
Setibanya di rumah Nana, Faris dibuat terkejut melihat penampakan rumah Nana yang terlihat mewah dan luas itu. Setahu dia ketika masih menjadi teman SMP, Nana berasal dari keluarga sederhana. Tapi bagaimana bisa tinggal dan memiliki rumah semewah itu.
"Ini rumah kamu Rin."tanya Faris berjalan mengikuti Nana dari belakang. Bi Sumi menuntun Nana masuk ke dalam rumah. Nana menggelang.
"Kalau bukan rumah mu lantas ini rumah siapa?'tanya Faris terus mengamati tiap sudut rumah mewah itu.
Rumah itu memiliki halaman yang cukup luas bahkan ada garasi juga disana. Rumah itu memang tidak bertingkat tapi melihat design dan halamannya saja sudah terlihat mewah sekali. Mata Faris hingga tidak bisa berkedip dari apa yang dia lihat sekarang.
"Silahkan duduk dulu mas."Bi Sumi menuntun Nana masuk ke dalam kamarnya agar bisa istirahat. Sedangkan Faris ditinggalkan begitu saja di ruang tamu.
Meskipun sekarang Nana mengenakan daster longgar yang bisa menutupi perut buncitnya itu tapi Faris masih bisa melihat perut buncit Nana. Faris penasaran dimana laki-laki yang telah menyeret Nana kemarin. Karena pikiran Nana masih sedang kacau jadi untuk sementara waktu Nana butuh istirahat dulu di kamar. Faris menunggu Nana diluar.
"Bi aku mau istirahat dulu. Tolong katakan sama temenku itu lain kali saja bicaranya."kata Nana membaringkan tubuhnya di kasur sambil dibantu Bi Sumi.
"Ya mbak . Nanti saya sampaikan."Bi Sumi meyakinkan Nana.
"Oh ya bi. Tolong sampaikan permintaan maaf dariku ini karena tidak bisa menjamunya. Dan jangan ceritakan masalah saya padanya ya bi."Nana mencegah Bi Sumi yang hendak pergi meninggalkannya. Bi Sumi mengangguk.
Dalam hati Nana tidak tega pada Faris. Dia ingin menemanai dan mengobrol dengan Faris. Tapi berhubung keadaannya sekarang tidak mendukung jadinya lain waktu saja dia mengobrol dengan Faris.
Bi Sumi langsung memberitahu kepada Faris. Terlihat ada raut kekecewaan dari wajah Faris setelah tahu Nana tidak mau menemuinya saat ini.
"Oh ya bi ini rumahnya siapa ya? Apa ini rumah Nana?"sebelum beranjak dari sofa Faris bertanya sesuatu hal yang sedari tadi mengganjalnya.
"Bukan mas. Ini rumah orang."jawab Bi Sumi yang mulai kebingungan menjawab. Seperti ada sesuatu yang ditutup-tutupi. Faris bisa membaca mimik Bi Sumi.
"Oh gitu ya."Faris tidak tega menanyai Bi Sumi lagi. Biarlah itu menjadi urusan Bi Sumi.
__ADS_1
Akhrinya Faris harus pulang. Saat Faris pulang, diam-diam Nana melihatnya dari balik jendela kamarnya. Dia mengintip kepulangan Faris.
"Maafin aku, Ris."Nana merasa sedih juga telah menyuruh Faris pulang. Melihat Faris membuatnya teringat akan masa lalunya ketika masih duduk di bangku SMP. Faris selalu membantunya. Tapi sekarang malah, dia tidak membalas kebaikan yang telah diberikan Faris kepadanya.
Sepeninggal Faris, Nana terus menangis di dalam kamar. Setelah jualan dia merasa capek sekali. Dan sekarang malah ditambah lagi dengan rasa sedih sekaligus hancur perasaannya saat tahu yang dianggap ayahnya itu tidak mengakuinya sebagai anak. Padahal dia yakin kalau laki-laki tadi adalah ayahnya yang bernama Bambang Sartono.
Nana meluapkan rasa sedihnya dengan menangis sambil tiduran di kasur empuknya. Pintu kamarnya sengaja dia kunci agar Bi Sumi tidak tahu kalau dia terus menangis di dalam kamar.
"Ayah kenapa kau tidak mengakuiku sebagai anak?"tanya Nana sambil meneteskan cairan bening di keningnya.
"Apakah dengan keadaanku seperti ini kau tidak mengakuiku."Nana bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Tapi dia jadi ragu kalau ayahnya tidak mengakuinya itu karena keadaannya sedang hamil.
Tidak terasa Nana kini sudah ketiduran. Matanya yang sudah sangat sembab sekali karena sedari tadi terus menangis hingga membuatnya ketiduran.
"Mbak ayo makan."Bi Sumi mengetuk pintu kamar Nana.
