
"Pak mau tanya, apa bapak kemarin tahu atau kenal sama cewek yang jualan disini?"Jun bertanya kesalah satu bapak yang lewat di depannya. Tangannya juga menunjuk kearah tempat dimana Nana duduk kemarin.
"Yang jualan disini mah banyak mas."jawab bapak tadi berhenti sebentar dan menatap Jun dengan sinis.
Jun tidak patah semangat. Kemudian dia bertanya ke orang lain.
"Bu mau tanya, apa ibu tahu atau kenal sama cewek yang jualan disini kemarin? Dia pakai daster longgar."Jun menghentikan dua orang ibu-ibu yang lewat di depannya.
"Cewek yang jualan disini mas?"tanya salah satu ibu itu.
"Ya bu. Yang kemarin duduk disini pakai daster longgar dan membawa nampan hijau."Jun menjelaskan ciri-ciri wanita yang dilihatnya kemarin.
"Kayaknya yang dimaksud mas ini itu, kemarin yang dibeli sama teman kita itu. Yang penjualnya cantik, manis dan hamil itu."ibu tadi berbisik kepada ibu yang lain.
"Ya kayaknya."setuju ibu yang lain.
"Hamil? Berarti dia kemarin memang hamil."batin Jun semakin yakin kalau wanita yang kemarin itu memang tengah hamil.
"Ya saya tahu mas."jawab dua ibu itu. Jun merasa lega akhirnya dia bisa mencari tahu tentang wanita iitu.
"Terus ibu tahu siapa namanya atau rumahnya dimana gitu?'tanya Jun dengan ekspresi berharap sekali bisa mendapatkan info mengenai wanita itu.
"Memangnya mas ini apa hubungannya sama dia?"tanya salah satu ibu tadi dengan curiga.
"Sa…saya ini temannya. Cuma saya hilang kontak sama dia."jawab Jun dengan terbata-bata.
"Saya aja nggak kenal sama dia kok mas. Kayaknya dia baru deh jualan disini. Soalnya selama saya lewat disini hanya kemarin saja saya lihat dia disini sambil jualan."kata salah satu ibu itu memberitahu Jun dengan nada tidak curiga lagi.
Setelah bertanya-tanya dengan beberapa orang yag lewat disana tapi hasilnya tetap nihil. Mereka semua tidak mengenal wanita yang dimaksud Jun. Dia memutuskan kembali lagi ke mobil.
__ADS_1
Sebelum naik mobil tiba-tiba dia melihat ada seorang wanita yang tidak asing bagi matanya. Dialah Alena yang sedang turun dari dalam mobil.
"Ayo kita masuk."tiba-tiba muncul seorang pria menghampiri Alena. Kemudian tangan Alena menyusup ke pinggang laki-laki itu. Sedangkan tangan si pria yang tidak dikenal Jun itu merangkul Alena begitu mesranya.
Memang sekarang Jun lupa dengan masa lalunya bersama Alena. Sejak kemarin Alena terus mengingatkannya mengenai hubungan mereka yang sudah tinggal sebentar lagi menuju ke pelaminan. Tapi sampai sekarang Jun masih belum mengingat apa yang terjadi dan hubungan apa antara dirinya dengan Alena.
Tapi apa yang dilihatnya sekarang, tidak sepatutnya Alena melakukan perbuatan seperti itu. Bermesraan dengan cowok lain. Seharusnya Alena harus lebih sabar untuk mengerti keadaannya yang sedang amnesia itu.
Laki-laki yang sekarang bersama dengan Alena adalah Doni. Dia adalah mantan pacar Alena ketika masih mengenyam bangku kuliah dulu. Tapi sayang hubungan mereka harus kandas ditengah jalan karena tidak merasa ada kecocokan menurut Alena.
"Bagus."Jun bertepuk tangan sambil berjalan membuntuti Alena dari belakang. Alena melepaskan tangannya dari pinggang Doni. Dan tangan yang satunya menepis tangan Doni yang sedang merangkulnya itu.
"Oh gini ya."Jun mengamati dua orang yang ada didepannya itu dari atas ke bawah secara bergantian.
"Sayang kamu kok disini. Ini nggak seperti yang kamu lihat. Kita cuma teman kok."Alena menghampiri Jun yang sedang terlihat emosi.
