Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 17


__ADS_3

Nana siap untuk menghabiskan semua makanan yang telah dipesan Faris itu. Apalagi menu makanan yang ada didepannya itu sangat asing baginya dan tidak pernah memakannya, jadi itu kesempatananya untuk melahapnya hingga habis. Sebenarnya dia juga malu harus makan begitu banyaknya dan bisa dibilang rakus oleh Faris, tapi dia tidak peduli.


"Aku sudah kenyang Ris."kata Nana yang sudah merasa kenyang. Sepertinya Nana tidak bisa memasukkan makanan lagi ke dalam perutnya.


"Ya sudah kalau sudah kenyang."ucap Faris sambil sedikit tertawa karena melihat Nana begitu lucu sekali. Ada sisa makanan yang menempel di dekat mulut Nana. Dan Nana tidak sadar akan itu.


"Sini."Faris mengambil selembar tissue kemudian maju kedepan mendekat kearah wajah Nana. Tangan Faris dengan sabarnya mulai mengelap sisa makanan yang ada di dekat bibir Nana itu. Nana diam saja sambil menikmati sentuhan tangan halus Faris yang terasa sedikit kaku itu.


Mereka berdua terlihat romantis sekali. Sungguh laki-laki yang sangat perhatian pada seorang cewek. Faris tentu merasa bahagia sekali bisa melihat wajah cantik Nana dengan begitu dekat. Diam-diam saat mengelap bibir Nana, mata Faris curi-curi pandang ke wajah Nana. Begitupula Nana juga melihat Faris dalam jarak yang dekat. Sehingga mereka berdua beradu pandang cukup lama.


Saat hendak pulang, Nana tiba-tiba berhenti di dekat pintu kaca yang membatasi ruangan café itu menjadi dua bagian. Kebetulan tadi dia makan di bagian depan. Sedangkan di café itu terdapat dua bagian. Yang satunya ada di bagian dalam. Mata Nana tidak sengaja melihat Alena sedang duduk di dalam café itu juga.


"Alena."Nana berhenti setelah melihat ada Alena di dalam café itu juga. Tapi jarak tempat duduknya dengan Alena cukup jauh.


"Ada apa Rin?"Faris mendengar Nana sedang memanggil seseorang.


Nana mengintip Alena dari dekat pintu kaca itu. Faris yang tidak tahu kenapa Nana seperti itu, dia juga ikut-ikut bersandar ke tembok disamping Nana.


"Kamu lihat itu Ris?"Nana menunjuk kearah seorang perempuan yang tidak lain adalah Alena yang sedang duduk sendirian di dalam. Faris melihat kearah yang ditunjuk Nana itu.


"Itu. Cewek yang sedang duduk sendirian?"tanya Faris sambil menunjuk wanita yang ada di dalam sendirian itu. Kebetulan café yang bagian dalam hanya ada satu orang saja yaitu Alena. Pasti itu yang dimaksud Nana adalah cewek yang sedang duduk sendirian itu.


"Ya. Dia itu namanya Alena."kata Nana sambil melihat kearah Alena terus. Sedangkan Faris bingung, sebenarnya ada hubungan apa antara cewek itu dan Nana. Itulah yang ada dipikiran Faris terus.


"Kalau dia ada disini pasti ayah disini juga. Atau nggak Jun juga disini."batin Nana sambil menebak.

__ADS_1


Pyar


Saat mata Nana dan Faris fokus melihat kearah Alena yang sedang duduk sendirian di dalam. Tiba-tiba ada suara beling pecah di dekat mereka. Seketika mereka berdua kaget dan mengalihkan pandangan kearah sumber suara yang tidak jauh dari mereka.


Tidak jauh dari tempat berdirinya Nana ternyata ada sepasang suami istri juga sedang berdiri di dekat mereka kira-kira berjarak 2 meter. Nana tidak asing melihat keduanya.


"Maaf mbak. Nanti kita akan ganti."kata seorang ibu yang berdiri disebelah laki-laki parubaya yang sangat dkenal Nana itu.


"Ya bu."jawab seorang pelayan perempuan kepada seorang ibu tadi yang bernama Lina, istri Om Ardi ayah Alena.


