Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 16


__ADS_3

OK"Faris mengingatkan Nana yang sedari tadi asyik menikmati pemandangan kanan kiri jalan raya yang dilewati mobil Faris,


"Hmmm."Nana setuju sekali. Karena memang ini yang dia tunggu-tunggu. Melupakan semua masalahnya dengan pergi jalan-jalan. Meskipun masalahnya tidak akan bisa hilang begitu saja tapi setidaknya dia bisa melupakan sebentar masalahnya itu.


Selama perjalanan, Nana dan Faris terus mengobrol agar perjalanan mereka tidak hening dan sepi. Tidak terasa perjalanan mereka telah menempuh waktu satu jam.


Tiba-tiba mobil Faris mulai menepi ke pinggir jalan. Nana bingung sebenarnya dia hendak dibawa kemana. Mata Nana langsung memandangi sekitarnya.


"Bukankah ini taman yang dulu yang pernah aku kunjungi sama Jun. Dan ketemu sama Faris juga disini."Nana tersadar dan tahu kalau Faris membawanya ke sebuah taman cantik yang menurutnya tidak asing ketika dilihatnya dari dalam mobil.


Setelah diamati cukup lama, Nana baru tahu kalau taman itu pernah dia kunjungi beberapa waktu lalu bersama Jun. Dan bahkan dulu dia pernah bertemu dengan Faris disana. Ternyata hari ini malah Faris membawanya kesana lagi.


"Kamu senang kan lihat bunga-bunga disana?"Nana dikejutkan dengan pernyataan Faris.


Alasan Faris mengajak Nana datang kesana tidak lain karena dulu pernah melihat Nana kesenangan melihat aneka macam bunga di taman itu. Dulu Faris pernah melihat Nana berdiri di taman itu sendirian sambil melihat bunga-bunga cantik yang bermekaran disana, sebelum Jun menyeretnya masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kamu ngajak aku kesini ?"Nana menatap mata Faris yang begitu menenangkan sekali baginya.


"Kamu suka bunga-bunga kan?"Faris memastikan apa yang dulu pernah dilihatnya saat bertemu dengan Nana ketika di taman itu.


Jarak taman itu dengan rumah Jun cukup jauh. Tapi Nana tidak lupa dengan suasana luar taman itu meskipun hanya satu kali pergi kesana.


"Hmmm. Kamu pasti tahu gara-gara dulu kan?"Nana menunjuk kearah taman bagian dalam yang di dalamnya terdapat beberapa aneka macam bunga bermekaran. Disana Nana dan Faris bertemu dulu.

__ADS_1


"Ya lah. Makanya aku membawamu kesini."Faris tersenyum bahagia.


Akhirnya mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam taman bersama-sama. Faris berjalan disamping Nana terus. Mungkin kalau orang lain melihat pasti dikira sepasang suami istri. Apalagi mereka terlihat serasi sekali. Faris yang gagah dan tampan itu serasi bersanding dengan Nana yang tingginya lebih kecil sedikit dari Faris. Apalagi keadaan Nana yang sedang hamil menambah anggapan itu semakin kuat bila Faris adalah suami Nana yang sedang menemani istrinya jalan-jalan.


"Istrinya cantik banget sih mas."puji salah satu ibu-ibu yang sengaja lewat berpasan-pasan dengan mereka.


Nana dan Faris berhenti sejenak sambil menatap ibu tadi. Nana dan Faris tidak menyangka ada orang lain yang sebegitu antusiasnya melihat kebersamaan mereka hingga menganggap mereka seperti suami istri.


"Laki-lakinya ganteng, istrinya cantik pasti nanti anak mereka tidak akan jauh dengan mereka berdua."kata ibu yang lain memuji Faris dan Nana. Kebetulan taman disana ramai sekali karena hari ini adalah hari minggu.


Tanpa disadari Nana dan Faris, mereka berdua terlihat begitu serasi kalau dianggap sebagai sepasang suami istri. Melihat anggapan orang lain sepeerti itu, mereka langsung senyum-senyum sendiri sambil juga merasa heran kenapa orang lain bisa beranggapan seperti itu. Secara kenyataannya tidak seperti itu.


