Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 18


__ADS_3

"Ayah."Alena tiba-tiba muncul dan melihat pertengkaran yang sudah selesai antara ayahnya dengan Nana dan seorang laki-laki.


"Sayang."Lina langsung mendekati putrinya yang bernama Alena itu agar tidak tahu pertengkaran yang baru saja terjadi. Om Ardi menoleh kearah Alena dengan tatapan panik.


Nana seketika melihat kearah Alena. Benar dugaannya kemarin kalau laki-laki yang dianggapnya sebagai ayah itu ternyata adalah ayah Alena. Tepat sudah remuk hatinya saat mengetahuinya. Tidak disangkanya kalau Alena adalah saudaranya. Wanita yang sangat dicintai Jun.


"Ayo Nana kita pergi. Ngapain kita disini."Faris mengajak Nana untuk segera keluar dari café tu karena sudah banyak pasang mata melihat mereka. Nana nurut saja tapi tatapannya tidak bisa berhenti melihat kearah keluarga Alena.


"Ayah."panggil Nana sekali lagi sambil melihat Om Ardi untuk terakhirnya sebelum pergi


Sejak kejadian di dalam café tadi, Nana terus menangis di dalam mobil. Faris yang menyetir mobil sampai tidak fokus. Faris juga bingung sebenarnya ada hubungan apa antara Nana dan laki-laki parubaya tadi. Sehingga sekarang Nana begitu merasa sedih sekali setelah dikasari laki-laki tadi.


"Arin, siapa laki-laki tadi?"tanya Faris sambil menyetir mobilnya. Tapi Nana tidak menjawabnya malah tetap menangis.


"Hiks…hiks…"tangis Nana masih terdengar. Bahkan buliran air mata Nana terus berjatuhan membasahi keningnya.


Faris tidak bisa apa-apa selain membiarkan Nana menangis. Mungkin Nana sekarang benar-benar sedih sekarang jadi dia tidak mau mengganggunya dulu. Nana sendiri juga mendengar pertanyaan Faris, tapi kali ini dia ingin menangis untuk meluapkan kesedihannya terhadap sang ayah.


Mobil Faris mulai memasuki garasi rumah Jun. Nana langsung turun dan meninggalkan Faris yang masih di dalam mobil. Nana berlari sambil menangis. Hatinya sekarang benar-benar sedih dan kecewa sekali pada ayahnya. Hari ini jauh lebih menyakitkan ketimbang sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


"Arin. Tunggu."Faris cepat-cepat melepaskan sabuk pengamannya dan hendak mengejar Nana yang sudah keluar duluan. Tapi sayang Nana sudah masuk ke rumah.


Bi Sumi kaget saat hendak mendekati pintu depan, tiba-tiba Nana melewatinya begitu saja sambil menangis. Nana tidak menggubris keberadaan Bi Sumi di depannya tadi.


"Ada apa mas Faris sama mbak Nana?"Bi Sumi menghadang Faris yang hendak masuk.


"Aku juga ngga tahu bi."jawab Faris sambil melihat tubuh Nana yang sudah masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu.


Bi sumi menginterogasi Faris di ruang tengah. Terakhir yang bersama Nana sebelum menangis tadi adalah Faris. Jadi Faris pasti tahu apa yang sedang terjadi pada Nana.


"Itu bi tadi kita kan makan di café. Nah pas pulang tiba-tiba kita dikejutkan dengan suami istri yang sepertinya Nana tidak asing dengan mereka. Bahkan Nana sempat memanggilnya ayah."Faris langsung menjelaskan kronologisnya karena Bi Sumi terus menginterogasinya.


"Ayah?"ingatan Bi Sumi langsung mengarah ke laki-laki yang pernah dia lihat kemarin yang pernah dipanggil Nana dengan sebutan ayah itu. Tapi laki-laki itu tidak mau dan tidak menganggap Nana sebagai anaknya.