"Kamu salah paham. Beneran kita nggak ada hubungan apa-apa selain teman saja. Tanya aja sama dia?"Alena melirik kearah Doni yang ada dibelakangnya. Doni hanya berdiri di belakang Alena saja. Dalam hatinya senang melihat hubungan Jun dan Alena sedang tidak baik itu.
"Ya kan Don?"Alena memberikan kode kepada Doni.
"Ya kita cuma temenan aja."Doni terpaksa mengikuti perintah Alena. Jujur hingga sekarang Doni masih belum bisa berpaling dari Alena. Sekarang kesempatannya untuk mendekati Alena lagi.
Tapi Alena menganggap Doni hanya sebagai teman saja. Dia mau mengajak Doni pergi karena dia sedang kesepian. Selama amnesia Jun selalu tidak mau diajak pergi walau hanya jalan-jalan saja beda dengan yang dulu. Jadi Alena merasa kesepian dan butuh teman jalan.
"Ya terserah kamu."Jun kecewa terhadap sikap Alena yang begitu lancang sekali bergandengan tangan dengan cowok lain tanpa seizinnya. Seharusnya Alena menghargainya dan keluarga mereka.
Jun masuk ke dalam mobilnya lagi. Tidak bisa dipungkiri saat Jun sedang menyetir mobil, perasaannya terus memikirkan Alena. Entah itu perasaan cemburu apa gimana dia tidak tahu. Tapi rasanya dia merasa ada kekecewaan yang teramat mendalam pada Alena.
Kring Kring
__ADS_1
Ponsel Jun di dalam mobilnya bordering. Kebetulan sejak kecelakaan itu, Nyonya Diana mengganti ponselnya dengan yang baru karena ponsel lamanya rusak. Dengan begitu sudah tidak ada lagi komunikasi antara dirinya dengan Bi Sumi.
Terlihat ada panggilan masuk di ponselnya yaitu dari Alena. Jun melihatnya tapi tidak berniat mengangkatnya. Alhasil dibiarkan begitu saja. Jun melanjutkan menyetirnya hendak pulang. Dia sudah tidak mood lagi untuk mencari wanita misterius kemarin lagi.
"Nak kamu habis darimana?"Jun disambut mamahnya di rumah.
"Kamu habis naik mobil tadi?"belum dijawab, Nyonya Diana terus memberi pertanyaan pada Jun.
"Ya mah tadi saya keluar sebentar. Habisnya bosan di rumah terus."jawab Jun sambil mengambil segelas air putih di meja makan.
"Kalau mau keluar bilang lagi ya. Nanti mamah antar. Kamu kan belum pulih seratus persen. Mamah takut kamu kenapa-kenapa di jalan."Nyonya Diana terlihat cemas sambil berdiri disamping Jun.
"Aku udah nggak papa kok mah. Tenang saja."jawab Jun sambil duduk di kursi. Nyonya Diana ikut duduk disamping Jun.
"Mamah aku mau tanya. Bener kalau aku sama Alena sudah tunangan?"tanya Jun tidak semangat. Pikirannya masih terbayang dengan kejadian tadi saat memergoki Alena bergandengan tangan dengan cowok lain.
"Kalau tunangan belum sih sayang. Tapi karena dulu kalian sangat mencintai jadi keluarga kita sepakat untuk membawa hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius."Nyonya Diana menjelaskan dengan pelan-pelan agar Jun paham.
"Teruc cincin yang dipakai Alena itu."Jun pernah ditunjukkan sebuah cincin oleh Alena sebagai bukti tunangan mereka.
"Cincin? Mungkin sebelum kamu kecelakaan itu, kalian pernah beli cincin couplan kan bisa."Nyonya diana merasa ikut aneh juga.
Tiba-tiba Jun terlintas sesuatu di pikirannya. Matanya kemudian terpejam dan melihat ada sesuatu yang dia ingat.
"Oh ya mah. Kalau Nana itu siapa?"ingatannya mulai muncul. Dia mengingat ada seorang perempuan cantik sedang terluka gara-gara menghilangkan cincin. Itu yang diingat Jun sekarang.
"Oh Nana. Kamu ingat sama dia?"tanya Nyonya Diana dengan kaget.
"Tiba-tiba aku teringat nama itu."Jun juga bingung kenapa hanya Nana yang dia ingat.
__ADS_1