"Kita bukan…"Nana ingin menjelaskan kebenarannya malah keburu ibu-ibu kepo tadi terus menyecarnya beberapa pertanyaan.


"Hamil berapa bulan istrinya Mas?"salah satu ibu itu ingin mengetes keromantisan dari Faris pada istrinya itu. Faris hanya bisa menggaruk-garukkan kepapalanya.


Setelah ibu-ibu kepo tadi pergi Nana langsung tertawa melaihat ekspresi Faris yang sedari tadi lucu sekali. Sepertinya Faris malu dan bingung akibat pertanyaan ibu-ibu tadi.


Mereka tidak tahu kalau Faris dan Nana tidak memiliki hubungan selain ikatan persahabatan. Dan anak yang sedang dikandung Nana itu adalah anak dari laki-laki lain yang bernama Jun.


"Kita kok bisa dianggap suami istri ya?"Faris menggaruk-garuk kepalanya. Mungkin karena Nana sekarang sedang hamil dan dirinya sedang menemani Nana, jadi dia dianggap suami Nana. Dalam hatinya sangat berharap sekali itu bisa jadi kenyataab bisa menjadi suami Nana.


"Sudah-sudah nggak usah dipikirin lagi. Wkwkwk."perut Nana mulai sakit karena kebanyakan tertawa.

__ADS_1


Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di taman, Faris melanjutkan perjalanan mereka ke tempat berikutnya. Melihat hari sudah semakin sore, itu berarti mereka hanya punya kesempatan sedikit saja untuk jalan-jalan lagi.


"Kruk krukk."perut Nana mulai bersuara pertanda karena lapar ketika sudah berada di dalam mobil.


"Kamu lapar Rin. Wkwkwk"Faris mendengarnya dengan jelas. Nana menoleh kearah Faris dengan pipi yang sudah memerah pertanda malu karena perutnya mengaung.


"Hmmm."Nana mengangguk. Kali ini ida benar-benar lapar sekali.


"Ya sudah kita makan dulu."setelah tertawa cukup lama, akhirnya Faris lelah sendiri.


Mobil Faris mulai meninggalkan area taman yang luas itu. Nana sekarang benar-benar lapar sekali hingga tidak mood untuk berbicara lagi. Tangannya terus mengelus-elus perutnya agar sabar untuk menahan rasa laparnya.


"Kamu pasti lapar banget ya. Bentar lagi kita akan sampai di café. Nanti kamu makan deh sepuasanya disana."Faris menoleh karah Nana yang duduk disampingnya sambil menyetir. Dia merasa kasihan pada Nana yang sedari tadi menunduk sambil melihat perut.


Faris menancap gas mobilnya sedikit lebih kencang. Hinga sekarang sudah tiba tepat di depan café. Nana melihat café disana merasa lega sekali. Akhirnya dia akan segera makan.


Tanpa disadari Nana, ternyata cafe itu pernah dikunjungi Jun dan Reihan. Faris berjalan duluan baru diikuti Nana dari belakang. Mereka berdua sepakat duduk di bangku dekat kaca yang langsung menghadap jalan raya. Perut Nana tidak sabar untuk segera menyantap makanan yang akan dihidangkan café itu.


Setelah makanan mereka tersaji, Nana dan Faris segera menyantapnya hingga habis. Melihat Nana yang begitu kalap sekali makannya membuat Faris tidak tega untuk makan banyak. Kebetulan dia juga tidak terlalu lapar jadi makanannya diberikan untuk Nana.


"Kamu nggak makan lagi?"pipi Nana membulat karena di dalamnya terdapat makanan yang belum masuk ke perutnya. Faris berhenti makan malah melihat Nana yang sedang makan.


"Aku sudah kenyang. Makan aja sampai habis ya."Faris mengelap bibirnya dengan tissue.

__ADS_1


"Beneran kamu sudah kenyang. Ini masih banyak lho."Nana melihat makanan di atas meja mereka masih tersisa banyak.


"Ya aku udah kenyang. Makan sampai habis ya. Nggak baik makanan masih."kata Faris sambil bersandar ke kursi dan menatap Nana yang terlihat molo-molo.


__ADS_2