Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 9


__ADS_3

Ternyata yang telah ditabrak Nana itu adalah Bambang Sartono, ayahnya yang telah ditemuinya kemarin saat bertemu Alena juga di pasar. Jujur Nana sampai tidak bisa berbicara apa-apa. Dia menatap ayahnya dengan begitu dekat sekali. Ingin rasanya dia memeluk tubuh ayahnya itu.


"Minggir aku mau pergi."laki-laki itu sepertinya tidak mau berlama-lama bertemu dengan Nana. Sepertinya dia sedang mengkhawatirkan sesuatu.


"Mbak Nana kenal sama dia?"tanya Bi Sumi sekali lagi. Bi Sumi tidak asing juga melihat laki-laki itu. Nana mengangguk dan tersenyum bahagia.


Bi Sumi teringat ketika Nana dan dirinya bertemu dengan laki-laki itu di pasar. Dimana saat itu Nana mengaku kalau itu adalah ayahnya. Dan sekarang mereka bertemu untuk kedua kalinya. Dan sama, Nana memanggilnya dengan ayah juga.


"Tunggu ayah."Nana mencekal tangan laki-laki itu yang hendak masuk kedalam mobil.


"Apa lagi."jawab laki-laki itu dengan marah dan menghempaskan tangan mungil Nana.


Nana meneteskan air mata saat melihat tangannya dihempas oleh ayahnya begitu saja. Dia tidak mengira kalau ayahnya akan berlaku seperti itu padanya. Mungkinkah ayahnya sendiri lupa atau tidak mengenalinya kalau dia adalah Nana yang sudah ditinggalkannya begitu saja dengan ibunya dulu saat Nana masih kecil.


"Apa ayah nggak ingat sama aku? Aku anak ayah. Nana."Nana menunjuk dirinya sambil menjelaskan dirinya itu siapa.


Laki-laki parubaya itu hanya diam saja dan memandangi Nana dari atas sampai bawah. Tatapannya nampak sedikit sinis.


"Apakah dia anaknya Sukma."batin laki-laki yang dianggap ayah Nana itu. kalau dilihat-lihat,Nana mirip dengan wanita yang dulu pernah menjadi pendamipingnya yang bernama Sukma.


Laki-laki parubaya itu tidak lain adalah ayah Alena yang bernama Bambang Sartono. Nana yakin kalau orang yang depannya itu adalah ayah kandungnya. Yang selama ini telah meninggalkannya sejak kecil. Bambang Sartono hanya memandangi Nana dari atas ke bawah berulang-ulang dan tatapannya menyiratkan ketidakpercayaannya dengan apa yang baru dilihatnya.


"Aku putrimu, Nana. Putri dari Sukma."Nana menjelaskan hinga meneteskan air mata.


Dalam hatinya sedikit kecewa karena melihat ayahnya yang tidak mengenalinya.

__ADS_1


"Oh tidak. Dia putrinya Sukma."yang dianggap ayah oleh Nana itu nampak pucat dan panik.


"Sebenarnya dia itu siapa. Kenapa dia terlihat panik begitu mendengar nama Sukma."Bi Sumi melihat ekspresi laki-laki di depan Nana.


"Jangan mengaku-ngaku ya. Aku tidak kenal kamu. Lagian Sukma itu siapa. Aku tidak kenal."laki-laki itu mencampakkan Nana begitu saja dan langsung masuk kedalam mobil mewahnya yang berwarna hitam.


Nana seketika langsung menangis. Dia yakin kalau laki-laki itu adalah ayah kandungnya. Tapi kenapa tidak mengakuinya.


"Ayah tolong buka. Tolong jangan pergi."Nana mengetuk-ngetuk kaca mobil hitam itu.


"Mbak tolong berhenti. Jangan begitu mbak."Bi Sumi memegang punggung Nana yang terus menangisi kepergian laki-laki itu.


Laki-laki yang di dalam mobil itu belum menancap gasnya. Nana melihat dari kaca gelapnya, yang dianggap ayahnya itu menyempatkan untuk menatapnya dari dalam mobil. Mereka berdua saling adu pandang dalam tempat yang berbeda.