Sebelum Nana menoleh kearah sepasng suami istri itu, ada seorang laki-laki parubaya terkejut melihat kehadiran Nana disana yang sedang mengintip seseorang. Laki-laki tersebut tidak lain adalah seseorang yang dianggap ayah kandung Nana yang bernama Bambang Sartono atau biasa dipanggil Om Ardi. Dan disampingnya juga ada ibu cantik yang bernama Lina yang tidak lain adalah mamahnya Alena.


"Ayah."ucap Nana tanpa sadar setelah tahu laki-laki yang tadi memecahkan sebuah gelas milik pelayan cafe.


"Kamu lagi. Ngapain kamu disini. Aku sudah bilang kemarin, jangan panggil aku ayah karena aku bukan ayahmu."laki-laki parubaya itu maju kedepan dan langsung membentak Nana. Faris masih melongo karena bingung dengan apa yang barusan terjadi itu.


"Sudah pah. Biarkan aja anak ini. Kita fokus sama Alena saja anak kita."kata Lina yang langsung mendekati suaminya dan menatap sinis kearah Nana.


Faris benar-benar bingung denga apa yang dilihatnya barusan itu. Sesekali pandangan Faris bergiliran menatap Nana dan laki-laki parubaya itu bergantian. Sebenarnya apa hubungan mereka.


"Ayah."ucap Nana sekali lagi tapi dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah aku bilang jangan panggil aku ayah. Karena aku bukan ayahmu."laki-laki parubaya itu emosi. Matanya seperti curi-curi pandang kearah dalam café yang ada Alena itu. Sepertinya dia tidak mau kalau Alena melihat dan mendengarnya.


"Nana ini siapa?"Faris masih diam saja dan berusaha memahami. Jari telunjuknya mengarah ke Om Ardi.

__ADS_1


"Pergi darisini."laki-laki parubaya itu tiba-tiba menarik tangan Nana dengan kasar menuju keluar dari café itu.


"Berhenti om."bentak Faris yang kasihan Nana diperlakukan dengan kasar oleh orang yang tidak dikenalnya itu. Tangan Faris langsung menjauhkan tangan laki-laki parubaya itu dari Nana.


"Pah sudah, nanti Alena tahu."kata Lina sambil mendekati suaminya dan berbisik ke telinga suaminya.


"Om itu siapa. Jangan berani ganggu ataupun sampai menyakiti sahabatku ini."tangan Nana digenggam Faris dengan erat dan menyembunyikan tubuh Nana di balik tubuh Faris.


"Sahabatmu. Ah udahlah itu bukan urusanku. Bawa dia pergi darisini. Aku tidak mau melihatnya."kata laki-laki parubaya itu sambil memberi kode mengusir Nana.


"Sudah pah tenang. Ngapain sih kamu ngurusi dia lagi sih pah. Fokus sama anak kita Alena."kata Lina.


"Tuh kan Alena anak ayahku."batin Nana yang masih diam saja.


"Jangan mentang-mentang karena anda kaya jadi anda berhak mengusir kita. Lagian kita juga tidak kenal sama anda."tantang Faris kepada laki-laki parubaya itu.


"Ya sudah pergi sana. Jangan ada dihadapanku lagi."


Perdebatan antara Faris dan laki-laki parubaya itu lumayan keras hingga membuat beberapa pengunjung menoleh dan melihat kearah mereka tidak terkecuali Alena juga. Mendengar ada suara kaya orang bertengkar cukup keras, membuat Alena penasaran dan langsung menghampiri sumber suara.


"Sudah pergi."laki-laki parubaya itu langsung mendorong Faris dan Nana dengan kasar. Lina yang sedari tadi berdiri disamping suaminya hanya bisa berusaha menenangkan suaminya itu tapi tetap saja tidak bisa.


"Jangan kasar ya om. Kita juga mau pergi."Faris tidak punya pilihan selain mengajak Nana pulang. Percuma meladeni laki-laki pemarah seperti itu. Faris menggandeng Nana agar ikut pegi menjauh dari laki-laki parubaya itu.


Faris mau tidak mau harus mengalah. Dia telah malu jadi tontonan beberapa pengunjung disana. Laki-laki parubaya itu memang tidak punya malu.

__ADS_1


__ADS_2