan sesuatu yang penting. Terlihat dari dahi suaminya yang mengkerut.
"Ya. Kayaknya ada hal serius yang mau bapak bicarakan."Lina tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Pak Salim.
"Seperti yang telah kita ketahui kalau anak-anak kita telah menjalin hubungan yang dekat sekali. Demi kebaikan Jun, sebaiknya kita jangan bahas mengenai rencana pernikahan anak-anak kita. Karena sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas lebih jauh segala persiapan pernikahan anak kita."Pak Salim menjelaskan dengan hati-hati agar Lina tidak salah paham. Seperti yang telah diketahui kalau Alena sangat mencintai Jun.
"Kenapa gitu?"Lina bingung dengan maksud Pak Salim. Nyonya Diana juga.
"Jun tidak ingat semua yang telah terjadi padanya, pasti dia juga akan lupa dengan rencananya untuk menikahi Alena. Kalau kita mengungkitnya pasti Jun akan kebingungan dan takutnya kejadian seperti tadi bisa terjadi. Jun kesakitan kala harus mengingat kejadian yang pernah dilwatinya."Nyonya Diana dan Lina paham dengan maksud Pak Salim itu. Apa yang dibilang Pak Salim itu ada benarnya.
"Nanti ada waktunya Jun akan mengingat semua termasuk rencana pernikahannya dengan Alena.."kata Pak Salim.
"Ya betul juga pah. Nanti anak kita malah kesakitan terus kalau kita suruh mengingatnya. Dengan berjalannya waktu dia akan kembali ingatannya."Nyonya Diana sepedapat dengan suaminya.
"Ya saya setuju. Ya sudah nanti saya akan ngasih tahu Alena mengenai ini."jawab Lina sambil mengangguk.
__ADS_1
Tidak terasa, sudah seminggu ini Jun tidak datang ke rumah lagi. tanpa disadari Jun, Nana telah menunggunya sejak kemarin. Tapi sampai sekarang belum datang juga. Andai saja dia punya handpone pasti dia bisa menelepon Jun. Itupun kalau dia berani.
Memang sejak Jun pulang itu, Nana merasa ada yang aneh padanya. Dia terus memikirkan keadaan Jun tanpa henti. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada ayah dari anaknya itu.
Bi Sumi juga merasa heran. Tidak biasanya Jun hilang tanpa kabar seperti ini. Kalau tidak datang ke rumah pasti majikannya itu akan bertanya-tanya mengenai keadaan rumah. Tapi sekarang ini malah tidak sama sekali.
"Kenapa dia sampai sekarang tidak pulang."Nana menatap keluar jendela. Kebetulan kaca jendela kamarnya langsung menghadap pagar depan rumah Jun. Dia sangat berharap pintu pagar terbuka karena Jun datang.
Tidak sadar kalau dia telah memandangi luar jendela cukup lama. Hingga lupa sarapan. Padahal Bi Sumi telah menyiapkan sarapan untuknya.
"Kamu pasti kangen sekali dengan ayahmu ya nak."Nana berbicara sendiri dan berkomunikasi dengan anaknya yang masih dalam kandungannya itu.
"Permisi mbak."Bi Sumi mengetuk pintu kamar Jun yang sekarang telah ditempati Nana.
"Ini sudah jam 10 lho mbak. Mbak Nana nggak sarapan?"Bi Sumi menghampiri Nana untuk mengingatkan sarapan.
"Pasti mbak Nana sedang menunggu mas Jun."Bi Sumi tahu perasaan Nana saat ini sering melamun menghadap jendela. Pasti sedang menunggu kepulangan Jun.
Meskipun sekarang Nana belum memiliki perasaan pada Jun tapi dia juga tidak bisa memungkiri naluri anaknya yang masih di dalam perutnya. Pasti anaknya sangat rindu sekali dengan ayahnya. Itulah yang bisa dia rasakan sekarang.
"Mbak pasti sedang menunggu mas Jun ya?"Bi Sumi ikut menatap kaca jendela kamar yang langsung menghadap pagar. Terlihat pagar masih rapat dan tertutup itu pertanda tidak ada tamu yang masuk. Tamu yang dimaksud itu tidak lain adalah Jun.
"Nggak lah bi. Sa…saya hanya bosan aja."jawab Nana dengan tergagap. Dia malu mengakui kalau dirinya tengah menunggu Jun.
__ADS_1
"Nggak usah bohong mbak. Bibi tahu kok."Bi Sumi yakin kalau Nana sedang berbohong. Nana masih malu mengakuinya.
"Apaan sih bi. Ngapain saya menunggu dia pulang."Nana pergi dan meninggalkan Bi Sumi sendirian di kamar.
"Ayo kita sarapan bi."ajak Nana sambil berjalan keluar kamar dan memgalihkan topik pembicaraan mereka. Bi Sumi langsung membututinya.
Jam menunjukkan pukul 10.30 Nana sedang sarapan sendirian di meja makan. Entah kenapa melihat beberapa makanan telah tersaji diatas meja makan malah membuatnya tidak berselera makan. Kali ini dia tidak ingin makan. Dia terus menatap semua makanan dengan tatapan kosong tanpa ingin menyantapnya.
"Kenapa mbak Nana nggak makan?"Bi Sumi datang saat Nana tengah melamun.
"Nggak enak ya mbak kok nggak dimakan? Apa mau saya buatin makanan yang lain?"Bi Sumi bertanya sambil mengaduk susu bumil untuk Nana. Susu itu adalah susu yang dibelikan Jun langsung khusus untuk Nana.
"Nggak kok bi. Hanya saja saya tidak ingin sarapan sekarang."Nana melihat susu yang dibuat Bi Sumi. Dia teringat dengan Jun saat membelikan susu khusus untuknya lebih tepatnya untuk anaknya.
"Lha terus mbak Nana mau apa sekarang?"Bi Sumi selesai mengaduk dan menyerahkannya kepada Nana.
"Bi saya mau minum susu aja."Nana dengan cepat mengambil susunya.
"Mbak Nana nggak sarapan juga?"tanya Bi Sumi melihat Nana sudah meminum susu dengan cepat dan langsung habis.
Nana tidak peduli dengan tatapan dan anggapan Bi Sumi terhadapnya. Sudah ada banyak makanan telah tersaji di atas meja makan tapi tidak dimakan sedikitpun malahan hanya minum segelas susu saja.
Tanpa Nana sadari, Bi Sumi akhir-akhir ini sangat mengkhawtirkan keadaan Nana. sejak Jun tidak berkunjung ke rumah itu, nafsu makan Nana turun drastis. Kalau tidak diingatkan untuk makan, tulus dia tidak akan makan. Padahal ibu hamil sangat membutuhkan asupan makanan bergizi.
__ADS_1
"Ibu hamil itu sangat membutuhkan asupan nutrisi untuk janinnya. Kalau mbak Nana nggak makan kasihan anak mbak."kata Bi Sumi sambil mengambilkan sepiring nasi dan lauk pauk yang dibutuhkan ibu hamil.