Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 4


__ADS_3

"Gimana bro?"celetuk salah satu bodyguard kepada temannya.


"Daripada nggak dapat uang sama sekali."jawab bodyguard yang lain.


Akhirnya semua bodyguard itu sepakat menerima uang dari Nana. Meskipun jumlahnya lebih sedikit ketimbang Jun, tapi mereka tetap menerimanya. Nana dan Bi Sumi lega melihat bodyguard Jun pergi .


"Mbak Nana pasti sekarang sudah tidak memiliki uang lagi."ucap Bi Sumi berjalan di belakang Nana yang sedang masuk ke dalam rumah lagi.


"Sudah nggak papa bi. Yang penting mereka sudah pergi." Nana mengambil segelas air putih lalu meminumnya.


Sebenarnya dalam hati Nana tidak ikhlas memberikan semua tabungannya kepada bodyguard Jun. Terlebih lagi untuk menggaji orang-orang yang disuruh untuk mengurungnya agar tetap di dalam rumah terus. Tapi mau gimana lagi dia tidak punya pilihan lagi. Kalau mengandalkan uang belanja Bi Sumi jelas tidak cukup.


"Oh ya mbak Nana ini uang belanja Bi Sumi tinggal segini. Bumbu dapur juga mulai menipis sekarang."Bi Sumi mengeluarkan beberapa uang recehan terdiri dari selembar seratus ribu dan selembar lima puluh ribu saja.


Setiap bulan Jun selalu mengirim uang jatah untuk keperluan belanja Bi Sumi. Tapi satu bulan terakhir ini Jun tidak mengirimkannya. Jadi uang sisa belanjannya bulan kemarin harus dipakai untuk belanja bulan ini. Dan itu jelas tidak cukup.


Nana ikut bingung memikirkannya. Sekarang dirinya sudah tidak memiliki uang lagi. Otomatis dia tidak bisa membantu Bi Sumi.


"Bi aku punya ide. Kita sekarang kan sudah nggak punya uang lagi. Tinggal ini saja. Gimana kalau uang ini kita gunakan untuk modal usaha untuk jualan?."Nana punya ide ditengah-tengah keadaan genting.


"Jualan apa mbak?"Bi Sumi terkejut dengan ide Nana itu.


Nana kemudian termenung. Kira-ira usaha apa yang bisa dia tekuni dengan modal segitu.

__ADS_1


"Jualan jajanan keliling aja bi. Saya kebetulan bisa buat jajanan pasar gitu. pasti bibi juga bisa."Nana mendapatkan ide lagi.


"Betul juga mbak Nana."Bi Sumi tanpa lama-lama langsung setuju.


Melihat kondisinya sekarang sudah genting. Tunggakan listri dan biaya hidup untuk makan sungguh membuat mereka pusing. Tidak ada cara lain untuk mendapatkan uang lagi selain dengan jualan jajanan keliling. Dengan begitu mereka bisa mencukupi kebutuhan mereka.


"Apa mbak Nana tidak memiliki niatan untuk kabur?"Bi Sumi tiba-tiba keceplosan sambil melirik kearah Nana.


"Ya ya. Kenapa aku nggak kepikiran untuk kabur saja.Toh ya dia nggak ada disini kan. Bodyguardnya juga sudah pergi."Nana nyengir sendiri. Bi Sumi mengingatkannya malah.


"Tapi kasihan juga kalau Bi Sumi disini sendirian. Lagian aku juga sudah terbiasa tinggal disini."batin Nana sambil memandangi wajah Bi Sumi yang terlihat murung. Mungkin karena takut akan ditinggal Nana pergi.


"Aku nggak akan pergi dari sini kok bi. Bibi jangan khawatir ya."Nana memeluk Bi Sumi dari samping.


"Bibi seneng banget Mbak Nana tidak pergi darisini."Bi Sumi membalas pelukan dari Nana. Dia tidak bisa membayangkan hidup di rumah itu sendirian. Nana sudah dianggapnya sebagai anak sendiri dan bisa menghiburnya kala dia sendirian di rumah itu dulu.


Bi Sumi sudah menghubungi Jun tapi sampai sekarang belum dibalas bahkan kalau ditelepon nomornya sudah tidak aktif. Sebenarnya Nana bisa datang langsung menemui Jun dan keluarganya tapi dia tidak berani. Dia tidak mau mengganggu mereka dengan keberadaannya.