"Jangan-jangan laki-laki itu sama kayak yang kemarin bibi lihat. Bibi juga gitu kemarin mas. Beberapa hari lalu saya menemani Mbak Nana dan tidak sengaja ketemu sama seorang bapak-bapak gitu. Terus dipanggil aya sama mbak Nana. Tapi sayangnya bapak itu menolak mentah-mentah dan marah."Bi Sumi ikut bercerita dengan kejadian yang persis yang dialami Faris itu.


"Ya kali bi. Apa mungkin dia memang ayahnya. Tapi Nana tidak pernah cerita dan tadi saja saya tanya dia juga tidak menjawabnya. Faris sedikit kesal saat Nana tidak mau cerita tentang ayahnya itu.


"Sama mas. Saya malah takut kalau tanya. Jadi saya diam saja. Biargimanapun juga itu urusan dia."kata Bi Sumi.

__ADS_1


"Tapi aku lihat-lihat tadi, ayah Nana itu sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak perempuan yang umurnya juga tidak jauh dari Nana."


"Betul mas. Dan kemarin pas bibi lihat itu, bapak itu ketakutan dan panik ketika anak perempuannya itu mendengar ucapan mbak Nana. Seperti ada yang sedang ditutup-tutupi oleh bapak itu beserta istrinya dari anaknya."ungkap Bi Sumi.


"Oh ya bi aku baru ingat nama anaknya itu Alena."Jun teringat dengan ucapan Nana tadi ketika di café.


Faris dan Bi Sumi belum menemui titik terang. Siapa laki-laki tadi. apakah mungkin memang kalau itu ayah Nana. Hanya Nana lah yang tahu sekarang. Sekarang Faris dan Bi Sumi hanya menduga-duga saja dan tidak tahu kebenarannya.


"Aku harus menyelidiki siapa laki-laki itu dan apa hubungannya dengan Nana."Faris berbicara sendiri dan Bi Sumi tidak sengaja mendengarnya karena sedari tadi duduk di dekat Faris.


"Jangan mas. Menurut bibi ayahnya mbak Nana itu galak banget. Dan kayaknya dia juga kaya. Takutnya nanti malah ada apa-apa sama mas Faris."Bi Sumi takut kalau harus berurusan dengan ayah Nana.


Faris tidak membantah kalau ayah Nana memang galak. Buktinya tadi dia tidak segan-segan memrahinya dan Nana dihadapan banyak orang. Bahkan dia juga tidak peduli kalau orang banyak telah melihatnya.


Karena sudah malam, Faris pulang dan membiarkan Nana istirahat dulu. Setelah sahabat Nana pulang, Bi Sumi mengunci pintunya dan kemudian menghampiri Nana. Terlihat pintu kamar Jun yang sekarang telah ditempati Nana itu tertutup rapat. Bi Sumi mendekatkan telingnya ke pintu. Terdengar ada suara tangisan dari dalam.


"Permisi mbak Nana."Bi Sumi mengetuk pintu kamar Nana. Karena tidak segeera dibuka, Bi Sumi memberanikan diri membukanya dan masuk.


Nana terlihat tidur miring memunggungi pintu. Bi Sumi masih mendengar suara tangisan Nana. Kaki Bi Sumi mulai melangkah mendekati kasur Nana. Dia hendak memberikan segelas susu.

__ADS_1


"Mbak ini susunya, silahkan diminum."Bi Sumi meletakkan susu tersebut di atas meja dekat kasur Nana. Tidak ada respon dari Nana. Bi Sumi masih mendengar Nana menangis sambil membelakanginya.


Sekarang yang dipunyai Nana dan selalu berada disampingnya adalah Bi Sumi. Perempuan parubaya itu mau bekerja di rumah Jun meskipun harus tidak dibayar. Sebenarnya dia sendiri juga tidak bisa menggajinya karena tidak memiliki pendapatan lebih. Tapi Bi Sumi tetap mau bekerja di rumah Jun dan mau merawatnya serta melayaninya dengan alasan sudah diberi tempat tinggal yang layak disana. Hal itulah yang membuat hati Nana tidak tega.


__ADS_2