
"Kok tumben lho mau olahraga ?"tanya Reihan di dalam mobil sambil menyetir
"Gue bosan di rumah terus. Apalagi kalau ada Alena."jawab Jun terlihat kesal.
"Dia kan pacar lho. Wajar saja dia perhatian sama lho."Reihan bingung dengan sikap Jun yang malahan tidak suka dengan Alena. Padahal Alena kan wanita yang sangat dicintai Jun.
"Nah ini. Ini yang gue benci. Memang sekarang gue amnesia. Makanya gue nggak ingat sama dia. Tapi ya jangan maksa gue untuk ingat sama dia ah. Gue juga nggak nyaman kalau digituin."Jun terlihat kesal ketika membahas Alena. Di rumah selalu dipaksa untuk mengingat masa lalunya dengan Alena. Kini saat bersama Reihan juga tidak jauh beda.
Reihan merasa, setelah kecelakaan itu Jun kini menjadi orang yang mudah marah. Sedikit sedikit mudah tersinggung dan marah. Reihan tidak mau membuat sahabatnya itu menjadi marah lagi. Akhirnya dia tidak mau mengungkit Alena lagi di hadapan Jun.
"Ya udah . Gue minta maaf kalau udah buat lho kesal gara-gara bahas dia."Reihan menoleh kearah Jun yang sekarang bete. Jun diam saja tapi dia senang mendengarnya.
"Ya nggak papa. Gue pengen hari ini benar-benar melupakan kejenuhan gue selama di rumah. Makanya gue ngajak lho olaharga. Hanya lho aja yang bisa buat gue nyaman."jawan Jun mulai reda kesalnya. Matanya menoleh kearah Reihan.
Baru kali ini setelah dinyatakan amnesia, Jun dan Reihan berolahraga bareng. Jun begitu terlihat antusias sekali. Hinga tanpa terasa dia telah bercucuran keringat di pelipis dan lehernya. Reihan melihatnya hanya bengong saja.
"Ini minum dulu."Reihan menghampiri Panii yang duduk di kursi dan memberikan sebotol air mineral kepada Jun.
"Makasih."Jun menerima air mineralnya dan langsung meminumnya.
"Oh ya bro. Ini kan sudah lebih dari sebulan lho amnesia. Apa ingatan lho mulai pulih?"Reihan ingin tahu. Jun selesai minum.
"Selama ini gue belum ingat-ingat apa sih bro. Orangtua gue aja masih lupa."Jun menunduk. Sebenarnya dia juga ingin ingatannya kembali. Agar dia bisa mengenali semua orang yang pernah dekat dengannya.
"Sedikitpun belum?"tanya Reihan sambil melotot karena heran. Jun langsung menggeleng.
"Ya sudah. Mungkin nanti kali ya. Yang sabar ya bro."Reihan tidak terlalu memaksa Jun untuk mengingatnya. Berbeda dengan Alena malah terus memaksanya. Makanya Jun merasa tidak nyaman ketika berada di dekat Alena.
Reihan sedih melihat sahabatnya harus mengalami amnesia seperti itu. Tapi disisi lain dia juga merasa lega karena Jun masih diberikan keselamatan setelah tragedi kecelakaan sebulan lalu itu. Setelah pihak kepolisian menyelidiki kasus kecelakaan Jun, ternyata bukti kuat mengarah kalau Jun saat itu mengantuk saat mengendarai mobilnya. Alhasil kecelakaan itu terjadi dan mengakibatkan Jun amnesia. Dan untungnya tidak ada korban dalam kecelakaan itu.
__ADS_1
"Bro ayo kita pulang."ajak Reihan melihat jam tangannya menunjukkan pukul 9 lebih.
"Ayo."Jun langsung bangkit dari kursi.
Selesai olaharga Jun dan Reihan langsung pulang. Lagi-lagi Reihan yang menyetir mobilnya. Karena Jun masih dalam keadaan belum pulih sepenuhnya jadi Reihan yang menyetir.
"Bro kita makan dulu yuk?"ajak Reihan setelah mengendarai mobilnya menjauh dari tempat gym.
"Makan. Lho lapar?'tanya Jun sambil menoleh kearah Reihan.
"Ya lah bro. Masak lho nggak lapar."Reihan menyetir sambil menoleh kearah Jun yang masih menatapnya.
"Ya udah ayo kita makan dulu."Jun setuju. Dia tidak mau menolak keinginan Reihan.