"Apa Mbak Nana sudah tertidur ya."Bi Sumi menguping di dekat pintu tidak terdenganr suara menangis.
Bi Sumi beranggapan kalau Nana sekarang tengah tertidur. Kemungkinan besar setelah jualan tadi, Nana merasa capek dan langsung tidur. Akhirnya Bi Sumi kembali ke kamarnya dan membiarkan Nana istirahat. Dalam hstinya dia ikut merasa sedih sekaligus prihatin dengan apa yang sedang dihadapi Nana. Dalam keadaan hamil seperti itu harus berjualan keliling demi mencukupi kebutuhannya. Belum lagi dengan masalah-masalah yang sedang dihadapi Nana itu. tentu itu akan menggangu pikiranan Nana. Padahal umumnya orang-orang yang sedang hamil seperti Nana itu tidak boleh banyak pikiran karena itu akan mengganggu kehamilannya. Tapi Bi Sumi sekarang hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Nana dan semoga Nana diberi kelancaran dalam menghadapi semuanya.
"Kemana Bi Sumi ?"tanya Nana baru bangun dari tidurnya. Dia tidak menyangka kalau hari ini bangun kesiangan. Mungkin karena tadi malam dia menangis terus. Jadinya dia kecapekan dan pada akhirnya tertidur pulas hingga kesiangan.
Nana keluar dari kamar. Dia telah mondar mandir mencari Bi Sumi di setiap sudut rumah. Tapi tidak kunjung menemukannya. Dia berusaha berpikiran positif mengenai Bi Sumi.
Dengan segala keterbatasannya yang sedang hamil, Nana berusaha membantu meringankan pekerjaan Bi Sumi. Terlintas dipikirannya sebenarnya Bi Sumi kemana. Terlihat kondisi rumah yang masih nampak kotor.
"Kok tumben lantainya terlihat masih kotor."Nana melihat lantai yang dia injak terlihat kotor. Biasanya kalau pagi hari, rumah sudah terlihat bersih.
__ADS_1
Nana langsung menyapu seisi rumah Jun. Sebenarnya dia tidak mau karena itu akan membuatnya capek. Tapi kalau ingat sama Bi Sumi yang selalu sabar membersihkan rumah itu sendiri tanpa meminta bantuan kepadanya tentu membuatnya malu sendiri. Bukan karena dirinya sedang hamil jadi dia hanya duduk berleha-leha saja.
"Aku nggak boleh malas-malasan."Nana sedang menyapu semua lantai rumah Jun. Baru beberapa menit saja, Nana sudah merasa capek.
Tidak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 siang. Nana telah menyapu lantai, mengelap kaca jendela, menyapu halaman belakang dan mencuci pakaian tapi belum sampai dijemur. Dia juga sudah memasak beberapa makanan untuk disantap bersama dengan Bi Sumi nanti.
"Kemana sih Bi Sumi. Kok sampai sekarang belum pulang juga."setelah membersihkan beberapa pekerjaan rumah Nana merasa capek sekali dan langsung duduk di kursi sambil melihat kearah pintu. Sesekali kedua matanya menatap kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11.30.
Tok tok
Ada suara orang mengetuk pintu. Ketika hendak berdiri untuk membuka pintu rumah malah pintunya sudah terbuka dulu. padahal dirinya sudah handak membukanya.
"Bi Sumi."Nana terkejut ternyata yang datang adalah Bi Sumi sambil membawa tas keranjang kecil berwarna cokelat yang terbuat dari anyaman bambu. Raut muka Bi Sumi nampak tergesa-gesa dan jalannya tidak seperti biasa. Nafasnyapun terdengar ngos-ngosan.
"Bibi habis darimana?"Nana menghampiri Bi Sumi dan melihat kearah keranjang yang melekat di tangannya.
Nana tercengang setelah membuka isi keranjang yang dibawa Bi Sumi. Ternyata isinya ada beberapa kue basah. Kemungkinan Bi Sumi pergi meninggalkannya tadi itu karena jualan.
"Bibi tadi jualan? Sendirian?"Nana menatap mata Bi Sumi yang nampak lelah itu dan tangannya sedang memegang keranjang.
"Ya mbak."jawab Bi Sumi sambil mengangguk. Nafasnya masih terdengar naik turun dengan cepat sekali.
"Nggak ngajak aku bi. Terus kenapa bibi ngos-ngosan begini. Kayak habis lari-lari."Nana kasihan sekaligus penasaran sedang terjadi apa pada Bi Sumi hingga terlihat seperti dikejar-kerja preman.
"Oh ya mbak. Ada berita."nafas Bi Sumi masih belum stabil dan tersengal-sengal.
"Mbak i…itu tadi ada Mas…"nafas Bi Sumi terdengar pendek sekali. Nana menyuruh Bi Sumi untuk duduk dulu di kursi kemudian mengambilkan segelas air putih untuk Bi Sumi.
__ADS_1