"Tolong jangan pergi ayah. Aku kangen sama ayah."Nana berlinangan air mata.


"Oh tidak aku harus pergi. Sebelum orang lain mengetahuinya."laki-laki itu tanpa pikir panjang langsung menacap gas mobilnya.


Nana tersungkur dan jatuh ke aspal. Setelah mobil yang dipegangnya mundur dengan kecang sekali. Bi Sumi melihatnya langsung memberikan bantuan kepada Nana. Tapi Nana masih menangis sambil meratapi kepergian mobil itu.


Sekarang Jun sudah pulang dari rumah sakit. Dokternya telah mengizinkannya pulang karena tidak ada luka yang terlalu cukup parah pada diri Jun. Tidak bisa dibayangkan kalau Jun harus dirawat di rumah sakit lagi. Dia sudah bosan harus keluar masuk kamar rumah sakit terus apalagi kalau harus dirawat di rumah sakit lagi.


Setibanya di rumah, Nyonya Diana langsung menyuruh Reihan dan Alena untuk pulang dulu. Biar Jun bisa istirahat di kamar.


"Tadi itu siapa sih. Kenapa aku begitu tidak asing dengannya."batin Jun sendirian di dalam kamarnya. Dia menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan seorang wanita yang dilihatnya di depan café tadi.

__ADS_1


Di kamar, dia terus memikirkan siapa wanita itu. Tapi nampaknya ingatannya benar-benar belum pulih. Tapi entah kenapa untuk masalah wanita itu dia merasa ingin tahu sekali seperti ada sesuatu yang pernah terjadi antara dirinya dengan wanita itu.


"Aku harus kesana memastikan sebenarnya dia itu siapa?"Jun beranjak dari kasur empuknya. Dia melangkah ke almari dan mengambil pakaian sebelum dia pergi.


Jun tahu kalau orangtuanya belum mengizinkannya untuk menyetir mobil sendiri. Tapi kali ini dia ingin tahu sosok wanita itu. Oleh karena itu dia harus terjun sendiri untuk mencari tahu wanita itu.


Dia keluar dari kamarnya dengan sembunyi-sembunyi. Dilihatnya rumah dalam keadaan sepi. Kayaknya mamahnya sedang tidak ada di rumah. Kemudian dia langsung melangkah mengambil kunci mobil dan langsung pergi.


"Untung mamah tidak ada."Jun sudah masuk ke dalam mobil. Kali ini mobil yang dia tumpangi bukan mobil miliknya sendiri. Kemungkinan mobilnya masih ada di bengkel sedang diperbaiki setelah kejadian kecelakaan kemarin.


Jun keluar mengendarai mobil dengan pelan-pelan. Sebenarnya ada rasa trauma sedikit dalam dirinya ketika menaiki mobil lagi. Berhubung rasa penasarannya kini jauh lebih besar daripada rasa traumanya jadi dia memberanikan diri untuk menyetir mobil untuk mencari wanita itu. Dia tidak tahu kalau cewek yang dia cari itu adalah Nana.


Yang dia tuju pertama kali adalah di depan café kemarin saat bersama Reihan. Dia fokus melihat kearah jalanan yang ramai dengan kendaraan itu.


"Kemarin disitu. Tapi sekarang kayaknya nggak ada."Jun sudah tiba di di depan cefe dan mengamati tempat terakhir dimana dia melihat Nana sedang jualan di pinggir trotoar. Tapi saat dilihatnya malah nggak ada. Hanya ada beberapa orang yang yang lewat disana.


Dia menunggu beberapa menit siapa tahu Nana muncul lagi.


"Kemarin Alena bilang wanita itu namanya Nana."Jun mengingat perkataan Alena kemarin di rumah sakit sambil mengamati trotoar.


"Nana. Nana. Siapa sebenarnya Nana itu."Jun memejamkan matanya dan mengingat Nana.


Dia terus mengingat Nana dari dalam mobil. Tapi semakin lama dia malah dibuat pusing sendiri karena tidak kunjung ingat.


Akhirnya Jun memutuskan untuk turun ke jalan langsung dan menghampiri tempat Nana jualan kemarin. Setibanya di tempat itu, Jun berdiri sebentar disana.

__ADS_1


__ADS_2