Reihan memarkirkan moblnya di salah satu café pinggir jalan. Mereka berdua langsung turun dari mobil. Reihan dan Jun memilih tempat di atas atau lantai dua.
"Kita makan disini aja."Reihan menduduki salah satu tempat di lantai dua.
Tempat yang dipilih Reihan itu berada tepat di atas yang berdekatan langsung dengan jalan raya. Jadi mereka bisa melihat suasana langsung dari atas.
"Lho mau makan apa?"tanya Reihan pada Jun yang hanya diam saja sambil melihat kebawah kearah jalan raya. Jun sedikit terhibur pikirannya saat melihat lalu lalang kendaraan di jalan.
"Terserah gue manut aja."jawab Jun tidak bergeming dari pandangannya kearah jalan raya.
Selesai makan Jun dan Reihan turun kebawah. Saat hendak menaiki mobil tiba-tiba Reihan tidak sengaja menabrak seseorang yang ada di depannya. Karena sedari tadi, Reihan mencari kuncinya di dalam tas ransel kecil yang berwarna hitam yang diselempangkan di dadanya.
"Eh bro itu bukannya Alena."Reihan menepuk pundak Jun dengan sedikit keras. Jun langsung menoleh kearah Reihan.
"Lho kenapa sih bro?"tanya Jun terkejut.
__ADS_1
"Lho lihat itu."Reihan menunjuk yang baru dilihatnya itu.
Jun mengikuti arahan Reihan. Mata Jun langsung mengernyit saat tahu apa yang sedang ditunjukkan sahabatnya itu. Ternyata yang dilihat Reihan itu adalah dua orang yang sedang berjualan di pinggir jalan.
Di halaman parkiran café, terdapat dua sejoli yang sangat mesra sekali. Diala Alena dan seorang cowok. Mereka berdua terlihat sedang bergandengan erat sekali.
Mata Jun bukan fokus kearah Alena yang sedang ditunjuk Reihan yang sedang berjalan dengan seorang laki-laki lain, ini malah fokus melihat perempuan yang berdiri diseberang jalan yang sedang membawa nampan kecil berwarna hijau.
"Ya kan bro itu Alena kan? Itu siapa?"Reihan mengira Jun sekarang melihat apa yang sedang dia lihat.
Tanpa disadari Reihan, ternyata diseberang jalan dan jaraknya lumayan jauh berdirilah seorang perempuan yang bernama Nana. Jun merasa tidak asing saat melihat Nana. seperti sudah kenal sebelumnya. Tapi dia bingung kapan dan dimana dia kenal dengan cewek itu.
"Lho nggak marah lihat cewek lho sama cowok lain?"tanya Reihan sambil melihat Jun yang terus melongo saja dan tidak marah itu. Jun melongo karena terus memandangi Nana yang menurutnya tidak asing baginya itu.
"Dia? Sepertinya aku tidak asing dengannya. Tapi dimana ?"batin Jun sambil memejamkan matanya dan mengingat Nana.
Jauh dari tempat berdiri Jun dan Reihan, Nana malah tidak tahu kalau dia sedang dilihat Jun. Karena Nana sedang sibuk berjualan jajanan bersama Bi Sumi di pinggir jalan.
"Bro itu Alena bro kenapa lho hanya diam saja."Reihan menggoyang-goyangkan tubuh Jun yang ada disampingnya. Seharusnya Jun marah melihat tunangannya bergandengan dengan cowok lain.
"Dia."Jun terus memejamkan matanya dan sesekali melihat kearah Nana. Dia terus mengingatnya.
"Aww."teriak Jun sedikit keras. Jun mulai kesakitan saat berusaha mengingat Nana.
"Lho kenapa bro?"Jun tiba-tiba jongkok dan kedua tangannya memegangi kepalanya karena merasa kesakitan.
"Aduh sakit."teriak Jun sekali lagi.
Reiha mulai panik dengan keadaan Jun. Alena yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua langsung reflek melihat Reihan. Suara teriakan yang didengar Alena sepertinya tidak asing di telinganya.
__ADS_1
"Reihan."Alena melihat Reihan dari kejauhan sedang menutupi tubuh seseorang yang ada dibawah.
Alena panik melihat Reihan. Kalau ada Reihan disitu sudah pasti disitu ada Jun juga. Seketika tangan Alena melepaskan tangan cowok yang sedang ada disampingnya itu.