"Kita bisa gunain uang hasil jualan kita untuk mencukupi kebutuhan kita disini."kata Nana sambil menata uang recehan yang dimiliki Bi Sumi itu.


"Ya sudah mbak. Bibi ikut saja. Tapi kan mbak Nana tengah hamil."Bi Sumi ragu melibatkan Nana untuk jualan keliling. Apalagi tengah mengandung besar.


Sekarang usia kandungan Nana telah menginjak 6 bulan. Perut Nana sudah semakin buncit dan besar. Tentunya Nana tidak boleh kecapekan, karena itu dapat mengganggu kesehatan Nana dan kandungannya juga.

__ADS_1


"Udah nggak papa bi. Aku akan hati-hati nanti"Nana meyakinkan Bi Sumi yang tengah duduk di depannya itu. Bi Sumi tidak punya pilihan lagi selain mengiyakannya.


Karena Nana tengah hamil besar, jadi Bi Sumi sendiri yang berbelanja ke pasar untuk membeli semua kebutuhan dapur. Nana menunggu Bi Sumi di rumah saja. Selama Bi Sumi pergi, Nana hanya duduk sendirian di kamar.


Tiba-tiba dia teringat terkahir kali saat dirinya tengah berduaan dengan Jun di dalam kamar itu. Dia membayangkan kejadian terakhir sebelum Jun menghilang itu. Awalnya dia merasa sedih saat mengingatnya tapi setelah diingat terus malah membuatnya rindu dengan Jun.


"Aku malah kangen sama dia."tidak sadar cairan bening mulai mengalir membasahi kaosnya.


Nana duduk di tepi kasur. Kali ini dia benar-benar dsangat merindukan Jun. Selama dia ditawan, dirinya sangat membenci dan ingin kabur dari Jun. Tapi sekarang justru sebaliknya dia malah kangen dengan Jun yang diam-diam selalu memberikan perhatiannya kepadanya. Semua kebutuhannya dipenuhi. Mungkin itu karena ada sang anak di perut Nana.


"Ini."Nana mengambil pakaian yang terakhir dipegang dan diberikan Jun untuknya kemarin, sebelum Jun pulang dan tidak memberi kabar.


Nana terus menciumi pakaian kemeja yang kedodoran milik Jun itu sambil menangis. Bau harum tercium dari kemeja itu.


"Aku tidak akan lagi menyia-nyiakan waktu ketika dia kembali kesini lagi." dia kini menyesal setelah sebelumnya tidak memanfaatkan waktunya ketika masih ada Jun di rumah. Malahan mereka berdua selalu bertengkar.


Memang dulu dia tidak suka dengan Jun. Tapi semakin kesini dia malah merasakan hal yang lain. Rasanya dia mulai merasakan kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Entah itu perasaan mulai suka atau apa. Yang jelas dia sekarang sudah memiliki tempat tersendiri di hatinya khusus untuk Jun.


Hari ini Jun di rumah sendirian. Kebetulan Alena juga tidak datang ke rumahnya. Ini waktunya Jun keluar untuk menjernihan pikirannya. Dia bosan duduk saja di rumah dengan rutinitas yang sama. Selama dia sakit, dia hanya nyaman ngobrol dengan Reihan sahabatnya sejak kecil.


Meskipun kenangannya bersama Reihan telah hilang karena dia sedang amnesia, tapi ikatan persahabatan mereka masih bisa dirasakan Jun. Hari ini Jun mengajak Reihan keluar untuk olahraga.


"Han, ayo kita olahraga. Gue bosan di rumah terus."ajak Jun lewat chat kepada Reihan.

__ADS_1


"Ok siap bro. Gue jemput lho sekarang."jawab Reihan dengan sigap.


Akhirnya Reihan menjemput Jun tepat pukul 7 pagi. Seperti biasa mereka berdua akan ngegym bersama di tempat langanan mereka. Mereka berdua naik mobil Reihan. Jun tidak ingat kalau dirinya dan Reihan suka ngegym bersama. Tapi yang dia inginkan sekarang hanyalah bisa keluar dan berolahraga saja.


__ADS_2